Mistake 2; Libur

1751 Words
Kita tidak akan pernah bisa memperbaiki hari yang akan datang, jika tidak tahu di mana letak kesalahan kita hari ini. Jika hari yang lalu ada terlalu banyak tumpukan kesalahan, hari berikutnya harus ada pembelajaran. *** Hari itu hari Minggu. Sagara libur kerja dan menghabiskan waktunya di rumah untuk istirahat. Malam hari ketika dirinya sedang mengerjakan tugas sekolah, suara langkah kaki dari arah tangga membuatnya menolehkan kepala. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Di sana, terlihat Athena yang mengenakan baju tidur. Gadis itu menguap berkali-kali sebelum melanjutkan langkah. Tidak kuat menahan kantuk, ia berhenti di tengah tangga, duduk dan menyandarkan kepalanya di palang tangga. Masih beberapa anak tangga lagi sebelum menjejak lantai satu. Lucu sekali. Athena seperti anak panda yang terbangun mencari induknya. Sampai beberapa menit, gadis itu tak kunjung bangun. Sagara tidak tega, ia meletakkan laptopnya di meja dan berjalan menghampiri Athena. "Lo kebangun?" tanya Sagara saat sudah berada di depan Athena. Mata Athena terbuka sebentar, ia memandang Sagara lempeng. "Lo bego, ya?" tanyanya kemudian kembali menutup mata. Sagara merengut kesal, "Kok bego sih, Na?" tanyanya. "Ya kalau gue gak kebangun, gak bakal ada di sini." Sagara mengerjapkan matanya. Benar juga. Kalau Athena tidak terbangun, dia pasti masih tidur di kasur, bukannya berjalan dan berhenti di tengah tangga. "Kenapa turun segala? Lo haus?" Nah, kalau pertanyaan ini sudah pasti tidak ngawur. "Gue ngantuk, bukan haus." Athena menguap lagi. Tidak ngawur memang, tapi selalu salah untuk Athena. "Kalau ngantuk ngapain turun ke bawah? Balik lagi sana." Athena menggeleng dengan bibir yang mengerucut. Matanya tertutup rapat, tapi Sagara tahu bahwa Athena tidak tidur sepenuhnya. Gadis itu menjaga agar kesadaran tetap ada. "Tapi gak enak tidur sendirian," kata Athena dengan nada manja. Sagara memutar bola matanya malas. "Gak usah manja deh. Gue lagi ngerjain tugas, Na. Kalau gue nemenin lo sampai tidur lagi, gak bakal kelar dong tugas gue." Tapi Athena tidak mau mengerti. "Kenapa gak di kamar aja ngerjain tugasnya?" tanyanya. Sama sekali tidak mempedulikan wajah muram Sagara. "Nanti lo keganggu dan malah gak bisa tidur." Karena di kamar mereka tidak ada meja belajar. Kalau mau mengerjakan tugas, Sagara hanya bisa rebahan di kasurnya. Hal itu yang membuatnya tidak bisa mengerjakan tugas. Athena adalah tipikal orang yang mudah sekali terbangun hanya karena suara gesekan kecil. "Kalau kayak gitu mending gue temenin lo aja di sofa." Sagara kembali memutar mata. "Gak usah ngeribetin, Na. Gue sibuk tau." Tapi tidak ada jawaban. Athena justru memeluk tubuhnya sendiri dan memejamkan matanya rapat. Menambah rasa tidak tega yang sejak tadi mengusik Sagara. Segalak dan se-absurd apapun Athena, dia itu manja sekali sebenarnya. Untuk itulah Sagara berjalan memutar untuk mengambil laptopnya, bukan untuk dibawa ke kamar, melainkan memindahkannya ke meja makan. Ia juga membawa kopi dan buku-bukunya turut serta. Setelahnya, Sagara menjemput Athena. "Ya udah, sini gue gendong. Nanti kalau udah selesai kita pindah ke kamar." Athena mengangguk dan mengulurkan kedua tangannya. Disambut Sagara dengan langsung membopong tubuhnya. Ia berjalan ke arah sofa dan membaringkan tubuh Athena di sana. Gadis itu langsung meringkuk nyaman. "Gue di meja makan, lo di sini aja sampai tugas gue kelar. Nanti gue gendong lagi." Sagara langsung berlalu begitu saja. Berpindah ke meja makan. Bukan apa-apa, kalau ia ikut duduk di sofa lain, ia takut Athena akan terganggu dengan suara keyboard. Karena telinga gadis itu peka sekali. Sama seperti dirinya. Tapi rupanya Sagara tidak sadar kalau Athena mengikutinya. Saat tangannya menarik kursi, ia harus terlonjak kaget karena melihat Athena yang tiba-tiba berhenti tepat di sampingnya. "Lo ngapain di sini?" tanyanya kesal. "Lo sih segala ninggalin gue sendirian di sofa, jadi gue ikutin." "Jaraknya itu gak jauh, Na. Gak usah berlebihan. Udah di sana aja." Sagara mulai duduk dan membuka laptopnya kembali. "Gak mau!" "Ya udah iya, lo duduk di sini juga nemenin gue," kata Sagara mengalah. "Deketin ke sini kursinya," suruhnya kemudian. "Gak mau juga." "Terus mau lo apa, astaga?" Sagara mulai kesal. Ia bahkan sampai mengusap wajahnya karena lelah dengan sikap Athena. Entah apa mau gadis itu sebenarnya. Disuruh tidur tidak mau, disuruh menemani tidak mau juga. "Di situ aja duduknya," Athena menunjuk paha Sagara. Membuat cowok itu melotot tidak habis pikir. Sagara meneguk air liur. "Ribet dong gue. Kapan kelarnya tugas gue kalau lo bangunin adek gue mulu?" berucap dengan wajah memelas. Bukannya kasihan, Athena justru menghentakkan kakinya kesal. Dia memutar tubuhnya dengan bibir yang mengerucut. Baru beberapa langkah saat tangannya ditarik oleh Sagara. "Ya udah iya, gak usah ngambek gitu. Jelek lo!" Sagara membalikkan tubuh Athena agar menghadapnya. Tanpa menyahut lagi, Athena langsung melompat ke perutnya. Ditangkap sigap oleh Sagara yang langsung memegang b****g Athena yang sudah mengalungkan kaki pada pinggangnya. Sagara membawa Athena. Meskipun posisinya menjadi agak sedikit menyulitkan, ia tetap duduk di kursi. Athena mengalungkan tangannya di leher Sagara. Sedangkan kepalanya disandarkan di bahu kiri. Sagara mulai mengerjakan tugasnya lagi. "Gar, elo ngopi?" tanya Athena dengan posisinya. Tadi saat mengikuti Sagara ke meja makan, matanya sempat menangkap secangkir kopi di samping laptop Sagara. Padahal selama mengenal Sagara, cowok itu tidak pernah ngopi. "Iya, biar gak ngantuk." Athena hanya mengangguk sambil mengeratkan pelukan. "Kalau ngantuk tidur aja, Na. Kalau pegel bilang, ya? Biar tugasnya gue tunda buat nemenin lo tidur." Manis sekali. Padahal bukan Athena yang akan pegal, melainkan Sagara sendiri. Tapi cowok itu selalu saja mementingkan kepentingan Athena. "Gak bakal pegel. Lo kerjain aja tugas lo." "Iya, Sayang." Mereka baru menikah. Di depan sana, pasti akan ada banyak ujian yang mereka hadapi. Entah membuat kepercayaan hancur, bertengkar hebat, berbeda pendapat, atau membuat rasa di antara mereka goyah. Tapi jika itu terjadi, Athena tidak akan membiarkan siapa pun mengambil Sagara darinya. Akan ia pertahankan hubungannya dengan Sagara mati-matian. Tidak peduli jika orang lain berkata kalau masa depan Sagara tidak jelas, ia hanya punya satu keyakinan. Bahwa bersama Sagara, hidupnya terasa lengkap. Mulai saat ini ia akan sabar menjalani kehidupan barunya. Tidak apa-apa jika masa depannya sudah hancur bahkan tidak ada, setidaknya masa depan Sagara harus tetap tertata. Bukan untuk dirinya, tapi untuk cowok itu sendiri. Sagara itu, meskipun nakal, dia punya cita-cita yang tinggi. Ingin jadi pengusaha, katanya. Agar Athena tidak hidup susah dan bisa membeli siapa pun yang berani menggoda Athena untuk dijadikan makanan singa. Sagara pernah bilang itu dulu. Meskipun terkesan berisi candaan, Athena tahu bahwa cowok itu serius. Dia ingin menjadi pengusaha sukses. "Gue sayang banget sama lo, Sagara." Ucap Athena mengecup leher Sagara sekilas. Beberapa menit kemudian deru nafasnya sudah terdengar teratur di telinga Sagara. Membuat cowok itu tersenyum dan mengusap kepala Athena pelan agar tidak membangunkannya. "Gue juga sayang banget sama lo, Athena," balas Sagara. Cowok itu kembali fokus dengan laptop menyala di depannya. Dari tubuh yang sedang memeluknya itu, Sagara merasakan bahwa dirinya bersemangat dan harus berusaha lebih keras lagi. Apa yang ia lakukan di masa lalu, biarlah hanya menjadi kesalahan yang tidak perlu terlalu diingat. Cukup menjadi pendorong agar dirinya bisa berubah. Kalau ia memanglah cowok berengsek, anaknya nanti tidak boleh menjadi orang yang sama. *** Sekitar jam setengah dua belas malam, tugas Sagara baru selesai. Tubuhnya kaku dan sakit semua. Posisi Athena yang tertidur di bahu kirinya membuat bahunya terasa mau lepas saja. Tapi karena Athena yang kekeuh mau tidur di sana, mana tega dirinya mengusir. Karena takut Athena merasa sakit dengan posisi tidur seperti itu, Sagara segera menggendong tubuh Athena dengan hati-hati. Ia mendorong kursi ke belakang dengan kakinya kemudian berjalan ke arah tangga. Tepat menginjak anak tangga ketiga, Athena menggerakkan tangannya untuk memeluk Sagara lebih erat. Rupanya dia terbangun. "Gar, gue haus..." gumaman Athena terdengar serak. "Mau minum dulu?" tanya Sagara. Tentu saja pertanyaan yang salah. Athena mendengkus, "Punya laki bego banget, heran," omelnya. Gadis itu menggosok-gosokkan hidungnya di bahu Sagara. Sedangkan Sagara kembali memutar tubuhnya untuk menuruni tangga. Sampai di dapur, Sagara mendudukkan tubuh Athena di atas meja sementara dirinya mengambil air minum. "Mau yang dingin," pinta Athena. Sagara menuruti, dia mengambil air yang ada di kulkas, menuangkan ke gelas lalu memberikannya kepada Athena. Diteguk setengah oleh gadis itu, sisanya ia yang menghabiskan. Setelahnya, ia kembali menggendong Athena di depan untuk membawanya ke kamar. "Sagara, besok-besok tugasnya biar gue aja yang ngerjain," kata Athena saat Sagara menaiki tangga. Dahi Sagara berkerut, "Kenapa kayak gitu?" tanyanya tidak mengerti. "Gue takut lo sakit, pulang sekolah lo harus kerja, sedangkan dua bulan lagi kan udah ujian nasional, elo gak boleh drop karena terlalu forsir otak lo yang sebelumnya gak jalan." Kurang ajar memang. Sagara menghela nafas kesal. "Lo ngasih perhatian atau mau ngehujat gue, Na?" Athena hanya terkekeh geli. "Ngasih perhatian kok," ucapnya. Mereka sampai di kamar, Sagara menggunakan kakinya untuk mendorong pintu yang sudah terbuka. Athena didudukan di kasur olehnya. "Gue cowok, gak gampang sakit kok. Lagian udah sewajarnya gue kerja buat ngidupin lo. Kalau gak kayak gini, lo gak bakal bisa makan sehat. Masa iya mau minta sama orang tua kita? Kan malu." "Iya tau kok, tapi kan seenggaknya lo harus tidur yang cukup." Sagara mengusap kepala Athena lembut. Ia menyusul untuk tidur di samping gadis itu. "Gak usah khawatir, gue gak pa-pa." Sagara melepaskan kaos oblong yang dikenakannya kemudian berbaring. Di susul Athena kemudian. "Kalau udah lulus langsung kuliah ya, Gar?" "Iya, nanti gue kuliah. Lo juga gak boleh kecapekan di rumah. Jangan terlalu maksain diri buat beres-beres. Nanti kalau gue udah punya uang yang cukup, kita nyari pembantu." Athena menggeleng, membuat Sagara mengerutkan dahinya bingung. "Kenapa?" tanya Sagara. "Gue bisa ngerjain semuanya sendiri. Manja-manja gini gue udah banyak belajar beres-beres rumah sama pembantu sebelum nikah sama lo. Nyuci baju, nyuci piring, nyapu, ngepel, nyetrika baju, bersihin toilet terus ngelap kaca juga. Jadi, gak perlu buang duit buat miara pembantu." Lagi-lagi lupa jika sehabis masak dan membersihkan rumah, Athena seringkali mengeluh lelah dan ingin mencari pembantu saja. Tapi di saat-saat seperti ini ia juga kadang berpikir bahwa Sagara pasti lebih lelah dalam menjalani hari-harinya. Pusing karena tugas sekolah, setelah itu dia harus langsung pergi bekerja dan baru bisa istirahat di atas jam sepuluh malam. Suaminya itu bahkan belum dewasa, tapi dia berusaha sebaik mungkin untuk bertanggung jawab. Dan dari semua itu, apakah pantas jika dirinya mengeluh di tengah kerja keras Sagara? "Tapi, Na..." Sagara mengecup puncak kepala Athena mesra. "Inget, ya? Kalau capek jangan diterusin. Nanti biar gue yang bantu beresin rumah kalau lagi libur." Lalu Sagara mengusap perut Athena yang masih rata. "Jangan bikin anak kita capek," katanya. Athena tersenyum dan beringsut mendekat, ia tidur dengan tangan Sagara sebagai bantal. Kecupan manis Athena terima sebelum memejamkan mata. Lampu tidur dimatikan oleh Sagara, ia menguap dua kali sebelum akhirnya mengeratkan pelukannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD