Ketika Joan terbangun, dia sampai membutuhkan waktu beberapa saat untuk mengingat dimana dia berada. Kamar yang dia tempati sekarang jelas bukan miliknya. Kecuali jika tiba-tiba berubah menjadi lebih sederhana dari yang dia ingat. Sampai dia kemudian menyadari bahwa kakinya terjalin dengan kaki seseorang dan disitulah dia memahami apa yang sudah terjadi. Joan menoleh hanya untuk melihat Jiyya yang rupanya telah terjaga lebih dulu darinya. Kepala mereka berada di satu bantal yang sama dengan senyum lembut tersunggingi tepat diwajah Joan secara otomatis begitu mata mereka berdua saling bersitatap seperti ini. “Selamat pagi Jiyya,” sapa Joan. Jiyya balas tersenyum meski nyaris tidak terlihat saking tipisnya senyum yang gadis itu buat. Joan benar-benar merasakan letupan kebahagiaannya sa

