"Kenapa, Sil?" Amel menepuk pundakku.
Aku tertegun. Kenapa Langit harus bertanya nama lengkapku?
Apa mungkin ...?
Ah, tidak-tidak. Itu tidak mungkin. Kenapa bisa aku berpikiran sejauh itu?
"Enggak kenapa-napa. Yuk," ajakku segera. Aku melangkah kembali bersama Amel. Berusaha menepis prasangka itu sepanjang hari, bahkan hingga berhari-hari.
***
"Udah siap semua?" Ayah bertanya selagi aku memakai sepatu.
"Udah, Yah," sahutku.
"Yakin enggak ada yang ketinggalan?" Ayah masih tampak ragu.
"Udah, Ayah Sayang. Jaket, handuk, sendal jepit, senter, kayu putih, balsem. Semua ada. Perlengkapan mandi juga ada," ujarku panjang lebar.
"Pembalut?" sela Bunda.
"Nah, bener itu. Pembalut," timpal Ayah lagi.
"Ih, Bunda apa, sih! Tanggal datang bulan Sisil 'kan udah lewat," gerutuku.
"Siapa tau ada temen kamu yang butuh. Udah, Bun. Masukin aja," perintah Ayah.
Aku hanya bisa melongo melihat Bunda memasukkan beberapa kemasan pembalut isi satu ke dalam tas ranselku. Oh, Lord!
Kenapa harus memiliki sepasang orang tua seperti mereka?
"Kamu inget enggak, waktu SMP dulu temen kamu juga kedatangan tamu bulanan pas lagi kemping. Untung Bunda masukin pembalut ke dalam tas kamu. Akhirnya dia berterima kasih 'kan sama kamu," papar Bunda sambil menutup resleting tasku.
"Iya, iya, Bunda Ratuku Tersayang," tandasku. Cepat aku raih tas ransel itu agar tidak diisi lagi benda aneh lainnya. "Sisil berangkat dulu ya, Bun. Assalamualaikum." Aku mencium punggung tangannya.
"Waalaikumsalam. Inget, jangan jarambah, jangan sompral juga."
"Siap, Bunda Ratu." Kuberikan gerakan tanda hormat.
"Ayah juga berangkat dulu ya, Bun," pamit Ayah.
Kini giliran Bunda yang mencium punggung tangan Ayah. "Hati-hati ya, Yah. Anterin Sisil-nya sampai bus, kasihan tasnya berat."
"Siap, Bunda Sayang." Ayah lalu mencium kening Bunda.
Oh, indahnya dunia bagi mereka. Cepat-cepat aku pergi keluar rumah demi tidak melihat kemesraan itu lebih lanjut. Lebih baik aku pun berpamitan pada seseorang yang mungkin juga akan merindukanku.
"Alexis, Noona pergi dulu, ya. Hati-hati di rumah. Jangan main jauh-jauh apalagi ngapelin si Queensya, entar kamu dimarahin lagi sama Tante Yesi." Aku memeluk kucing berbulu abu-abu itu.
"Meong." Alexis melompat, melepas diri lalu tidur lagi di atas kursi teras.
"Diajakin kangen-kangenan dulu malah gitu. Dasar majikan durhaka," omelku.
.
"Udah, tasnya biar Ayah yang bawa." Ayah berucap ketika aku membuka pintu mobil bagian belakang.
"Oke," sahutku. Akhirnya aku hanya membawa tas kecil berisi ponsel dan dompet.
"Sisil!"
"Amelodi!"
Seperti biasa kami bercipika-cipiki sambil mengucapkan kata 'annyeong'.
"Ayah, apa kabar?" Amel meraih tangan kanan Ayah lalu mencium punggung tangannya.
"Baik, Amel. Amel gimana kabarnya?"
"Baik juga. Uh, senengnya punya Ayah sebaik Ayah Sisil. Masa Amel cuma dianterin sampai pinggir jalan doang sama Papa," ujar Amel dengan ekspresi sedih.
"Oya? Tau gitu tadi Ayah jemput sekalian," ujar Ayah.
"Ih, Ayah. Jadi malu." Amel tersipu. Amel memang seperti itu kalau bertemu Ayah. Entah karena ayahnya yang seorang polisi itu tidak selembut Ayah Fardan Tersayangku.
"Eh, udah cukup, ya. Di dunia ini cuma Putri Priscillia seorang yang berhak diantar jemput sama Ayah Fardan. Ayo, Yah. Kita ke bus," ajakku sambil melingkarkan tangan ke lengan Ayah.
"Putri Priscillia ternyata cemburu, Mel," goda Ayah.
Karuan saja mereka terbahak.
Ayah benar-benar mengantarku hingga naik ke dalam bus. Memasukkan tas ke dalam bagasi dan memastikan aku mendapat tempat duduk yang nyaman. Ayah juga memberi beberapa nasihat untukku dan Amel. Ckckck.
"Ayah tinggal dulu, ya. Izinnya cuma dua jam, takut kesiangan," ujar Ayah setelah puas memberi petuah.
"Iya, Ayah. Hati-hati di jalan." Kuraih punggung tangannya.
"Kamu juga hati-hati. Ingat nasehat Ayah sama Bunda."
"Asyiap!" Kuberikan jempol tangan.
"Ayah tinggal ya, Mel."
"Iya, Ayah. Hati-hati." Amel juga mencium punggung tangan Ayah lagi.
"Assalamualaikum," pamit Ayah.
"Waalaikumsalam," sahutku dan Amel bersamaan.
"Lo, awas lo, ya, kalo jadi pebakor," omelku setelah Ayah turun dari bus.
"Pebakor? Pelakor kali!" Amel tampak keheranan.
"Perebut bapak orang. You know?" sungutku.
"Dih, segitunya lo. Udah, ah. Gue mau update status dulu di w******p, f*******:, i********: sama Twitter," pungkas Amel seraya mengeluarkan ponsel dari tasnya.
Aku berdecih sebal melihat tingkah Amel. Akhirnya aku memalingkan wajah ke arah jendela, memastikan Ayah apakah sudah naik ke dalam mobil atau belum. Namun, yang ada aku malah sedikit terkejut melihatnya. Ayah yang sedang berjalan tiba-tiba bertabrakan dengan seseorang. Lelaki berpostur tinggi tegap, memakai celana panjang berwarna coklat muda dan kaos berwarna putih. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena dia memakai topi berwarna hitam. Tampak lelaki itu membungkukkan separuh tubuhnya, yang dibalas anggukkan kepala oleh Ayah. Lelaki itu sepertinya sangat sopan sekali. Aku pun memfokuskan kembali perhatian pada Ayah yang bergegas melangkah lagi, memperhatikannya hingga masuk ke dalam mobil.
.
Setelah menempuh perjalanan selama hampir tiga jam, kami sampai di Cibodas Cipanas. Menurut kabar yang kudengar, jalur pendakian ini dipilih karena terbilang mudah untuk para pemula. Ya, dan kudengar anak organisasi pecinta alam lah yang memilih Gunung Gede Pangrango sebagai tujuan kemping kami. Itu karena memang acara ini dipimpin oleh mereka.
Setibanya di pos pendaftaran, kami para anak maba dibagi sesuai tim yang sudah disusun oleh panitia. Beruntung aku masih satu tim bersama Amel, tapi sialnya ternyata ada Anggita alias si Gigi Taring juga di dalam daftar nama. Satu lagi yang paling menyebalkan. Panitia yang memimpin timku adalah Langit. Ough, lengkaplah sudah penderitaanku ini.
"Sebelum memulai pendakian, mari kita berdoa terlebih dahulu sesuai keyakinan masing-masing. Berdoa dimulai," ujar Arfan selaku ketua panitia. "Baiklah, pendakian kita mulai. Ingat, jangan berpisah dari tim, dan ikuti perintah pimpinan tim masing-masing. Karena mereka lebih berpengalaman dalam menaklukan gunung ini," tandasnya.
"Siap, Kak!" sahut kami bersamaan.
Arfan memberikan kode pada masing-masing pimpinan. Tampak Langit melangkah ke arah kami. Jelas bisa kulihat gelagat menyebalkan Gita yang seperti cacing kepanasan.
"Tim Dua, sudah siap semua?" tanya Langit yang sudah berdiri di depan kami.
"Siap, Kak." Aku menjawab dengan nada malas.
"Langit, suit dulu!" teriak Braga.
"Yo!" sahut Langit. Dia berjalan kembali ke arah perkumpulan para panitia dengan tangan yang bergerak melepas jaket hitam di tubuhnya.
Aku menyipitkan mata. Celana coklat, kaos putih dan topi hitam. Dia lelaki yang menabrak Ayah tadi?
"Kenapa, Sil?" Amel yang berbaris di belakangku menepuk pundak. "Dari tadi kayak ngelamun terus."
"Lagi mikir aja, kenapa mesti dia yang pimpin kita?" ucapku sambil mendelik ke arah samping. Melihat Gita yang sedang menatap wajahnya dari pantulan cermin berukuran kecil di tangan. Iyuh.
Jelas Gita mendengarnya. Dia menoleh. "Jangan sok rese," sungutnya. Lalu memalingkan wajah dengan ekspresi kesal.
"Tim kita yang pertama naik. Ayo, bersiap semua. Periksa lagi barang-barang kalian. Jangan sampai ada yang tertinggal!" perintah Langit.
"Baik, Kak!"
Kali ini aku tidak ikut menyahut.
Setelah semua anggota siap, Langit memimpin kami memasuki area pendakian. Setiap tim yang akan naik diberi jeda selama lima belas menit. Trek yang kami lalui belum terlalu berat. Masih berupa bebatuan yang disusun rapi. Mungkin memang karena jalur ini adalah jalur yang sama untuk menuju air terjun, salah satu tempat wisata yang ada di area Cibodas.
"Ini namanya Telaga Biru. Dinamakan Telaga Biru karena memang airnya yang berwarna kebiru-biruan, efek dari ganggang yang ada di dasar dan pinggiran telaga," ucap Langit ketika kami melewati sebuah aliran air. "Makanya enggak heran, masih banyak wisatawan di jalur ini." Dia lalu menunjuk sepasang manusia berkulit putih sedang bergandengan tangan.
"Uhuy," goda salah satu lelaki di tim kami. Lalu yang lain pun tertawa menimpali. Kecuali aku yang merasa ini biasa-biasa saja.
"Kak!"
"Ada apa?"
"Ada yang loyo, nih! Kayaknya baru pertama kali naik gunung."
Langit memiringkan kepalanya, menatap seluruh barisan. "Semangat semuanya! Kita akan melihat keindahan alam yang lainnya."
Aku mendengkus kesal. Pasti Gita sedang menyindirku.
"Sil, lo kenapa, sih?" Amel menyikut lenganku.
"Lagi bad mood aja," ketusku. Sengaja agak keras supaya didengar oleh Gita.
"Ih, berisik," omel Gita. "Kak, Kak!" Tanpa aling-aling dia melangkah cepat menghampiri Langit.
"Apa lagi?" Langit menoleh.
Aku hanya bergidik melihat Gita yang berjalan di samping Langit. Benar-benar cewek centil!
Setelah melewati beberapa waktu perjalanan yang meletihkan, Langit memberi instruksi untuk beristirahat.
"Tempat ini dinamakan Pondok Pemandangan. Silakan, kalian beristirahat sejenak untuk melepas lelah," ucapnya.
Aku mengembuskan napas lega. Lalu duduk bersandar pada sebuah pohon besar. Melepas tas karena pundak yang terasa pegal. Sekarang baru menyesal karena menuruti Ayah dan Bunda untuk membawa berbagai macam barang.
"Mau, Sil?" Amel menawarkan snack di tangannya.
Aku mengambil beberapa keping keripik rasa rumput laut itu, menikmatinya sambil menonton keseruan Gita bersama beberapa mahasiswi lainnya yang sedang mengobrol dengan Langit. Sepertinya mereka bertanya tentang organisasi pecinta alam dan perihal pengalaman cowok sombong itu dalam setiap pendakian gunung.
"Cewek kalo dikasih cowok ganteng, diajak ke gunung pun mau," ejek Amel.
"Yuhu," sahutku mengiyakan.
"Sil," panggil Amel.
"Hm," sahutku tanpa menoleh.
"Menurut lo, Kak Langit ganteng enggak, sih?"
Kali ini aku memalingkan wajah ke arah Amel. "Lo enggak punya topik pembicaraan yang lain?" tukasku kesal.
"Lo jangan salah sangka. Gue bukan sekutu si Gigi Taring. Gue cuma heran. Gue ngerasa ini enggak adil. Lo tau 'kan yang jadi ketua BEM itu Kak Arfan. Tapi, kenapa pesonanya kalah sama Kak Langit." Amel berbicara panjang kali lebar kali tinggi.
"Meneketehe," sahutku tak peduli. Kemudian meneguk air minumku.
Amel hanya mencebikkan bibir.
"Sudah cukup istirahatnya. Kita lanjut. Hati-hati, jalur yang akan kita lalui sekarang dinamakan Air Panas. Ada jalan yang menembus aliran air panas dari gunung. Treknya pun cukup ekstrim. Ingat, kalian harus hati-hati karena kita akan berjalan di atas aliran air panas yang sempit dan hanya berpegangan pada seutas tali. Dan di bawah aliran air tersebut, adalah jurang yang curam. Kalian siap?"
"Siap, Kak!"
Langit pun memberi isyarat untuk berjalan kembali.
"Ayo," ajakku pada Amel sambil berdiri.
"Hiks, kenapa gue enggak masuk tim lima, ya," ucapnya dengan nada yang seperti tertekan setelah berdiri.
"Ya, kenapa lo enggak pindah aja tadi?" tukasku. "Kalo emang mau deket sama si Presiden itu, lo harus ada perjuangan. Kayak dia tuh!" sindirku sambil menunjuk Gita dengan lirikan mata. Dia tampak kerepotan membawa dua tas, satu di punggung dan satu di tangan kanannya.
"Kayaknya dia mau pindah rumah, Sil," ujar Amel.
"Iya. Wkwkwk. Udah, ah. Ayo, jalan. Entar ketinggalan," ajakku lagi.
Karena terlalu lama bergosip, hampir saja kami berada di barisan paling belakang. Namun, walau begitu masih bisa aku lihat bagaimana Gita berusaha melewati trek dengan penuh semangat. Entah mungkin karena dia berada tepat di belakang Langit. Sayangnya, lelaki itu tampak tak acuh. Aneh. Tadi pagi ketika bertabrakan dengan Ayah dia bisa bersikap ramah, tapi padaku dan Gita. Hm. Apa mungkin dia hanya bisa bersikap baik pada golongan kaum bapak-bapak dan ibu-ibu? Seperti beberapa minggu lalu ketika dia hampir menabrak Bunda. Langit juga bersikap sopan. Benar-benar membuat tanda tanya besar.
"Hati-hati, jalannya licin!"
Aku memiringkan setengah badan. Melihat mereka yang naik secara perlahan. Iyuh, menyebalkan sekali kelakuan Gita yang sok takut. Padahal itu cewek biasanya juga bar-bar. Hingga tiba diriku yang harus menaiki jalan yang memang agak sulit untuk dilalui.
"Pegang." Langit mengulurkan tangannya.
"Enggak usah, Kak. Bisa, kok," tolakku. Lalu memilih berpegangan pada ranting pohon.
"Oke," sahut Langit yang sudah berdiri tegak kembali.
Aku menggerakkan kaki kanan, berpijak pada salah satu batu. Kemudian menarik kaki kiri sekuat mungkin walau sebenarnya sudah terasa lelah. Hap. Berhasil. Aku bisa naik dengan sempurna. Namun tiba-tiba, ranting yang aku pegang patah. Akibatnya aku kehilangan keseimbangan.
"Sisil, hati-hati!" pekik Amel.
Karuan saja aku semakin kalut. Jantung pun mulai berdebar tak menentu. Tanpa sadar aku memejamkan mata karena rasa takut yang menyergap. "Ah." Aku menjerit tertahan.
Bruk!
"Aww." Lalu meringis kesakitan. Aku limbung dan terjatuh, tapi anehnya aku tidak merasakan kerasnya tanah atau bebatuan di bawah tubuh. Aku pun membuka mata segera.
"Begini jadinya, kalau cewek keras kepala dikasih hidup."
"Ya ampun," gumamku kaget. Bagaimana tidak terkejut, aku mendapati Langit di bawah tubuhku. Ah, tidak! Segera aku berdiri. Sialnya karena pergerakkan tiba-tiba itulah, aku terjatuh lagi. Kali ini aku berhasil terduduk di atas tanah dengan kaki kanan yang terhimpit tubuh. Lagi-lagi aku harus meringis, merasakan tulang mata kaki terbentur batu.
"Masih mau nolak?" Sebuah tangan terulur di depan wajah.
Aku mengangkat kepala perlahan. Langit menatapku dengan ekspresi datar.
"Sisil, lo enggak apa?" Amel memegang kedua pundakku.
Aku menoleh segera. Kemudian menggelengkan kepala. Akhirnya mau tak mau aku menerima uluran tangan Langit. Setelah berhasil berdiri dengan sempura, aku melangkah tak seberapa jauh demi tidak menghalangi jalan.
"Nyusahin amat sih, hidup lo. Kasian 'kan Kak Langit. Dia yang bakal bertanggung jawab kalo ada apa-apa sama kita," desis Gita yang tahu-tahu sudah ada di depanku.
"Lo biasa aja, dong," sahut Amel membelaku.
Sedang aku masih terdiam, merasakan sakit di bagian pergelangan kaki. Aku hanya bisa menggerakkan kepala, melihat Langit yang masih membantu satu persatu anggota tim untuk naik.
"Sudah semua? Ayo, jalan lagi! Ingat jangan sampai keluar dari jalur. Kita harus segera sampai di Kandang Batu untuk beristirahat malam ini!" ujar Langit memecah keheningan hutan.
"Siap, Kak!" terdengar sahutan bersamaan. Gita pun berlalu dari hadapanku masih dengan tampang mengesalkannya.
"Ayo, Sil," ajak Amel.
"Mel, kaki gue kok ... sakit, ya," lirihku yang memang sedang bersandar pada pohon.
"Masa?" Amel berjongkok, melihat kedua kakiku. "Astaga, kaki lo memar, Sil," ucap Amel terkejut.
"Hah?" Aku pun tak kalah terkejut. "Gimana, dong? Gue enggak sanggup jalan. Barusan aja dari sana ke sini, sakit banget," lirihku.
Amel tampak panik. Hingga akhirnya dia berteriak. "Kak Langit!"
Yah, kenapa dia panggil cowok ngeselin itu?
*****
--bersambung--