9. A Party

1671 Words
"Jadi, ada kakak tingkat yang tolongin waktu kaki kamu cedera?" tanya Ayah sambil tetap mengemudikan mobil. Kami berada di perjalanan menuju pulang saat ini. Ketika melihatku turun dari bus dengan sebelah kaki yang agak pincang, tentu saja Ayah cemas. Akhirnya sejak duduk dalam mobil aku harus menceritakan kronologi kejadian. "Iya, dia tolongin Sisil sampai akhirnya bisa sampai di puncak gunung. Bahkan ... selama perjalanan pulang pun, dia ada di belakang Sisil. Sisil enggak enak kalau harus digendong lagi. Jadilah Sisil sama Kak ...." "Kak siapa?" Aku menggigit bibir. "Kak Langit. Kita sampai di parkiran bus paling terakhir." "Kak Langit? Cowok yang pernah kamu ceritain sama Ayah itu?" Dari ekor mata, aku bisa lihat jika Ayah menampakkan raut antusiasnya. "Iya." Akhirnya kuanggukkan kepala. "Wah, baik banget dia. Coba tadi Ayah ketemu sama Langit, pasti bilang terima kasih banyak-banyak karena udah tolongin Putri Priscillia-nya Ayah." "Ih, Ayah. Lebay banget," ucapku kesal. Padahal dalam hati merasa bersalah, tidak mengatakan jika Ayah pun pernah bertemu dengan Langit sebanyak dua kali. . Aku merebahkan tubuh di atas kasur. Baru bisa beristirahat setelah Bunda memaksa untuk memijat kakiku lebih dulu. Takut kenapa-napa katanya. Kupejamkan kedua mata lelah ini. Mengembuskan napas. Merasakan sesuatu dalam daada. Entah perasaan macam apa ini. Antara merasa lega karena selama pendakian sudah ditolong oleh Langit, tapi juga rasa bersalah karena selalu bersikap kasar padanya. Terbayang wajahnya ketika dia mengoleskan balsem di kakiku, lalu membalutnya dengan perban. Raut wajah yang biasanya terkesan galak dan kasar, berubah menjadi pendiam tanpa banyak bicara. Belum lagi perhatiannya selama di puncak gunung, yang jika ada kegiatan dia selalu bergegas menghampiri dan bertanya apa aku sanggup berjalan. Bahkan beberapa waktu sebelum turun gunung pun dia dengan sengaja mendatangiku. "Kalau enggak sanggup jalan cepat, lambat aja enggak apa. Biar gue yang temenin lo," ucapnya dengan nada datar seperti biasa. Aku hanya bisa menganggukkan kepala. Kupikir dia akan marah karena ucapanku pada Gita di malam sebelumnya. Imbasnya, aku yang masih merasa tak enak hati, enggan untuk mengajaknya mengobrol selama di perjalanan. Kenapa lama-lama, aku merasa bersalah karena sudah bersikap seenaknya pada dua lelaki bernama Langit? *** "Putri Priscillia!" Aku menoleh segera. "Bunda Amel!" Lalu berjalan menghampirinya yang sedang berdiri di depan majalah dinding. "Annyeong," sapaku sambil mencium pipi kanan dan kirinya. "Lihat apa?" "Tuh, foto-foto waktu pendakian kemarin," tunjuknya dengan dagu. "Keren banget, sih," bisiknya gemas. Aku ikut mengarahkan netra. Ternyata dia sedang menatap foto Arfan ketika menyanyikan sebuah lagu di acara api unggun. Sesaat kemudian mataku pun ikut terpaku pada sebuah foto. "Ini ... Kak Langit, 'kan?" Kutunjuk gambar di samping foto Arfan dengan jemari. "Iya, Kak Langit. Masa enggak bisa lihat bentuk punggungnya. Lo 'kan udah digendong selama dua jam lebih," seloroh Amel. "Ish, apaan, sih!" Kutepuk lengannya, membuat Amel meringis. "Betewe, dia enggak tidur semalaman itu?" "Kata salah satu anak pecinta alam sih, gitu. Kak Langit enggak tidur kalo udah di puncak gunung. Sampai pagi." Aku menganggukkan kepala. Menatap seksama lagi foto Langit yang sedang berdiri menatap matahari terbit. Damage-nya itu, kenapa terlihat keren meski tampak dari belakang? Pantas di gunung kemarin Gita sampai rela lari-lari di jalanan terjal dan berliku, demi bisa berjalan di dekat Langit. . Kelas selesai. Aku dan Amel langsung menuju kantin untuk makan siang sambil menunggu jam kuliah selanjutnya. Di sela menyusuri koridor, tampak Langit sedang berjalan sendirian menuju ruang Ormawa. "Mel, gue ada urusan bentar. Lo duluan, tungguin aja di kantin," ujarku. "Mau ngapain?" Tatapan mata Amel menyelidik. Sesaat kemudian dia melihat ke arah yang sama yang aku tuju. Akhirnya dia hanya tersenyum menggoda. "Mm, oke, deh. Gue ngerti." "Eh, lo jangan salah sangka, ya. Gue cuma mau bilang makasih. Kemarin pas sampe parkiran 'kan gue langsung naik ke bus, dan kita beda bus. Jadi kita enggak ketemu lagi," terangku panjang lebar. "Yee, perasaan gue enggak nuduh macem-macem. Lo aja yang duluan mikirin aneh-aneh." Amel menunjukku dengan jari telunjuknya. "Ih, udah, ah. Sana-sana, entar gue nyusul," usirku segera. "Mau dipesenin makanan enggak?" "Pesenin aja kayak biasa, samaan sama lo. Dah!" Aku melangkah segera, takut Langit sudah masuk ke dalam ruang Ormawa. "Dih, tadi lo yang usir gue, kenapa lo yang pergi," omel Amel. Tak kupedulikan dia. Segera melangkah menuju arah ke mana Langit pergi. Benar saja, dia tampak sudah menghilang di balik pintu. "Yah, keburu masuk, 'kan," bisikku dengan nada kecewa. Akhirnya aku memilih menunggu di depan ruangan. Malu jika harus masuk ke sana. Hampir lima menit kemudian, tampak Langit keluar dari ruangan itu. Aku yang awalnya menyandarkan punggung, segera berdiri tegak. Langit sempat bersitatap denganku selama beberapa detik, namun dia berjalan kembali dengan tak acuh. Lah, jadi gue mau ngapain di sini? "Kak," panggilku akhirnya. Langit berhenti melangkah. "Ada apa?" tanyanya setelah berputar ke arahku. "Maaf ganggu. Bisa minta waktunya sebentar enggak," ujarku sedikit canggung. "Mintanya berapa menit?" tanyanya seraya memasukkan kedua lengan ke dalam saku celana. Aku mengerjapkan mata. Ini cowok jangan-jangan punya kepribadian ganda. Aku pun berdehem. "Sebentar aja. Cuma mau bilang terima kasih karena udah tolongin aku kemarin. Sekali lagi maaf merepotkan." Langit terdiam. Aku pun jadi semakin salah tingkah. "Maaf juga untuk sikap-sikap aku sebelumnya. Aku--" "Lain kali kalo mau ikut naik gunung, persiapan diri yang cukup. Jangan sampai bikin susah ketua tim kamu." Aku mengerjapkan mata. "Udah. Atau masih ada lagi yang mau diucapin?" Langit menatap jam tangan hitam di lengan kanannya. "Oh, sudah cukup. Silakan kalau sedang terburu-buru," ujarku sesopan mungkin. Langit pun memasukkan kembali kedua tangannya ke dalam saku celana. Pergi begitu saja dari hadapanku. Strawberry ... Hazelnut ... Ice ... Tea ...! Nyesel gue udah sengaja bilang makasih sampai harus nungguin dia. Kalau bukan gara-gara Ayah, ogah rasanya! Aish! Meski begitu, selama berhari-hari sikapku pada Langit bisa disebut berubah drastis. Aku selalu berusaha menyapa dan tersenyum meski dia tidak membalas sikap manisku. *** Bunyi pesan baru masuk ketika aku sedang menikmati sarapan pagi. Amel? Ada apa, sih? Aku menautkan alis. Amel mengirimkan sebuah tautan. Tidak ingin berbasa-basi dan takut jika itu tautan penting mengenai tugas kampus, aku putuskan langsung meneleponnya. "Apaan, tuh?" tanyaku segera ketika sambungan dijawab. "Lo enggak buka?" "Lo 'kan tau prinsip gue. Kalo ada cara yang mudah, buat apa cari yang susah. Think smart, girl." "Think smart apa emang males lo?" "Opsi kedua lebih tepat sebenarnya. Makasih, Bunda." "Sama-sama." Bunda pun duduk setelah menyimpan segelas suusu untukku. "Apaan?" tanyaku lagi pada Amel. "Lo enggak lihat itu tautan buat ke i********:-nya si Gigi Taring." Aku mendengarkannya sambil mengunyah roti isi. "Terus?" "Semalem dia posting foto." Aku meraih suusu vanila-ku, meneguknya segera. "Masa dia foto berduaan sama Kak Langit. Apa mungkin mereka udah jadian ya, Sil?" Glek. Tenggorokanku terasa tercekat. "Uhuk." "Sisil," tegur Ayah. Aku menoleh setelah menyeka mulut dengan tisu. Ayah hanya menggerakkan kepala. Memberi isyarat agar aku segera menghabiskan sarapanku. "Maaf, Yah." Kusimpan kembali gelas di atas meja. "Lo yakin Gita jadian sama si Lang ...." Aku menoleh ke arah Bunda. Beruntung Bunda tampak fokus dengan sarapan nasi gorengnya. Kemudian aku berpaling ke arah samping. Ayah sedang menatapku dengan sorot menunggu. "Lo yakin Gita jadian sama si Galang?" ulangku. "Galang?" Terdengar suara terheran Amel. "Oh, ya udah. Sampai ketemu di kampus." "Lo ngomong apaan, sih, Sil." "Bye." "Sisil." Kutekan segera gambar telepon warna merah. Menyimpan ponsel di atas meja. Tersenyum manis pada Ayah sebelum akhirnya menghabiskan sarapanku. . "Apa mungkin mereka jadian?" Sosok di depanku hanya terdiam. "Bener enggak sih, mereka bisa jadian?" Lagi-lagi makhluk yang aku ajak berbicara tak menjawab. "Kok, bisa , ya?" Dia masih saja tak mau bicara. "Alexis, jawab, dong!" "Meong. Meong. Meong." Akhirnya dia bersuara, menjawab tiga pertanyaanku. "Astagfirullah, Sisil. Kamu belum beres juga itu mandiin si Alexis." Aku tertegun. Melihat selang air di tangan, lalu melihat Alexis yang sudah setengah basah. "Hehehe, maaf, Bunda." "Tiap libur kerjaannya cuma nonton drakor, tidur. Coba kalau libur kuliah tuh bantuin Bunda beres-beres, kek. Masa bisanya cuman mandiin Alexis, doang," omelnya sambil menjemur baju. Aku meraih botol sampo, dalam waktu singkat tubuh Alexis sudah dipenuhi busa. "Bunda enggak tau? Mandiin Alexis tuh juga butuh keterampilan khusus. Bunda inget enggak dulu awal pelihara dia, tangan sama wajah Sisil habis dicakarin," ucapku sambil menggosok-gosok bulu Alexis. "Inget, lah. Kamu 'kan nangis sama Ayah buat dibeliin krim penghilang bekas luka yang mahal itu," sahut Bunda dengan nada kesal. Akhirnya aku hanya bisa meringis. "Awas lupa, nanti habis Magrib kita ke undangan pernikahan temennya Ayah." "Siap, Bunda Ratu!" Aku memberi tanda hormat walau tangan masih basah. "Jangan ketiduran apalagi nonton drakor." "Itu hamba tidak bisa menjanjikan, Bunda Ratu." "Hadeuh, punya putri semata wayang kenapa b****k begini," celetuk Bunda seraya masuk ke dalam membawa ember yang sudah kosong. "Takdir, Bun!" Kusempatkan menjawab meski dengan suara agak keras. . Ayah menghentikan mobil di parkiran sebuah hotel berbintang lima. Pekerjaannya selama ini memang membuatnya bisa kenal dengan beberapa pengusaha. Terkadang berpikir, apa mungkin suatu hari nanti aku pun akan dijodohkan dengan seorang anak pengusaha? Seperti cerita di novel-novel remaja, dijodohkan dengan pengusaha muda yang tampan dan dingin. Aku menggelengkan kepala. Hiy, tidak mungkin. Awas saja kalau Ayah mau menjodohkanku! "Kenapa, Sil?" Bunda menatapku heran. "Eng-gak ... kenapa-napa, kok." "Awas kamu, jangan bikin Ayah malu," bisik Bunda. Aku menganggukkan kepala. "Ayo, masuk," ajak Ayah yang ternyata sudah selesai menyimpan mobil. Aku berjalan di antara Ayah dan Bunda. Uh, di saat seperti ini aku merasa jadi keluarga bahagia. Senangnya. "Pak Fardan," sapa seorang lelaki paruh baya. Dari tampilannya, pasti dia konglomerat. "Pak Hanjaya, ya?" tanya Ayah. "Iya. Dulu kita sering bertemu waktu saya masih menjadi Sales Marketing." "Ah, iya. Saya dengar Bapak diangkat menjadi Manajer Pemasaran, ya. Saya belum sempat memberi selamat, loh." Ayah mengulurkan tangan kanannya. "Ya ampun, Pak Fardan ini ada-ada saja." Aku mengembuskan napas. Jika sudah begini, maka Ayah tidak akan jauh beda seperti Bunda di saat bertemu teman menggosipnya. "Bun, haus," bisikku. "Kamu ini." Bunda berucap gemas. "Sana ambil. Nanti ke sini lagi," titahnya. "Oke." Aku pun melangkah menuju meja yang di atasnya dipenuhi banyak gelas berisi minuman dingin. "Ah, segar." Kuambil satu Lemon Tea dingin. "Jadi ini putra Pak Randika. Wah, tampan-tampan semua, ya?" "Kenalkan, ini putra pertama saya, namanya Althaf. Dan ini putra kedua saya, namanya Langit." What? Langit? ***** --bersambung--
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD