Kamu mungkin bisa menahan rasa malu, tapi nafsu?
Nafsu bisa lebih mudah membuatmu gila. Apa lagi jika sudah ada pemandangan yang disugukan di depan mata.
Jangankan menahan, bergerak saja kamu akan kesulitan.
-Sagara Galuh Permana
***
Note: Terdapat adegan dewasa. Harap bijak dalam membaca!
Matahari sudah memaksa masuk lewat jendela saat Athena beringsut naik ke atas ranjang. Sagara masih meringkuk saat ia menarik selimut sampai terbuka. Sebenarnya sejak tadi sudah ia bangunkan, tapi Sagara justru hanya berdeham dan kembali ke alam mimpinya. Ia tahu, Sagara pasti sangat kelelahan sekali. Sampai sudah setengah delapan dia belum bangun juga.
Sebenarnya Athena tidak tega membangunkan, tapi Sagara harus melakukan sesuatu untuknya.
"Gar!"
Languhan panjang terdengar. Tubuh Sagara kini menjadi tengkurap. Selimut ia tarik kembali agar menutupi tubuhnya. Ketahuan sekali tidak ingin diganggu.
"Gar, udah setengah delapan."
Kali ini Athena mengguncang bahu Sagara. Ia kembali menarik selimut. Membuat kedua mata Sagara sedikit terbuka.
"Ini tanggal merah, Na." Katanya dengan nada malas.
"Iya, gue juga tau."
"Kalau tau kenapa bangunin gue, Astaga!" Sagara mulai ngegas. Emosi dengan tingkah Athena yang tanpa dosa itu.
Athena itu, kalau hari biasa seperti seorang jenderal yang memaksa anak buahnya untuk ikut perang. Dan pada hari libur seperti sengaja membuat Sagara emosi di pagi hari. Untung sudah jadi istri.
"Bantuin gue, Sagara!"
"Bantu apa?" tanya Sagara dengan posisi yang masih tengkurap.
"Punggung gue perlu digosok nih, gue gak bisa ngegosok sendiri soalnya tangan gue kan gak elastis. Ayo bantuin gosokin punggung gue!"
Mendengar kata punggung, mata Sagara langsung terbuka sepenuhnya. Ia mengubah posisinya menjadi duduk. Melihat dengan jelas Athena yang hanya mengenakan handuk di tubuhnya.
"Lo serius?"
Athena mengangguk. Menambah tingkat semangat Sagara yang semakin menggebu.
Jadi begini, semenjak Athena hamil, mereka tidak pernah melakukan hubungan intim. Sagara takut jika dirinya akan melukai anaknya. Saat akan mandi berdua, Athena bahkan sampai membatalkannya. Itu semua karena ia tidak ingin menyiksa Sagara.
Tapi sekarang Athena justru ingin Sagara menggosok punggungnya. Siapa yang tidak bersemangat coba? Kalau tidak bisa melakukan hubungan intim, setidaknya ia bisa menyentuh Athena lebih lama. Ia rasa itu sudah lebih dari cukup untuk mengobati rasa hausnya akan tubuh Athena.
"Ayo!" Sagara bersemangat.
Ia beringsut turun dari ranjang dan langsung membopong Athena ke kamar mandi.
"Lo kenapa semangat amat?" Athena bertanya heran.
Sagara menurunkan Athena di dekat bath tub. Tempat itu sudah penuh dengan air berisi busa.
"Gak pa-pa."
"Tapi inget, ya! Lo gak boleh grapa-grepe, nanti keterusan. Cukup gosokin punggung gue sampe bersih terus keluar."
Wajah semringah Sagara surut seketika. Semangatnya menguar entah ke mana. Apa lagi saat melihat Athena melepaskan handuknya dan menggantungkan handuk itu, Sagara bahkan harus meneguk air liurnya agar tidak langsung menerjang Athena.
"Na, elo mau bunuh gue kalau gini caranya."
Tidak membiarkan Sagara lebih lama menatap tubuh telanjangnya, Athena segera berendam.
"Na!"
"Apa sih, Gar?" Athena berbalik. Memperlihatkan tubuh bagian depannya pada Sagara.
Apa Sagara harus memberi tahu? Jika tubuh basah Athena itu semakin membuat Athena terlihat seksi.
"Anjir! Lo emang bener-bener mau bunuh gue, Na!" Sagara histeris. Ia merasakan bulu kuduknya meremang, bagian bawah tubuhnya menegang. Dan ia harus semakin tersiksa saat melihat tawa Athena terngiang.
"Tahan ya, Gar. Sampe gue lahiran aja."
Sagara kembali meneguk salivanya. Apa katanya? Sampai lahiran? Itu artinya ia harus bertahan seperti ini kurang lebih untuk delapan atau tujuh bulan ke depan? Ya Tuhan, Sagara tidak sanggup. Tidak akan sanggup! Bantu Sagara melewati ujian berat ini, Ya Tuhan.
"Na..." lirihnya. "Emang kita gak boleh nganu, ya?"
"Apa?" Athena berpura-pura bodoh.
"Ya itu, lo gak kasian sama adek gue?"
"Enggak!" Athena berbalik. Ia menyerahkan spons pada Sagara. Meminta agar Sagara segera menggosok punggungnya.
Sagara menerimanya. Pelan-pelan ia berjongkok lebih dekat dan mulai menggosok punggung Athena dengan spons penuh busa itu. Tangannya gemetar hanya baru beberapa kali gosokan. Keringat dingin mulai menetes dari pelipisnya. Ia tidak akan menyangka akan seberat ini.
Tolong, ini bukan lebay. Cowok mana pun tidak akan tahan jika dihadapkan dengan perempuan yang sedang telanjang.
"Na, elo kapan check up ke dokter kandungan?"
"Gak tau. Males gue."
"Kok males? Kan biar tau gimana keadaan anak kita."
"Gak pa-pa, nanti aja deh."
"Minggu depan gue anterin, ya?"
Athena sedikit kebingungan. Tapi ia hanya mengangguk mengiyakan.
Astaga, asli ini sakit banget! teriak Sagara dalam hati.
"Biar gue bisa nanya sama dokternya kita bisa nganu atau enggak." Ujar Sagara dengan tangan yang terus menggosok punggung Athena.
Tentu saja Athena langsung kembali memutar tubuhnya agar berhadapan dengan Sagara. Membuat air menciprat ke tubuh Sagara. Kali ini bahkan sampai sedikit berjinjit. Menambah emosi yang sejak tadi sudah Sagara tahan. Athena itu memang kejam. Kejam sekali.
"Lo gak malu nanya kayak gitu?" tanya Athena.
Geraman kesal berhasil lolos dari mulut sagara. Ia menatap Athena dengan sorot tak terbaca.
"Na, elo gak mau kan kalo misalnya gue nyari pelarian? Selingkuh, misalnya."
"Ya enggak lah!" Athena menggeleng.
"Kalo gitu..." Sagara sengaja menggantungkan kalimatnya. Ia bangkit dari posisi berjongkoknya dan tanpa aba-aba langsung membopong tubuh Athena yang sedang berendam.
Gadis itu kelabakan dan menggerak-gerakkan tubuhnya di gendongan Sagara. Meminta dilepaskan.
"SAGARA, ELO MAU NGAPAIN?" teriak Athena.
Sagara tidak menjawab. Ia sama sekali tidak membiarkan Athena melawan. Tepat sebelum Athena kembali buka suara, ia sudah menceburkan diri ke dalam bath tub. Tidak peduli bahwa dirinya masih mengenakan baju. Membuat air yang ada di dalamnya berhamburan keluar.
"Lo gila?!" kesal Athena. Sekarang ia jadi duduk di pangkuan Sagara. Di dalam air pula.
"Na..." Sagara memanggil lirih. "Gue ... udah gak tahan."
Barulah Athena paham. Ia kembali tertawa di depan Sagara. Menikmati wajah pucat Sagara yang sepertinya memang sangat tersiksa.
"Gar, gue mau ngakak, boleh?"
Sagar tidak menyahut. Ia mendekatkan tubuh Athena agar semakin merapat padanya. Athena tidak melawan. Menambah gerakan Sagara yang semakin gencar menggerayangi tubuhnya.
"Na, pokoknya kita harus ke dokter. Gue perlu nanya. Kalo nanya gugel takut malah gak bener."
Suara Sagara terdengar serak. Dan saat melihat anggukan kepala dari Athena, ia langsung menyambar bibir merah merona itu. Melumatnya kasar tanpa menerima penolakan. Nikmat sekali. Sagara bisa saja tergoda dengan ratusan wanita di luar sana, tapi ia tidak akan sanggup jika tanpa ciuman dari Athena.
Athena pun tak kalah menikmati. Ia menjambak rambut Sagara sambil terus membalas ciuman Sagara. Mengejar lidah liar itu saat menelusuri rongga mulutnya. Meskipun cenderung kasar dan menuntut, ciuman Sagara adalah candu baginya.
Tubuh mereka sudah basah. Saat Sagara melepaskan ciuman, keduanya mulai terengah.
"Na, sakit banget, Na. Asli dah. Gue bisa mati beneran kalau harus nunggu beberapa bulan lagi."
Athena tertawa lagi. Ia langsung memeluk Sagara. Menyembunyikan wajah Sagara di dadanya.
"Nanti kalau lo libur kita pergi ke dokter."
Sagara mengangguk, ia mendekatkan wajahnya pada p******a Athena. Mulai melumatnya dengan serakah. Satu tangannya menjaga pinggang Athena, sedangkan yang satunya lagi sudah memainkan p******a Athena yang lain. Bagian bawah tubuhnya sakit, kepalanya pening, seluruh kulitnya terasa panas, tapi ia sama sekali tidak ingin berhenti.
Tubuh Athena menegang.
"Udah, Gar. Nanti lo mati," pinta Athena dengan tangannya yang sudah melingkar di leher Sagara.
Sagara mempercepat gerakannya. Ia menggigit p****g Athena dan memainkannya dengan lidahnya. Athena melenguh panjang, membuatnya semakin gencar melumat p****g itu dengan kasar.
Athena melenguh panjang. Ia menggerakkan kedua tangannya untuk menarik kaus yang dikenakan Sagara. Diterima oleh Sagara dengan melepaskan pegangan dan segera menjauhkan wajahnya. Kaus itu Athena buang begitu saja. Tubuh atas Sagara kini bertelanjang d**a.
Mereka saling beradu. Membuat tubuh mereka semakin panas dan berkeringat padahal sedang berendam di air. Sagara bermain dengan kedua p******a Athena, sementara Athena menciumi wajah Sagara dengan bibirnya.
"Na, adek gue udah minta-minta. Dia mau nerobos keluar dari celana gue, Na." Sagara berhenti melumat. Menyisakan satu tangannya yang terus meremas.
"Mau masuk, Gak?" tanya Athena.
Sagara menggeleng. "Nanti anak kita kenapa-napa," katanya.
Athena hanya terkekeh kemudian kembali menciumi wajah Sagara. Tapi Sagara justru semakin terangsang. Ia tidak bisa kalau begini terus. Setelah melepaskan diri, ia bangun dengan tangan yang sudah menggendong Athena. Kedua kaki Athena melingkar di pinggangnya.
Mereka keluar dari bath tub. Tidak perduli kondisi tubuh yang masih basah, Sagara membawa Athena keluar dari kamar mandi. Sampai di ranjang, ia langsung merebahkan tubuh Athena. Ia menyusul setelahnya.
Astaga, Sagara tahu kalau ini masih pagi. Kalau ada yang ingin protes tolong ke Athena saja. Karena Athena lah yang sudah membuatnya seperti ini.
"Na, gue gak mau tau. Lo harus jinakin adek gue lagi." Kata Sagara kembali meletakkan Athena di atas tubuhnya.
Athena mengangguk bersemangat. Ia beringsut turun sebentar dan menarik boxer hitam yang dikenakan Sagara sampai lolos kemudian melemparnya sembarangan.
Nafas Sagara sudah naik-turun saat ia duduk di pahanya. Athena menggosokkan kedua tangannya dengan mata yang menyorot pada sesuatu yang sudah berdiri di depannya. Detik berikutnya tangannya sudah mendarat di sana. Menimbulkan desahan nikmat dari mulut Sagara. Tapi saat Sagara meminta diteruskan, Athena justru menjauhkan tangannya.
"Na, jangan main-main, ya?! Gue bisa nerobos masuk punya lo!" Ancam Sagara membuat Athena tertawa.
Gadis itu kembali memegang adik Sagara dan menggerakkan tangannya naik-turun dengan tempo yang lamban. Menambah kesakitan pada wajah Sagara.
"Lebih cepet, Na!" pinta cowok itu menuntut.
Athena mengangguk dan semakin mempercepat gerakannya. Merasakan sendiri reaksi mengerikan dari tubuhnya. Ia tidak ingin berhenti. Tidak sekarang atau beberapa menit ke depan.
Athena semakin gencar saat melihat Sagara meremas selimut yang ada di bawahnya. Cowok itu terlihat menikmati, dan Athena tidak akan sungkan untuk mengikuti. Ia mempercepat tempo gerakannya lagi dan lagi. Membuat sagara mendesah berkali-kali.
Sampai tak lama Athena merasakan cairan hangat berwarna keputihan keluar dari sana. Membasahi tangannya dan membuat Sagara menghembuskan nafasnya lelah.
Adik Sagara kini tidak terlihat terlalu tegang.
"Maaf, ya, Sagara?" kata Athena menggesekkan tangannya yang basah ke seprai. Ia turun dari tubuh sagara dan ikut berbaring di samping cowok itu.
"Na, gu-gue pengen buru-buru rasain lo lagi. Bisa enggak kalau lahirannya dipercepat jadi minggu depan aja?" ungkapnya dengan nafas yang masih terengah.
"Ya enggak bisa lah! bego banget sih laki gue."
Sagara beringsut mendekat dan menyumpal mulutnya dengan p******a Athena. Kembali melumatnya seolah tidak pernah merasa cukup. Satu tangannya yang lain meremas yang satunya. Semakin merasa hangat saat Athena memeluk kepalanya.
"Maaf udah bikin lo kayak gini, lain kali gak lagi-lagi deh minta bantuan lo buat gosok punggung gue. Kasian elonya."
Sagara mengangguk dan semakin merapatkan diri. Diterima Athena dengan mengusap mengusap kepalanya. Keduanya kini kembali berakhir di ranjang. Athena hanya memperhatikan Sagara yang terlihat kelelahan dengan mulut yang terus melumat. Kedua matanya terpejam. Pelan-pelan, Athena merasakan satu tangan Sagara yang meremas p******a miliknya terjatuh. Lumatannya juga terasa melemah sampai akhirnya tidak ada. Menimbulkan kekehan ringan darinya.
"Kayak anak kecil aja lo," gumam Athena melepaskan diri. Mulanya Sagara mengerang tidak terima, tapi saat Athena kembali mengusapi kepalanya dengan lembut, deru nafasnya kembali terdengar teratur.
Athena menarik selimut agar menutupi tubuhnya dan Sagara. Ia menyempatkan diri mencium pipi Sagara sebelum ikut terlelap di sampingnya.
Pada akhirnya, mereka kembali terlelap berdua di ranjang. Tanpa sarapan sepertinya perut mereka sudah lebih dulu kenyang.