Jiyya menghela napas dalam-dalam dan kemudian menganggukan kepalanya. Dia memejamkan mata seraya menggigit bibir bawahnya. Pak Joan menekan bagian dirinya ke pintu masuk Jiyya, begerak dengan sepelan mungkin. Sejujurnya Jiyya sudah sangat basah dan pergerakannya jadi relative lebih mudah. Walau begitu, Jiyya merasa bahwa hal itu tidak menjadikan Pak Joan nyaman. Tubuhnya tersentak sedikit, alisnya berkerut spontan. Pria itu baru seperempat jalan barangkali, tapi Jiyya sudah tidak kuat dan malah merasakan kesakitan seakan tengah di robek di dalam sana. Jiyya kontan mengaduh. Hanya dalam kata itu segera Joan merasakan gelombang rasa bersalah melewatinya. Pria itu langsung tidak memaksakan diri dan hanya diam saja. Sejujurnya tidak terhitung berapa banyaknya para gadis yang menyerahkan keg

