Langit duduk di jok depan di samping Pak Supir. Sementara aku duduk di belakang bersama Bi Mila dan Biyanka. Benar apa yang dikatakan Pak Randika, jika Biyanka begitu dekat dengan Mamanya. Sepanjang jalan anak itu berbicara tanpa henti, menceritakan semua kegiatannya di sekolah, juga tentang teman-temannya. Aku tidak ikut mengobrol, hanya jadi pendengar saja. Masalahnya, entah kenapa aku masih diselimuti rasa malu. Bayangkan saja makan siang bersama ... ah, apa itu? Rasanya belum waktunya aku mengatakan jika Bi Mila itu calon .... "Sisil." Aku menoleh ke samping kanan. "Iya, Bi." "Sudah pernah pulang kampung?" Aku menggelengkan kepala. "Sejak pindah, belum pulang kampung lagi. Om Rizky sudah sepuluh tahun ini tinggal Kalimantan sama keluarganya, terus hubungan Bunda sama Wa Saleh belu

