"Assalamualaikum." Aku mengucap salam di tengah rasa tak menentu. Menyimpan helm di atas meja dengan gerak terburu, dan segera berlari maraton menuju kamar mandi.
A few moments later.
"Ah, leganya." Aku pun keluar dari kamar mandi dengan seulas senyum.
"Ih, Ayah. Bunda jadi malu."
"Sengaja. Ayah 'kan emang lagi godain Bunda."
What?!
Suara-suara menggelikan apa itu? Terakhir kali aku mendengar haha-hihi antara Ayah dan Bunda itu sekitar lima bulan lalu. Waktu Ayah memberikan hadiah ulang tahun untuk Bunda, berupa seperangkat alat memasak, bukan alat solat. Itu karena hobi Bunda yang suka membuat kue. Semua kue dibuatnya, hingga aku merasa sebentar lagi akan mengidap diabetes akibat terlalu sering memakan yang manis-manis. Namun tenang saja, rasa manis kue-kue itu tak sebanding dengan manisnya senyumku ini. Aheum.
Aku masih berdiri di depan pintu. Tak kuasa untuk menemui Ayah dan Bunda. Rasanya ... ah, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, ketika harus melihat mereka bermesraan. Walau pun mereka orang tua kandungku, tapi tetap saja. Jika sudah begini rasanya ingin memiliki seseorang yang bisa menggodaku dan membuat tertawa juga.
"Eh, itu 'kan helm Sisil, Yah?"
"Iya, Bun. Tapi ... mana Sisil-nya, ya?"
Segera aku menarik handel pintu lalu berdehem. "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," sahut Ayah dan Bunda bersamaan. Kemudian mereka menoleh. "Kok, datang dari situ. Kapan pulangnya?" tanya Ayah.
Tadi, waktu Ayah sama Bunda lagi asyik pacaran di kamar. Sayangnya, aku tidak berani mengatakan itu. Karena sejujurnya aku pun merasa senang atas perdamaian yang terjadi di antara mereka. Itu artinya aku tidak harus memakan nasi goreng buatan Ayah lagi setiap pagi dan sore. Bukannya tidak enak, tapi ... lama-lama bosan juga. Kangen sayur sop buatan Bunda, sayur lodeh, tempe oreg, dan lain-lain. Ah, jadi lapar.
"Kebelet pipis tadi. Jadi ngucap salamnya buru-buru trus pelan. Jadi mungkin enggak kedengeran," jawabku asal sambil menghampiri mereka, lalu mencium tangan Ayah dan Bunda bergantian. "Jadi, ceritanya Bunda udah akur nih, sama Ayah?" tukasku sambil mengangkat kedua alis berkali-kali.
"Udah, dong. Bukan Ayah Fardan namanya kalau enggak bisa menaklukan Bunda Inayah," ujar Ayah, kemudian menepuk dadanya sambil tersenyum bangga.
Bunda yang duduk di sebelahnya hanya tersipu.
"Disogok pakai apa, Bun?" tanyaku penasaran.
"Ayah beliin Bunda oven baru," sahut Bunda, lalu melirik manja ke arah Ayah yang disambut kedipan mesra.
Kedua mataku melebar. "Kalau gitu, bisa bikin ayam panggang, dong?" Aku berusaha merayu Bunda, walau sebenarnya agak risih dengan tingkah mereka yang seperti ABG sedang dilanda kasmaran.
"Ide bagus, tuh. Ayo, kita beli ayam--"
"Enggak, ah. Bunda lagi males masak. Gimana kalau kita makan di luar? Ayah bilang tadi habis dapat bonus besar, 'kan." Bunda menyela ucapan Ayah.
Dalam sekejap raut wajah lelaki itu berubah. "Oke, Bunda. Apa sih, yang enggak buat Bunda." Sambil tersenyum manis.
"Kalau gitu Bunda siap-siap dulu, ya?"
Ayah mengangguk. Kepalanya berpaling mengikuti gerak tubuh Bunda yang bangkit lalu berjalan ke arah kamar. Sedang aku lebih fokus menatap wajah Bapak Fardan Hasanudin alias ayah kandungku ini.
Ayah berpaling ketika Bunda benar-benar sudah masuk ke dalam kamar. "Sisil, enggak mau mandi dulu?" tanyanya setelah menatapku lagi.
Aku menadahkan tangan.
"Apa?" Ayah memberi ekspresi tanda tanya.
"Sisil Sayang, putri Ayah yang cantik. Nanti kalau kamu udah jadi mahasiswi, baru bisa ganti hape, ya?" Aku mengulang ucapan Ayah beberapa bulan lalu.
"Tapi 'kan kamu baru masuk kuliah. Belum ada dua minggu jadi mahasiswi," dalih Ayah.
"Ayah janji nanti kalau dapat bonus, Ayah beli hape baru buat Sisil," tambahku, mengingatkan kembali janji Ayah.
Ayah menepuk keningnya. "Ya udah, nanti aja hari Minggu, ya?" bujuknya.
"Oke." Aku memberikan jempol tangan kananku. "Kalau gitu, Sisil mau ganti baju dulu. Gamsahabnida, Appa," ucapku. Berlari ke kamar setelah mencium pipi kanannya.
.
Kami masuk ke sebuah kedai makanan yang menyediakan menu ayam bakar. Kebetulan kami memang sudah berlangganan di sini. Selagi menunggu pesanan disiapkan, aku memilih berselancar di dunia maya. Berdecak kagum ketika melihat foto Oppa Kim Soo Hyun lewat di beranda i********:.
"Sil, Bunda ke minimarket dulu," ujar Bunda setelah menepuk lenganku.
Aku menganggukkan kepala. Kemudian fokus menatap layar ponsel kembali. Sedang asyik-asyiknya tersenyum melihat cuplikan drama Oppa Lee Seung Gi, tiba-tiba terdengar suara motor yang melaju kencang memekakkan telinga. Aish, dasar para cowok bergajulan! Aku mengusap telinga yang sudah ternoda ini. Parahnya, ternyata bukan cuma satu. Masih ada motor besar lainnya yang menyusul dan tak kalah ngebutnya.
Aku pun mengeluarkan earphone dari dalam tas. Baru saja akan memasangkannya pada telinga kiri, terdengar suara heboh para pengunjung kedai. Ayah yang awalnya sedang mengobrol bersama salah satu pelayan, terlihat berlari ke luar. Aku yang masih duduk hanya bisa mengikuti gerak tubuhnya. Seketika melebarkan mata menyadari Bunda yang sedang berjongkok di tengah jalan. Tanpa sadar aku melempar ponsel dan earphone secara asal, lalu ikut keluar dari kedai.
"Bunda!" Aku ikut berteriak panik. Bagaimana tidak? Bunda berada di tengah-tengah jalan, di antara motor besar yang melaju kencang. Ternyata motor yang tadi itu baru sebagian.
Ayah yang hendak menyeberang pun kesulitan, setiap maju selangkah harus mundur kembali. Hingga kemudian ada satu motor berhenti. Dia merentangkan kedua tangannya, seketika motor-motor di belakangnya pun berhenti. Akhirnya Ayah bisa menyeberang dan menghampiri Bunda, lalu memeluknya dengan satu tangan mengusap kepala yang ditutupi hijab coklat itu. Secara spontan aku pun berlari ke arah mereka.
"Bunda enggak apa-apa?" tanyaku cemas.
Bunda hanya menggelengkan kepala. Dia pasti masih shock, terlihat dari raut wajahnya.
"Kami mohon maaf atas kejadian ini."
Aku menoleh. Salah satu pengendara motor besar itu turun dan menghampiri kami.
"Tidak apa. Lain kali kalian harus berhati-hati jika berkonvoi di jalanan umum," ujar Ayah tenang setelah melepas pelukannya.
Aku menelisik sosok itu. Dari tampilan fisiknya, jelas dia laki-laki muda. Sayangnya dia memakai helm tertutup, jadi aku tidak bisa melihat seperti apa wajahnya.
Dia membungkukkan setengah tubuhnya. "Terima kasih."
Ketika dia berdiri kembali, saat itu lah tatap mata kami bertemu. Dia mengerjap, aku menyipitkan mata. Siapa? Seperti tidak asing.
***
Aku berjalan lesu ke arah meja makan. Tampak Ayah sedang duduk sambil menatap layar laptop di atas meja. Pekerjaannya sebagai supervisor di sebuah swalayan memang terbilang cukup sibuk, terlebih di pagi hari. Meski begitu dia tak pernah lupa memberi waktu liburnya untuk keluarga di rumah.
"Kenapa lesu gitu?" tanya Ayah.
Aku menghempaskan tubuh di atas kursi. "Nih, gara-gara semalem," ucapku sambil menyimpan ponsel di atas meja.
Ayah meraih benda persegi itu. "Tau aja ini benda kalau mau pensiun" selorohnya diakhiri tawa.
Aku hanya bisa mencebikkan bibir. "Pokoknya ganti."
"Iya, nanti hari Minggu." Ayah menyimpan kembali ponsel berwarna putih yang layarnya dihiasi beberapa retakan.
"Lagian kenapa harus dilempar, Sil? Itu bukan alasan biar cepet ganti, 'kan?" tukas Bunda yang datang membawa sepiring oreg tempe.
"Ih, Bunda. Kenapa malah nuduh Sisil gitu? Ini tuh bentuk kekhawatiran Sisil sama Bunda, tau!" Aku membela diri.
Lagi-lagi Ayah malah tertawa. "Ya udah, Putri Priscillia. Nanti hari Minggu, ya. Ayah janji."
"Janji?" Aku memberikan jari kelingkingku.
"Janji," ujar Ayah membalas mengaitkan kelingkingnya. "Kuliah jam berapa hari ini?" tanyanya setelah menarik jemarinya.
"Jam sepuluh," sahutku sambil mengambil piring. "Hm, nasi uduk dan oreg tempe. Pasti enak."
"Siapa dulu yang masak, Bunda Inayah," puji Ayah.
"Puji terus," sindirku.
"Sil." Ayah meletakkan telunjuknya di depan bibir ketika aku menoleh. Ternyata Bunda sedang tidak ada di dapur. "Jangan bahas lagi yang kemarin. Kalau sampai Ayah denger kamu sebut nama Kamila dan Langit lagi ...."
Aku menatapnya dengan kedua mata melebar.
"Ayah tarik hapenya."
"What?"
"Sama ...."
Aku menelan ludah.
"Cabut WiFi."
"Jangan! Nanti enggak bisa nonton drakor."
"Jangan apa, Sil?" Tahu-tahu Bunda sudah berjalan ke arah meja makan membawa tas laptop Ayah.
"Masa Ayah mau kasih Sisil hape jadul, Bunda," ujarku.
"Haduh, udah-udah. Pagi-pagi udah bahas hape baru terus dari tadi." Bunda ikut duduk, mengambil piring lalu mengisinya dengan nasi uduk dan menyimpan di depan Ayah. "Harusnya kamu itu mulai berhemat, Sil. Uang semester kuliah kamu itu lumayan, lho!" Kali ini Bunda mengisi piringku.
"Ih, salahin tuh Ayah. Ayah yang suruh Sisil masuk ke sana, 'kan?" elakku.
"Itu demi masa depan kamu, Sisil. Universitas itu, mempengaruhi dunia kerja kamu nanti," terang Ayah.
Aku hanya bisa menganggukkan kepala. "Siap, Maha Raja Ayah Fardan. Hamba akan menuruti titah Tuan Raja dan Nyonya Ratu," pungkasku.
.
"Silia!"
Aku yang baru turun dari motor segera melambaikan tangan. "Annyeonghaseyo, Bunda Amel."
"Annyeong," sahut Amel.
Seperti biasa, kami pun bercipika-cipiki lebih dulu.
"Ayo!" ajaknya.
"Bentar, buku gue di bagasi." Aku segera membuka bagasi, mengambil dua buku tebal untuk mata kuliah hari ini. Ketika menutup bagasi kembali, terdengar suara motor meraung-raung semakin dekat. "Siapa, sih? Berisik amat," umpatku.
Amel hanya mengangkat dagunya. Aku pun ikut mengarahkan pandangan. Ternyata itu Braja, Jimmy dan Langit yang baru datang dengan motor besarnya. Aku mengembuskan napas pendek, berpaling kembali. Namun, tiba-tiba teringat sesuatu. Tunggu. Motor itu ....
Aku menatap lagi motor itu lekat-lekat. Bukankah ... itu motor semalam?
Satu persatu dari mereka melepas helm. Braja, lalu Jimmy. Terakhir Langit yang turun dari motor. Entah kenapa, sebelum melepas helm dia menoleh ke arahku. Helm itu ....
Ya, dia lelaki yang semalam meminta maaf pada Ayah.
Jarak kami tidaklah terlalu jauh. Meski semalam aku melihatnya dalam dekat dan sekarang terhalang lima motor, tapi sorot mata di balik helm itu, aku yakin sama.
.
Alhasil, selama di dalam kelas, aku terus terbayang tatap mata itu. Antara semalam, dan beberapa tahun lalu. Sorot mata sayu dan redup dari Langit Kelam. Aku ingat, sore itu sewaktu kami berangkat mengaji, aku melarangnya untuk berjalan dekat-dekat denganku atas alasan bajunya yang jelek dan bau. Ternyata ketika pulang, dia menggunakan kain sarungnya untuk menutupi hampir seluruh tubuhnya. Dia sebut itu kostum ninja karena memang hanya bagian matanya saja yang terlihat.
Ah, jika sudah teringat pada sosok anak kecil itu, entah kenapa dadaku selalu merasa sesak. Tiba-tiba menyesal atas sikap burukku padanya dulu.
"Silia ... Silia."
Aku terhenyak. "Priscillia," desisku.
"Lo gue panggil pake nama panjang lo, dari tadi juga enggak nengok."
"Masa?" Aku menautkan kedua alis.
"Lo enggak sadar 'kan, kalau Ibu Hartati udah keluar?"
Aku memalingkan wajah ke arah depan. Benar, dosen perempuan dengan perawakan tinggi langsing itu sudah tidak ada. Bahkan beberapa mahasiswa sudah mulai beranjak dari kursinya. "Terus kenapa lo pake bisik-bisik segala?" tanyaku kesal setelah menoleh kembali pada sahabatku itu.
"Gue panggil keras-keras enggak noleh," kilahnya. "Lagian lo lagi ngelamunin apaan, sih?"
"Kepo!" ketusku.
"Mikirin si Angga, ya?"
"Cih, buat apa," sanggahku.
Amel memberi seulas senyuman. Entah apa maksudnya. "Ya udah, ke kantin dulu, yuk! Masih ada waktu satu jam buat mata kuliah selanjutnya." Amel berdiri sambil mengaitkan tali tas ke atas bahunya.
Segera aku mengangguk. Takut dia bertanya macam-macam lagi.
Setibanya di kantin, kami memesan mie yamin. Beruntung suasana sedikit lenggang, membuat kami mudah untuk mendapat tempat duduk.
"Pesenin minuman buat kita."
Aku menoleh ke sumber suara. "Kenapa?" tanyaku menyelidik ketika melihat Amel tersenyum miring.
"Karma si Gita masih berlanjut," ejeknya.
"Karma?"
"Heem, karma gara-gara dia mau siram lo, trus dia bikin kita bersihin taman," paparnya.
"Ini 'kan udah seminggu lebih. Dia masih belum dapet maaf dari ... Langit?" Agak ragu aku menyebut namanya.
Amel menggelengkan kepala sambil mengunyah mie-nya. "Padahal, kata anak tingkat tiga. Mending diem aja kalo punya masalah sama Kak Langit. Toh, dikasih maaf atau enggak, dia enggak bakalan anggap kita hidup."
Aku meraih gelas berisi teh tawar dingin. Memikirkan sikap Langit Biantara. jIka dilihat-lihat, dia memang terlihat cuek dan dingin. Namun, tentang semalam ....
"Ahh ...."
Hampir saja aku tersedak akibat terkejut karena mendengar jeritan seseorang.
"O-o-o, ini lebih dari karma, Sil," ucap Amel dengan nada prihatin.
Aku mengikuti arah tatapannya. Membelalakkan mata setelah melihat apa yang terjadi. Gita berdiri menatap bagian bawah tubuhnya. Separuh bajunya basah, dan tentu saja pelakunya adalah Langit. Dia bahkan masih memegang gelas di tangan kanannya.
"Gue enggak suka lo pegang-pegang gue!" Dengan agak keras Langit menyimpan gelas itu di atas meja,
Gita tersentak karenanya, tapi tetap saja dia berdiri di depan Langit. "Maaf, Kak. Aku cuma mau bersihin wajah Kakak."
Aku, Amel juga seluruh penghuni kantin akhirnya lagi-lagi harus menjadi penonton atas drama yang terjadi di antara Langit dan Gita.
"Enggak perlu segitunya lo mau caper sama gue!" teriak Langit.
Gita berjalan maju selangkah, lalu meraih tangan kanan Langit. "Aku mohon maafin--"
"Astaga," gumamku bersamaan dengan jeritan yang lain. Langit kini mendorong Gita. Membuat gadis itu terduduk di lantai sambil meringis kesakitan. Apa tak cukup baginya menyiram Gita saja? Kenapa harus mendorongnya juga?
"Kak," panggil Gita sambil berdiri.
Langit bangkit dari duduknya, melangkah hendak meninggalkan meja. Dengan wajah tanpa dosa pula dia mengacuhkan panggilan Gita.
Melihat itu, entah kenapa tiba-tiba membuat amarahku memuncak begitu saja. "Heh, jangan kasar jadi cowok!" teriakku sambil berdiri.
Ya, aku melakukannya. Dan itu berhasil membuat semua orang di kantin kini mengalihkan tatapan matanya padaku, termasuk Langit Biantara.
*****
--bersambung--