Mistake 1; Suasana Baru

1806 Words
Ada yang berubah. Bukan rasa, bukan juga ceritanya. Tapi suasananya. *** "SAGARAAA!!!" Lengkingan suara itu membuat seorang cowok yang sedang bergumul dengan bantal guling, sontak terbangun karena kaget. Matanya menyapu ke kanan dan kiri, tidak ada siapa pun di sana. Ia menguap malas. Menutup telinga saat panggilan serupa kembali terdengar. Ia segera menyibak selimut. Tatapan cowok yang tidak lain dan tidak bukan adalah Sagara itu menoleh ke arah pintu yang terbuka. "SAGARA!" Lagi, suara itu membuat Sagara mendengkus kesal. Ia beringsut turun dari ranjang dan berjalan keluar kamar dengan malas. "SAGARA!!!" panggil suara itu lagi. Entah sudah berapa kali suara kencang itu hampir memecahkan gendang telinganya. "IYA, INI LAGI JALAN!" Sagara balas berteriak. Ia menuruni tangga menuju lantai satu. Saat kakinya menjejak tangga terakhir, matanya kembali menyapu pandang. Lagi-lagi tidak menemukan siapa pun. "Lo di mana?" tanya Sagara setengah berteriak. "Di dapur lah!" Oh iya, Sagara lupa. Kenapa ia mesti bertanya padahal sudah tahu betul ada di mana Athena. Saat menolah ke arah dapur, Sagara melihat kepala Athena. Buru-buru ia berjalan mendekat. Gadis itu hanya mengenakan tanktop berwarna putih dan jeans pendek. Rambutnya dicepol asal. Sagara menguap lagi sebelum akhirnya bertanya, "Kenapa sih, Na?" Athena yang sedang memperhatikan telur di tangannya mendekati Sagara. Wajahnya memelas. "Ini cara mecahin telurnya gimana? Gue mau bikin sarapan buat lo!" Athena menyodorkan satu butir telur di genggamannya pada Sagara. Astaga! Ada apa lagi, Ya Tuhan? Ini adalah kali ke tiga Athena bertanya yang aneh-aneh kepada dirinya. Hari pertama gadis itu bertanya bagaimana cara menyalakan kompor, hari kedua bertanya bumbu apa yang dipakai untuk membuat nasi goreng, dan sekarang dia bertanya cara memecahkan telur. Sagara harus dibuat geleng-geleng kepala melihat tingkah Athena di pagi buta. Maklum, Athena itu tidak pernah berkutat dengan dapur. Kebutuhan selalu dipenuhi oleh orang tua dan pembantu rumah tangga. Jadi wajar saja kalau dia sulit berbaur dengan hal-hal yang berkaitan dengan memasak. Walaupun Sagara terkadang bertanya, siapa yang perempuan sebenarnya? "Kan udah gue bilang beli aja kalau buat sarapan," kata Sagara. Athena mendengkus kesal. Jawaban yang sama lagi. "Terus makan siang sama makan malam beli lagi?" tanyanya. "Iya." Itu namanya menghamburkan uang. "Tapi kan kita udah nikah, mau gak mau gue harus bisa masak buat lo." Ah, ya. Mereka ini sudah resmi menjadi pasangan suami istri sejak satu minggu lalu. Hari ketika Athena mengajak Sagara berbicara di gudang sekolah, malamnya mereka langsung mempertemukan kedua orang tua dan membicarakan tentang masalah mereka. Walaupun harus menggunakan sedikit permohonan. Karena masing-masing dari orang tua mereka sama-sama sibuk dan berkata tidak ada waktu. Awalnya, kedua orang tua mereka terkejut saat melihat testpack yang diberikan oleh Athena, tapi pelan-pelan mereka sadar akan apa kesalahan mereka. Ibu Athena menangis dan terus meminta maaf karena tidak pernah punya waktu untuk mendidik Athena dengan benar. Ayah Sagara bersikap tenang dan meminta agar anaknya segera menikahi Athena. Athena memilih mengeluarkan diri dari sekolah karena tahu akan bagaimana nasibnya jika terus melanjutkan sekolah. Mereka melangsungkan pernikahan satu minggu setelahnya. Hanya di hadiri orang-orang terdekat. Teman-teman mereka sudah menduga kenapa Athena keluar dari sekolah. Bisik-bisik hujatan hanya terdengar beberapa hari, dan sampai saat ini, Sagara sudah cukup terbiasa. Mereka diberi rumah minimalis dua lantai oleh orang tua Sagara dan tinggal berdua. Sepulang sekolah, Sagara akan bekerja di perusahaan ayah Athena sebagai office boy. Jam kerjanya hanya enam jam. Sagara akan pulang jam sebelas dan kembali bersekolah esoknya. Liburnya pun dua hari. Yaitu Sabtu dan Minggu. Dari sana kehidupan mereka dimulai. Athena berusaha sebaik mungkin menjadi seorang istri. Bangun pagi untuk menyiapkan sarapan, dan menunggu Sagara pulang kerja untuk menyiapkan air hangat. Tapi... "Tapi lo jadi bangunin gue mulu, Na. Liat nih jam berapa?" Sagara melirik gorden jendela. Suasana masih gelap. "Ini pasti masih jam lima pagi, gue masih ngantuk." Meskipun bertanggung jawab atas kelangsungan hidup Athena, sifat Sagara tidak banyak berubah. Mereka sering adu mulut hanya karena hal kecil. "Ya udah, makanya kasih tau gue cara mecahin telur, biar lo bisa tidur dan nanti gue bangunin jam setengah tujuh." Sagara mengerjapkan matanya, mengingat sesuatu. "Hari pertama kita tinggal bareng, lo bikin sarapan apa?" tanya Sagara. "Roti," sahut Athena. "Hari kedua bikin apa?" "Nasi goreng biasa." "Ya udah, kalau gitu sekarang masak yang kayak gitu aja." Sagara menguap malas. Dia memang mengambil telur di tangan Athena, tapi tidak mengajarkan cara memecahkannya, melainkan menaruhnya kembali di kulkas. "Jangan masak sesuatu yang bikin lo susah," kata Sagara. "Tapi gue mau masakin yang spesial buat lo. Nasi goreng pakai telur, misalnya. Biar kayak orang-orang. Biar badan lo sehat karena makan yang bervitamin." Mendengar itu tentu saja Sagara melengkungkan senyuman. Meskipun hasil masakan Athena tidak pas di lidahnya, ia tetap memakannya. Karena gadis itu sudah berusaha keras dan ia tidak ingin mengecewakannya. "Iya, gue tau. Tapi gue gak mau bikin lo repot. Apa pun yang lo masak gue bakal tetep makan kok. Jangan sampai kelelahan, Istriku." Pipi Athena bersemu. Rasanya membuat telur ceplok akan matang di sana. Sagara itu memang paling-paling kalau sudah mengeluarkan jurus andalannya. Mana bisa merengek lagi kalau sudah begini? "Ya udah iya, maaf udah bangunin lo." "Gak pa-pa," Sagara menarik tengkuk leher Athena dan mencium keningnya lama. "Gue tidur lagi, ya? Nanti bangunin kalau matahari udah nongol." Athena mengangguk dan Sagara memutar tubuhnya untuk kembali ke kamar. Gadis itu kemudian merogoh ponselnya. Melihat tutorial memasak nasi goreng dari YouTube. Kemarin hasil masakannya tidak terlalu enak, ia tahu itu. Tapi Sagara tetap memakannya dengan lahap. Karena itu kali ini ia akan berusaha lebih keras lagi. Video di ponselnya mulai berjalan. Athena mengambil wajan kemudian ditaruh di atas kompor yang baru ia nyalakan. Bumbunya sudah dihaluskan lebih dulu. Athena mulai menuangkan minyak secukupnya. Setelah panas, barulah ia memasukkan bumbu. Tapi matanya kemudian membola saat melihat video di ponselnya. "Ehh, kok sosis sama baksonya dimasukin sekarang sih?" tanya Athena segera mematikan video. Bersamaan dengan tangannya yang lain yang juga mematikan kompor. Ia kira nasi dulu baru sosis. Ternyata terbalik. Buru-buru Athena mengiris tipis sosis dan bakso yang sudah ia siapkan. Irisannya tidak sempurna, membuat Athena menghela nafas pasrah. Ternyata ia memang belum mahir. Padahal kelihatannya mudah, ternyata lebih sulit dari memasak nasi di rice cooker. Setelahnya video kembali dinyalakan dan ia kembali menyalakan kompor. Sosis dan bakso dimasukkan, setelah matang, nasi yang menyusul. "Kecapnya mana? Kecapnya mana, woy?!" kesal Athena menyapu pandang. Ternyata kecapnya berada di ujung pantry. Athena berlari ke arah kecap itu kemudian menyambarnya dengan cepat. Tapi karena sambaran itu, botol kecapnya justru tidak tergenggam dan malah jatuh ke lantai. Mengundang dengkusan halus dari mulutnya. Di sisi lain, nasi gorengnya sudah sedikit berasap. Belum sempat berjongkok untuk mengambil kecap, Athena justru berlari ke arah kompor. Ia mengecilkan api dan mengaduk nasi gorengnya yang agak sedikit gosong. "Gila, tau gini gue mau miara pembantu aja." Tidak sadar bahwa tadi dirinya sudah berkata akan menjadi istri yang baik. Athena sudah tidak peduli pada video yang ditontonnya. Setelah mengambil kecap, ia langsung membuka penutup kecap itu kemudian memasukkan ke wajan secukupnya. Gosong pada nasi gorengnya jadi tidak terlalu terlihat karena kecap itu. Tangannya dengan santai terus mengaduk. Saat hampir matang, ia memasukkan penyedap rasa sedikit. "Kenapa sesusah ini jadi bini orang, astaga?" keluh Athena menghela nafas panjang. Nasi gorengnya sudah matang. Athena mematikan kompor dan mendudukkan tubuhnya di lantai. Lelah juga ternyata. Hanya membuat nasi goreng saja sudah seperti perang dengan peralatan dapur. Athena tidak sanggup jika nanti harus memasak rendang atau opor ayam. Bisa mati dirinya. *** Satu jam kemudian. Setelah menyiapkan sarapan dan mandi, Athena menarik selimut yang masih membungkus tubuh Sagara. Cowok itu terlihat lelah sekali. Padahal Athena tidak sanggup membangunkan, tapi Sagara harus sekolah. Cowok itu sendiri yang berbicara akan berubah dan memperbaiki sekolahnya. "Gar, bangun!" Ia beringsut naik ke atas ranjang dengan tubuh yang hanya dibalut handuk. Rambutnya juga digelung handuk putih. Pelan-pelan mulai menepuk pipi suaminya dengan gemas. Lucu rasanya. Athena tidak pernah menyangka akan menjadi seorang istri di usianya yang masih begitu muda. Membangunkan Sagara, menyiapkan seragam sekolah cowok itu, mengantarkan sampai depan pintu, semuanya menjadi hal baru yang menyenangkan. Walaupun karena sebuah kesalahan, Athena tidak bisa memungkiri jika dirinya bersyukur. Sagara itu, walaupun berengsek, ia tetap sangat mencintainya. "Gar, sekarang udah jam setengah tujuh. Lo mau telat ke sekolah?" Sagara menggeliat malas. Athena kira akan bangun, tapi justru bergerak membelakangi dirinya. "Sejam lagi, Na!" pinta Sagara serak. Apa? Sejam lagi katanya? Kalau itu berarti Sagara berniat untuk bolos sekolah. Tidak akan dibiarkan. "Sejam pala lo meledak!" Athena mulai ngegas. Ia membalikkan tubuh Sagara agar telentang. "Buruan bangun atau gue lempar lo lewat jendela?" sambungnya. Mata Sagara terbuka. Mulanya hanya sedikit, tapi melihat posisi Athena di atasnya, seketika langsung segar. Handuk putih yang dikenakan Athena membuat bagian dadanya sedikit terlihat. "Cium dulu, Na?" pinta cowok itu. Athena menundukkan tubuhnya dan mencium pipi Sagara sekilas. "Udah, sekarang buruan bangun. Mandi, sarapan terus berangkat sekolah." "Ih, kok di pipi sih?" tanya Sagara dengan nada kesal. "Ya terus di mana? Di jidat? Elo kan cowok." Athena beringsut turun dari kasur, diikuti Sagara yang bergerak bangun. "Di sini, Na." Tangan Sagara menunjuk bibirnya sendiri. "Buruan cium dulu, abis itu otewe ke kamar mandi." "Gak usah ngarep lo! Gue udah mandi, sedangkan elo belum." "Tapi mulut gue gak bau kok." "Bodo!" Melihat Athena yang bergerak ke arah kaca besar di depan lemari, Sagara langsung bangun dan berlari ke arah kamar mandi. Cowok itu kembali tiga menit kemudian dan berjalan ke arah Athena yang sedang menggosok-gosokkan handuknya ke rambut. Sepertinya berusaha mengeringkan. "Na!" panggilnya. Gadis itu menoleh, "Lo belum mandi, Gar?" tanyanya kesal. "Tapi udah sikat gigi kok." "Ya terus kenapa?" Bukannya menjawab, Sagara justru mengangkat tubuh Athena dan membawanya ke kasur. Mengabaikan handuk yang Athena pegang terjatuh di lantai. Ia mendudukkan tubuh Athena di pahanya. Tanpa menunggu lagi, langsung menarik tengkuk Athena dan menyumpal bibir gadis itu dengan bibirnya. Athena tidak bisa memungkiri jika tubuhnya bereaksi terhadap ciuman Sagara. Tapi karena tidak mau Sagara betah berada di atas kasur, ia memutuskan melepaskan diri. "Buruan mandi gih! Nanti lo telat." Gadis itu turun dari pangkuan Sagara dan segera menjauh. Tapi Sagara tidak membiarkan Athena terlepas begitu saja. Ia langsung memegang pinggang Athena dan kembali mendudukkannya di paha. Kali ini membuat kedua kaki Athena dengan terpaksa mengalung pada pinggangnya. "Enak aja main pergi, ayo bikin anak lagi!" ajak Sagara semangat. Membuat Athena melotot dan berusaha menjauhkan diri dari pelukan Sagara. "Satu aja lo belum tentu bisa ngurusin, segala mau bikin anak lagi." Sagara tergelak melihat reaksi Athena. Tanpa mau membuang waktu, ia kembali menyumpal bibir Athena. Diterima oleh gadis itu dengan terpaksa. Mereka saling melumat satu sama lain. Membiarkan sensasi hangat saling memeluk keduanya. Tidak peduli pada detik jarum jam yang terus berputar, Athena mulai mengalungkan tangannya di leher Sagara, sedangkan Sagara menjaga pinggang dan tengkuk Athena agar tidak terjengkang. Sesekali ciuman Sagara akan turun ke leher dan d**a Athena. Membiarkan handuk gadis itu kendur dan akhirnya terlepas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD