"Sakit?" Langit memegang pergelangan kakiku, lebih ke menekan sebenarnya.
Aku meringis. Jika tidak sedang di depan umum, sudah kutendang dia. "Sakit, Kak," sahutku lemah.
Langit berdiri kembali. Dia tampak berpikir selama beberapa detik. "Aldi, sini!" panggilnya pada salah satu anggota organisasi pecinta alam.
"Iya, Kak." Lelaki yang dimaksud sudah berdiri di depan Langit.
"Bawa tas gue. Kalo berat, gantian sama anak cowok lain." Langit melepas tasnya, memberikan pada lelaki yang postur tubuhnya itu sama tinggi dengannya. Hanya saja sedikit lebih berisi.
"Siap, Kak." Aldi menerima tas ransel hitam itu tanpa penolakan.
"Duluan jalan sana. Jangan sampai salah jalan," lanjut Langit.
"Siap, Kak. Aku jalan duluan. Permisi," pamit Aldi.
Langit hanya menggerakkan kepalanya.
"Terus ... Sisil ... gimana, Kak?" tanya Amel gugup.
Langit menoleh. "Gue gendong," ucapnya sambil berjongkok di depanku.
"Apa?!" teriakku histeris.
"Lo lagi sakit, tapi suara lo lantang bener." Langit memutar kepala, menatapku masih dalam posisi berjongkok.
"Yang sakit kaki saya, Kak. Bukan bibir," dalihku.
"Cepetan, deh. Kebanyakan ngomong malah memperlambat waktu. Kita mesti udah sampai di pos sebelum gelap!" gertak Langit.
Aku menoleh ke arah Amel. Dia mengedipkan mata sambil mengangguk. Lalu aku menoleh ke arah Gita yang sedari tadi fokus menjadi penonton. Wajahnya terlihat kesal dan menyimpan amarah. "Oke," sahutku lemah. Padahal dalam hati bersorak. Pasti Gita akan bertingkah sepeti ular kepanasan.
.
Hari hampir petang ketika kami sampai di pos. Langit menurunkan tubuhku secara perlahan. Kemudian dia menjatuhkan dirinya. Lelaki itu pasti sangat kelelahan. Menggendongku melewati jalan terjal dan berliku, tapi walau begitu setidaknya agak tertolong dengan body-ku yang langsing ini. Hehehe.
"Ini, Kak. Minum dulu. Kak Langit pasti kecapean." Gita datang membawa sebotol air mineral.
Langit mendorong botol itu dari depan wajahnya. "Gue bawa minum sendiri. Panggil Aldi. Siapa tadi yang bawa tas gue?" ucapnya dengan nada lebih tinggi.
"Lama, Kak. Udah, ini aja. Ini masih baru, kok. Masih disegel, Kak." Gita memperlihatkan bagian atas botol di tangannya.
Langit berdecak. Tanpa berkata lagi akhirnya meraih botol di tangan Gita, membuka segel dan tutupnya sendiri.
Rasanya aku ingin tertawa melihat keadaan ini. Namun, aku harus menahannya. Aku tidak mau membuat Langit yang sedang keletihan menjadi semakin letih saja hatinya.
"Sil, gimana kakinya?" Amel menghampiriku dengan langkah cepat.
"Masih sakit," sahutku.
"Makanya, kalo enggak bisa naik gunung, jangan maksain ikut. Nyusahin aja," ketus Gita.
"Dih, Kak Langit aja yang gendong Sisil enggak marah. Kok, malah elo yang jadi sewot," sungut Amel.
"Udah, Mel. Jangan berantem di sini, enggak enak," tegurku sok bijak. Padahal dalam hati aku pun merasa kesal atas perkataan Gita.
"Nih, buang." Langit memberikan botol air mineral yang sudah kosong. Pasti dia sangat kehausan. Air sebanyak enam ratus mililiter, habis dalam sekejap.
"Baik, Kak." Gita menerima botol itu disertai senyuman. Kemudian mendelik ke arahku sebelum akhirnya dia berdiri dan pergi menuju sebuah tong sampah di dekat pohon.
"Bawa minyak urut?"
Aku yang sedang memperhatikan tingkah kesal Gita, menoleh segera. "Minyak ... urut?"
"Iya." Langit menjawab dengan wajah tanpa ekspresi seperti biasa.
Aku menggelengkan kepala.
"Lo bawa kayu putih sama balsem, 'kan?" tukas Amel.
"Eh, iya, sih," jawabku malu.
"Mana sini." Langit mengulurkan tangan.
"Se-sebentar," sahutku gugup. Aku pun melepas tas, menariknya ke bagian depan. Dengan ragu aku membuka resletingnya.
"Lama amat. Sini!" Langit tiba-tiba merebut tasku dengan sekali tarikan.
Aku yang tidak mengetahui gerakannya, hanya bisa terdiam tanpa kata. Gawat.
Tara! Dalam waktu yang sangat super singkat, Langit sudah membuka lebar resleting tasku. Lalu tangannya mulai bergerak mengambil barang di dalamnya. Aku memejamkan mata, ketika melihat benda yang pertama dia ambil adalah ... pembalut. Omaygod! Mau ditaruh di mana mukaku?!!
.
"Gimana sekarang?" Langit berdiri di pintu tenda.
"Udah agak mendingan, Kak," sahutku disertai anggukan.
"Kalau besok pagi belum kuat jalan, bilang."
"Iya, Kak."
Langit berbalik.
"Kak Langit," panggilku repleks.
Dia berputar kembali.
"Terima kasih banyak. Maaf ... merepotkan." Aku menggigit lidah. Kelu rasanya setelah mengatakan itu.
"Sama-sama," jawabnya datar. Kemudian berputar lagi. Berlalu dari pandanganku.
Aih! Aku kembali menutup kepala dengan tudung jaket. Ayah! Bunda! Gara-gara kalian Sisil bakalan malu selama tujuh hari tujuh malam!
***
Aku berdiri setelah mendapat jatah semangkuk bubur. Melangkah pelan dengan menyeret kaki kanan yang masih terasa sakit. Lalu berhenti sejenak di samping pohon.
"Awas-awas!" Gita datang dari arah belakang.
"Eh, gila lo, ya? Kaki gue masih sakit ini," ujarku berang sambil menyandarkan pundak ke batang pohon.
"Salah lo ngehalangin jalan gue!" bentaknya.
Aku memundurkan kepala. "Lo pasti marah, gara-gara Kak Langit perhatian banget sama gue," sindirku.
Gita mencebikkan bibir. "Gue benci sama lo, Silikon," desisnya. "Enggak cukup apa, dulu lo rebut Angga?" Kilat matanya menunjukkan amarah terpendam.
"Gue enggak pernah rebut dia. Angga sendiri yang deketin gue. Inget itu," sahutku penuh penekanan.
Gita berdecih. "Terus aja lo bela diri." Lalu melangkah semakin dekat ke arahku. "Gue pastiin. Kali ini, gue yang harus dapetin Kak Langit. Bukan lo."
Aku hanya bisa menaikkan satu sudut bibir. Apa dia tidak tahu, kalau aku membenci Langit? Bagaimana mungkin aku merebutnya?
"Eh, Sisil. Beneran kamu cedera?"
Aku memalingkan wajah, lalu tersenyum kecil. "Iya, Kak Arfan."
"Gimana sekarang? Masih sakit?" tanya Arfan lagi.
"Kalau gerak terlalu cepet masih sakit," sahutku.
"Terus gimana, kamu mau lanjut ke puncak?"
"Dia anggota tim gue. Gue yang bakal tanggung jawab. Gue pastiin dia sampai puncak."
Aku menoleh ke belakang. Langit berdiri sambil memegang mangkuk dan gelas yang sudah kosong. "Heh, Gita. Simpen sana," perintahnya. Membuat Gita tersenyum kecut sambil mengangguk, lalu menerima kedua benda itu.
"Gue ketua panitia. Lo enggak bisa maksa--"
"Cepet habisin sarapannya. Kita siap-siap buat lanjut jalan," sela Langit. Tanpa diduga dia mengambil alih mangkuk di tanganku lalu melingkarkan satu tangannya yang lain di pundakku. Memberi isyarat untuk berjalan. Kami pun melangkah berdampingan. Oh, God! What this is?!
.
Langit benar-benar menggendongku lagi. Kami berjalan di barisan paling belakang. Beberapa menit sekali dia berhenti, lalu menggerak-gerakkan pundaknya. Aku sudah menawarkan untuk beristirahat, tapi dia juga enggan membiarkan timnya mendaki tanpa dirinya. Ah, entah kenapa secara perlahan kebencianku padanya malah berubah menjadi rasa bersalah.
Pukul sepuluh lebih lima belas menit, ketika kami sampai di Puncak Gunung Pangrango. Langit menurunkanku dengan perlahan. Kemudian dia berdiri, menatap bendera merah yang tertancap beberapa meter di depannya.
"Woy, Langit Biantara!" seru Braga sambil berjalan menghampiri Langit. "Akhirnya, gue bisa gantiin posisi lo buat tancapin tuh bendera," lanjutnya.
Langit tak menjawab. Hanya berkacak pinggang sambil menggelengkan kepala melihat Braga berdiri di depannya dengan gaya pongah. Mengusap bagian depan kepala hingga ke belakang.
"Sombong banget," ejek Langit.
"Lo enggak bakalan tau gimana senengnya gue karena udah ngalahin lo." Braga menunjuk d**a Langit.
"Sialan lo emang," ucap Langit dengan nada kesal, tapi aku tahu mereka hanya sedang bercanda karena Braga menanggapinya dengan tawa. "Istirahat aja. Enggak usah ikut bikin tenda," ucapnya seraya menoleh ke arahku.
"Iya, Kak. Terima kasih," sahutku.
Langit dan Braga pun berlalu dari hadapanku.
.
"Udah bisa jalan?"
"Pelan-pelan aja, Kak."
"Ini makan malemnya, Sil ... eh, ada Kak Langit. Maaf, aku enggak tau." Amel berdiri di pintu tenda.
"Hm. Gue pergi dulu." Langit pun keluar dari tenda.
Amel memperhatikan kepergian Langit, hingga akhirnya dia pun masuk sambil tersenyum menghampiriku. "Cie, yang dapet perhatian dari kating tampan," godanya.
"Ngiri, ya?" Aku meraih mangkuk di tangan Amel.
"Enggak lah. Di hati gue cuma Kak Arfan seorang," sahutnya sambil mengaduk mie di mangkuknya.
Aku pun mengaduk mie rebus milikku. Meski berusaha terlihat biasa-biasa saja di depan Amel, namun tidak bisa kupungkiri jika di dalam hatiku ada sedikit rasa penasaran. Kenapa seorang Langit Biantara bisa seperhatian itu padaku?
.
"Udah siap?" Amel bertanya selagi aku memakai jaket.
"Udah. Duluan aja, entar gue nyusul," sahutku.
"Yakin bisa jalan sendiri?" Amel masih tampak belum percaya.
"Tenang aja. Udah agak mendingan, kok, Bunda Amel," ucapku meyakinkan.
"Ya udah, gue duluan. Entar gue bikinin minuman anget, ya."
"Oke," jawabku lagi.
Amel pun keluar dari tenda. Selesai memakai jaket aku memakai sarung tangan. "Udah, tinggal pake sepatu," gumamku. Beruntung tadi Amel membantuku mengenakan kaos kaki, jadi aku tidak terlalu kesulitan. Setelah selesai bersepatu, aku pun berdiri. Hampir melangkah keluar, sayangnya ada seseorang yang menghalangi.
"Lo enggak usah kesenengan karena Kak Langit udah perhatian sama lo. Dia ketua tim kita, jadi wajar kalau dia berusaha jadi ketua yang baik."
Aku tersenyum miring. "Lo beneran cemburu, Git?"
"Cemburu atau enggak, itu enggak terlalu penting. Yang jelas, gue enggak mau kejadian waktu kita SMA terulang lagi. Lo ngerti 'kan maksud gue?" desisnya di depan wajahku.
Aku berdehem seraya mundur selangkah. "Asal lo tau, gue enggak semudah itu juga suka sama Kak Langit. Jadi please, stop nuduh gue nikung lo. Paham?"
"Gita!" Terdengar panggilan seseorang pada perempuan di depanku. Ah, untung saja. Akhirnya si cewek rese pun pergi dari hadapanku.
Aku mengembuskan napas lega. Kemudian melangkah keluar dari tenda. Ketika itulah aku baru menyadari, jika ada seseorang sedang berdiri di samping tenda, membelakangiku Aku menatapnya karena merasa penasaran siapakah sosok itu. Seperti mengerti keingintahuanku, tak lama kemudian dia pun berbalik.
Langit?
Aku tertegun. Mungkin jika di siang hari, lelaki itu bisa melihat kegugupanku. Hampir saja aku membuka mulut untuk menyapanya, dan bertanya sejak kapan ada di sana. Akan tetapi, belum keluar sepatah kata pun dariku dia sudah melangkah begitu saja. Aku menautkan alis. Langit bukannya berjalan ke arah di mana orang-orang berkumpul, tapi malah ke arah lain. Tiba-tiba aku merasa cemas.
.
Lewat tengah malam acara baru selesai. Semua peserta dipersilakan meninggalkan api unggun dan kembali ke tenda masing-masing untuk beristirahat. Sepanjang jalan menuju tenda, Amel tak henti bercerita tentang pesona Arfan yang memang banyak mendominasi selama acara berlangsung. Sedang aku, entah kenapa malah memikirkan sosok itu. Lelaki yang sepanjang malam hanya duduk di atas bukit. Bahkan hingga pagi menjelang dan kami berbondong-bondong untuk melihat matahari terbit, sosok itu sudah lebih dulu ada di sana.
Dia adalah ... Langit.
*****
--bersambung--