Situasi kantin mendadak hening. Semua orang menoleh ke satu arah yang sama. Gita dan Langit. Entah kenapa, dadaku pun ikut berdebar. Merasa penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Apa? Siram ... sendiri?" Gita bertanya dengan ragu.
"Mm, siram sendiri. Atau, mau suruh orang lain buat siram kamu," tukas Langit sambil menggoyangkan gelas di tangannya.
Gita bergeming.
"Kalau enggak salah, kemarin dia niatnya mau nyiram cewek di samping lo, Lang," ujar Jimmy. Dia turun dari meja, berjalan memutari Gita.
"Siapa?" tanya Langit.
Gita menggerakkan kepalanya, menoleh tapi hanya sedikit, ke arahku. "Biar aku siram sendiri," pinta Gita.
"Heh, Putri Alam Baka!"
Aku tertegun.
Braga melambaikan tangan. "Sini!"
Aku menunjuk hidung.
"Iya, lo. Lo yang kemarin dihukum sama si Arfan, 'kan? Terus dihukum lagi sama Pak Bowo gara-gara tawuran sama cewek ini?"
Aku yang terhalang dua meja dari tempat mereka berdiri, menganggukkan kepala ragu seraya menjawab, "iya, Kak."
"Sini, siramin dia!" panggil Jimny.
Aku tersenyum kecut. Kemudian menggelengkan kepala.
"Kenapa?" Braga bertanya disertai senyum mengejek.
Aku terdiam.
"Ahh!" Gita menjerit.
Tanpa diduga, Langit menyiramkan sirup jeruk itu di atas kepala Gita. Menyimpan kembali gelasnya dengan agak keras. Bahkan Braga dan Jimmy pun terlihat kaget dengan tindakan tiba-tiba Langit.
"Kita ke base camp," ajak Langit. Kemudian berjalan tak acuh, keluar dari kantin.
Braga dan Jimmy menatap Gita dari atas kepala hingga bawah. Lalu tertawa sambil mengikuti langkah Langit.
"Harusnya, tadi gue pasang taruhan. Beneran ternyata, si Gita disiram sama Kak Langit," ucap Amel tak percaya.
Sedang aku, hanya bisa menatap wajah Gita yang sudah tampak memerah. Dia pasti malu.
.
Acara penutupan ospek selesai. Semua maba dipersilakan untuk keluar dari aula. Boleh langsung pulang, mengelilingi kampus, atau jajan di kantin. Aku dan Amel memilih ke toilet lebih dahulu sebelum pergi ke parkiran.
"Akhirnya, kita resmi jadi mahasiswi," ucapku senang sambil mengangkat kedua tangan.
"Norak," sindir Amel.
"Biarin. Gue mau ganti status di f*******: dan i********:, dari bersekolah di SMA 49 jadi ke mahasiswi Universitas Putra Bangsa. Hahaha."
Amel hanya menggelengkan kepala. Sudah tidak aneh, dia memang selalu tidak senang melihatku yang sedang bahagia. Ketika memasuki toilet, agak sedikit kaget karena ada Gita di sana. Dia sedang menatap dirinya di depan cermin, memoles lipstik berwarna pink ke bibirnya. Wajahnya tampak biasa-biasa saja, seperti tidak habis terlibat insiden memalukan. Padahal tadi siang aku sempat prihatin melihatnya.
"Gue udah kebelet," ucap Amel, memasuki bilik WC kosong.
Aku pun masuk segera ke bilik di sebelahnya karena memang ingin buang air kecil juga.
.
"Assalamualaikum," sapaku lemah setelah memasuki rumah, lalu menutup pintu kembali. Sepi, ke mana Ayah dan Bunda? Biasanya jam segini mereka asyik bercengkrama di ruang tengah.
Aku pun menjatuhkan diri di atas sofa ruang tamu. Memejamkan mata, menarik napas dalam dan mengembuskannya cepat. "Lumayan, libur bisa nonton sepuasnya. Hehehe."
"Ayah pasti masih sayang sama dia, 'kan?!"
Aku menyipitkan mata. "Itu 'kan suara Bunda. Kenapa dia teriak-teriak gitu sama Ayah?"
"Sumpah demi Allah, Bun. Ayah cuma sayang sama Bunda, sama Sisil."
Aku bangkit segera, berjalan ke arah kamar mereka.
"Bohong! Bunda tau, pasti Ayah masih sering mikirin Kamila!"
What? Kamila? Bukannya Kamila itu ibunya Langit? Ada apa ini?
"Demi Allah, Bunda. Buat apa Ayah mikirin dia? Kamila udah punya suami. Dosa Ayah kalau mikirin dia."
Aku menjauhkan telinga dari daun pintu. Ada hubungan apa Ayah sama ibunya Langit?
"Keluar! Jangan gangguin Bunda!"
Astaga! Segera aku berjinjit ke arah pintu depan. Beruntung aku belum melepas tas dan kaos kaki.
Terdengar bantingan pintu. Membuatku sampai harus memejamkan mata saking kagetnya.
"Bun, dengerin Ayah dulu. Bunda!"
Aku menarik handel pintu dengan pelan. "Assalamualaikum," ucapku. Menutup pintu yang kali ini agak keras agar terdengar oleh Ayah. Benar saja, lelaki itu muncul dari arah ruang tengah. Wajahnya sudah terlihat tenang dan tampak tidak terjadi apa-apa.
"Sisil, udah pulang?" Ayah menarik kedua sudut bibirnya.
"Baru sampai, Yah." Aku pun menghampirinya. Seperti biasa, aku mencium tangan kanannya. "Bunda mana?" tanyaku.
Ayah tersenyum kecut. "Ada, di kamar lagi istirahat. Kayaknya Bunda lagi enggak enak badan. Jangan diganggu," sahutnya. "Kamu mandi dulu sana. Biar agak seger. Pasti cape abis dari kampus."
Aku meringis. "Ya, udah. Sisil ke kamar dulu," pamitku. Ketika berjalan melewati kamar Bunda, aku menajamkan pendengaran. Samar-samar, terdengar isakan tangis dari dalam. Jika sudah begitu, biasanya masalah yang terjadi antara Ayah dan Bunda itu terbilang serius.
Ada apa sebenarnya?
.
Jam di dinding menunjukkan angka tujuh lebih lima belas menit. Pantas saja perutku sudah terasa keroncongan. Kenapa Bunda belum memanggil untuk makan malam?
Aku keluar dari kamar. Langsung menuju dapur. "Well, makan sama apa malam ini?" gumamku sambil membuka tudung saji. "Astaga!" Terkejut rasanya, melihat tidak ada makanan apa pun di atas meja.
"Kenapa, Sil?"
"Astagfirullahaladzim!" Aku menjerit karena kaget. Ada kepala muncul dari balik pintu kulkas. "Ayah, bikin kaget aja," gerutuku sambil mengusap d**a.
"Mau makan, ya?"
"Iyalah, mau apa lagi," timpalku. "Bunda belum masak?"
"Bunda enggak masak," sahut Ayah sambil menyimpan dua butir telur di atas meja makan. "Ayah buatin nasi goreng aja, ya? Mau pakai cabe enggak? Enak kayaknya kalau pedes-pedes," lanjutnya sambil mencari sesuatu di dalam kulkas.
Aku menyipitkan mata. "Ayah bertengkar sama Bunda?"
Tak ada sahutan.
"Ayah."
Ayah malah bergumam tak jelas. Mungkin sedang melantunkan lagu dangdut kesukaannya. Lagu Bang Haji Rhoma Irama biasanya.
"Ayah!" panggilku lagi.
Lelaki yang memakai kaos putih polos dan celana batik itu malah menyimpan setangkai bawang daun, tomat, bawang merah dan bawang putih di samping telur.
"Emang Ayah punya hubungan apa sama Bi Mila?"
Ayah menoleh.
Aku menutup bibir. Ya, ampun! Ini mulut.
"Kamu denger pertengkaran Ayah sama Bunda?" Tatap mata Ayah menelisik tajam.
Aku meringis. "Enggak sengaja," ucapku dengan intonasi menurun.
Ayah mendudukkan tubuhnya di atas kursi dengan gerak pasrah. "Kamu sih, Sil. Kenapa harus tanyain tentang Kamila sama Bunda," keluhnya.
"Kok, gara-gara Sisil?" Aku bertanya bingung seraya duduk di kursi lain.
"Bi Mila itu ... mantan pacar Ayah. Dulu, waktu SMA."
Aku melotot. "Bi Mila ... Kamila ... Mamanya si Langit Kelam cucunya Nek Ratmi, itu ... mantan pacar Ayah?"
"Iya." Kepala Ayah terangguk lemah.
Aku berdecak kagum. "Kok, Ayah bisa punya mantan pacar secantik Bi Mila?"
Ayah mengangkat wajah perlahan. "Kamu ini."
Prang!
Aku menoleh. Bunda berdiri di ambang pintu dapur dengan napas naik turun.
"Bunda, lagi apa di sini?" tanya Ayah gugup.
Bunda tak menjawab. Dia memutar tubuhnya dengan kaki mengentak.
"Bun! Bunda!" Ayah berlari mengejar Bunda yang masuk ke dalam kamar.
Tinggal aku sendiri di meja makan, berteman sepi, dua butir telur dan sekumpulan bumbu dapur. Juga ... perut yang lapar. Oh, ya. Jangan lupakan pecahan gelas yang berserakan di lantai. Huhuhu.
.
"Kamu, sih. Kenapa harus sebut-sebut nama Kamila ... maksudnya Bi Mila," ketus Ayah sambil menyimpan sepiring nasi goreng di depanku.
"Ya, maaf. Sisil enggak tau kalau Bunda masih suka cemburu sama Bi Mila." Aku meraih piring itu, mengambil sendok dan mulai menyuapkan nasi goreng ke dalam mulut.
Tiba-tiba aku teringat kejadian kemarin malam. "Pantes aja Bunda enggak suka waktu Sisil nanyain Mamanya Langit sekarang tinggal di mana," gumamku.
"Buat apa nanyain Bi Mila?" Ayah bertanya sambil menyendok nasi goreng di piringnya.
Aku menelan lebih dulu isi di mulut. "Di kampus ada cowok namanya Langit. Ganteng banget, Yah. Sayangnya, dia galak, judes, sombong, angkuh, adigung, dan semacamnya."
"Terus kamu pikir itu Langit anaknya Bi Mila?" tukas Ayah.
"Mm, kurang tau juga. Tapi, mereka 'kan beda jauh. Langit yang di kampung, itu mirip langit di malam hari. Walau gelap, tapi dia berhias bintang. Ramah, lembut, suka tersenyum. Sedangkan Langit yang di kampus, walau pun dia cerah, bersinar, tapi menguarkan hawa panas di sekitarnya. Enggak ada biru-birunya. Bikin kita males lihat dia." Aku membayangkan kejadian tadi siang, ketika dia dengan sengaja menumpahkan sirup jeruk di atas kepala Gita.
Terdengar tawa Ayah.
"Kok, Ayah ketawa?"
"Bumi yang kamu pijak sama, tapi kenapa langitnya berbeda?"
"Ih, Ayah!" ketusku.
"Udah, makan dulu habisin. Biar tidurnya nyenyak."
"Siapa yang mau tidur. Aku mau lanjutin nonton drakor, lihatin senyum Oppa Lee Min Ho."
"Lebih ganteng siapa dibanding Langit yang di kampus?"
"Langit, dong ... eh, keceplosan."
"Keceplosan apa emang jujur dari hati?"
"Ih, Ayah." Aku mencebikkan bibir. Kupalingkan kepala ke arah pintu kamar. Takut jika Bunda tiba-tiba muncul lagi. "Yah," bisikku.
"Kenapa?"
"Beneran pernah pacaran sama Bi Mila?"
Ayah mengangguk. Menolehkan kepala ke arah pintu kamarnya. "Pernah mau nikah."
"Beneran?" Aku melebarkan mata.
"Tapi nenek kamu enggak setuju."
Aku menganggukkan kepala beberapa kali. "Enggak salah Bunda masih suka cemburu. Eh, tapi 'kan ... Bunda sama Bi Mila temenan?"
Ayah menyuapkan nasi goreng terakhirnya. Lalu tersenyum. Hanya saja senyumnya itu terlihat aneh dan mencurigakan.
"Ayah, enggak kesambet, 'kan?"
"Mau tau aja apa mau tau banget?" selorohnya.
"Yang mana? Soal Bunda sama Bi Mila atau Ayah yang kesambet?"
"Ya Allah, kenapa bisa hamba mempunyai anak semacam ini?"
"Dih, Ayah mah gitu. Gini-gini juga Sisil berhasil bikin Ayah bangga. Wah, putri Pak Fardan cantik, ya! Beruntung banget Pak Fardan punya anak sepintar Sisil! Nah, apalagi sekarang Sisil berhasil masuk ke universitas bergengsi. Pasti nanti pujiannya nambah, lho!"
Ayah tertawa sambil menggelengkan kepala. Dia meraih gelas berisi air putih, meneguknya. "Jadi lebih penasaran yang mana?" tanyanya setelah menyimpan gelas.
Aku menyimpan sendok, tersenyum semringah. "Lebih penasaran sama cerita antara Ayah, Bunda dan Bi Mila."
"Tapi, janji jangan bilang-bilang sama Bunda, kalau Ayah cerita soal ini?" bisik Ayah lebih menekan.
"Iya." Aku mengangguk antusias.
Ayah menarik napas, lalu menyandarkan punggungnya. "Kakek meninggal waktu Ayah masih berusia dua belas tahun. Sejak itu, Nenek bekerja keras demi memenuhi kebutuhan Ayah dan Om Rizky. Bahkan kami harus kembali ke kampung halaman, karena rumah peninggalan Kakek terpaksa dijual untuk biaya kuliah Om Rizky. Saat itu Ayah hendak masuk SMA. Di sana lah, Ayah bertemu Inayah dan Kamila."
Aku mendengarkan seksama cerita Ayah tentang masa lalunya.
"Bunda sama Bi Mila sudah berteman dekat sejak kecil. Tetanggaan, satu pengajian, satu SD, satu SMP."
"Satu SMA juga?"
Ayah menggelengkan kepala. "Suami Nek Ratmi cuma kuli serabutan. Enggak punya biaya untuk menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang lebih tinggi. Jadi, Bi Mila lebih memilih bekerja di rumah tetangganya."
Aku menelan ludah. Merasa iba dengan kehidupan keluarga itu.
"Tetangganya itu ... Nenek kamu."
"Hah?"
Ayah tersenyum kecut. "Ayah suka keluar diam-diam sama Bi Mila. Setiap Sabtu malam, kami pergi ke pasar malam. Ayah belikan dia baju, sandal, tas perempuan. Semua yang dia tidak punya. Sampai akhirnya Nenek tau, dan dia marah."
"Terus?" tanyaku tak sabar karena melihat Ayah yang terdiam.
"Nenek pecat Bi Mila, dan Ayah ... disuruh kuliah di kota. Beberapa bulan kemudian, Ayah dengar kalau bapaknya Bi Mila meninggal. Enggak berapa lama setelahnya, karena terlilit hutang, Bi Mila menikah dengan salah satu juragan di kampung. Dia harus menanggung biaya hidup adik-adiknya. Sayang, dia jadi istri kedua."
"Istri kedua?"
Ayah mengangguk. "Lulus kuliah Ayah langsung cari kerja. Setahun kemudian Ayah dengar suami Bi Mila meninggal dunia. Terbersit rencana untuk menikahinya."
Aku mencondongkan tubuh bagian atas. Semakin penasaran kelanjutan cerita Ayah.
"Tapi, Nenek enggak setuju. Entah karena ... Bi Mila memang lagi hamil tua waktu itu. Akhirnya, Nenek lebih memilih menjodohkan Ayah sama putri dari sahabatnya, sekaligus teman dekat Kamila. Namanya ... Inayah."
"Bunda?"
"Iya. Dan ternyata, diam-diam Bunda kamu memang udah lama suka sama Ayah. Kita memang satu SMA juga. Setiap pagi Ayah selalu membonceng Bunda berangkat bareng ke sekolah."
"Cie, Ayah jadi buronan para gadis," godaku.
Ayah tertawa singkat. "Tidak lama setelah itu, Nenek meninggal. Lalu Bi Mila pergi bekerja ke Jakarta, meninggalkan Langit, bersama Nek Ratmi."
Aku teringat kembali pada sosok bocah itu. Langit Kelam, anak lelaki yang selalu menjadi bahan ejekan ketika baju yang dia kenakan sudah lepas kancingnya. Atau celana yang dia pakai bolong di bagian selangkangannya. Kadang dia bermain bersama kami, ikut berlarian tanpa memakai sandal. Karena alasan itu lah, aku selalu malas melihatnya jika ikut bermain bersama aku dan teman-teman.
"Bunda memang selalu marah, setiap lihat Ayah mengobrol sama Bi Mila jika kebetulan dia pulang. Kehidupan rumah tangga Ayah sama Bunda baru terasa tenang, setelah Nenek Farida meninggal, dan kita pindah ke sini. Alhamdulillah, semenjak kehadiran kamu di kehidupan kami, Allah selalu mempermudah rezeki Ayah."
Aku tersenyum. "Ayah 'kan emang lelaki pekerja keras," pujiku.
"Kalau enggak kerja keras, dari mana Ayah penuhin semua kemauan kamu," sindir Ayah. "Udah makannya? Ayah beresin, ya?" sambungnya sambil berdiri, meraih piring dan gelas kotor, membawanya ke wastafel.
"Terus, Ayah tau enggak sekarang Bi Mila tinggal di mana?"
Ayah yang sedang mencuci tangannya seperti sedang berpikir. "Mang Dikdik bilang, Kamila menikah sama orang Jakarta."
"Langit?"
"Ayah kurang tau. Mungkin masih di kampung sama bibi dan pamannya, atau bisa juga ikut Bi Mila sama suaminya."
Aku mengembuskan napas. Apa memang di Jakarta, atau mungkin Langit pindah ke Bandung?
*****
--bersambung--