Aku menjatuhkan tubuh di atas kursi teras setelah berkali-kali berusaha mengengkol motorku. "Meong." Alexis datang mendekat. "Aduh. Nuna cape banget, Lex. Masa nih motor udah rusak, sih," keluhku. "Meong." "Enggak mungkin turun mesin. Orang belum lima tahun juga. Ini 'kan hadiah kelulusan karena Nuna masuk sepuluh besar se-SMP. Hebat, 'kan?" Lalu aku mulai menghitung. "Satu SMA, dua SMA, tiga SMA, semester satu, sekarang semester dua aja belum beres. Wah, apa ujian kenaikan tingkat nanti Nuna minta hadiah motor aja, ya, Lex?" "Apa? Minta motor?!" Aku menoleh kaget. "Bunda, ih. Dateng kok, tiba-tiba aja gitu." Kuusap daada berkali-kali. "Ya, kamu. Kebanyakan ngelamun, ngayal yang enggak-enggak. Masa udah mau minta motor lagi!" ocehnya. "Ya, maaf. Itu 'kan cuma inisiatif. Kalo engga

