Nara perlahan memasuki halaman panti yang luas, kali ini langsung menuju ke kantor “ Siang Bunda, eh ada tamu …. Maaf, saya ke tempat nenek dulu saja.” Mengangguk kecil saat melihat sesosok perempuan sedang berbicara dengan Bunda pengurus panti.
Perempuan yang dipanggil bunda itu mengangkat kepala ,” Gak apa apa sebenarnya, tapi kalau mau menemui nenek Omi dulu silahkan. Mereka semua menunggumu.” Dilambaikannya tangan ketika gadis itu menjauh.
“ Cucu nenek Omi ?” Bu Rahmad melangkah ke jendela lebar yang mengarah ke halaman, mengamati gadis yang sudah bergabung dengan nenek Omi dan beberapa penghuni panti lainnya di halaman. Nampak bukan hanya nenek Omi yang menunggu kedatangannya, beberapa dari mereka bahkan lebih sibuk meminta perhatian Nara ,” Dia malah sibuk dengan yang lain.”
Bunda ikut memperhatikan ,” Nenek Omi relatif masih sehat selain punggungnya yang membutuhkan terapi rutin. Dan dia juga yang tinggal disini dengan kemauannya sendiri, yang tidak merasa terabaikan.”
“ Maksudnya ?”
“ Paling lama seminggu sekali dia datang. Kalau pas liburan malah bisa setiap hari dan terkadang menginap atau mereka berdua pergi liburan.”
“ Kalau begitu, kenapa nenek Omi disini ?”
“ Kakek dan kedua orangtua Nara meninggal tiga tahun yang lalu dalam sebuah kecelakaan. Saat itu Nara sudah tinggal di asrama karena kuliah disini.”
“ Lalu ?”
“ Nenek Omi sendirian, dan menolak saat Nara berencana pindah kampus untuk merawatnya. Rumah disana dijual dan membeli rumah disini, nenek Omi yang pindah.”
“ Jadi mereka ada rumah ?”
“ Di perumahan baru seberang jalan itu. Untuk satu semester mereka tinggal bersama, nenek Omi sering main kesini untuk mencari kesibukan, menawarkan yang bisa dibantu. Dan dua tahun lalu nenek Omi memutuskan tinggal disini dan menyuruh Nara kembali ke asrama. Rumahnya dikontrakkan untuk lima tahun dan lebih dari cukup untuk membiayai nenek Omi disini lima tahun kedepan termasuk asuransi kesehatannya.”
“ Aku masih gak paham.”
“ Alasan yang dikemukakan ke Nara adalah dia kesepian dan butuh teman. Tapi ada alasan lain yang disimpannya.”
Bu Rahmad berbalik menatap Bunda ,” Apa ?” tidak menyembunyikan ketertarikannya.
“ Nara pontang panting dari kampus ke rumah untuk memastikan neneknya makan siang dan minum obat teratur. Belum lagi harus mengantar dan menemani neneknya terapi. Selalu berusaha dirumah sepulang dari kampus dan memilih menemani neneknya daripada jalan bersama teman temannya.” Bunda tersenyum menatap gadis yang saat ini tengah menyuapi salah satu penghuni panti yang dikenal pemarah ,” Nenek Omi tidak ingin Nara kehilangan waktu untuk dirinya sendiri, menikmati masa mudanya.”
“ Dengan begitu dia tidak perlu terlalu khawatir akan neneknya saat ditinggal.”
Bunda mengangguk ,” Dan Nara memang selalu hadir dalam kehidupan neneknya.”
“ Dan kelihatannya banyak yang berharap pada kehadirannya.”
Bunda tertawa ,” Bahkan terkadang nenek Omi gak kebagian waktu.”
Bu Rahmad tersenyum, mengamati gadis yang tersenyum dan tertawa riang sambil membujuk lelaki tua diatas kursi roda itu untuk makan ,” Pantas belakangan kakek itu gak terlalu banyak mengeluhkan keluarganya. Dia sudah ada yang memperhatikan. Bunda, apa Nara sudah punya ehm … pacar ?”
Bunda mengerutkan kening sebelum tertawa ,” Jangan bilang mau menjodohkannya dengan putra sulungmu. “
Bu Rahmad mengangkat bahu.
“ Jagoanmu dengan mudahnya berganti pacar setiap bulan.”
“ Baginya mereka hanya asesoris, biar aku gak sering tanya. Tapi aku tahu anakku … tidak ada satupun dari mereka yang dianggap serius, tidak ada yang melewati standardnya untuk menjadi lebih dari sekedar teman jalan.”
Bunda tertawa, membuka jendela ,” Nara.” dilambaikannya tangan.
“ Ya Bunda ….” Berlari kecil mendekat.
“ Masuklah.”
Nara mengangguk dan memutar sebelum mengetuk pintu ,” Ya Bun ?” mengangguk pada tamu Bunda yang ternyata masih disitu.
“ Kamu habis ngisi rekening kesehatan nenek lagi ?”
“ Udah konfirmasi ? Baguslah, tadinya saya mau ngasih bukti setor.”
“ Lagi dapat rejeki ? Itu cukup untuk beberapa bulan.”
Wajah Nara berbinar ,” Iya, akhirnya desain lama itu menyelamatkanku.”
“ Lalu yang dibatalkan kemaren ?”
“ Disimpan aja sambil diperbaiki, siapa tahu suatu saat ada yang mau.” Sahutnya ringan ,” Kata nenek rejeki gak akan ketukar.” Ujarnya diakhiri tawa pendek.
“ Itu saja ?”
“ Bunda ….. minggu depan, bisakah minta tolong temani nenek terapi ? Jadwalnya bentrok dengan ujian.”
Bunda mengangguk ,” Nanti Bunda atur yang menemani nenek. Kamu kapan selesai kuliah ?”
“ Semoga tahun depan sudah selesai, doakan lancar ya Bun.”
“ Trus kapan ngenalin pacarmu ke nenek ?”
Nara tertawa ,” Nanti kalau sudah dapat.”
“ Ish, gadis lain sudah menggandeng pacar bahkan calon suaminya.”
Nara mengernyitkan hidung ,” Kayaknya belum ketemu. Belum nyari juga sih.” gadis itu terkekeh geli.
“ Cari yang seperti apa ?”
Mata bulat itu meredup ,” Yang sayang ama aku dan nenek seperti kakek atau papa. Sudah ya Bun, ditunggu nenek mau bikin puding.”
Bunda mengibaskan tangannya ,” Sisain buat Bunda ya.”
Nara mengacungkan jempol ,” Permisi.” Pamitnya ramah pada Bu Rahmad.
“ Tuh …. Masih kosong, tapi kelihatan masih belum mikir ke arah situ juga.”
“ Bisa jadi itu baik, seseorang yang tanpa maksud akan bersikap apa adanya. Apa mungkin anakku harus dihadapkan dengan yang seperti ini ?”
“ Selama ini mereka yang disekitarnya punya maksud tertentu ?”
Bu Rahmad menghembuskan nafas ,” Bukan hanya punya tapi banyak maksud terselubung. Dan anakku tipe pengamat, dia tidak kesulitan membaca itu. Dia jadi terlalu pemilih sejak kejadian itu.”
Bunda menepuk bahu sahabatnya ,” Jadi, apa perlu aku mengajaknya menghadiri ini ?” dilambaikannya undangan berwarna pink pucat itu.
“ Ide bagus. Dari dulu kamu selalu dapat diandalkan urusan menangkap ide.”
“ Aku coba.” Ujarnya disambut pelukan.