Kita Akan Menikah

1106 Words
BSM 2 Naren kembali tersenyum memandangi wajah Nara. Ia menyelipkan anakan rambut yang menjuntai menutupi matanya yang basah. "Sayang, jangan khawatir. Kamu tenang. Kamu bantu aku dengan doa ya? Biar usahaku lancar dan mama bisa cepet kasih restu." Nara mengangguk. Ia melirik jam di pergelangan tangannya dan segera bangkit dari duduknya. "Hu'um. Aku balik dulu ya? Takut ada customer yang nungguin," ucapnya sambil membersihkan sisa air di wajahnya. Senyum tipis kembali terpasang di wajahnya yang basah. Nara berusaha kembali terlihat ceria sekalipun hatinya diliputi rasa cemas yang teramat sangat. Naren menatap punggung gadis pujaannya dengan nanar. Ia menyesali keputusan mamanya yang asal menjodohkan tanpa mau berusaha menerima kehadiran Nara dalam hidupnya. Padahal Nara termasuk gadis yang baik. Agamanya juga baik karena berasal dari keluarga yang taat. Tidak ada alasan yang masuk akal untuk menolaknya. Tetapi ada satu hal yang membuat Bu Sarah-mama Naren- menolak Nara dengan tegas. "Permisi, Mbak, ruangan Pak Narendra dimana ya?" ujar seorang perempuan berambut panjang pada Nara yang berada di ujung tangga. Mata Nara memicing melihat perempuan yang ada di depannya itu. Tak pernah ia jumpai sosok perempuan itu sebagai teman Naren atau rekan kerjanya selama ini. "Itu, Mbak. Di sebelah sana," jawab Nara sambil menunjuk sebuah pintu yang baru saja ia tutup. Mata perempuan itu mengikuti gerak tangan Nara. Ia menemukan sebuah ruangan berpintu kaca yang tertutup rapat. Ruangan itu berbeda lantai dengan showroom dan bengkel. Hal itu membuat Nara bertanya-tanya. Siapa perempuan yang menemui kekasihnya ini? "Oh itu ya? Makasih ya?" ucap perempuan itu ramah kemudian berlalu dari hadapan Nara. Perempuan itu adalah Fara, calon tunangan Naren. Ia datang untuk servis motornya dan sengaja menemui calon tunangannya. Perempuan yang bekerja sebagai pegawai bank itu diminta untuk Bu Sarah datang menemui putranya. Agar keduanya saling mengenal dan makin dekat satu sama lainnya sebelum hari pertunangannya digelar. Nara membalikkan badannya. Matanya terpaku pada tubuh langsing berambut panjang tersebut. Blouse yang dipadukan dengan rok selutut yang dikenakan membuat perempuan itu terlihat feminim. "Siapa perempuan itu?" gumam Nara sambil memandangi tubuh yang kian dekat dengan pintu ruangan Naren Tanpa banyak berpikir, Nara berbalik arah. Ia mengendap-endap berjalan menuju ruangan Naren. Rasa penasaran tak lagi dapat ia bendung. Ia harus tahu apa yang perempuan itu lakukan di dalam ruangan kekasihnya. "Hai, Mas," sapa Fara senang. Ia membuka pintu tanpa permisi. Mata itu berbinar menatap wajah tampan yang sedang tercengang melihatnya berada di depan meja kerja besar yang berlapis kaca tebal. "Kamu? Ngapain ke sini?" ucap Naren kaget. Ia bangkit dari duduknya dan mempersilahkan Fara duduk di kursi yang ada di depan mejanya. "Duduk dulu." Sebuah kursi ia tarik mundur dan memberi jalan untuk Fara duduk. Mata itu masih tak percaya melihat Fara berada di ruangannya. "Sehat, Mas?" Fara bertanya. Ia meraih badan Naren untuk dipeluk sejenak dan dicium pipi kanan dan kirinya sebelum menduduki kursi yang disediakan oleh Naren. "Alhamdulillah baik," balas Naren. Ia berjalan menuju tempat duduknya. "Mas kaget ya liat aku datang?" Naren mengerjapkan matanya. Ia masih belum memahami maksud kedatangan Fara siang ini. "Kamu ngga kerja? Kok bisa ada di sini?" "Iya, aku sengaja libur buat ketemu sama Mas," balas Fara girang. "Kata Tante Sarah, aku boleh datang kapan aja. Jadi tadi sekalian aku servis motor lalu sambil nunggu aku naik ke atas buat ketemu sama Mas." "Ouwh," jawab Naren. Ia masih tak percaya bahwa gadis yang akan dijodohkan dengannya bisa sampai di sini. "Mas sudah makan? Aku laper. Makan yuk?" "Aku sudah makan. Kamu makan aja dulu. Disekitar sini banyak warung atau kafe." "Tapi aku maunya sama Mas," rengek Fara manja. Ia berdiri dari kursinya dan berjalan menghampiri Naren yang masih berada di atas kursi kerjanya. "Aku lagi banyak kerjaan," elak Naren saat Fara berusaha memeluknya. Tangan kekar itu menepis lengan Fara yang hampir bergelayut merangkul badannya. Naren bangkit dari duduknya. Ia memberi jarak pada Fara. Kursi kosong yang semula di duduki Naren, kini ganti ditempati oleh Fara. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi yang tinggi nan empuk itu. "Jangan menjauh dong, Mas. Kita kan akan menikah. Kata Tante Sarah, aku boleh deket-deket sama Mas." Fara menatap wajah Naren genit. Seulas senyuman nakal terbit dari bibirnya yang merona. Kening Naren mengerut. Ia tak tahu jika mamanya sudah banyak memberikan izin untuk Fara mendekatinya sedemikian rupa. "Tapi ngga di kantor juga. Kamu harus tahu itu!" pekik Naren tertahan. Ia mulai tersulut emosi melihat sikap Fara yang terlalu berani. Matanya menatap wajah perempuan di depannya itu dengan tajam. Ia berdiri tegak dengan tangan terlipat di depan d**a. "Ah iya. Tapi kan di dalam ruangan ini ngga ada siapapun. Cuma ada kita. Jadi aku boleh dong deket-deket sama Mas." Fara masih saja memaksa. Ia bahkan terkesan tidak peduli dengan ucapan Naren. Fara pun bangkit dari duduknya. Ia berjalan mendekati badan tegap Naren yang berada tak jauh darinya. "Jangan sembarang. Aku tidak pernah mengiyakan perjodohan itu. Jadi jangan terlalu percaya diri untuk bisa menikah denganku." "Jangan pura-pura jual mahal deh, Mas. Tante bilang Mas nerima kok," ucap Fara santai tapi penuh penekanan. Jarak yang telah terkikis itu membuat Fara dengan mudah meraih lengan Naren. Namun, lagi-lagi Naren menepis tangan Fara itu. Ia kembali memasang jarak pada Fara. "Ck! Mama apa-apaan ini!" desis Naren kesal. Ia menjambak rambutnya keras. Lalu tak sengaja matanya melihat celah di pintu ruangannya. Sesosok bayangan tubuh langsing berada di balik pintu ruangan tersebut. Naren segera berjalan menuju pintu untuk melihat siapa gerangan yang ada di baliknya. "Mas mau kemana?" tanya Fara cepat saat melihat badan Naren berjalan dengan tergopoh-gopoh menuju pintu ruangan. Dengan cepat Naren membuka pintu ruangannya. Kepalanya celingukan mencari bayangan yang baru saja dilihatnya. Kondisi lantai dua yang tak banyak ruangan membuatnya berpikir keras. "Jangan-jangan itu tadi bayangan Nara?" gumam Naren. "Oh gadis tadi namanya Nara?" ucap Fara mengagetkan Naren. Tiba-tiba saja ia berada di dekat pintu, tak jauh dari badan Naren berdiri. "Gadis?" ulang Naren. Keningnya berkerut sambil memandang Fara penuh tanya. "Iya. Tadi aku tanya dimana ruangan kamu sama seorang gadis. Dia perempuan yang cantik, badannya langsing, tidak terlalu tinggi tapi terlihat anggun." "Nara." Naren bergumam. "Ck!" desis Naren kesal. "Kenapa?" tanya Fara penuh rasa penasaran. Ia mengarahkan bola matanya ke atas ruangan seperti tengah berpikir. "Ah apa dia gadis yang Tante Sarah bilang pacar kamu, Mas? Kalian kerja di tempat yang sama kan?" ucap Fara setelah mengingat ucapan Bu Sarah beberapa waktu lalu. Naren melirik Fara dengan tatapan kesal. Ia tak menyangka jika Fara bertemu secara langsung dengan Nara. Beruntung tidak terjadi pertikaian atau pertengkaran antara dua wanita dalam hidupnya. "Aku harus pergi," ucap Naren yang diliputi rasa cemas. Ada gurat khawatir yang tersirat dari sinar matanya. "Kemana?" tanya Fara cepat. Ia menarik lengan Naren agar berhenti melangkah. "Bukan urusanmu," sengit Naren sambil menepis tangan Fara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD