10. Gara-Gara Pesta Itu

1692 Words
Aku menoleh pelan ke arah kanan. Benar, itu Langit. Segera aku bergeser sedikit agar tubuhku terhalang oleh pot berisi bunga yang tinggi. Dari celah dedaunan, aku mengintip mereka. Oh, Lord. Tampan-tampan sekali tiga pria berpakaian jas itu! "Bukankah Anda memiliki seorang putri?" "Ah, ya. Putri bungsu saya bernama Biyanka. Dia tidak bisa ikut karena istri saya sedang tidak enak badan. Putri saya sangat dekat sekali dengan ibunya, dia tidak mau pergi jika ibunya pun tidak pergi." "Manis sekali." Aku masih mengintip di balik dedaunan. Sekarang aku semakin yakin jika Langit Biantara bukanlah Langit Kelam. Langit Biantara berasal dari bibit unggul. Sungguh. Pantas saja sikapnya pun sombong dan kejam. Tidak salah orang tuanya memberi dia nama Langit. Tinggi dan sulit digapai. "Sil." Hampir minuman di tangan tumpah. "Bunda, bikin kaget aja." "Kamu ambil minum lama banget. Ngapain aja?" omel Bunda. "Maaf. Ya udah, kita samperin Ayah lagi." Aku memegang tangan Bunda. "Bukan ke sana, tapi ke sini." "Oh, iya. Lupa." Akhirnya aku mengikuti langkah perempuan yang malam ini memakai gaun brukat berwarna biru tua itu. "Nah, ini putri saya. Namanya Priscillia. Baru dua bulan jadi mahasiswi di Universitas Putra Bangsa." Aku mengangguk seraya tersenyum. Aduh, ini teman Ayah udah ganti lagi aja. "Priscillia kuliah jurusan apa?" tanya lelaki yang kini tampaknya seumuran dengan Ayah. "Jurusan Ekonomi, ambil prodi Manajemen, Om," sahutku. "Wah, hebat. Pasti pintar seperti Ayahnya," puji lelaki itu. "Hehehe, Om bisa aja." Aku pun tersipu. "Baiklah kalau begitu, Pak Andi. Saya dan keluarga pamit menemui keluarga Pak William dulu," ujar Ayah. "Silakan-silakan," jawab lelaki itu. Aku, Ayah dan Bunda pun melangkah menuju panggung pelaminan. Tampak sepasang pengantin sedang tersenyum lebar, menebar pesona pada seluruh tamu undangan. Oh, indahnya pemandangan. Kami pun menyalami tangan orang tua kedua mempelai berikut kedua mempelai. Hingga saat akan menuruni tangga, kulihat sosok itu sedang berjalan menuju panggung. "Yah, Sisil laper, Yah. Ayo, makan sekarang," ajakku sambil menarik tangannya setelah turun dari panggung. Gawat, jangan sampai Ayah melihat wajah Langit. . Selama menikmati makanan, rasanya aku seperti penjahat yang sedang menjadi buronan polisi. Setiap selesai menyuapkan makanan, aku harus melirik kanan kiri, takut jika Langit tiba-tiba muncul begitu saja atau mungkin berjalan melewati kami. Di ruangan besar seperti ini, kenapa harus melihat dia? "Yah, Bunda ke toilet dulu, ya?" "Iya, Bun. Sil, anterin Bunda sana," perintah Ayah. "Ayah aja, dong," tolakku. "Masa Ayah masuk toilet cewek," elak Ayah. "Mm, oke-oke." Aku pun beranjak dari tempat duduk, mengikuti Bunda yang sudah melangkah lebih dulu. Sambil menunggu, aku ikut mencuci tangan di wastafel juga menatap wajahku di depan cermin. Perasaan, tadi sebelum bertemu Langit aku tenang-tenang saja. Kenapa sekarang jadi berdebar begini? Terbayang ekspresinya tadi yang sedang menyapa teman ayahnya, tampak cool dengan senyum tipis yang dia ukir di wajahnya. Oh, God! Aku enggak mau jadi seperti Gita yang jatuh cinta sama cowok judes itu! "Ayo, Sil." Tahu-tahu Bunda menepuk lenganku. "Eh, iya, Bun." Aku menyahut segera, agar Bunda tidak menyadari aku sedang melamun. "Aduh, Sisil lupa. Tas Sisil ketinggalan, Bun," ucapku setelah beberapa langkah keluar dari toilet. "Astagfirullah, Sisil. Makanya kamu itu jangan kebanyakan ngelamun. Sana, ambil dulu." Aih, ternyata Bunda tahu aku tadi melamun. Demi tidak membuatya mengomel lebih lanjut, aku segera berputar. Berjalan kembali memasuki toilet perempuan. Beruntung tas berwarna hitam itu masih ada di sana. Setelah mengambilnya, segera aku keluar kembali. "Aduh, makasih banyak, ya." "Sama-sama, Tante." What? Kenapa Bunda bersama Langit? "Saya duluan, Tante. Permisi," pamit Langit. "Silakan," ujar Bunda. Aku masih berdiri di balik tembok. Menunggu hingga sosok lelaki dengan jas hitam itu pergi jauh. "Siapa tadi, Bun?" tanyaku. "Oh, itu tadi Bunda ambil hape di tas, taunya dompetnya malah ikut jatuh." "Oh." Kuanggukkan kepala. Kami pun melangkah berdampingan. "Ganteng banget ya, Sil. Kira-kira, Ayah tau enggak ya, dia anak siapa," ucap Bunda. "Ih, Bunda genit," ejekku. "Bunda juga masih eling, Sil. Bunda cuma mau tau, kali aja bisa bikin pengajuan buat dijadiin calon mantu." "Mantu siapa?" "Mantu Bunda, lah." "Anak Bunda 'kan cuma Sisil?" "Ya, iya. Cuma kamu." "Jadi maksud Bunda cowok tadi cocok buat Sisil?" "Terus buat siapa lagi? Alexis?" Aku menelan saliva. Rasanya sulit harus berekspesi seperti apa. . Ayah memutuskan pulang ketika waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Aku pun bisa bernapas lega. Karena sejujurnya aku memang masih takut jika Ayah melihat Langit sewaktu-waktu selama di pesta tadi. Bahaya jika Ayah melihatnya. Ayah sudah tahu jika Langit juga salah satu mahasiswa di kampusku. Aku duduk di jok belakang. Menikmati waktu dengan berselancar di sosial media. "Sil, jangan-jangan dia anak kampus kamu juga?" Aku memalingkan wajah dari layar ponsel. "Maksud Bunda siapa?" tanyaku tak mengerti. "Itu cowok yang tadi tabrak Bunda, loh. Ganteng banget. Bunda masih kebayang-bayang wajahnya. Apalagi pas senyum, manis banget. Kayak siapa itu, aktor Korea yang suka kamu tonton." "Dih, Bunda. Ngasal aja," cetusku. "Kalau gitu kenapa enggak dicari tadi pas di pesta, Bun?" tukas Ayah. "Bunda cari, kok. Lirik sana lirik sini, tapi enggak ada. Udah pulang kali, Yah," jawab Bunda. "Mudah-mudahan nanti kalau ada acara lagi, dia ada, Bun." "Bener, Yah. Nanti kalau ada acara lagi, Bunda ikut ya, Yah." "Siap, Bunda Sayang." Aku hanya bisa menyandarkan punggung pasrah. Kenapa sekarang malah Bunda yang semakin penasaran? Aigo! *** "Pagi, Ayah Tersayang," sapaku sebelum mengempaskan tubuh di atas kursi. "Pagi, Putri Priscillia," sahut Ayah yang masih fokus dengan laptopnya. "Pagi, Bunda Tersayang." Aku juga menyapa perempuan berdaster yang menyimpan sepiring nasi goreng di atas meja. "Pagi, Putri Termanja-nya Bunda," jawabnya. Aku pun menikmati nasi goreng kecap di depanku. "Oiya, Bun. Ayah hampir lupa. Ini, jatah buat keponakan Ayah bulan ini." Ayah menyimpan sebuah amplop coklat di atas meja yang dikeluarkannya dari tas. "Bilangin maaf, enggak bisa kasih besar. Bulan ini pengeluaran habis sama putri semata wayang kita." Aku tahu maksudnya. Akhirnya aku mencebikkan bibir ke arah lelaki berkemeja merah marun itu. "Iya, enggak apa, Yah. Bunda ngerti. Bunda yang harusnya bilang terima kasih, Ayah udah perhatian sama adiknya Bunda." Bunda memberi seulas senyum. "Nanti agak siangan Bunda kirim uangnya." Ayah hanya memberi anggukkan kepala. Aku pun menikmati kembali sarapanku. Bagiku ini sudah tidak aneh, tapi jika memang ingin tahu, baiklah akan kuceritakan permasalahannya. Jadi, Bunda memiliki dua saudara, Wa Saleh dan Mang Sadikin. Entah bagaimana ceritanya, tiga petak sawah berikut rumah milik almarhum Nenek Farida jatuh ke tangan Wa Saleh. Sedang Mang Sadikin atau yang biasa dipanggil Mak Dikdik, hanya mendapat sebidang tanah kosong di samping rumah Nek Farida. Akhirnya selama ini Mang Dikdik harus bekerja serabutan, karena mengandalkan bertani dari lahan tersebut tidaklah bisa mencukupi kebutuhannya. Terlebih dia memiliki empat anak yang masih kecil-kecil. Mang Dikdik tidak pernah berani meminta bantuan pada Wa Soleh, karena yang kudengar uwaku itu memang memiliki sifat kurang baik. Tidak pernah mau membantu Mang Dikdik jika sedang mengalami kesulitan termasuk dalam masalah materi. Alhasil, sejak Ayah diangkat sebagai Supervisor di tempatnya bekerja, Ayah selalu menyisihkan sebagian gajinya untuk kebutuhan anak-anak Mang Dikdik. Mengingat kampung halaman, tiba-tiba muncul satu pertanyaan di benakku. "Mm, Yah. Kapan dong, kita pulang kampung. Masa tiap tahun Mang Dikdik terus yang ke sini?" Ayah tertawa. "Nanti, kalau kamu udah enggak banyak maunya. Ya?" "Ih, Ayah." Aku pun memberenggut. "Memangnya mau apa kalau pulang kampung? Cari si Langit?" tukas Bunda dengan raut muka datar, namun jelas aku tahu ada rasa sebal di dalam nada bicaranya. Tiba-tiba kaki kiriku merasakan sebuah tendangan cukup keras. Aku pun menoleh ke arah Ayah, dia melebarkan kedua mata lalu menggeser bola mata ke arah Bunda yang duduk berseberangan denganku. Astaga, aku lupa! "Eh, Ayah. Denger-denger supermarket tempat kerja Ayah, lagi adain diskon besar-besaran, ya?" "Hah, iya. Lagi ada diskon buat buah-buahan lokal. Nanti pulang kuliah kamu sama Bunda ke sana, mumpung masih seger-seger buahnya," timpal Ayah. Sedang perempuan yang sedang kami jadikan target hanya menikmati nasi goreng di piringnya dengan tatapan tak acuh ke arah lain. Ish, Sisil. Ceroboh banget, sih! . Aku menghentikan skuter matikku. Kali ini tidak akan salah tempat. Aku tak mau jika harus parkir lagi di tempat si Langit Judes itu! Suara klakson membuatku terlonjak. "Astagfirullah," gumamku kaget. "Heh, Putri Alam Baka!" Aku pun berbalik ke belakang. Ternyata Braga. Dia masih duduk di atas motornya. "Apa, sih? Bikin kaget aja," omelku. "Lo semalem kenapa enggak nyapa gue? Dasar adik tingkat durhaka," ujarnya. Eh, apa maksudnya? Kenapa dia ngomongin semalem? Jangan-jangan .... "Emang, semalem Kakak lihat aku di mana?" tanyaku sok bodoh. Mungkinkah Braga juga ada di pesta itu? "Semalem lo ke pesta Om William, 'kan? Dia tuh rekan bisnis Papi gue. Ya, gue dateng lah," ujarnya dengan nada sewot. Aku pun meringis. "Maaf, aku enggak lihat Kakak," sahutku akhirnya. "Tapi gue lihat lo lagi ngintipin Langit," tukasnya. Kemudian dia pun melajukan motornya, lalu berhenti di tempat biasa dia parkir. Aku melebarkan mata. Oh Em Ji, tidak! Ini memalukan. Dengan cepat aku mencabut kunci motor, lalu berlari ke dalam gedung. Menghindar dari tatapan matanya. Ya, Tuhan. Bagaimama jika Braga mengatakan itu pada Langit? Bisa malu tujuh hari tujuh malam lagi ini. . Aku dan Amel duduk setelah mendapat seporsi nasi beserta semangkuk soto ayam. Tak lupa teh tawar hangat sebagai minuman. Aku menambahkan kecap, air jeruk lalu sambal. Amel tercenung melihatku. "Lo mau mencret, Sil?" tanyanya setelah aku mengaduk isi mangkuk. "Gue lagi stress, Mel," sahutku. Kemudian mencicipi soto hasil racikanku. Aku meringis. "Pedes asem," ujarku. "Emang lo stress kenapa?" tanya Amel. "Ada aja." Kuambil beberapa sendok sayur, memasukkannya ke dalam piring berisi nasi. "Terserah, deh. Udah enggak aneh gue sama tingkah absurd lo," celetuk Amel. "Wuah, Putri Alam Baka lagi makan nasi soto, nih. Enak kayaknya." Aku menoleh ke arah kiri. Jimmy sedang menatap makananku. "Pesenin nasi soto buat kita," lanjut Jimmy dengan tatapan ke arah lain. "Siap, Kak." Ish, itu 'kan suara Gita. Aku menengok ke arah belakang. Gita tampaknya memang baru memasuki kantin, dengan langkah cepat dia berjalan ke arah meja ibu penjual soto. Aku masih menoleh ke arah pintu kantin. Tak lama, Braga muncul dengan langkah santainya. Disusul Langit, yang juga berjalan dengan tampang tak acuhnya. Entah kenapa, tiba-tiba dalam benakku terbayang sosoknya semalam yang memakai setelan jas, sepatu pantofel, juga rambut yang dipomade. Tampan sekali, Ya Tuhan! "Heh, Putri Alam Baka. Ngapain lo liatin Langit?" Aku terhenyak, menoleh ke arah samping. Jimmy sudah duduk di meja sebelah rupanya. Oh, Lord! Aku ketahuan lagi. ***** --bersambung--
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD