“Kenapa memangnya Ayah?” Silvana tiba-tiba membalas perkataan ayahnya sendiri, gadis itu terlihat gusar. Ini mungkin terbilang ekspresi baru yang Leon dapati dari si gadis yang selalu menampakan raut muka yang selalu optimis dan kerap menggodanya. “Kami bahagia saat bersama. Dia bahagia saat bersamaku, begitupun aku,” tambahnya lagi mencoba memberikan penjelasan dan pengertian kepada sang ayah. “Silvana kau bahkan masih dua puluh tahun! Dan dia adalah dosen yang harusnya mendidikmu, bukan malah berani mengencanimu!” Sang kepala keluarga nampak murka, Leon bertaruh pria itu bahkan hampir mencabut seluruh rambutnya karena terlalu kesal memberikan pengertian terhadap putrinya yang bebal. Bisa dilihat dari ekspresi dan nada suaranya yang naik beberapa oktaf dan penuh dengan emosional. Ketika

