Mistake 8; Pertengkaran Pertama

1788 Words
Dalam suatu hubungan, pertengkaran itu wajar. Saling menyalahkan dan membesarkan ego sendiri juga hal biasa. Karena dari setiap pertengkaran, akan selalu ada pendewasaan. Satu proses yang tidak hanya membutuhkan pengertian, tapi saling menyadari kesalahan. *** Hari itu di siang hari, Athena dibuat terkejut karena gedoran tidak sabar di pintu rumahnya. Saat melihat jam dinding, waktu masih menunjukkan pukul dua siang. Tidak mungkin Sagara, karena jam bubaran pukul tiga sore, biasanya Sagara akan sampai rumah setengah empat atau bisa lebih jika ada pelajaran tambahan. Tapi karena gedorannya semakin cepat, Athena akhirnya memutuskan untuk mengintip lewat jendela terlebih dahulu. Cowok berseragam SMA terlihat di sana. Itu Sagara. Buru-buru ia mendekati pintu dan memutar kunci. Sagara langsung menerobos masuk begitu pintu terbuka. "Na, kok lama banget buka pintunya?" Athena melirik Sagara dari atas ke bawah. Memperhatikan apakah cowok itu masih memakai seragam sekolah atau tidak. "Gue pikir orang jahat," kata Athena setelah beberapa saat. "Gak ada orang jahat seganteng gue," balas Sagara bercanda. Tapi tidak mendapatkan reaksi berlebih dari Athena. "Tapi banyak orang jahat yang sifatnya sebelas dua belas kayak lo." Sagara hanya mendengkus sambil menarik tangan Athena ke arah sofa. "Na, gue punya kabar gembira buat lo!" serunya bersemangat. Tapi Athena justru terus memperhatikannya. "Kok elo udah balik? Elo bolos, Gar?" tanyanya galak. Tidak peduli pada ucapan Sagara sebelumnya yang mengatakan bahwa dia punya kabar gembira. "Enggak." Sagara menggeleng. "Ya terus kenapa jam segini udah ada di rumah. Lo pasti bolos!" kekeuh Athena. "Enggak, Na. Astaga." "Yaudah jelasin kenapa lo udah ada di rumah jam segini?!" tuntut Athena dengan nada tinggi. Mereka duduk di sofa, Sagara melepaskan tas di punggungnya lalu melemparnya ke meja. Ia jadi malas. Padahal seharusnya Athena senang karena ia pulang lebih cepat. Kenapa malah marah dan menuduhnya yang tidak-tidak? "Kelasnya udah bubar. Ada rapat guru, Na." Ia menjelaskan sesingkat mungkin. Harusnya itu hal yang biasa, karena Athena juga pernah mengalaminya. Rapat guru memang menjadi hal lumrah yang membuat para siswa dibubarkan tidak pada jam semestinya. Tapi di luar dugaan, Athena justru menyipitkan kedua matanya. "Bohong! Lo kan mau ujian, rapat apaan yang sampe mulangin muridnya kayak gini?" tuduhnya masih tidak percaya. Sagara berdecak kesal. Mood-nya seketika memburuk. Padahal tadi saat memutuskan untuk langsung pulang dan memberi tahu kabar apa yang ia dapatkan, ia sangat bersemangat. Tapi setelah melihat reaksi Athena, semuanya jadi berbalik. "Jadi lo gak percaya sama gue nih? Atau mau gue balik lagi ke sekolah buat nanya ada rapat apa?" tanya Sagara datar. "Boleh juga," jawab Athena. Sagara mendengkus sebal. Ia berdiri dan hendak berjalan melewati Athena, tapi ucapan dari gadis itu membuatnya menghentikan langkah. "Lo mau ke sekolah?" "Enggak. Ngapain? Gue mau ngumpul aja sama anak-anak." Sagara pergi. Sekarang Athena yang dibuat kelabakan. Ia mengejar cowok itu dan berhasil menarik tangannya tepat di depan pintu. Menghentikan langkah Sagara untuk sementara. Cowok itu diam saja. "Lo mau ninggalin gue sendirian di rumah?" Sagara menghempaskan tangan Athena. "Lo-nya aja gak seneng gue ada di rumah. Ya udah, mendingan gue pergi." "Gue gak bilang gitu," Athena mengelak. Sagara memutar tubuh dan memandang Athena dengan tatapan datar. "Tapi lo nuduh gue macem-macem dan gak percaya sama omongan gue." Sagara mulai emosi. Semua perkataan yang keluar dari mulutnya bahkan tidak ia saring terlebih dahulu. "Ya karena gak biasanya lo udah balik jam segini." Mereka akhirnya bertengkar. Tidak ada yang mau mengalah dan meminta maaf lebih dulu. "Tapi gak seharusnya lo nuduh gue bolos. Gue udah janji bakal berubah buat lo, tapi lo malah gak percaya sama gue. Sebenernya kita itu apa sih?" Athena dibuat tersentak karena kalimat terakhir Sagara. Apa bagaimana maksudnya? Hubungan mereka? "Daripada kita berantem, mendingan gue pergi. Itu harusnya lebih baik supaya lo gak mikir yang aneh-aneh tentang gue. Dan mungkin lo emang lebih seneng gue gak ada di rumah." Kali ini Athena menelan ludahnya sendiri. Perkataan Sagara membuatnya merasa bersalah. "Ih, gak gitu, Sagara." "Terus gimana?" sergah Sagara cepat. Hening beberapa saat. Athena kehabisan kata-kata. Ia tidak tahu harus memilih kata seperti apa untuk menjelaskan maksudnya pada Sagara. Ia tidak ingin Sagara pergi, dan ia sama sekali tidak bermaksud mengatakan bahwa ia tidak senang Sagara berada di rumah, apa lagi sampai tidak mempercayai cowok. Tidak begitu. Sejak menyetujui perubahan Sagara, ia hanya ingin memastikan bahwa Sagara benar-benar akan melakukannya. Bukan hanya sekadar omong besar saja, tapi benar-benar membawa perubahan. Dan kalau sampai cowok itu bolos sekolah, bukankah semuanya akan terasa sia-sia? Ia hanya tidak ingin Sagara kembali seperti dulu, tapi kenapa sekarang justru malah bertengkar? Sagara jalan lagi, saat berada di samping motornya, Athena menarik tangannya lagi dan Sagara menghempaskannya lagi. "Temen gue lagi ngumpul, kalau gue ikut, gue bakal balik malem. Gak usah ditungguin!" "Lo gak kerja?" tanya Athena dengan nada yang lebih lembut. "Enggak. Gue bolos dulu." Cowok itu naik ke motornya, membuat Athena histeris dan kembali memegangi tangannya. Kali ini tidak dihempaskan, hanya dipandangi oleh Sagara. "Lepasin!" Lalu meminta lewat mulutnya. Suaranya berubah datar. Membuat tubuh Athena tanpa sadar gemetar. "Jangan pergi, Sagara!" Sagara menghiraukannya, ia mengulang perintah mutlak seperti sebelumnya. Meminta agar tangannya dilepaskan. "Kalau gue lepasin nanti elo pergi," kata Athena. "Ya iyalah, ngapain juga di rumah. Gabut gue. Ngebosenin tau, gak." Athena dibuat terkejut. Tidak sadar bahwa tangannya pelan-pelan melepaskan cekalan. Di depannya, Sagara mulai memakai helm. Pernikahannya dengan Sagara bahkan belum ada seumuran jagung. Tapi kenapa banyak pertengkarannya. Apa ini salahnya? "Sekarang lo masuk! Gak usah keluar rumah dan langsung kunci semua pintu. Awas aja lo sampe kelayapan!" Padahal semenjak menikah, Sagara tidak pernah memperlihatkan sifat kasarnya lagi. Tapi kenapa dengan kali ini? Apa benar cowok itu sedang marah padanya? "Sagara, lo marah?" cicit Athena. Ia menundukkan kepalanya dengan kedua tangan yang mulai saling memilin. Tubuhnya gemetar dan ia ketakutan. Bagaimana kalau Sagara tidak pulang ke rumah lagi? "Gue gak marah, gue kan izin sama lo. Sekarang gue pergi dan balik entar malem." Tapi rupanya Athena tidak cukup memahami perkataan itu. Nada suara datar dari Sagara justru memberi tahu hal yang sebaliknya. Seolah dalam kalimat Sagara, ada kebohongan yang nantinya harus ia terima. "Sagara, gue minta maaf..." Mata Athena mulai memanas. Remasan di kedua tangannya semakin tidak karuan. Entah kenapa, melihat Sagara seperti itu membuat hatinya sesak. Dan Sagara menyadari hal itu. Melihat Athena menunduk dengan tangan yang diremas membuatnya menghentikan gerakan. "Na..." panggil Sagara berusaha meraih tangan Athena. Tapi gadis itu justru bergerak menjauhinya. "Athena!" Sekarang balik lagi Sagara yang dibuat kelabakan. Athena marah, dan Sagara bingung harus membujuknya dengan cara apa. "Sini, Na. Gue mau ngomong!" Athena melangkah mundur lagi. "Sagara, gue minta maaf..." Sagara merasakan hatinya seperti dikoyak mendengar suara lirih Athena. Ia kembali melepaskan helm, turun dari motor dan berjalan menghampiri Athena. "Gak perlu minta maaf, Na. Lo gak salah." "Sagara, gue minta maaf..." Athena terus mengulang kalimatnya. Membuat kepala Sagara seperti mau pecah saja. Kenapa emosi Athena jadi mudah berubah seperti ini? Membuatnya seperti gila rasanya. "Sini, Sayang. Gue mau ngomong." Kata Sagara lebih lembut. Tangannya terulur untuk meraih tangan Athena, tapi seperti apa yang tadi sudah ia lakukan, Athena melakukan hal yang sama. Dia menepisnya. Membalas perlakuannya yang sebelumnya. "Athena!" Kali ini Sagara berhasil meraih dagu Athena. Saat didongakan, tubuhnya kaku. Melihat kedua mata Athena yang sudah berkaca-kaca. Astaga, apa yang sudah ia lakukan? "Na, lo nangis?" Athena tidak menjawab. Matanya menyorot sendu. Menembus kedua mata Sagara dan menikamnya. Ia tidak pernah merasa sangat bersalah seperti ini. "Athena, jangan nangis, Sayang! Iya, gue gak ke mana-mana kok. Gue di sini sama lo." Athena mengerjap. Membuat bulir itu jatuh melewatinya pipinya. Menambah hantaman di d**a Sagara. Karena bulir itu, ia merasa gagal menjadi suami yang baik untuk Athena. Kenapa awal yang buruk selalu berjalan sulit? Kalau di sini saja rumah tangganya mudah diwarnai pertengkaran, akan bagaimana cara ia menjaga ke depannya? "Gue ... ngebosenin ya, Gar?" tanya Athena kembali menundukkan wajah. Sagara tersentak. Demi Tuhan ia tidak bermaksud mengatakan hal itu. "Na, gak kayak gitu, Na." Sagara memberi tahu. Karena tidak tahan melihat Athena seperti itu, buru-buru Sagara menarik kepala gadis itu ke dalam pelukannya. Kedua jemari Athena yang saling meremas ia lepas perlahan-lahan. Berganti dengan remasan di bahu belakangnya. "Na, gue gak maksud ngomong kayak gitu. Maaf, Na, maaf..." Athena histeris. Tangisnya pecah di d**a Sagara. Cengkeraman di bahu Sagara menguat. Berulang kali Sagara mengecup puncak kepala Athena lembut. Berusaha sebaik mungkin agar gadis itu tenang. "Sa-sagara, jangan per-pergi!" pinta Athena di tengah isakannya. Sagara ingat bahwa ini pertama kalinya Athena menangis, karena dirinya. Sejak berpacaran, Athena tidak pernah merengek apalagi sampai menangis seperti ini. Gadis itu selalu punya cara tersendiri untuk mempertahankan sifat angkuhnya. Lalu, apakah perkataannya tadi sudah benar-benar keterlaluan? "Na, jangan nangis. Iya, gue yang minta maaf." Meskipun sudah berusaha selembut mungkin, tangisan Athena justru kian kencang. Sagara bahkan khawatir jika akan sampai ke telinga tetangga. "Sagara, jangan pergi! Jangan pergi! Jangan pergi!" rengek Athena berulang. "Iya, gue gak ke mana-mana kok. Gue di rumah." Barulah Athena mendongak. Kedua matanya memerah, pipinya basah. "Beneran?" cicitnya. "Iya," "Jadi, elo gak jadi ngumpul bareng sama temen-temen lo?" "Iya, Na. Enggak kok." Tangan Sagara pelan-pelan terulur untuk mengusap pipi Athena yang basah. Senyumnya merekah begitu melihat Athena sudah lebih tenang. Demi Tuhan, perempuan yang sedang hamil itu memang benar-benar merepotkan dan membuat kepalanya pusing. "Pokoknya lo gak boleh ninggalin gue," kata Athena sendu. Air matanya jatuh lagi saat mengatakannya. Dihapus sigap oleh tangan Sagara. "Gak ada yang mau ninggalin lo, Na. Udah ya, jangan nangis! Gue gak suka liatnya." Tangis Athena berhenti. Meskipun suaranya masih sesenggukan, gadis itu sudah tidak menangis lagi. Tangannya terulur untuk memegang bahu Sagara. Setelahnya, ia langsung melompat ke gendongan cowok itu. Sempat membuat Sagara oleng tapi berhasil menjaga keseimbangan agar tidak terjengkang dan langsung menjaga tubuh Athena dalam gendongannya. "Maafin gue, gue janji gak bakal nuduh lo yang aneh-aneh. Gue janji gak bakal bersikap kayak gitu lagi. Maaf..." Suara Athena terdengar tulus dan penuh penyesalan. Wajahnya yang diletakkan di leher Sagara membuat cowok itu mengusap kepalanya dengan lembut. "Iya, gak pa-pa. Gue juga minta maaf udah kasar sama lo." Athena mengangguk dan semakin mengeratkan pelukan. Pelan-pelan Sagara mulai melangkahkan kakinya menuju pintu rumahnya, dengan Athena yang berada di gendongannya. Mereka itu sebenarnya sudah sama-sama cukup dewasa untuk mengerti keadaan. Tapi kebiasaan dan sifat mereka yang masih suka dengan kehidupan dunia luar membuat mereka seringkali dikuasai ego. Mereka kadang lupa tentang bagaimana hubungan mereka sekarang dan lebih mementingkan kepuasan emosi sendiri. Sampai akhirnya pertengkaran lah yang mengambil alih dan memaksa mereka untuk saling menyalahkan. Tapi... Di samping itu semua, Athena dan Sagara adalah dua orang yang juga sama-sama sedang berjuang untuk menjadi lebih baik lagi. Banyak kesalahan fatal yang mereka lakukan. Tapi dari sana mereka menemukan diri mereka akhirnya saling pengertian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD