Mistake 4; Sama-sama Belajar

1849 Words
Kesempatan selalu ada untuk mereka yang mau berubah. Tidak peduli seberapa buruk mereka di masa lalu, masa yang akan datang bisa diperbaiki. Mungkin terlambat, tapi itu lebih baik dari pada tidak mencoba sama sekali. *** Seperti perkataan Sagara yang ingin bolos sekolah untuk membersihkan rumah, cowok itu sudah bangun jam enam pagi. Ia pikir itu akan membuat sedikit kejutan untuk Athena, tapi rupanya Athena sudah bangun juga. Dia bahkan sedang membuka gorden jendela saat Sagara baru membuka mata. "Na, kok elo udah bangun sih?" tanya Sagara dengan suara khas orang bangun tidur. Athena menoleh ke arah Sagara lalu memiringkan kepala. "Ya emang kenapa kalau gue udah bangun?" tanyanya bingung. Sagara mendengkus jengkel. Kenapa Athena pura-pura bodoh begitu? "Ya harusnya lo istirahat aja, semalem kan gak tidur." Tidak ingin menimpali Sagara yang mengungkit masalah semalam lebih jauh lagi, Athena kembali menarik gorden sambil berkata, "Gue gak pa-pa, Gar. Udah mendingan kok. Mending elo siap-siap buat sekolah sana!" Sagara menyibak selimut dan turun dari ranjang. Ia berjalan menghampiri Athena. "Gak. Hari ini gue bolos dulu, gue yang beresin rumah. Lo istirahat aja di kamar." Athena melotot. "Gak usah." Larangnya serius. Kalau Sagara bolos lagi hanya karena hal kecil, cowok itu akan kembali ke jati diri lamanya. Tidak tahu apa tujuan utama berada di sekolah. "Harus!" kekeuh Sagara. Athena menggeleng. "Gak usah, Gar. Mending lo sekolah." Sagara kehabisan ide untuk membujuk Athena. Istrinya itu, kalau katanya ini ya ini, kalau itu ya itu. Memang dasarnya keras kepala, kalau tidak Sagara ikuti pasti mereka akan adu mulut. Tapi kalau Sagara ikuti, ia juga tidak bisa tenang di sekolah. Bisa-bisa ia kepikiran Athena terus dan tidak fokus belajar. "Na!" panggil Sagara. Athena berdecak kesal. "Kenapa?" tanyanya. "Kita keluar, yuk! Nanti ke supermarket buat beli kebutuhan. Lo pasti bosen di rumah." Tidak ada sahutan. Athena diam sebentar. Dia melihat Sagara lekat-lekat. Sagara menyengir lebar melihatnya. Kemudian... "Yuk!" seru Athena terlalu bersemangat. Ia memutar tubuh Sagara agar membelakanginya dan melompat tidak sabaran ke punggung cowok itu. Menimbulkan dengkusan dari mulut Sagara. "Na, jangan lompat-lompat gitu, ah. Gue ngeri liatnya." Athena mengabaikan peringatan Sagara. Ia justru menunjuk ke arah pintu kamar mereka. Melihat Sagara yang diam ia menggertak. "Buruan, Sagara! Sekarang kita beres-beres rumah, abis itu jajan deh." Sagara menggeleng pelan. "Bukan kita, tapi gue aja. Lo rebahan di sofa." Tangannya bergerak mengusap surai Athena sekilas. "Ya udah terserah. Buruan jalan, ih!" Sagara sudah seperti kuda saja kalau seperti itu. Tapi tidak apa, selama Athena yang memperlakukannya ia tidak akan protes. Kakinya mulai melangkah ke luar kamar. Ia menuruni tangga dengan hati-hati. Takut-takut nanti terjungkal dan menggelinding ke bawah, kan tidak lucu. Sampai di lantai satu, ia langsung menurunkan Athena. Karena paksaan Athena yang meminta agar ia ikut membantu juga, akhirnya Sagara membiarkan saja. Mereka membagi tugas. Athena yang memasak untuk sarapan, sedangkan Sagara menyapu dan mengepel semua lantai. Saat bertanya kepada Athena perlukah mengelap seluruh kaca, Athena menyahut bahwa kaca hanya dilap seminggu sekali. Dan belum waktunya. Sagara hanya mengangguk dan mulai menyapu lantai. Ia memulai dari lantai atas di mana kamarnya berada kemudian turun ke lantai satu. Sambil menyapu, ia juga membuka seluruh gorden jendela. Tepat di dapur, ia melihat Athena yang sedang menumis bumbu. Sepertinya mereka akan sarapan dengan nasi goreng lagi. "Na, entar kita beli makanan yang serba instan lagi aja. Biar lo gak ribet masaknya, tinggal goreng terus makan." Kepala Athena memutar sedikit, ia menggeleng. "Gak mau, nanti beli sayuran sama daging aja. Biar gue bisa belajar masak." Mendengar itu, Sagara meneguk air liurnya. Memasak nasi goreng saja Athena gosong, apalagi daging dan lain-lainnya. Mungkin wajan yang digunakan bisa bolong. Tapi ya sudahlah, ia tidak ingin memikirkan rasanya, tapi usaha yang Athena lakukan. Satu jam berlalu. Sagara selesai dengan tugasnya. Ia menghampiri Athena yang sedang duduk di meja makan. "Udah selesai!" serunya diiringi kekehan ringan. Lelah juga, pinggangnya seperti mau terlepas saja. Sedangkan Athena terlihat berkeringat, tapi tidak mengeluh kelelahan. Mungkin karena tanpa sadar Athena sudah cukup terbiasa dengan semua pekerjaan rumah. "Kita mandi, yuk! Abis itu jalan deh." Padahal hanya diajak ke supermarket, tapi Athena senang sekali. Mungkin karena hampir satu minggu ini dia tidak keluar rumah. Sagara menerima tangan Athena yang sudah terulur di udara. Ia langsung membopong gadis itu dan membawanya kembali ke lantai dua. Kali ini jalannya lebih hati-hati karena lantai satu masih sedikit basah. Sampai di atas, Sagara membawa Athena ke kamar mandi. Membiarkan gadis itu mandi lebih dulu, sementara dirinya menunggu sambil menonton televisi. *** "Gar, kok gak pakai motor?" tanya Athena saat melihat Sagara membuka gerbang rumah mereka. Ada sebuah mobil yang sudah terparkir di pinggir jalan. "Motor gue kan gede, katanya gak bagus orang hamil terlalu sering dibonceng." Athena mengerjapkan kedua matanya. Ia memiringkan sedikit kepalanya, "Kalau gitu gue aja yang bawa," ucapnya asal. Setelahnya, sebuah jitakan mendarat di kepala Athena. Sagara pelakunya. "Sama aja, dodol!" Athena hanya terkekeh geli sambil berjalan keluar gerbang. Setelah ia masuk ke dalam mobil, Sagara menutup kembali gerbang yang tadi ia buka. Baru akan ikut masuk saat telinganya tanpa sengaja mendengar sesuatu yang membuatnya ingin memecahkan kepala seseorang. "Itu tuh, Bu. Anak SMA yang udah tinggal serumah. Katanya sih mereka udah nikah. Ceweknya hamil, lho, Bu." Tak jauh dari posisinya, dua orang wanita sedang berjalan melewati mobil yang akan ditumpanginya. Matanya menyorot sinis ke arah Sagara, membuat Sagara tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya. Dasar kaum ibu-ibu. Di mana pun itu selalu saja bisa menjadi area gosip. "Jangan, Sagara!" larang Athena saat Sagara akan melangkahkan kakinya mendekati dua orang itu. Athena juga mendengar. Selain karena suaranya yang cukup keras, pintu mobil juga belum ditutup. "Sini masuk," kata Athena dengan senyum lebar. Dengan terpaksa, akhirnya Sagara hanya menghembuskan nafasnya kesal. Ia menurut dan segera masuk lewat pintu yang sama setelah Athena bergeser. Kalau tidak ada Athena, para ibu-ibu itu mungkin sudah ia sumpal mulutnya. Karena ia bukan termasuk orang yang takut hanya karena perbedaan umur. Kalau mereka mengganggu ketenangannya, sudah pasti akan mendapat pelajaran darinya. "Lo harus jadi contoh yang baik buat anak lo, Gar." Ucapan Athena terdengar lembut. Dulu, bisa dibilang Athena merupakan gadis paling kasar dan jutek di sekolahnya. Tatapannya mengerikan dan kelakuannya jauh dari kata baik. Tapi, saat tahu dirinya sudah melakukan kesalahan besar, ia sadar bahwa kepribadiannya selama ini buruk. Kalau bisa, tentu akan ia perbaiki. Berlaku juga untuk Sagara. "Bukannya lo yang bilang kalau elo salah gue berhak ngasih tau?" Sagara kembali menghela nafas. Ia meraih tangan Athena dan mengecupnya dua kali. "Makasih, Sayang." Dibalas senyuman oleh Athena. Mobil segera melaju atas perintah Sagara. Athena menyandarkan kepalanya di bahu Sagara selama perjalanan singkat itu. Tidak sampai dua puluh menit, mereka sampai di sebuah supermarket di tengah kota. Sagara membukakan pintu untuk Athena. Setelah memberikan uang ke driver online itu, mereka berjalan memasuki supermarket itu. Sagara yang mengambil troli dan mendorongnya. Keduanya mengutamakan belanja kebutuhan pokok secukupnya. Selain karena bahan makanan yang dibelikan oleh ibu Athena masih ada, mereka juga harus berhemat. "Na, s**u lo masih ada?" tanya Sagara saat Athena mengambil dua kaleng s**u kental manis. "Masih." Sagara mengangguk singkat. "Terus mau beli apa lagi?" Athena memimpin. Ia berjalan di samping Sagara dan mulai menyusuri lorong-lorong yang dipenuhi dengan berbagai macam barang yang berbeda. "Eh, Gar. Ini apaan?" tanya Athena heboh. Matanya membulat saat melihat bumbu masakan serba instan di lorong kebutuhan dapur. Mulai dari rendang, telur balado, sayur lodeh, sayur sup, bahkan nasi goreng pun ada bumbu instannya. Kenapa ia baru tahu? Dunia ternyata sudah berkembang sangat pesat, ya? Benak Athena berbicara. "Itu bumbu instan, Na. Lo gak tau?" Athena menggeleng. "Emangnya lo gak pernah nonton TV?" Athena menggeleng lagi. "Emangnya ada ginian, ya?" tanyanya. Sagara tersenyum miris. "Kalau gak ada gak mungkin dipajang di situ, Na." "Ehh, iya juga." Astaga. Sagara mendengkus sambil geleng-geleng kepala. "Bego juga ternyata bini gue," hujatnya bercanda. Aneh sekali. Di jaman yang serba modern ini semuanya sudah serba instan. Memasak rendang semudah memasak mie saja. Membuat nasi goreng sambil memejamkan mata juga sepertinya bisa. Dan lebih aneh lagi saat Athena justru tidak mengetahui hal itu. Ahh, Sagara lupa, kalau pun Athena tahu, dia tidak mungkin masak nasi goreng dengan rasa yang tidak karuan. "Gue gak suka nonton TV. Ngebosenin. Mendingan streaming film di ha-pe aja. Udah gitu gak suka nyari tau hal-hal yang menurut gue gak penting. Eh, taunya sekarang malah jadi hal penting buat gue." Tangan Athena mengambil beberapa bumbu instan itu dengan varian berbeda. Ia juga membeli beberapa bumbu dapur yang sekiranya tidak ada di dalam bumbu instan itu. "Lo jadi kayak orang yang ketinggalan jaman aja, Na. Padahal lo bukan manusia purba." Setelahnya gelak tawa terdengar menggema. Menyapa telinga Sagara dengan mesra. Kali ini tidak ia suka. Karena beberapa pelanggan laki-laki lain melirik ke arah Athena. Tawa Athena itu memang renyah sekali. Mendengarnya saja bisa membuat orang lain tertular dan ikut tertawa. Terlebih lagi, saat tertawa, wajah Athena akan terlihat lebih ceria. Cantiknya semakin memancar. Sagara mengakui hal itu. Ia ... hanya tidak suka berbagi dengan orang lain. "Na, jangan ngundang perhatian atau gue tonjokin orang-orang gantian?" Bukannya mendengarkan dan berhenti, Athena justru tertawa lagi. Menambah kesal Sagara saja. Orang-orang yang terang-terangan melihatnya kini semakin merasa beruntung karena Athena sampai membungkukkan sedikit tubuhnya. Membuat kaus pendek yang ia kenakan sedikit terangkat dan memperlihatkan sedikit bagian belakang tubuhnya. Meskipun ditutupi tanktop hitam, tetap saja Sagara tidak ikhlas. Buru-buru ia menarik Athena mendekat dan menutupi pinggang gadis itu dengan tangannya. Sagara tidak suka. Demi Tuhan Sagara sangat tidak suka! Tubuh Athena itu sempurna indahnya, astaga! "Na, please jangan bikin gue ngamuk di sini!" Sagara histeris. Ia menarik Athena menjauh sambil terus memegangi pinggangnya. Membuat tawa Athena mereda dan berganti dengan kekehan. "Gar, elo manis banget tau lagi cemburu kayak gitu," kata Athena di tengah kekehannya. "Lo itu emang bener-bener ngeselin, ya? Inget ya, Na! Kita itu udah nikah, semua badan lo itu punya gue. Apa perlu gue beliin lo baju gamis yang ngebungkus lo kayak lontong?" Athena ngakak lagi. Astaga, Sagara itu memang lucu sekali. "Udah-udah, jangan bikin gue ketawa mulu. Sekarang kita beli ayam." Mereka berjalan memutar untuk pergu ke tempat di mana daging berada. Sagara menutupi tubuh Athena saat gadis itu memilih ayam potong dan ikan. Begitu juga saat di tempat sayuran. Meskipun tidak tahu, Athena memilih apa saja yang menurutnya harus dibeli. Dengan Sagara yang berdiri di belakangnya. Setelah selesai, mereka langsung berjalan ke arah kasir. Saat Athena akan berbelok ke arah kasir dengan penjaga laki-laki, Sagara langsung menarik tangannya dan beralih ke arah kasir lain. Sagara akhirnya memilih kasir dengan penjaga perempuan. "Besok-besok lo diem di rumah aja, biar gue yang belanja." Kata Sagara mulai meletakkan belanjaannya di meja kasir. "Kalau kayak gitu lo niat ganjen sama perawan namanya," ujar Athena tidak mau kalah. "Ya udah oke, kita belanja berdua. Dengan syarat, lo harus pake jaket sama topi hitam." "Lo pikir gue teroris?!" Sagara dan Athena saling pandang kemudian tergelak berdua. Tidak peduli bahwa mereka sedang berada di tempat umum. Tapi tidak apa, setidaknya wajah Athena terlihat sedikit lebih segar hari ini. Malu sedikit rasanya tidak akan terlalu ia pedulikan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD