Qualified

1029 Words
Nara melangkah cepat memasuki lift, mengangguk singkat pada dua lelaki yang menahan pintu untuknya , “ Terima kasih. “ “ Lantai berapa ? “ Lelaki dengan kemeja biru itu tersenyum ramah. “ Dua belas.” Sahut Nara balas tersenyum. Rejeki tidak pernah tertukar, kalau sudah melakukan yang terbaik berserahlah … tak sadar menggenggam erat map di tangannya saat mengingat suara lembut neneknya yang menenangkan. Desain brosur perjalanan wisata yang lama tersimpan akhirnya menjadi penyelamat setelah beberapa desain poster yang menyita waktunya beberapa bulan terakhir dibatalkan begitu saja oleh pemesannya. Senyumnya melebar membayangkan tabungannya tidak harus ditarik paksa untuk membayar uang asrama semester depan dan uang terapi neneknya beberapa bulan kedepan. Sammy dan Arka bertukar pandang. Seperti biasa mereka berdua mengamati gadis dengan rambut melewati bahu yang samar samar menebarkan aroma buah buahan lembut saat pemiliknya mengibaskan perlahan. Tubuh ramping, cukup jangkung karena mencapai dagu mereka meski hanya mengenakan sepatu datar berwarna coklat. Celana kain coklat muda dan kemeja kasual bergaris putih yang digulung lengannya sampai dibawah siku membuatnya nampak ‘ringan’. Desain tas kanvas sewarna sepatu dan jam tangan sporty hitam semakin menajamkan kesan simple. Perlahan mereka menggeser tubuh, mencoba mengamati wajah gadis itu tanpa ketara dari sudut ruangan yang berbeda. Imut ….Fresh … Arka mengangkat alisnya, berucap tanpa suara Sammy tersenyum … menyenangkan … ujarnya tanpa suara. Ting ….. pintu terbuka, mereka berdua melangkah pelan sambil mengawasi gadis yang melangkah cepat tanpa kesan tergesa. “ Mau apa dia ?” Sammy bertanya pada receptionis setelah gadis itu mengisi daftar tamu dan menunggu di sofa. “ Ada janji dengan bagian marketing, pembuat desain brosur perjalanan wisata kemarin, pak.” Keduanya memberikan O panjang dan berlalu ke ruangan sambil tersenyum. “ Menarik.” Ucap mereka hampir bersamaan sambil duduk di kursi masing masing. “ Masih anak anak banget.” Ujar Arka, meletakkan ponsel di meja. “ Tapi ….” Arka tergelak, Sammy terlalu mengenalnya untuk tahu penilaiannya tidak akan sesingkat itu,” tapi aku melihat kedewasaan di dalamnya.” “ Aku melihatnya smart, dan mari kita buktikan kualitasnya.” Sammy menekan tombol di mejanya ,” Rin, kalau urusan denganmu sudah selesai minta desainer brosur itu kesini.” Arka tertawa ,” Pembuktian ?” diraihnya beberapa berkas yang bertumpuk dimejanya. Sammy juga menyalakan komputernya. Keduanya dari awal memulai usaha ini selalu berbagi ruangan dan sejauh ini belum berniat merubah kebiasaan itu. Tok .. tok ... “ Masuklah …..” Sammy mengulum senyum melihat Karin ikut datang, tidak bersusah payah melewatkan kesempatan untuk berinteraksi dengan Arka. Nara melebarkan mata dan segera menggigit bibirnya, sebelum mengulas senyum dan mengangguk singkat pada Sammy. “ Duduklah.” Sammy menunjuk sofa dan bangkit dari kursinya ,” Sudah selesai urusan dengan Karin ?” “ Sudah, pak.” Nara mengangguk. Merasa nyaman dengan lelaki berkemeja biru dihadapannya. “ Tadi cuma menandatangani legalitas hak desain. Kalian sudah lihat hasilnya kan ?” Kendati menyebut kalian, Karin salah satu staff marketing itu hanya mengarahkan pandangannya pada Arka yang masih duduk di kursinya. Nara menahan senyumnya melihat itu, siapapun bisa melihat ketertarikan yang ditunjukkan secara terang terangan itu. Ia mengalihkan pandangannya ke jemari dipangkuannya saat lelaki di balik meja mengangkat kepala dan menatapnya dengan kening berkerut. Arka mendesah tak kentara mendapati kilatan jahil di mata bulat dan senyum yang disembunyikan dengan menunduk itu … awas kamu ya, berani-beraninya menertawakanku.... Sammy tersenyum lebar, kesan menyenangkan dan smart yang ditangkapnya tidak salah, kalau perlu ditambahi jahil ,” Siapa namamu ?” “ Nara, Pak …" “ Ceritakan lagi tentang karyamu.” Arka meletakkan penanya dan bersandar sambil melipat tangannya di d**a. Pandangannya tajam, lurus kearah Nara. Nara berdehem, mencoba memasang tampang serius tanpa menyadari itu tidak sampai ke matanya. Apalagi sesaat dilihatnya ekspresi Karin, perempuan berambut panjang bergelombang saat perhatiannya terabaikan. Dengan tenang diulangnya presentasinya saat final presentasi minggu lalu. Desain ini salah satu desain favorit yang lama disimpannya, secara konsep maupun teknis. Untuk itu dia tidak memiliki hambatan mempresentasikannya, tantangannya lebih pada lelaki yang menatapnya tajam, tapi ada kilatan jahil jauh didalam mata kelam itu. Sammy memperhatikan bagaimana adu argumen antara keduanya lebih pada adu pengendalian emosi dibanding materi. Sesekali diperhatikannya Karin yang tidak menyembunyikan tatapan kagumnya pada Arka, kendati selalu diabaikan … payah, tidakkah kamu menyadari Arka jauh tertarik pada gadis kecil ini daripada padamu. Sementara Nara tidak meladeni serangan verbal yang kau tangkap sebagai tekanan, karena ia paham bukan itu esensinya. Tidak heran Arka mengabaikanmu Karin … kamu gak lolos QC. Caramu memandang sesuatu terlalu mentah, Gadis kecil ini lebih memenuhi standard. Sammy mengetuk meja ,” Karin, kamu bisa kembali. Lanjutkan pekerjaanmu. Berikan laporan yang aku minta kemarin sebelum pulang ya.” Karin mengangguk, melirik sekilas pada Nara dengan pandangan meremehkan. Nara menarik nafas menahan diri untuk tidak tertawa. Sammy mengulurkan sebotol air ,” Minumlah, kalau mau tertawa jangan ditahan. Kentut disini baunya kemana mana.” Terbatuk kecil, Nara menerima botol dan meminumnya sedikit. “ Kalian ya …. aku seperti melihat dua anak kecil gak mau kalah.” Arka mendengus, dan menyibukkan diri dengan berkasnya kembali. “ Jadi, sudah ini Pak ?” Nara menutup kembali botolnya. “ Buru – buru ?” “ Tidak juga, tapi kalau sudah selesai saya pamit dulu.” Paham bahwa dua lelaki yang disebut Karin pimpinan dan pemilik perusahaan ini hanya ingin menilainya sebagai pribadi, bukan pekerjaannya … manusia manusia jahil. Tapi kalian kompak sekali. Jangan pikir aku gak tahu kalian memperhatikanku di lift tadi … Bersyukur kali ini dapat bertemu dengan dua lelaki keren yang jahil... tanpa kesan menjatuhkan,meremehkan atau melecehkan... seperti beberapa klien yang kerap ditemuinya. Adu argumen singkat tadi menunjukkan lelaki dibalik meja itu benar benar menguasai pekerjaannyaa, secara konsep maupun tehnis. Kalau saja tatapan mata kelam itu seramah milik rekannya, dapat dipastikan ia akan menemui teman diskusi atau bahkan mentor dalam proyeknya kali ini. “ Qualified.” ujar Arka dan Sammy bersamaan saat gadis itu menutup pintu dari luar. “ Sikaaat.” Arka tertawa ,” Tidak berniat menjadikannya asesoris.” disandarkannya tubuh ,” Lebih menantang dijadikan teman diskusi.” “ Diskusi di ran.... “Sammy tergelak saat Arka melemparkan botol minum ke arahnya ,” Daun muda itu segar, Ka …" “ Mesum.” Arka menggelengkan kepala dan kembali pada pekerjaannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD