"Assalamualaikum," ucapku lesu setelah menutup pintu rumah. "Kok, lemes gitu, Sil. Sakit?" Bunda yang masih memakai apron di tubuhnya berjalan menghampiriku. Aku menggelengkan kepala. "Cape?" Kali ini aku meraih tangan kanannya, mencium punggung tangannya. Kemudian menggelengkan kepala lagi. "Terus kenapa?" "Malu," sahutku. "Malu? Malu kenapa?" "Ah, udahlah. Sisil enggak menerima pertanyaan selanjutnya," ucapku ketus. Lalu melangkah untuk menuju lantai dua. "Nih, anak. Kalau Bunda nanyain kamu mau bolu suusu yang baru mateng dan masih anget, gimana?" Aku yang hampir memijakkan kaki di anak tangga, berhenti seketika. Memutar tubuh, melihat Bunda yang masih berdiri di sana. "Apa masih tidak menerima pertanyaan selanjutnya?" ejek Bunda. "Menurut Bunda, jawaban apa yang akan Sisi

