“Sekarang sudah jam satu dini hari, Semesta, dan kamu baru pulang ke rumah? Ke mana saja kamu, Nduk? Dua hari ndak pulang, giliran pulang menjelang subuh seperti ini?”
Aku menatap Ibu dengan pandangan tak suka. Perasaanku sedang hancur, aku tak ingin semakin dihancurkan dengan ceramahan Ibu. Mati-matian aku menahan jengkel kepada Pilar yang main meninggalkanku di rumah Bu Karisma. Mati-matian pula aku menahan perasaan sedih melihat berita mengejutkan dari Tian, jadi aku tidak ingin emosi yang sedari tadi kutahan, meledak-ledak di sini. Aku hanya ingin istirahat agar besok bisa mempresentasikan laporan kepada Mbak Silvi. Aku capek. Beruntung, sopir Bu Karisma mengantarku pulang, coba kalau tidak, mungkin saat ini aku masih belum berada di rumah.
“Tata capek. Tata mau tidur.”
“Kamu masih anak Ibu, Ngger. Jangan kamu kencingin muka Ibu dengan perilaku liarmu! Apa kata orang hah anak gadis ndak pulang ke rumah selama dua hari? Apa kamu mau menghancurkan harkat dan martabatmu sebagai perempuan di hadapan Ibu? Sejatinya perempuan memiliki nilai kelembutan, cinta kasih, dan perasaan sayang. Tapi apa yang ada dalam dirimu, Nduk? Kamu bebal, kamu liar, kamu ndak bisa dikendalikan, kamu pun ndak memiliki perasaan sayang sama sekali terhadap rumah ini. Anak Ibu masih perempuan, kan? Bukan menjelma menjadi seorang wandu?”
Kutatap perempuan itu dengan kebencian yang tidak akan pernah bisa kusembunyikan. Kalimat-kalimat Bu Karisma berdengung-dengung di kupingku. Dan, aku sama sekali tidak meragukan barang satu pasal pun. Perempuan penyembah adat di hadapanku ini, benar-benar menebarkan racun berbisanya padaku. Aku jadi penasaran, apakah dia akan menyadarinya suatu hari kelak, atau yang lebih parah, ia justru kian menghancurkanku hingga aku tidak berbentuk?
“Apakah di mata Ibu, aku nggak seberharga itu, Bu? Apakah di mata Ibu aku nggak pernah benar? Selalu dan selalu salah? Bahkan untuk pekerjaan kantor sekali pun, Ibu tetap menganggapku keluyuran nggak jelas?”
“Kamu yang membuat dirimu ndak berharga, Semesta. Bukan Ibu. Kamu yang ndak bisa menjaga harga dirimu sebagai perempuan. Kamu ndak bisa menjaga pitutur lan lakon-mu. Kamu selalu membangkang, kamu selalu memberontak, apa ini yang dinamakan manusia? Wong urip kuwi orang mung sak dermo urip, Semesta. Hidup itu ndak sekadar hidup. Kalau kamu hanya memikirkan perasaanmu, memikirkan pekerjaanmu, memikirkan kehidupanmu, tanpa pernah tahu bagaimana perasaan orang lain, bahkan ibumu sendiri, perempuan yang melahirkan kamu, kamu mau jadi apa, Nduk? Kamu mau jadi apa?”
“Ibu main mengajarkanku bagaimana cara menjaga perasaan orang lain? Bagaimana bisa aku memiliki kemampuan menjaga perasaan orang lain jika ibuku sendiri nggak pernah memikirkan perasaanku? Ibu menghancurkan pernikahanku! Ibu main membatalkan hubunganku dengan Tian! Apakah Ibu nggak pernah memikirkan aku? Ibu nggak pernah bertanya-tanya bagaimana perasaanku? Ibu menghina-hina aku perempuan banci! Ibu menghina-hina diriku rendah diri! Ibu pernah memikirkan perasaanku? Ibu pernah bertanya, aku sakit hatikah dicacimaki seperti itu? Ibu tuh egois! Ibu hanya memikirkan persaan Ibu, tanpa pernah Ibu tahu bagaimana perasaan anak Ibu!”
“Kamu harus bisa ngaca, Nak! Introspeksi diri! Kamu menginginkan pernikahan dengan kelakuanmu yang seperti ini? Kenapa Ibu merasa bersyukur ya, Nak Tian ndak jadi mempersuntingmu? Akan Ibu taruh di mana muka Ibu kalau kelakuanmu saja ndak mencerminkan perempuan penuh cinta pada umumnya? Akan kamu bawa ke mana kehidupan rumah tanggamu kalau kamu sendiri menjadi pribadi yang ndak bisa mengontrol nafsu dan keegoisanmu? Kalau kamu menikah dengan Nak Tian, pasti Nak Tian kamu tinggal-tinggal seperti ini. Kamu biarkan Nak Tian makan masakan warung.
“Memitran, peseduluran, nganti tumekaning jejodhowan iku yen siji lan sijine biso emong kinemong, Semesta. Berteman, persaudaraan, hingga datangnya perjodohan itu jika satu dan satunya bisa saling asuh-mengasuh, Nduk. Lihat diri kamu, menjaga diri sendiri saja ndak becus. Mempertahankan kehormatanmu sebagai perempuan saja, kamu kepayahan. Bagaimana kamu mau mengasuh keluargamu? Bagaimana kamu mau mengasuh suami dan anak-anakmu? Manungsa mung ngunduh wohing pakarti, Nduk. Kamu memetik apa yang kamu lakukan dan perbuat, Semesta. Kalau kamu menginginkan pernikahan, buat dirimu layak dan berharga sebagai perempuan. Pernikahan ndak sebercanda ibu, Cah Ayu. Perbaiki hati, budi, dan peringaimu, sebelum kamu menyebut-nyebut kata sakral pernikahan! Ibu kecewa sama kamu, Nduk!”
Satu hal yang aku ambil dari perdebatan menyakitkan ini, aku benar-benar membenci perempuan itu! Dia hanya bisa memberi nasihat ini dan itu, tanpa pernah tahu bagaimana perasaanku selama ini. Ibu tidak tahu betapa aku tertekan dengan setiap peraturan yang dia buat padaku. Persaanku sakit luar biasa, aku capai sampai rasanya kayak orang mau mampus. Sampai di rumah pun harus mendengar sumpah serapahan Ibu? Aku benar-benar memimpikan memiliki ibu seperti Bu Karisma.
“Terserah Ibu mau ngomong apa! Tata capek! Tata mau istrihat. Besok Tata harus kerja lagi! Tata nggak mau terlambat!”
“Seperti itu. Pulang membawa masalah. Bukannya menyelesaikan, tapi kamu tinggal kabur seperti ini. Hati-hatilah, Cah Ayu, wong tan manut pitutur wong tuwa ugi, pan nemu duraka, ing dunya praptaning akhir, tan wurung kesurang-surang. Kalau kamu ndak mematuhi nasihat Ibu, kamu akan menemui kesengsaraan dunia sampai akhirat. Kamu akan mendapatkan penderitaan. Jangan pernah menjadi seorang pengecut, Semesta. Jangan pernah menjadi seorang pengecut!”
Aku membanting pintu kamar dengan kasar! Persetan Ibu ngomong apa! Persetan! Dari dulu, dari aku masih kecil, Ibu selalu memaksakan kehendaknya padaku. Aku tidak boleh berpakaian terbuka, aku tidak boleh tidur sore, aku tidak boleh memotong kuku malam hari, aku tidak boleh bersiul malam hari. Semua yang ada dalam diri Ibu adalah mitos tidak penting, tidak berguna, yang main ibu doktrinkan padaku. Aku ingin memberontak, demi Tuhan. Aku ingin menunjukkan kepada Ibu bahwa aku membutuhkan duniaku sendiri. Dunia yang terbebas dari mitos dan kekakuan-kekakuan hidup apalah-apalah itu. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa menantang mata segelap tinta itu. Aku tidak berkutik di hadapannya.
Mungkin selama ini aku hanya bisa adu mulut dengan Ibu, mungkin selama ini aku tidak menghiraukan ucapan Ibu tentang adab berbusana, tapi hanya itu. Keberanianku di hadapan Ibu hanya sebatas itu, tidak lebih. Ketika hidupku harus diputuskan Ibu dengan dalil adat bla bla bla itu, aku tidak punya kuasa untuk memberontak. Aku tidak punya tenaga untuk membelot. Seolah-olah, ajaran Ibu dari kecil yang sangat menyengsarakan tersebut terpatri kuat-kuat di dasar lidah dan hidupku tanpa kusadari.
Aku menundukkan kepala. Kuhirup kuat-kuat udara malam yang sangat menyesakkan ini. Kurogoh tas untuk mengeluarkan ponsel. Foto Tian bersama Ajeng dan seorang bayi terlihat di layar. Senyum mereka merekah lebar. Kebahagiaan jelaslah sedang mereka rasakan. Berbeda jauh dengan perempuan mengenaskan yang sedang menangisi kebahagiaan mereka.
Ya ampun, aku benar-benar sakit hati.
Sakit hati sampai rasanya seluruh tulangku kesemutan.
Kenapa kamu membohongiku, Yan?
Kenapa kamu meninggalkanku?
Dengan perasaan benar-benar hancur, serta air mata yang kembali meluncur dari permukaan, aku menekan nomor telepon Tian. Nyambung. Kutunggu beberapa tempo lamanya sampai suara Tian terdengar di ujung telepon.
“Hai, Ta….”
Ya, Tuhan, aku benar-benar merindukan suara ini. Aku benar-benar merindukan sosok ini. Aku sangat mengharapkan sebuah perkawinan, Tuhan. Perkawinan untuk menyelamatkanku dari terkaman ibuku yang begitu mematikan buat tubuhku sendiri. Jika dulu aku sangat ingin terbebas dari kutukan perawan tua, kali ini, demi Tuhan, kali ini, setelah perdebatanku dengan Ibu, setelah pelecehan-pelecehan yang ibuku lakukan sendiri padaku, aku ingin terbebas dari kungkungan Ibu. Aku ingin hidup tanpa aturan-aturan Ibu. Dan, aku sangat membutuhkan orang lain untuk bisa mengeluarkanku dari sini. Membebaskanku dari segala macam kesakitan ini.
“Bisa kamu jelaskan kepadaku, Ian, apa yang sebenarnya terjadi?”
“Ta, maafin aku.”
Selama tiga puluh tahun aku hidup, aku sangat membenci kata ‘maaf’, karena bagiku, itu hanya berarti satu hal. Orang tersebut telah melakukan kesalahan padaku. Kututup kelopak mata, dan kubiarkan air mata mengalir membasahi pipiku.
“Aku nggak pernah bisa move on dari Ajeng.”
Apa yang Pilar omongkan benar.
“Selama setahun ini, aku nggak benar-benar bisa melepaskan Ajeng dari pikiranku. Untuk itulah, Ta, aku nggak bisa menyentuhmu. Aku nggak bisa berciuman denganmu, karena hal itu akan sangat nggak adil sama sekali buat Ajeng.”
Lantas bagaimana dengan keadilan buatku, Ian? Bagaimana?
“Aku putus dengan Ajeng di saat Ajeng mengandung anakku, Ta.”
Paru-paruku seolah diikat oleh tambang yang begitu kuat. Sesak sekali.
“Jadi hal itu membuatku mencari-cari Ajeng selama setahun ini. Kupikir, dengan aku menerima permintaan cinta darimu, aku bisa melupakan Ajeng, tapi aku keliru. Yang ada pikiran-pikiranku dipenuhi oleh Ajeng.”
“Dan pernikahan yang kamu janjikan padaku, Ian?”
“Maafin aku, Ta.”
Astaga. Ada yang berderai-derai di sini. Hatiku.
“Aku tidak tega melihatmu kecewa dengan rencana pernikahan yang kamu ceritakan padaku. Aku tidak enak hati harus melihatmu kehilangan momen-momen bahagiamu dengan tema pernikahan. Aku hanya ingin menyenangkanmu saja, Ta. Sebenarnya, ibumu sudah menolakku dari pertama kali kamu mengajakku ke rumah. Ibumu sudah mengatakan bahwa kita nggak akan pernah bisa jadi satu. Tapi aku diam saja. Aku sembunyikan fakta ini darimu. Maka dari itulah, ketika kamu mengajakku untuk sowan ke Ibu, aku terima, karena aku sudah pasti tahu jawabannya. Kita nggak akan pernah menikah.”
“Hei, Anjing!” Ponselku dirampas oleh seseorang. Ketika aku membuka mata, Pilar terlihat berdiri pegun di hadapanku. Tubuhnya basah akan air hujan. Dari rambutnya, tetesan air hujan berjatuhan. Dia menatapku tajam seraya mencengkeram ponselku. “Sebastian Dirgantara k*****t, gue nggak tahu kenapa lo udah kawin, udah punya anak, di saat lo menjanjikan pernikahan kepada sahabat gue.”
Kutekap mulut dengan kuat. Dalam hati aku berbisik, save me, Pilar, just save me.
“Gue nggak tahu, motif lo menerima cinta dan pinangan dari perempuan yang begitu berarti buat gue apaan! Anjing! Lo tahu, apa yang lo lakukan kepada Semesta adalah hal paling najis yang pernah ada! Hal paling k*****t yang pernah gue temui! Berharaplah nggak bertemu dengan gue di mana pun berada, Sebastian Dirgantara. Karena, percaya pada gue, jika lo berani menampakkan batang hidung lo pada gue, Pilar Renjana Laut Aksara nggak akan melepaskan lo! Nggak akan pernah!”
Selesai berbicara dengan Tian di telepon, Pilar menatapku. Matanya seolah terluka melihatku terluka. Rautnya seolah berduka melihatku berduka. Dia tetap berdiri di sana, menyaksikanku yang tengah baring dengan mata membengkak.
“Lo ngapain di sini?” tanyaku setelah beberapa saat lamanya kami dibebat kebisuan.
“Maafin gue, ya, Ta.” Pilar melangkahkan kakinya di ranjang. Kedua tangannya ia kepungkan ke tubuhku, hingga membuat tetesan air hujan dari tubuhnya menimpaku. “Gue tadi benar-benar khawatir sama Nataya, makanya gue main pulang sendiri saja ninggalin lo. Gue sudah ada di Jakarta ketika ponsel gue bunyi dan gue melihat Tian siaran langsung sama Ajeng dan bayi mereka. Syafila atau siapa gitu namanya.”
Kubiarkan Pilar menyelesaikan kalimatnya, tanpa memiliki sedikit pun niat untuk menyela.
“Gue langsung emosi saja, Ta. Lalu balik arah ke Bogor lagi nemuin lo.”
“Lo nggak jadi bertemu Nataya?” tanyaku, lesu.
“Gue nggak bisa ninggalin lo yang lagi sedih.”
“Nataya juga bukannya lagi sedih? Lo nggak bisa melihat perempuan sedih, kan?”
“Gue akan meninggalkan siapa pun apabila gue tahu lo nggak baik-baik saja.”
“Gue emang nggak baik-baik saja, Lar.”
“Maafin gue, Ta. Maafin gue udah ninggalin lo. Gue udah ketakutan aja lo sampai ngapa-ngapain di Bogor. Gue ketakutan lo pulang sendiri. Gue kebayang-bayang lo selama perjalanan.”
“Gue emang sakit hati sih, Lar. Tapi gue nggak sebego itu sampai pulang sendiri dari Bogor ke Jakarta dalam keadaan hujan di malam hari.”
“Tapi setelah gue sampai di rumah Bu Karisma, lo udah pulang. Gue benar-benar b******k ya udah ninggalin sahabat gue demi orang lain. Gue janji ini yang terakhir, Ta. Gue janji nggak akan melakukan kesalahan ke lo lagi. Gue janji akan membalaskan rasa sakit hati lo pada Tian. Gue janji. Gue janji.”
Mata hitamnya terlihat sendu. Ia mendekatkan wajah, membuatku bisa melihat pantulan wajahku di dasar retinanya. Aku pikir Pilar mau menggigit hidungku, atau mengusap air mataku yang kembali mengalir, atau menangkup rahangku dan meyakinkan badai pasti berlalu, atau hal-hal yang selalu dia lakukan kalau aku sedang dalam zona sensitifku.
Tapi, rupanya enggak.
Pilar justru menciumku.
Tepat di bibir.