Ke Panti

1130 Words
Arka menuruni tangga sambil menggosok rambutnya dengan handuk kecil ,” Pagi Pa, Ma …" “ Pagi …. sudah sarapan ?” tanya mamanya sibuk memasukkan beberapa barang ke kotak besar ,” Apa acaramu hari ini ?” “ Gak ada.” Arka menarik kursi makan dan menuang air perasan jeruk ,” Mau dirumah aja.” “ Ya udah, sama Arka aja ya …. Jadi habis tennis aku mau langsung ke bengkel.” Pak Rahmad segera meraih tas tennisnya, mencium istriya dan pergi dengan cepat. Diangkatnya alis kearah Arka. “ Asssh, Papa ini.” Bu Rahmad cemberut ,’ Antar mama ke Panti. Nanti kalau kamu gak mau nungguin, kasih salam ama Bunda aja trus pulang.” “ Lantas dijemput ?” “ Gampang, bisa minta anter Bunda atau naik taksi. Sekarang bawa ini ke mobil, mama ambil tas dulu. Itu ganti celana pendekmu.” Arka menghela nafas ,” Yang mana dulu ini ma ….?” tanyanya mendengar perintah berderet dari ibu negara itu, menatap punggung mamanya yang sudah meninggalkan ruangan. Diambilnya kunci mobil dan mengangkat beberapa kotak berisi bahan makanan dan keperluan bulanan. Baru saja selesai mengganti celana pendek dengan jeans dan meraih ponsel, suara mamanya sudah menyuruhnya cepat turun. “ Ngapain masih cemberut, Ma ?” “ Papamu tuh ya ….. kemaren bilang iya mau nemenin mama, begitu ditelpon sparepart mobilnya sudah ada langsung pergi aja.” Arka tertawa ,” Masih aja mau minta ganti waktu papa pergi keluar kota kemaren ? Bie aja gak gitu amat sekalipun Dany tugas luar kota.” “ Awas kalau kamu juga seperti ini. Kamu lebih kolokan dari mama, lebih posesif.” “ Mana ? Gak ada tuh ….” Arka tertawa pendek ,” Biasa aja.” “ Karena kamu belum menemukan orang itu.” Bu Rahmad menatap keluar jendela, menyembunyikan senyumnya ,” Kalau hanya kencan sesaat jangan harap.” Arka mengangkat sudut bibirnya, bagaimanapun ini mamanya … tidak bisa dibohongi dengan deretan gadis yang dibawanya ke berbagai acara. Dirinya posesif ? Ya, bahkan sangat posesif … , dan menghindari rasa memiliki akan seseorang lebih membuatnya nyaman sampai saat ini. “ Kalau mama boleh tahu, mereka bisa dekat denganmu pasti sudah memiliki standar yang diatas rata rata mengingat kamu pemilih.” “ Entahlah ma …. mereka cocok denganku hanya untuk satu atau dua aspek saja. Jadi bukan tanpa alasan aku membawa gadis yang berbeda untuk acara yang berbeda. Kalau ada yang menganggap itu kencan, anggap aja bonus.” “ Kayak karyawan aja.” “ Seperti itu, hanya sedikit personal. Gak mungkin aku mengajak Nina yang kutu buku ke pesta bersama sosialita, dia hanya asik diajak bicara mengenai konsep dan teori. Begitupun sebaliknya, Anggie yang rame itu hanya bisa aku bawa untuk bersenang senang, kalau pas lagi mikir sesuatu bisa pecah kepalaku mendengarnya bicara.” “ Gak ada yang sempurna Kak ….” Arka mendesah ,” Aku gak cari yang sempurna, ma …. aku hanya butuh yang bisa membuatku nyaman.” “ Belum ada satupun, Kak ?” Arka diam, mencengkeram kemudi ketika mata bulat kecoklatan yang jahil itu melintas. Perdebatan kecil dikantor waktu itu menimbulkan rasa senang yang tak dimengerti sampai Sammy menyebut mereka bocah ,” Entahlah, ma.” Bu Rahmad terdiam ,” Kamu udah lama gak main ke panti ya kak “ tanyanya mengalihkan pembicaraan. “ Lumayan lama ma, paling cuma ngobrol sama Bunda lewat telepon.” “ Kamu tahu nenek Omi ?” Arka diam sejenak mengingat ingat ,” Ya, yang sering bantu memasak itu kan ? Yang ruangannya diujung dekat taman.” “ Ya. Menurutmu bagaimana nenek Omi ?” “ Sedikit pendiam tapi terlihat sehat dan bahagia. Tidak seperti kebanyakan penghuni yang sering mengeluh.” “ Nara itu cucu nenek Omi.” “ Nara ?” Bu Rahmad tertawa ,” Iya. Nara yang tangannya ketinggalan.” Arka tersenyum kikuk ,” Sialan, bisa aja dia bikin istilah tangannya ketinggalan. Kan jadi pada inget semua.” Mata Bu Rahmad sedikit berbinar melihat raut wajah Arka melembut, walaupun sesaat. “ Kok nggak pernah ketemu ? Dia juga tinggal disitu ?” tanyanya ragu, sekilas ingat kontak yang tersimpan di kantor, gadis itu menggunakan alamat kampus. “ Dia tinggal di asrama kampus.” Arka menghembuskan nafas, berarti datanya valid ,” Gak sama orang tuanya ?” Sebiasa mungkin Bu Rahmad mengulang cerita Bunda beberapa saat lalu, berusaha tidak terlalu antusias. Sampai menyadari anak lelakinya terdiam cukup lama kendati ceritanya sudah selesai ,” Ah itu mobil Bunda ada. Kelihatannya baru datang, berarti mama aman nanti pulangnya.” Arka menghentikan mobil disamping mobil yang baru saja mematikan mesin. “ Eh, pas banget. Kami juga baru selesai belanja.” Bunda keluar dari mobil, menunggu Arka keluar dan memeluknya hangat ,” Nara, minta tolong kang Didin untuk ngangkat belanjaan..” “ Siap Bun … “ Dibukanya bagasi dan mengangkat satu kotak ,” Apa kabar Bu … Pak …" sapanya sebelum berlalu. “ Kak …. bagasi.” seru Bu Rahmad melihat Arka bengong ,” Bawain kedalam ya sekalian.” Arka hanya mengangguk dan mengangkat satu kotak besar. Bu Rahmad dan Bunda bertatapan sambil tersenyum penuh arti melihat Arka mendadak terdiam sejak mengetahui kehadiran Nara ,” Tumben pendiam ?” “ Aku menceritakan tentang Nara dan nenek Omi sekilas, sejak itu dia diam gak berkomentar sepanjang perjalanan tadi.” Bunda tersenyum ,” pasti sulit ya cerita sekilas, kamu kan kalau cerita tentang apa yang menarik perhatiannmu selalu penuh semangat.” Bu Rahmad tertawa ,” Pasang rem ganda, mencontek ceritamu waktu itu. Ayo kita bawa yang kecil kecil aja.” ujarnya meraih beberapa kantong bersama Bunda. “ Sudah kamu disini aja, aku sama kang Didin yang angkat barang.” cegah Arka ketika Nara hendak kembali keluar dari dapur besar. “ Ohhh baiklah, aku beresin disini. Makasih, pak.” Arka mendengus ,” Kamu panggil mamaku Bu, lalu panggil aku Pak …. Berasa tua banget deh.” ditatapnya gadis yang mengikat rambutnya dan menggunakan celemek sebelum menghadapi kotak berisi daging dan ikan yang dibawanya tadi. Nara mengangkat wajahnya, tersenyum simpul ,” Emang gak ?” “ Kamu ….ih.” “ Aw …. sakit tahu.” seru Nara sambil mengusap dahi dengan punggung tangannya ketika Arka menyentilnya ,” Paaaak.” tergelak sambil menghindar, nyaris menabrak Bunda dan Bu Rahmad. “ Apa sih ini.” bunda meletakkan bawaannya ,” Yang ini nanti disimpan seperti biasa ya Nara. Kami mau menemui tamu.” “ Siap Bun …..” “ Kak , kalau kamu ada perlu bisa ditinggal. Tapi kalau gak ada acara tungguin mama. Sambil bantuin Nara, jangan berantem.” “ Kak ? Wow … berarti lebih tu ….” menutup mulut sambil tertawa ketika Arka melemparkan sebutir apel dihadapannya. Bu Rahmad dan Bunda berpandangan sambil tersenyum lalu meninggalkan mereka berdua
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD