Mistake 5; Bukan Anak Haram

1813 Words
Gak ada yang namanya anak haram. Semua anak dilahirkan sempurna ke dunia. Bersih dan suci. Jadi, kalau pun ada yang perlu disalahkan, udah pasti orang tuanya. Kesalahan orang tuanya yang haram, bukan anaknya. -Sagara Galuh Permana *** Jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh pagi saat Sagara duduk di meja makan. Cowok itu sudah rapi dengan seragam yang melekat di tubuhnya. Athena menyiapkan piring dan s**u untuk Sagara. Seperti hari sebelumnya, mereka sarapan dengan nasi goreng. Namun kali ini ada sedikit kemajuan, karena Athena sudah bisa membuat telur ceplok. Lagi-lagi berkat Google dan embel-embelnya. Sagara sempat berpikir, kenapa tidak sejak dulu saja? "Ini bisa nyeplok telur?" tanya Sagara saat Athena meletakkan satu di atas nasi goreng miliknya. Athena menepuk dadanya bangga, "Gue itu emang serba bisa," pujinya untuk diri sendiri. Sagara hanya geleng-geleng kepala. "Siapa yang ngajarin?" "Gugel, dia tuh emang serba tau dan hebat banget." Sagara terkekeh geli. Yang serba bisa itu bukan Athena, tapi Google. Ia memulai sarapannya. Kali ini rasanya sudah lebih baik. Enak dan tidak ada rasa gosong di dalamnya. Kalau begini, haruskah Sagara mengakui bahwa Athena sudah pandai dalam mengurus rumah tangga? "Gar, nanti pulang sekolah balik dulu, ya?" pinta Athena. "Kenapa emang?" Bukan hanya sekadar permintaan Athena mengatakan hal itu. Semenjak Sagara bekerja, cowok itu beberapa kali langsung pergi bekerja tanpa pulang dulu. Sagara bekerja dengan seragam yang masih melekat, diganti saat sudah sampai di kantor ayahnya. Karena hal itu, terkadang membuat Athena khawatir dengan keadaannya. Meskipun cowok, Sagara juga memerlukan istirahat dan makan yang cukup. "Makan dulu di rumah. Nanti gue masakin. Soalnya pas balik kerja lo jarang makan. Biasanya langsung mandi terus tidur." "Tapi di tempat kerja gue dapet makan pas istirahat, Na." Athena tahu. Hanya saja, ia ingin Sagara makan yang cukup. Sedangkan di tempat kerja, sudah pasti makannya terburu-buru. Sagara tidak bisa sedikit santai seperti halnya ketika berada di rumah. "Gak ada salahnya kan kalau elo balik dulu?" tanya Athena. "Ya udah iya, gue balik dulu. Nanti gue kabarin pas mau balik." Mereka melanjutkan sarapannya masing-masing. Saat selesai, Sagara membantu membawa piring ke dapur. Saat Athena mencucinya, dia menyerahkan kepada Sagara dan akan langsung dilap. Selalu seperti itu. Agar pekerjaan Athena tidak terlalu berat. Begitu juga saat Sagara memanaskan motornya, Athena akan mengambil tas dan sepatu cowok itu agar Sagara tidak perlu bolak-balik ke lantai dua. "Na, kalau ada apa-apa atau lo butuh sesuatu, langsung telepon gue, ya?" Athena menyerahkan tas Sagara. Sagara mengambilnya dan langsung dipasang di punggung. "Tapi gue udah gede. Gue bisa jaga diri," kata Athena. "Iya, tau. Tapi buat jaga-jaga, tolong jangan jauh-jauh dari ha-pe lo!" pinta Sagara serius. Nyaris memohon. "Iya, Gar." Sagara memasang helm dan segera naik ke atas motornya. "Sini, deketan sama gue!" suruh Sagara meminta Athena mendekat. Gadis itu memakai sandalnya dan mendekati Sagara. Saat Sagara mengangkat tangan kanannya, Athena dengan sigap langsung menyambut tangan itu dan dicium olehnya. Ia memandangi Sagara dengan sorot geli. "Lucu aja gitu kalau salim sama lo padahal umur kita gak jauh beda," ujar Athena. "Tetep aja gue suami lo." Selesai dicium oleh Athena, Sagara beralih menarik tengkuk Athena agar lebih dekat untuk mencium dahinya. "Kalau ada yang mencet bel jangan main buka aja, gak usah ngerjain yang berat-berat, jangan naik-turun tangga sering-sering, jangan lari-larian, pas nutup gerbang hati-hati, selalu kunci pintu, sama—" Perkataan Sagara terhenti saat Athena menyela ucapannya. "Jangan keluar rumah." Tentu saja Athena sudah hafal di luar kepala. Itu adalah pesan yang Sagara ucapkan setiap pagi sebelum berangkat sekolah. Kata Sagara, itu sekadar peringatan kecil agar dirinya tidak melakukan hal ceroboh yang akan membahayakan. Padahal dari ucapannya, itu adalah peringatan yang cukup panjang. "Nah, pinter! Ya udah gue berangkat." Melihat anggukan kepala dari Athena, Sagara langsung menarik gas motornya dan melesat keluar dari gerbang yang sebelumnya sudah ia buka. Sedangkan Athena, dengan senyuman melambaikan tangannya untuk Sagara, padahal tahu bahwa Sagara tidak melihatnya. *** Di sekolah tepat jam istirahat. Seperti biasanya, suasana kelas Sagara hanya ramai dengan dirinya dan beberapa temannya yang lain. Dua di antaranya menjadi temannya sejak tiga tahun lalu, sedangkan yang lain menjadi temannya tahun ini. Semenjak Athena tidak bersekolah, ia juga jadi jarang pergi ke kantin. Sesekali hanya menitip roti atau air mineral untuk mengganjal perut. Selebihnya ia hanya menghabiskan waktu di kelas. Tidak menyenangkan saja rasanya saat berada di tengah keramaian, tapi tidak ada Athena di tengah keramaian itu. "Gar, gimana keadaan Athena?" salah seorang temannya bertanya. Fahmi namanya. Temannya yang baru satu tahunan ini menjadi teman satu tongkrongannya. Sagara menatap cowok itu kemudian menjawab, "Baik. Dia sehat-sehat aja." "Semenjak nikah, kayaknya lo jadi jarang keluar dan kumpul sama kita," sambung temannya yang lain. Reno. Sagara juga menyadari hal itu. Jujur saja ia merasa kehilangan sedikit kebebasannya. Ia tidak ingin menutupi hal itu. Jika biasanya sepulang sekolah ia akan kumpul di cafe untuk sekadar nongkrong santai, pergi ke arena balap liar, beberapa malam pergi ke klub dan tengah malam baru pulang. Kali ini ia tidak bisa melakukan hal itu. Foya-foya, sekarang menjadi hal yang sulit baginya. Tapi di sisi lain, ia juga sadar bahwa tidak memiliki kesempatan untuk mengeluh. Karena bukan hanya dirinya yang merasakan, tapi Athena juga. "Soalnya gue sibuk kerja buat makan Athena. Akhir-akhir ini juga dia jadi manja, susah ditinggal. Selain itu gue juga gak bisa main-main. Gue harus lulus tahun ini." Jelas Sagara sesingkat mungkin. Tapi rupanya teman-temannya tidak mau mengerti. Mungkin karena rata-rata dari mereka hanya tahu hidup enak saja dan belum merasakan susahnya jadi dewasa. Hal yang baru Sagara alami beberapa waktu belakangan. "Kayaknya lo ngerasa terkekang. Iya, gak?" Kali ini Bara yang berbicara. Buru-buru Sagara menggeleng. Tidak ingin teman-temannya salah paham akan keadaan yang ia alami. Sedikit kebebasannya hilang bukan berarti ia merasa terkekang. "Gak sama sekali. Malah gue seneng karena punya sesuatu yang bisa gue perjuangin. Bertanggung jawab itu berat, tapi gue udah usaha sebaik mungkin. Athena juga ngebantu banget. Walaupun kadang manja, dia gak pernah nuntut banyak." Ya, ia harus sangat bersyukur karena hal itu. Athena bukanlah orang yang suka memanfaatkan kehadiran orang terdekatnya. Kalau bisa melakukan sendiri, Athena tidak akan merengek minta bantuan. "Jadi, gimana penampilan Athena sekarang? Berubah dekil atau enggak? Maklum aja, dia kan sekarang jadi ibu rumah tangga." Suara itu berasal dari samping Fahmi. Idris berkata santai sambil menguarkan asap rokok ke udara. Cowok yang tiga tahunan ini satu server dengannya. Sagara bangun dan menghampiri Idris dengan langkah tenang, sampai di dekat cowok itu, Sagara menarik sudut bibirnya. Ia memandang Idris tidak habis pikir. Padahal cowok itu tidak tahu kehidupannya setelah bersama Athena, tapi bisa-bisanya berkomentar sinis seperti itu. Memangnya dia siapa? "Apa? Lo mau minta rokok gue?" tanya Idris dengan satu alis terangkat. "Sorry, gue sayang sama badan gue." Sagara berujar. Memang benar, walaupun cenderung terlihat nakal, Sagara tidak mengenal yang namanya rokok. Dia anti sekali dengan barang itu. "Cuma mau liat muka lo," Sagara melirik wajah Idris lekat-lekat. "Ternyata mulus juga." Idris semakin bingung dengan arah pembicaraan Sagara. "Makanya..." Tanpa sempat membaca gerakan Sagara, tangan cowok itu sudah melayang lebih dulu untuk mendaratkan tinjuan ke pipi Idris. Membuat Idris hampir saja terjengkang ke belakang kalau tidak ada meja lain yang menahan. Hanya posisinya saja yang sedikit bergeser keluar dari barisan dan rokok yang entah terpental ke mana. "Udah temenan tiga taun sama gue masih belum paham juga. Jangan hina Athena pakai mulut busuk lo, b*****t!" Kali ini Sagara melayangkan kakinya. Tidak sempat mengenai bagian paling rawan Idris dia menghentikan kakinya sendiri lalu kembali menjejakkan ke lantai dengan kasar. Ia benar-benar murka. Tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini yang memiliki hak untuk menghina Athena. Tidak ada. "Tenang, Gar, tenang. Kita semua cuma peduli sama lo." Fahmi kembali berbicara. "Perduli apanya yang kayak gini, huh? Kalian semua tau gue paling gak suka kalau sesuatu yang udah jadi milik gue dihina-hina. Kenapa pakai angkat tema Athena di tengah obrolan kita?" Sagara emosi. Siapa pun, siapa pun boleh berkata apa saja mengenai kejelekan dari dirinya. Tapi ia tidak akan terima jika orang yang paling ia cintai ikut dibawa-bawa. Sagara tahu Athena tidak jauh beda dengannya, tapi gadis itu sangatlah penting untuknya. Tidak akan ia biarkan makhluk busuk mana pun berani menjelekkannya. "Kita semua tau gimana sikap Athena. Mungkin aja yang ada di kandungannya itu bukan anak lo, Gar." Reno memberi tahu. Tapi sayangnya Sagara lebih tahu. Tidak ada siapa pun yang lebih memahami Athena ketimbang dirinya. "Gue setuju. Mungkin aja lo cuma dijadiin pelarian karena pelaku aslinya gak mau tanggung jawab." Shion yang sedari tadi hanya memperhatikan ikut nimbrung. "Tau apa kalian tentang Athena?" tanya Sagara tenang. "Kita semua tau dia, Gar. Harusnya lo gak perlu nanya." Reno yang menjawab. Di tengah perdebatan itu, Fahmi berdiri di atas kursi. Meminta agar teman-temannya tidak perlu bertengkar. Cowok itu mengangkat kedua tangannya ke udara, menarik atensi semua temannya. "Udahlah, gak perlu ribut-ribut gini. Lagian itu masalah Sagara. Kita gak berhak buat ikut campur." Ah, Fahmi ini walaupun bodoh tetap saja menjadi satu-satunya teman yang paling bisa diandalkan. Dia tidak pernah memihak siapa pun dan selalu berkata hal yang menurutnya mampu meredakan pertengkaran. Dan hal itu sangat membantu untuk Sagara. "Kalian gak usah ngurusin apalagi komentarin hidup gue. Gue lebih dari sekedar bahagia ada di samping Athena." Semua temannya kecuali Fahmi mendesah kecewa. Sagara itu sudah dibutakan oleh cinta kalau menurut mereka. Apa kata Athena pasti dituruti. Apa yang Athena mau pasti dicari. Seperti kacung saja. "Oke-oke, gini aja," Reno berbicara lagi, "kita keluar dari pembahasan yang tadi. Semisal itu emang anak lo, kalian sebagai orang tua sama-sama tau kalo dia anak haram. Mau jawab apa lo kalau nanti dia udah gede dan denger dari temen-temennya tentang hal itu?" Kali ini Sagara tidak emosi. Dia justru terlihat santai saat memutuskan duduk di meja dengan kaki terangkat. "Kita semua sama-sama cowok berengsek. Gue gak nyumpahin, tapi bisa aja setelah gue, kalian juga ngalamin hal yang sama. Tapi sebelum itu terjadi, gue cuma mau bilang, kalau enggak ada yang namanya anak haram. Semua anak terlahir sempurna ke dunia. Bersih dan suci." Jeda sebentar. Sagara menatap temannya bergantian. "Jadi, kalau misalnya ada yang perlu disalahin, udah pasti orang tuanya. Kesalahan orang tuanya yang haram, bukan anaknya. Dan untuk kejadian di masa depan, kayaknya gue gak mau nebak-nebak. Anak gue pasti bisa tumbuh jadi anak hebat. Satu dua ucapan yang ganggu kupingnya gak akan bikin dia terusik. Gue yang jamin hal itu." Semua teman-temannya kini takjub dengan penjelasan paling masuk akal yang baru saja keluar dari mulut Sagara. Lupa jika beberapa detik sebelumnya mereka saling menyudutkan Sagara. Pandangan mereka terpaku sepenuhnya kepada Sagara. Cowok itu ... entah kenapa terlihat begitu dewasa saat ini. Padahal sudah tidak tinggal kelas selama tiga tahun. Tapi tetap saja, masing-masing dari mereka seperti melihat perubahan kentara di dalam diri Sagara. Perubahan yang dipicu dari sebuah kesalahan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD