4. Ada Apa Dengan Gita?

2138 Words
Aku membuka lemari, menatap satu persatu baju yang tergantung. "Hah, apa ini?" Kuambil kemeja putih dan rok abu-abu yang masih mengisi salah satu hanger. "Bunda, kenapa dimasukin ke sini lagi, sih?" gumamku kesal. Kusimpan kembali benda itu. "Biar nanti sore aja aku masukin ke lemari di gudang. Sekarang, waktunya berdandan ala-ala mahasiswi. Yes!" pekikku bahagia. Kuambil celana jeans biru dan kemeja hitam. Memadukannya di depan badan sambil berdiri menghadap cermin. "Cocok. Udah pantas jadi mahasiswi anak ekonomi." Setelah selesai berpakaian, aku mengikat rambut dengan rapi, memoles wajah dengan bedak tipis juga lip tint berwarna peach. Oya, tak lupa menyemprotkan parfum beraroma Blossom. Kutatap diriku sekali lagi di depan cermin. "Kyaa, akhirnya bebas berdandan. Enggak perlu takut dimarahin Bu Kartika lagi!" jeritku senang. "Oke, Priscillia Andriana, kamu sekarang adalah seorang mahasiswi. Selamat membuka lembaran baru. Yeah!" Aku pun mengangkat kedua tangan ke atas, berlari memutari kamar. "Sisil, kamu kenapa?" Aku berhenti. Menoleh ke arah pintu. "Ayah, kok enggak ketuk pintu?" tanyaku kesal. Kaget sekaligus malu sebenarnya. "Ayah udah ketuk, udah panggil nama kamu. Tapi enggak ada jawaban. Takutnya kenapa-napa, ya udah Ayah buka pintunya," dalihnya. Aku pun membenarkan posisi kemeja. "Ini adalah prosesi seremonial hari pertama penyambutan sebagai mahasiswi ala Putri Priscillia," ucapku sambil mengangkat lengan kanan. Ayah hanya menggelengkan kepala. "Kalau udah beres upacaranya, kita sarapan." "Okkeh!" Aku acungkan jempol kanan. Mengikuti langkahnya menuju dapur. "Nasi goreng lagi?" tanyaku tak percaya, setelah melihat dua piring nasi berwarna coklat yang berhias potongan sosis dan telur, tersaji di atas meja. "Ayah bisanya cuma masak nasi goreng," sahut Ayah sambil menuangkan air minum ke dalam gelas. Aku menoleh ke arah pintu kamar di depan sana. "Bunda masih marah?" "Iya." "Belum dibujuk?" "Belum." "Udah hari ke empat, belum akur juga. Kayak ABG pacaran aja," gerutuku sambil menghempaskan tubuh di atas kursi. "Gimana bisa akur, Ayah mau bujuk enggak bisa, kamarnya aja dikunci. Tau sendiri udah empat malam juga Ayah tidur di ruang tengah," papar Ayah sambil duduk. "Terus itu baju?" tunjukku dengan dagu. "Pas bangun udah ada di atas meja. Tiap pagi seperti itu. Kayaknya Bunda simpen ini tengah malem," sahut Ayah sambil mencubit kemeja berwarna biru muda yang dikenakannya. "Uang bensin juga?" "Iya." Ayah mengangguk sambil mengunyah makanannya. "Uang jajan Sisil?" Aku bertanya curiga. Ayah menggelengkan kepala. "Bunda enggak kasih. Emang Bunda enggak simpen di kamar kamu?" Kali ini aku yang menggelengkan kepala. "Yah, ini 'kan hari pertama Sisil kuliah. Masa pagi-pagi udah ada drama kayak gini, sih?" rengekku. "Sarapan dulu. Nanti kamu minta sama Bunda," ucap Ayah. Aku menarik tepian piring. "Ayah, sih. Sisil udah sering bilang, kalau uang itu jangan dikasih sama Bunda semua. Simpen sebagian. Jadi nanti Sisil bisa minta sama Ayah." "Itu sih, enak di kamu. Nanti bisa minta sama Ayah, sama Bunda juga," ejek Ayah. Aku tersenyum malu. "Kira-kira, uang jajan Sisil naik enggak, ya? Sisil 'kan udah jadi mahasiswi. Sisil mesti beli baju baru, tas baru, sepatu baru juga." "Kamu mau kuliah atau numpang gaya di kampus?" tukas Ayah. "Ih, Ayah. Kalo nanti Sisil dikira enggak ganti baju, Ayah juga yang malu," sergahku. Ayah tak menyahut, hanya menanggapi ucapanku dengan gelengan kepala. Aku pun mulai menyantap nasi goreng di atas piring. "Ayah berangkat duluan, ya. Ada briefing pagi." Ayah beranjak dari duduknya. "Iya, Ayah." Aku meraih tangan kanannya yang terulur. "Hati-hati di jalan. Yang semangat kerjanya, demi anak istri." "Iya, Putri Priscillia yang cantik. Kamu juga hati-hati di jalannya, jangan ngebut-ngebut. Belajar yang rajin, biar bisa jadi sarjana ekonomi." Aku memberenggut karena ulah Ayah yang mengacak puncak kepalaku. "Siap, Ayah!" Tak urung aku memberi tanda hormat padanya. "Assalamualaikum," pamit Ayah, meraih kunci mobil dan tas kerjanya. "Waalaikumsalam, Ayah." Aku pun melanjutkan sarapan. "Udah berangkat Ayah kamu?" "Astagfirullah!" pekikku kaget. Aku menoleh ke belakang. "Bunda, bikin kaget. Uhuk ...." Kuraih gelas, meminum isinya segera. "Gitu aja kaget," ketus Bunda. Aku menepuk d**a yang masih terasa sesak. "Sisil lagi khusyuk makan, ya kaget, lah." Bunda duduk di seberangku dengan ekspresi kesal. "Masih ada enggak nasi gorengnya?" Aku yang masih meredakan sakit akibat tersedak, hanya bisa menggelengkan kepala. "Marah 'kan juga butuh tenaga," ketus Bunda lagi. Akhirnya aku mengembuskan napas pendek dari mulut. "Kayaknya masih ada, tuh," tunjukku ke atas kompor. Bunda pun berdiri kembali. Berjalan menuju meja kompor, dibukanya tutup wajan, lalu meraih piring segera. Oh, Tuhan Yang Maha Esa. Jauhkan aku dari sifat seperti itu. Gengsi dan malu-malu mau. Aku meraih kembali sendok yang sempat aku telantarkan. Melanjutkan makan pagi, agar kuat menjalani hari. "Sil," panggil Bunda. "Apa, Bun?" Aku menyimpan sendok karena nasi goreng di atas piringku sudah habis. "Ayah sebenarnya sayang enggak sih, sama Bunda?" Aku yang hendak berdiri untuk menyimpan piring kotor ke dalam wastafel, urung seketika. "Maksud Bunda apa?" tanyaku heran. "Kenapa selama ini, Bunda selalu merasa, Ayah kamu masih cinta sama ... Mila?" Aku menepuk kening. "Bunda, lihat Sisil. Lihat rumah ini. Lihat Ayah yang tiap hari berangkat kerja. Itu demi siapa? Demi keluarganya. Bunda sama Sisil." Kutatap wajahnya yang masih merunduk. "Ya, namanya laki-laki 'kan, emang begitu. Lain di mulut, lain di hati. Bisa aja di hatinya cuma ada ... Kamila." "Astagfirullah," kugelengkan kepala berkali-kali. "Itu namanya Bunda udah suudzon sama suami sendiri. Ingat, lho. Apa kata Pak Ustadz Hakim? Suami itu adalah orang yang akan mempertanggung jawabkan semua dosa istrinya. Selain itu, seorang suami juga--" "Udah-udah, cukup. Masih pagi jangan ceramah," sela Bunda. "Nih, uang jajan kamu," lanjutnya sambil menyimpan sejumlah uang di atas meja. "Kok, naiknya cuma sepuluh ribu?" lirihku. "Memang maunya berapa? Ingat, Bunda harus nabung buat biaya kuliah kamu." "Iya, deh, iya. Kuterima ini semua dengan lapang d**a," ujarku sambil meraih selembar uang berwarna biru, meski awalnya aku berharap akan mendapat uang jajan bergambar Bapak Soekarno-Hatta. Tak apalah. Itu 'kan cuma impian. Bisa jadi itu akan menjadi mimpiku yang tertunda. Aku pun memasukan uang ke dalam saku celana. Hampir aku meraih piring bekasku makan. "Udah, berangkat aja sana. Biar Bunda yang beresin," cegah perempuan yang masih memakai daster itu. Aku pun tersenyum. "Ih, Bunda emang baik. Itu artinya Bunda udah enggak marah 'kan, ya?" godaku. "Siapa bilang? Bunda masih kesel sama kamu, karena bilang Mila cantik," cetusnya. "Ya, maaf. Tapi 'kan tetep aja di mata Sisil, perempuan paling cantik dan paling baik itu cuma Bunda seorang. Suer!" Kuangkat dua jari kanan. "Hm, iyalah. Orang kamu banyak maunya," sindir Bunda. "Hehehe. Kalau gitu, hari Sabtu besok Sisil minta uang buat beli baju baru, ya? Baju Sisil udah jelek-jelek, udah lama enggak beli baju," bujukku sambil memberi tatapan puppy eyes. "Iya, bawel." "Asyik. Gamsahabnida, Eomma!" Aku beranjak, lalu menghampiri Bunda. Memeluk bahunya, mencium pipinya gemas. "Sisil berangkat, ya! Assalamualaikum, Bunda Cantik!" "Waalaikumsalam." . Aku menghentikan skuter matik di parkiran khusus motor untuk mahasiswa. Terdengar ponsel dalam tas berdering. "Siapa, sih, telpon terus? Enggak tau apa kalo lagi di jalan," gerutuku sambil merogoh benda itu. "Amel?" Kugeser gambar gagang telepon berwarna hijau. "Halo, Amelodi," sapaku. "Di mana? Kenapa baru diangkat, sih?" "Baru juga sampe parkiran. Ada apaan, sih? Bentar, gue lepas dulu helm," ujarku. "Apaan?" sambungku setelah menempelkan ponsel ke telinga. "Sini cepetan!" "Ke mana?" "Lapangan basket!" "Aish, lo, nih! Enggak jelas," omelku. Aku pun berjalan segera menuju lapangan basket. Tampak Amel berdiri di samping tiang koridor, menatap ke arah lapangan. Dia pun melambaikan tangan ketika menyadari kehadiranku. "Annyeong," sapaku sambil mencium pipi kanan dan pipi kirinya. "Annyeong, Sisil," sahutnya. "Ada apa?" tanyaku segera, merasa penasaran dengan teleponnya tadi. "Itu, lihat," tunjuknya ke arah lapangan. Aku memalingkan kepala. "Ada apa? Enggak ada yang tawuran, kok." "Bukan tawuran, Silia. Tapi itu ... Kak Arfan. Ganteng banget, Ya Allah. Bikin hati hamba meleleh." Aku menengok kembali ke arah sana, di mana beberapa mahasiswa sedang bermain basket. Tampak si ketua BEM itu sedang mendribble bola basket menuju ring. "Biasa aja," ujarku. Dia hanya memakai celana jeans warna biru belel, kaos warna putih, lalu kemeja abu-abu polos. "Ya ampun, Sisil. Mata lo tuh katarak atau gimana, sih," desisnya di samping telingaku. Aku bergidik, mengusap daun telinga yang serasa ditiup angin malam. Dingin dan membuat geli. "Woi, Langit! Lempar sini bolanya!" Aku menoleh. Seorang mahasiswa senior sedang meminta Langit untuk melempar bola ke arah lapangan. Langit yang sepertinya memang baru saja berhenti melangkah, hanya terdiam menatap bola di samping kakinya. Dia tersenyum miring, kemudian mengayunkan kakinya lagi. Mau tak mau, salah seorang mahasiswa yang sedang bermain pun berlari untuk mengambil bola. "Emang dasar cowok songong," umpat salah seorang dari mereka. Aku mengkerutkan kening. "Arfan sama Langit, seangkatan?" "Enggak, lah. Kak Arfan 'kan semester tujuh, Kak Langit semester lima," terang Amel. "Tapi kok, enggak ada sopan-sopannya sama senior," ucapku heran. "Emang lo belum tau?" "Apa?" "Kak Langit 'kan dapet julukan JB dari seniornya." Aku menoleh ke arah Amel. "Alias ... Junior b******k," bisiknya. Aku membulatkan mata. "Gue dapet kabar ini dari WAG kelas kita semalem. Eh, lo 'kan udah gabung?" "Gue belum buka. Apaan, chatnya aja udah serebu lebih, males bacanya juga," celetukku. "Males apa emang lebih pilih nonton drakor?" tuduhnya. "Ya, karena lagi nonton drakor jadi males deh akhirnya," dalihku. "Lo, tuh! Ayo, ke kelas," ajaknya sambil menarik lenganku. "Udah puas lihatin Kak Arfan cool-nya?" sindirku. "Udah dari tadi lihatinnya juga," pungkasnya. Aku tertawa sekejap, tapi sedetik kemudian menoleh ke arah belakang. Mencari sosok Langit yang ternyata sudah menghilang. . Suasana kantin sedikit lebih lenggang. Aku dan Amel bebas memilih meja dan kursi untuk duduk. "Sini, Sil," ajak Amel. Aku pun mengikutinya. Menyimpan mangkuk berisi mie bakso dan sirup jeruk di atas meja. "Mel," panggilku setelah duduk. Amel yang masih membenahi posisi tasnya, hanya menoleh sekilas. "Apa?" "Kenapa ... dikasih julukan JB?" tanyaku ragu. Amel tak langsung menjawab. Dia malah membenarkan ikatan rambutnya. Membuatku semakin penasaran. Amel menengok ke kanan dan ke kiri. Lalu sedikit mencodongkan kepalanya ke arahku. "Denger-denger, sih, itu gara-gara waktu ospek Kak Langit berantem sama Kak Arfan. Waktu itu Kak Arfan juga belum jadi ketua BEM. Tapi, justru karena itulah, Kak Arfan mati-matian berusaha biar jadi presiden," terang Amel dengan raut wajah serius. "Berantem?" tanyaku tak percaya. "Iya. Tiap hari kena hukuman. Berani melawan panitia ospek sama ketua BEM juga waktu itu. Sama Pak Bowo aja dia enggak takut." "Lho, emang enggak kena teguran dari pihak kampus?" "Nah, 'kan. Makanya, buka itu chat WAG. Biar tau semuanya," sindir Amel. "Kalo bisa nanya sama lo, buat apa buka chat grup?" sahutku santai, lalu memasukkan isi sendok ke dalam mulut. "Hih, dasar." Amel menggerutu sambil mengaduk mie baksonya. "Lo tau siapa dekan kita?" Aku bergeming. Itu membuat Amel menatapku sejenak sambil menggelengkan kepala. "Pak Raharja. Kak Langit itu, keponakannya. Ya, seenggaknya dapet perlindungan, lah. Tapi emang menurut kabar yang beredar, Kak Langit orangnya enggak pernah mau bersosialisasi sama sembarang orang. Temen deketnya cuma Kak Braga sama Kak Jimmy." Aku menganggukkan kepala beberapa kali. Mulai mengerti situasi yang terjadi. "Jadi, kalau mau deket sama dia ... harus ikut organisasi pecinta alam. Iya, 'kan?" tebakku. Amel yang sedang menggulung mie dengan garpu, mengangkat wajahnya dengan raut tak percaya. "Lo ... mau ikut? Lo suka sama Kak Langit?" "Bukan gue, tapi Gita. Tuh," tunjukku ke arah pintu kantin. Amel memutar kepalanya. "Wuih, pejuang cinta emang beda." Aku dan Amel berpura-pura tak memperhatikan mereka. Langit, Jimmy dan Braga berjalan beriringan. Diikuti Gita di belakang. "Pesenin mie ayam," perintah Braga. "Iya, Kak," sahut Gita. Sontak aku dan Amel saling tatap sejenak. Kami pun akhirnya menikmati mie bakso tanpa obrolan apa-apa lagi, karena objek yang kami perbincangkan kini ada di meja sebelah. Beberapa menit kemudian, Gita datang membawa nampan berisi tiga mangkuk mie ayam. "Ini, Kak," ucapnya sambil menyimpan satu persatu mangkuk. "Apa ini?" Aku mencuri pandang. Langit mendorong mangkuk di depannya. "Mie ... ayam. Tadi pesan mie ayam, 'kan?" tanya Gita ragu. "Lo enggak tau, kalo Langit enggak suka sayur, hah?" tanya Jimmy. "Tapi 'kan tadi ... Kak Braga enggak bilang," elak Gita dengan suara lemah. "Ya makanya, kenapa lo enggak nanya dulu sama gue, malah maen nyelonong aja," elak Braga. "Maaf, aku enggak tau," lirih Gita. "Udahlah, gue udah enggak laper," ujar Langit. Tanpa diduga, dia menumpahkan isi mangkuknya di atas meja. "Lo udah rusak mood makan gue," umpatnya. "Tapi, Kak ...." Amel menatap mangkuk yang sudah kosong itu. "Tapi apa?" Langit berdiri, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Bersihin," pungkasnya. Kemudian pergi meninggalkan kantin, diikuti Braga dan Jimmy. Gita pun akhirnya membersihkan meja yang kotor itu, meski sesekali bibirnya bergumam karena jijik. Aku berdiri, menghampirinya. "Gita," panggilku. "Apaan?" ketusnya tanpa menoleh. Sepertinya dia sudah tahu keberadaanku sejak tadi. "Lo kok mau aja sih, digituin?" Gita tak menjawab. Dia malah menyimpan mangkuk-mangkuk itu ke atas nampan lagi, lalu mengangkatnya. "Bukan urusan lo," desisnya. Kemudian dia pergi ke arah booth penjual mie ayam. "Lo ngapain, sih, Sil?" Amel menarik tanganku untuk duduk kembali. "Gue cuma kasihan sama Gita," jawabku. "Udah, jangan ikut campur urusan dia. Dari pada entar lo yang kena imbasnya," sungut Amel. Akhirnya aku pun melanjutkan menyantap mie baksoku, kendati masih merasa penasaran dengan alasan Gita yang terus-terusan mau dijajah oleh Langit. ***** --bersambung--
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD