"Detik di mana dia bertanya senyata apa perasaanku, saat itu juga kusadari ada dinding tinggi yang dia bangun untuk melindungi kerapuhan hatinya." —Adam F. Rahadian— *** "Aku tidak mau ikut." Tanpa berpikir panjang, Zirena menyuarakan keputusannya. Jelas menolak ide yang baru saja diutarakan oleh Ayah. Dia menatap lekat mata senja lelaki itu, berusaha menyampaikan jika dirinya benar-benar tidak ingin. Hawa di rumah ini mendadak berubah tidak nyaman. "Lalu, kamu pikir Ayah akan membiarkanmu tinggal sendiri di sini? Tidak, Zirena." Ayah menjawab tegas. Sehari setelah Zirena ke luar dari rumah sakit, dia bertekad bulat akan memboyong putrinya ke Sorowako. Tempat di mana proyek kontraktor terbarunya dilaksanakan. "Ayah tidak mau lagi kamu jatuh sakit karena tidak ada yang mengurusi. Seti

