Nara menghentikan mobil putih tanah kosong yang sudah diberi tanda sebagai tempat parkir kendaraan itu ,” Disini aja ya Bun … belum rame, masih dapat tempat yang teduh.”
“ Iyalah, itu rumahnya. Ayo turun.”
“ Kenapa gak nanti aja dijemput Bun ?”
“ Kayak driver online aja.” Gerutu Bunda sambil merapikan pakaiannya ,” Ayo, kita juga gak lama lama.”
Nara tersenyum, mengikuti Bunda memasuki halaman yang cukup luas. Tidak bisa menutupi kekagumannya melihat rumah besar berwarna putih yang dihiasi beberapa rangkaian bunga disamping bunga yang terawat baik di taman. Rumah besar yang terlihat megah tanpa mewah yang berlebihan. Masih ada kesan sederhana dari penataan taman dan tampak luarnya.
“ Hai, masuklah ….. “ perempuan parobaya yang tampak anggun dengan kebaya berwarna pink pucat menyambut mereka.
“ Bu …. “ Nara mengenali tamu yang ditemuinya di ruangan Bunda minggu lalu.
“ Nara, masuklah.” Sambutnya ramah ,” Apa kabar nenekmu ?”
“ Baik bu, terima kasih.” Diikutinya Bu Rahmad yang asyik berbincang dengan Bunda.
“ Bunda …. Apa kabar ? Lama gak ketemu.” Seorang perempuan dengan perut buncit mendekat dan memeluk Bunda. Sofi gak pulang ya ?”
“ Anak anaknya gak libur.”
“ Bunda ama siapa ?”
“ Nih, kenalin ini Nara …. Sopir catutan..” sahut Bunda tertawa, menarik lengan Nara.
“ Ih, Bunda gitu ih …. Bohong banget. Halo, aku Bie. Nabiela.”
Nara menyambut uluran tangan itu ,” Nara.” Ujarnya sambil tersenyum.
“ Bunda …. “ satu lagi perempuan cantik menyambut ,” Mia kangen.”
“ Si bontot ini udah mau dilamar aja.” Bunda menatap gadis berkebaya merah terang itu setelah memeluknya erat untuk beberapa saat ,” Nara, kalian seumuran lho …. Dia baru aja lulus. Lha kamu pacar aja belum punya.”
“ Bunda mulai deh, pulang nih….” Nara cemberut.
Mia tertawa, mengamati gadis dengan gaun berpotongan sederhana berwarna krem itu ,” Halo, aku Mia, Aramia.” diulurkannya tangan sambil tersenyum ramah.
“ Nara.” Nara tersenyum menyambut uluran tangan itu ,” Selamat ya … “
“ Bunda belum tahu aja, mana mungkin gadis secantik ini belum punya pacar.” Sahut Bie, meraih lengan Nara ,” Aku tahu rasanya kalau mama sama Bunda mulai membicarakan pasangan. Lebih baik kamu ikut aku.” bisiknya keras.
Nara tertawa, mengikuti ibu hamil itu, tersenyum pada gadis kecil yang berlari mendekat bersama seorang lelaki.
“ Nara, ini suamiku Dany dan anakku ….Cika, kasih salam tente Nara.”
“ Tante ….”
“ Hai ….” Nara mengangguk sambil tersenyum pada suami Bie sebelum jongkok menyapa gadis kecil yang tampak memggemaskan dengan rambut ikal itu.
Bie bertatapan dengan suaminya melihat Cika langsung ngobrol dengan akrabnya ,” Pilihan mama gak salah.” Bisik Bie.
“ Ini yang neneknya di panti itu ?”
“ Iya …”
“ Sudah ketemu kakak ?”
Bie menggeleng sambil mengedarkan pandangan, tersenyum melihat kakaknya sudah siap di pintu depan bersama Bunda saat rombongan keluarga Sammy datang ,” Nanti aja, biar nggak kentara kalau kita punya niat mengenalkan mereka. “ Nara nitip Cika ya …. Rombongan keluarga mereka kelihatannya sudah datang.”
Nara mengangguk, bersyukur ada yang bisa dilakukan sepanjang acara. Apalagi ketika Cika mengajaknya ke teras samping karena tidak nyaman dengan keramaian. Gadis kecil itu duduk tenang, berhadapan dengan Nara menghadap meja kecil.
“ Lagi tante ,,,” bertepuk tangan ketika satu lagi gambar karakter berhasil dibuatnya mengikuti suara nyanyian Nara.
“ Cika, ayo ikut foto sayang.” Dany tiba tiba muncul.
“ Nanti main lagi ya tante.” Ujar Cika.
“ Iya…”
“ Nara masuklah, ngapain disini sendiri. Bunda mencarimu dari tadi.”
“ Iya, kak.” Diikutinya Dany lalu mengambil tempat dibelakang kursi Bunda ,” Nyari Bun ?”
“ Darimana kamu ?”
“ Teras samping, main ama Cika.” Ditatapnya gadis kecil yang sedang melakukan foto keluarga. Keningnya berkerut menatap lelaki berpakaian merah disamping Mia dan lelaki berkemeja putih tulang seperti yang dikenakan Dany.
“ Nara, ayo pulang…” Bunda berdiri ,” Kok bengong ?”
Ragu ragu Nara berdiri dan mengikuti langkah Bunda mendekati mereka.
“ Bunda. Eh …. “ Sammy bertukar pandang dengan Arka, sama sama terkejut melihat gadis dibelakang Bunda.
“ Pak Sammy, Pak Arka … “ Nara mengangguk kecil ,” Pak Sammy selamat ya.” Diulurkannya tangan setelah Bunda memeluk Mia dan Sammy.
“ Kalian kenal ?” Mia, Bie dan Bu Rahmad bertanya bersamaan.
“ Minggu lalu dia ke kantor. Dia yang desain brosur “ sahut Sammy, mendadak tersenyum jahil kearah Arka ,” Gak nyangka ketemu lagi ya. Bunda, nemu dia dimana ?”
“ Dipungut tadi di perempatan.” Sahut Nara seenaknya.
“ Ish kasian banget, untung kamu ketemu orang baik baik. Kalau ketemu penculik bahaya.” Sammy memasang tampang serius.
“ Saya makannya banyak pak … gak akan ada yang berani nyulik, takut tekor.” sahut Nara sopan sambil membungkuk hormat. Tertawa ketika bertatapan dengan Sammy.
Sammy tergelak ,” Ini yang aku ceritakan minggu lalu, sayang.” Bisiknya pada Mia yang menatap mereka bergantian.
“ Oh …. “ Pandangannya beralih pada Arka dan berubah jahil.
“ Apa … ?” lelaki itu mengerutkan kening, jengkel melihat pandangan senada dihampir seluruh anggota keluarganya, kecuali si kecil Cika.
Bunda bertukar pandang dengan Bu Rahmad dan suaminya ,” Ya sudah, kami pamit dulu.”
“ Lhooo kok ….” Protes Bie ,” Nara bahkan belum makan.”
“ Ada acara di panti sore ini. Lain kali ngobrol lagi ya.” Bunda memeluk mereka satu persatu, diikuti Nara menyalami mereka.
“ Mainlah ke panti, Arka. Sesekali temani mamamu kalau kesana, nanti Bunda bikinkan masakan kesukaanmu.”
“ Iya, Bun. Kapan kapan aku mampir. Janji masakin ya.”
Bunda mengangguk ,” Bunda tunggu.”
“ Mari, Pak.” Nara mengulurkan tangannya.
“ Ehm.” Kikuk Arka menyambut tangan itu karena merasa semua memperhatikannya ,” Makasih udah datang.”
Nara tertawa kecil ,” Nasib sopir catutan, Pak. Mari.” Ditariknya tangan, mengerutkan kening ketika lelaki itu tidak melepasnya ,” Pak … ?”
“ Jangan ikut ikutan menertawakanku.” Desis Arka, bisa dilihatnya gadis itu geli melihat tatapan keluarga padanya.
Nara menggeleng, memasang wajah polos ,” Saya ? Siapa yang tertawa ?”
“ Kamu ….sudahlah sana “ kehilangan kata kata ketika gadis mengerjabkan mata bulatnya.
“ Tangan saya ketinggalan.” Sahut Nara sambil menggerakkan tangan kanannya.
Arka melepaskan genggamannya, mengeratkan geraham mendengar suara cekikikan disekitarnya, sementara gadis itu dengan santai menggamit lengan Bunda dan melangkah pergi.
“ Kemana, Kak ….. ?” seru Bie dan Mia bersamaan ketika Arka menjauh.
Yang ditanya tak menjawab, mengutuki dirinya sendiri mendengar suara tawa dibelakangnya Sial , kenapa juga aku salah tingkah seperti anak ingusan. Dan gadis kecil itu …. Dihembuskannya nafas panjang, meraih segelas minuman dingin diatas meja dan membawanya pergi.
“ Arka …. “
Arka hanya melambai sekilas tanpa keinginan untuk berhenti, sekedar menyapa beberapa orang yang melambaikan tangan disana. Diarahkannya langkah ke dalam dan menghempaskan tubuh di sofa ruang keluarga yang relatif tenang.
“ Paman ….. “ Cika menghampirinya sambil cemberut diikuti Dany.
“ Ada apa cantiknya paman ini ?” diulurkannya tangan, mendudukkan gadis kecil itu dipangkuannya.
“ Tante Nara pulang.”
“ Emang kenapa kalau pulang ?”
“ Tadi menggambarnya belum selesai.” Sahutnya merajuk sambil mengulurkan buku dengan beberapa goresan karakter kartun disana.
“ Sama papa kan bisa. Biasanya menggambar sama papa.”
“ Tante Nara cepet banget gambarnya, ada suaranya begini.” Dan gadis kecil itu mengeluarkan suara suara seiring tangannya bergerak menggambar.
“ Kelihatannya aku harus mengunjungi Bunda, hobby menggambar Cika tersalurkan bersama Nara.” Dany meletakkan secangkir kopi yang baru dibuatnya ,” Dari pertama ketemu tadi Cika langsung lengket ama Nara.”
“ Gak usah basa basi, kamu mau komentar apa ?” sergah Arka.
Dany tertawa tipis,” Gak Kak, Cuma mau lihat aja. Siapkan telingamu setelah acara selesai. Mereka sudah tidak sabar mendengar kapan dan bagaimana kamu ketemu Nara.” Diseruputnya kopi perlahan ,” Dan ada apa denganmu hari ini, sampai gak sadar tangan Nara ketinggalan di genggamanmu, modus baru gombalin cewek ?”
Arka menendang kaki Dany mendengar adik iparnya itu tertawa. Tiba tiba merindukan kantornya untuk menyendiri, tapi bisa perang dunia ketiga kalau ia menghilang di acara seperti ini.