" Minum dulu, Pak. .. Mang Didin." Nara menunjuk teko berisi jeruk peras dan gelas diatas meja kecil.
Arka mendengus sambil meletakkan kotak terakhir diatas meja dapur yang luas lalu duduk mengamati gadis yang tengah memasukkan bahan makanan kering kedalam toples toples. Diatas meja sudah tersusun rapi kotak kotak berisi aneka daging dan ikan dengan porsi tertentu yang tengah ditata Mang Didin kedalam Freezer.
" Perlu bantuan bilang." Arka berdiri dibalik punggung Nara ketika melihat gadis itu berjinjit menata toples ke lemari dibagian atas, " Mana lagi. "
" Itu geser ke belakang, yang ini disebelahnya. Lalu urutkan sesuai warna tutupnya. "
Arka mengguman, menerima toples toples yang diangsurkan gadis itu dan menata sesuai instruksi.
" Sudah selesai, terima kasih. " Nara mendadak kikuk ketika menyadari lelaki itu berdiri tepat dibalik punggungnya dengan jarak yang cukup dekat.
Arka berdehem, menatap ujung kepala yang tengah menunduk dihadapannya. Sebiasa mungkin ia mundur dan kembali ke kursi yang tadi didudukinya.
" Sudah beres? Nenek baru selesai beberes di taman belakang. " suara nenek Omi memecah keheningan.
" Sudah. " sahut Nara pendek. Senyum yang dikulum ibu dari ayahnya itu menandakan perempuan itu melihat penyebab suasana canggung barusan.
" Ini putranya Bu Rahmad? " Nenek Omi mengalihkan pandangan pada Arka yang langsung berdiri dan memberi salam.
" Iya... ini anak sulungku, Nek. " Bu Rahmad dan Bunda memasuki dapur.
" Yang kemaren tunangan itu? "
" Bukan, nek... yang tunangan itu adik bungsunya. "
" Oh.... berapa putranya? "
Arka menggaruk tengkuk sambil tersenyum kecut.
" Itulah.... adik adiknya sudah punya pasangan dia anteng aja." keluh Bu Rahmad, " Padahal umurnya sudah menjelang kejar tanyang. "
" Ma.... " sergah Arka, " Apa ketawa? " menatap kesal ketika tawa Nara tersembur.
" Pak, bukannya yang kejar tayang itu sinetron ya?" Nara tersenyum jahil sambil menyembunyikan diri dibalik punggung Bu Rahmad.
" Sudahlah. Nara, tolong keluarkan iga yang tadi kita beli. Bunda mau masak. "
" Masak apa Bun? "
" Sop iga. "
Nara menghela nafas, tanpa suara menyiapkan Iga dan beberapa bumbu.
" Kamu bisa maska sop Iga?" Bunda mengawasi bumbu dengan takaran yang tepat disiapkan dalam waktu singkat.
“ Dia bisa, biar dia yang masak. Sop iga bikinannya selalu enak.” sahut nenek Omi sambil menatap dalam pada Nara.
“ Sudah lama gak masak ini.”
“ Ya sudahlah, coba aja sekarang. Paling banter aku sakit perut.” tantang Arka,
Mata Nara berkilat ,” Jangan menyesal ya, Pak ….”
Arka mengguman sambil tersenyum jahil ,” jangan dibantuin, Bunda …"
Nenek mengguman, menepuk bahu Nara dan keluar dari dapur ,” Nenek juga lama gak makan sop iga buatanmu.”
Nara menarik nafas panjang, tanpa suara memulai memasak. Beberapa bayangan yang melintas sempat mengganggu konsentrasinya. Dikuatkannya tekad ….Aku gak mungkin selamanya menghindari ini, kalau belum bisa kembali menghadirkan kenangan indah itu setidaknya aku harus bisa menjadikan ini tidak buruk …