Bab 9

3938 Words
Aku menguap lebar ketika menuruni tangga. Ya ampun, aku sungguh ngantuk parah. Gara-gara nemenin Pilar nonton bola sampai pukul setengah lima nih, jadinya ngantuk kan? Padahal nanti ada meeting dengan dewan direksi. Masih harus bikin laporan penjualan lagi. Tuhan, kuatkan diriku. “Sarapan, Mbak Tata.” Aku menoleh ketika sebuah suara menginterupsi. Pak Gafar, satu-satunya pesuruh di rumah ini, yang masa mudanya menjadi sopirku ke mana-mana, tersenyum menampilkan sebaris giginya yang masih rapi. “Nggak ah, Pak. Ngantuk banget. Tata terlambat karena bangun kesiangan. Nanti sarapan di kantor saja.” Kopi dari Bu Karisma sudah kusimpan rapi di tas. Entar, biar Angkasa meramunya untukku. Jujur saja, aku belum pernah merasakan racikan kopi yang memiliki paket komplet seperti milik Bu Karisma. Kalau persediaanku habis, aku akan membeli padanya, ah. “Mbak Tata semalam marahan lagi dengan Ndoro Putri?” Ndoro Putri adalah sebutan Pak Gafar untuk Ibu. Kayak ratu saja, padahal kan Ibu tidak ada darah-darah kerajaannya. Aku pernah sih memberi usul Pak Gafar untuk memanggil Ibu dengan sebutan ibu saja, tidak perlu pakai Ndoro apalah-apalah. Tapi Pak Gafar tidak mau. Ya, lo tahu lah orang tua kalau sudah sreg dengan satu pilihan, bakalan sulit buat dibengkokkan. “Ya, Pak Gafar tahu sendirilah. Mana pernah sih Tata nggak ribut dengan Ibu? Perasaan nih ya, setiap kelakuan Tata ada saja yang cacat di mata Ibu. Seumur hidup nggak pernah deh Ibu nggak mencela Tata.” Pak Gafar tersenyum, lantas memakan satu potong madumangsa yang—lo harus tahu, orang tua di hadapanku ini, penggila berat madumangsa, hampir setiap hari menu sarapannya madumangsa sama secangkir kopi. Heran deh, dia nggak takut kena penyakit gula apa? Madumangsa buatan Ibu kan manisnya bisa bikin mayat hidup lagi (ini cuma perumpamaan sih, jangan lo tanggapin benar-benar lah)—tersisa di piring di hadapannya. “Namanya juga orang tua, Mbak Tata.” “Halah, Ibu saja yang keterlaluan, Pak. Orang tua teman-teman Tata nggak ada tuh yang sekolot Ibu. Sampai heran deh, Pak. Tata sudah tiga lima, Pak. Tiga lima. Tapi, masih saja digagalin niatan pernikahan Tata. Kan Tata jadi perawan tua, Pak.” Eh, tanpa kuduga, Pak Gafar malah terkikik geli. Emang ada yang lucu dengan ucapanku barusan? Aneh banget sih nih orang-orang tua. “Namanya menikahkan anak gadis ndak ada yang mudah, Mbak Tata. Apalagi Ndoro Putri sendirian, ndak punya pasangan. Jadi, Ndoro Putri diwajibkan mencari jodoh yang terbaik buat Mbak Tata. Baik dari perilaku sampai nasabnya. Mencarikan jodoh buat anaknya kan ndak bisa sruntal-sruntul. Belum tentu rupa dan harta baik, bisa mendatangkan kebaikan pula buat Mbak Tata. Harus ada itung-itungannya, to, Mbak? Lha wong orang zaman dulu saja juga berkata: ‘golek jodho ojo mung mburu endhahing warna.’ Cari jodoh jangan hanya mengejar rupawan. Tapi juga harus baik luar dalam. Ndoro Putri mengamalkan itu guna mencari suami buat Mbak Tata. Dicari yang kualitas dan bibitnya bagus.” Tak ayal, percakapan ini membuatku teringat dengan suara isakan Ibu, serta asumsiku dan Pilar yang mengatakan bahwa Ibu memiliki trauma terhadap pernikahan. Selama aku hidup, aku memang sering merecoki Pak Gafar pasal keberadaan Bokap yang tidak pernah sekali pun ia jawab. Tapi untuk pertanyaan tentang trauma ini, belum pernah kucari tahu sebelumnya. “Pak Gafar, Tata mau tanya, deh.” “Injeh, Mbak Tata, mau tanya apa?” “Beberapa hari lalu, Tata mendengar Ibu terisak setelah Tata mengeluarkan kata-kata terhadap Ibu.” Pak Gafar terdiam sejenak. Bibirnya bergerak tidak tenang. Seolah ingin berkata, tapi aku tidak tahu kenapa, ia enggan mengucapkannya. “Ya, lalu Mbak?” “Dan, hal itu membuat Tata curiga juga, apakah benar apa yang aku ucapkan dialami Ibu?” “Memangnya Mbak Tata mengatakan apa kepada Ndoro Putri?” “Aku cuma bilang, penolakan-penolakan Ibu kepada semua mantan laki-lakiku adalah kamuflase dari ketakutan Ibu terhadap pernikahan. Aku pun mengatakan, Ibu memiliki trauma terhadap perkawinan, sehingga hal tersebut membuat Ibu seolah-olah enggan menikahkanku. Mendengar kalimat-kalimatku, Ibu hanya diam, lalu tahu-tahu terisak di kamar.” Dugaanku terhadap trauma itu kian kuat begitu melihat respons yang diberikan Pak Gafar. Wajahnya tampak menegang. Bibirnya menipis oleh sebab ia gigit. Jadi, apakah benar ibuku mempunyai trauma terhadap pernikahan? Ketakutan besar terhadap pernikahan sehingga Ibu main menolak semua lamaran yang mampir padaku? Tapi kenapa? Apakah pernikahan Ibu pada zaman dulu membawa bencana? Apakah Bokap melakukan hal-hal sangat menyakitkan yang membuat Ibu pada akhirnya menutup rapat-rapat informasi tentang Bokap kepadaku? “Mbak Tata ngomong apa, sih?” ucap Pak Gafar setelah ia terdiam begitu lama. “Trauma apaan? Mbak Tata aneh-aneh, deh. Saya ndak tahu apa yang Mbak Tata cakapkan. Daripada berprasangka yang ndak-ndak mengenai Ndoro Putri, ya sebagai anak mending Mbak Tata berprasangkan baik, to. Ndak apik menuduh orang tua sendiri seperti itu, Mbak.” Aku justru kian merasa apa yang kupikirkan benar adanya. “Gusti Allah nitihake sira iku lantaran biyungnira, mula Mbak Tata kedah ngerumat biyungira. Tuhan menciptakan kita kan dari perantara seorang ibu, jadi kan sudah wajar to Mbak Tata harus hormat pada Ibu. Hush, jangan menuduh Ndoro Putri memiliki trauma atau apa. Ndak baik. Ndak ilok. Apa yang Mbak Tata tuduhkan ndak benar itu.” Pak Gafar terkekeh setelah itu. Kembali memakan potongan madumangsanya dengan penuh cita. “Madumangsa, Mbak? Madumangsa bikinan Ndoro Putri memang juaranya. Ndak tahu bagaimana hidup saya kalau tanpa madumangsa Mbok Konde. Sudah seperti saya dan cinta pertama saya rasanya.” Idih, lebay banget deh ini orang tua. “Ogah, Pak. Kan Pak Gafar tahu sendiri, Tata trauma dengan madumangsa bikinan Ibu. Terakhir Tata makan madumangsa Ibu, Tata berakhir di kamar operasi karena gigi Tata sakit,” tolakku, mencoba menggusur pemikiran tentang trauma Ibu dan langsung meninggalkan laki-laki sedang dirundung cinta tersebut. Kugegas langkah ke ruang depan. Bentar lagi pukul tujuh. Kalau aku tidak cepat-cepat, pasti aku terlambat kerja lagi. Tapi, begitu sampai di belakang partisi yang memisahkan ruang keluarga dengan ruang depan, aku mendengar sekumpulan ibu sedang ngobrol di sana. Anjir dah sumpah. Masih pagi dan orang-orang itu sudah pada ngerumpi? Tidak guna banget sih kehidupan mereka. Apa mereka tidak memiliki kehidupan yang mereka urus, ya, daripada menggosip di sini? “Mbak Suharti, anak Mbak itu sebenarnya kerjanya apa, sih, kok jarang pulang? Kemarin malah saya lihat mobil anak Mbak Suharti melintasi rumah saya pukul satu dini hari. Tata kerjanya benar, kan, Mbak? Nggak aneh-aneh? Aduh, Mbak, daripada memiliki anak yang main mengganyang hati dan perasaan seperti Semesta, mbok ya dikawinkan segera. Tata sudah tua, Mbak nggak mau kan punya anak jadi perawan tua selamanya?” Jantungku mencelus seketika. Siapa sih dia? Teman-teman arisan Ibu lagi seperti tempo lalu? Mulutnya busuk banget, sumpah. Tuh mulut belum pernah disumpal sempak bekas, apa? Main mengatai orang seenak jidat. Mendekatkan tubuh, aku menempelkan kuping di balik tembok. Aku ingin tahu, apa saja yang orang-orang tidak penting tersebut katakan tentangku. Kalau sampai mereka menghinaku dengan keterlaluan, hak sepatuku kupastikan melayang di congor mereka. “Iya, lho, Mbak. Kalau saya lihat-lihat, anak Mbak Suharti memang pulangnya larut-larut. Kayak pekerja penjaja seks yang biasa mangkal di Taman Lawang gitu, Mbak. Bukannya saya menghina anak Mbak, ya, tapi sekarang kita lihat deh pakaian anak Mbak seperti apa. Buka-bukaan, segala macam aurat diumbar-umbar, sudah gitu sering bawa cowok lagi tiap pulang kerja. Jarang di rumah juga, kan? Apa namanya kalau bukan peeska peeska gitu, Mbak? Suami saya sampai sering mengeluhkan anak Mbak Suharti. Dia kan belum nikah di usianya yang sudah tua gini, Mbak. Jadinya, besar kemungkinan Tata nggak nikah-nikah karena memang tulah karena menjadi peeska.” Anjing! j*****m kampret! k*****t! Main mengataiku PSK? b*****t! Orang gila! Dia tidak tahu, aku kerja malam-malam karena lembur di kantor? Semalam aku pulang juga dari perjalanan dinas. Mereka tidak tahu apa-apa tapi main menghakimi diriku? Sialan. “Kebetulan anak saya bukan karyawan biasa, Mbak.” Aku tertegun saat Ibu menjawab. Jadi penasaran, deh, apakah Ibu akan menghinaku di hadapan orang-orang busuk itu sebagaimana yang Ibu lakukan tiap kali kami berdebat? Atau Ibu justru menutup-nutupi aibku guna menjaga nama baiknya? Kalau Ibu membuka aibku kepada orang lain, aku sudah tidak tahu lagi, hubunganku dengan Ibu itu apaan. “Anak saya seorang supervisor. Pimpinan. Memiliki anak buah banyak. Ndak seperti anak-anak Mbak yang, maaf, masih karyawan biasa. Setiap hari, selain mengurusi kerjaannya sendiri, anak saya juga mengurus karyawan-karyawannya. Memberikan training kepada anak buahnya. Mengevaluasi pekerjaan anggotanya. Bahkan, menguji sampai memberi nilai. Kalau ada masalah di kantor, anak saya orang yang pertama bertanggung jawab, dan dituntut menyelesaikan masalah itu meskipun berat. Jadi, wajar, Mbak, Tata pulang larut malam. Tugas dan tanggung jawab pimpinan berbeda dengan karyawan biasa seperti, maaf, anak-anak Mbak.” Tipikal Ibu. Melakukan pertahanan sambil menusuk jantung pertahan lawan dengan sangat tepat. Sudut bibirku menyundul pipi. Aku sama sekali tidak menyangka Ibu akan menjawab seperti itu. Menjaga harga dirinya, sekaligus membela anaknya dengan sekali serang. “Dan, lagian Tata memakai pakaian seperti itu kan juga nggak setiap waktu, setiap saat. Kondisional, lah, Mbak. Kalau dia berkumpul dengan teman-temannya, saya pikir sih, wajar lah Tata menempatkan diri. Kalau suami-suami Mbak membicarakan anak saya, mungkin letak kesalahannya bukan pada anak saya. Melaikan kepada pemikiran suami-suami Mbak yang kebanyakan melamunkan hal-hal m***m. Bukan salah anak saya kan dikaruniani gusti Allah tubuh yang indah, Mbak? Sudahlah, Mbak. Kita kan berkumpul tujuannya untuk mengajari Mbak membikin kue. Urusan anak saya biar saya yang mengurus.” Ya, ampun, Bu, coba kalau Ibu memiliki pemikiran sedemikian jika berhadapan denganku, pasti kita tidak akan cekcok kayak orang gila tiap malam. Ibu sih, terlalu kolot. Giliran diserang, menjilat ludah sendiri, kan? == “Ta, bisa ngomong sebentar?” Mbak Silvi menarikku ke ruangannya. Ketika aku masuk kantor tadi, Mbak Silvi langsung memelukku karena Bu Karisma telah mencabut semua tuntutannya. Mbak Silvi kayak kedapatan durian runtuh dan memujiku seperti dewa saja. Dia bilang aku memang bisa diandalkan dalam hal menangani klien. Tapi, sekali lagi, itu hanya asumsinya. Kalau aku tidak mendaraskan curhatan hatiku secara colong-mencolong, aku tidak jamin masalah Bu Karisma dengan kantor bisa terselesaikan. Pintar-pintar ngambil hati klien lah, aku menamakannya. “Aku mau resign, Ta.” “Apa?” tanyaku, spontan. “Mbak Silvi tadi bilang apa?” “Aku mau resign, Ta. Mulai Senin besok, aku sudah enggak kerja di sini.” “Hah? Kok bisa, sih? Mbak Silvi ada masalah? Apa ini gara-gara komplainan klien kemarin? Kan sudah selesai, Mbak. Bu Karisma juga sudah terima dengan sistem kartu kredit kita. Nggak ada pelaporan apalah-apalah yang dia katakan. Apa pihak direksi kecewa karena kita sering buat kesalahan, Mbak? Jangan keluar dong, Mbak. Please. Kita sudah kerja ada hampir sepuluh tahun lho, Mbak. Masa Mbak Silvi main keluar gitu saja, sih? Mendadak pula.” “Bukan, Ta. Bukan karena masalah kemarin. Lagian, sebenarnya ini juga enggak mendadak kok. Sudah aku pikirin dari jauh-jauh hari. Cuma, memang baru kali ini saja aku memiliki kesempatan menyodorkan surat pengunduran diri.” “Seriusan, Mbak? Ada apa sih, Mbak? Mbak ada masalah keluarga? Kalau ada masalah keluarga, selesaiin baik-baik, Mbak, jangan sampai mengorbankan pekerjaan. Mbak Silvi area manager, lho. Posisi Mbak Silvi di perusahaan ini sudah tinggi, masa iya Mbak Silvi lepas begitu saja? Mbak Silvi nggak sayang meninggalkan pekerjaan yang memberikan gaji tinggi buat Mbak Silvi? Sekarang kan apa-apa mahal, Mbak. Kalau kita mengandalkan gaji dari suami saja, apa bisa mencukupi kebutuhan Mbak Silvi sekeluarga? Maaf ya, Mbak Silvi, bukannya aku ikut campur atau apa, sekarang anak-anak Mbak Silvi sudah besar. Ellen kelas tujuh SMP. Kyla kelas lima SD. At least, kebutuhan pendidikan mereka besar, kan, Mbak?” berondongku tanpa berhenti. Habis aku terkejut sih mendengar berita darinya. Perasaan tidak ada yang salah dengan pekerjaannya, kenapa pula Mbak Silvi mengundurkan diri? “Iya, aku tahu, Ta. Aku tahu segala risikonya. Aku memikirkan ini pun nggak sehari dua hari, tapi sudah ada tahunan. Tapi keputusanku tetap, aku harus keluar dari pekerjaanku.” “Terus, masalahnya apa, Mbak? Duh, sumpah deh, aku nggak tahu harus gimana, kalau Mbak Silvi nggak kerja lagi di sini. Selama ini kita sudah menjadi tim yang kompak. Aku sudah klik banget kerja sama Mbak. Tahu-tahu harus dipisah gitu rasanya, sakit, Mbak.” Mendengar keluhanku, Mbak Silvi justru tertawa. “Iya, aku tahu persaanmu, Ta. Aku pun juga berat meninggalkan kantor yang sudah menjadi rumah keduaku selama ini. Tapi, kamu tahu sendiri, kan, Ellen dan Kyla sudah beranjak remaja. Sudah bukan anak kecil lagi. Sekarang, di kota segede Jakarta, pergaulan bebas itu di mana-mana ada, Ta. Aku takut Ellen dan Kyla terpengaruh dengan arus pergaulan teman-temannya. Makanya, aku ingin mendampingi mereka. Aku nggak ingin sampai mereka terjerumus ke hal-hal yang buruk akibat keteledoran orang tuanya.” “Ugh, Mbak Sil. Selama ini perasaan masalah pengasuhan anak nggak menjadi soal. Kenapa sekarang Mbak Silvi menjadikannya alasan untuk resign? Ayolah, Mbak. Kumohon. Pertimbangkan lagi niat Mbak Silvi. Mungkin Mbak Silvi butuh cuti agar kembali fresh. Ayolah, Mbak. Please.” Mbak Silvi kembali tertawa. Meremas lembut lenganku. “Maafin aku ya, Ta. Tapi aku sungguh nggak bisa bertahan di sini,” urainya. Pagi ini Mbak Silvi mengenakan blazer material sutra motif garis serta celana motif grafis, yang aku tahu, semua setelannya menjeritkan kata Burberry. Nih ibu muda, ya, pintar sekali memadu-madankan busana. Outfit-nya tidak ada yang tidak fresh. “Selama ini anak-anakku kutinggal sendirian di rumah kalau aku dan Mas Ilham kerja. Hanya ditemani pembantu. Aku tahu, pekerjaanku memberikanku materi lebih, tapi itu bukan yang utama untuk anak-anakku. Aku sadar, bahwa berapa pun rupiah yang aku dapatkan di sini nggak akan membeli kebahagiaan anak-anakku. Kamu tahu, nggak, sih, Ta, dari kecil anak-anak kutinggal bersama pembantu?” “Iya, aku tahu, Mbak. Kan, Mbak beberapa kali terdengar mengeluhkan masalah ini. Kupikir masalah ini bisa selesai saat itu juga karena Mbak Silvi terlihat kayak nggak membawa berat problem ini gitu, di mataku.” Perempuan itu tersenyum. “Ya nggak bisa langsung selesai bimsalabim juga, Ta. Intensitas pertemuan kami kecil sekali. Aku dan Mas Ilham selalu berangkat pagi pulang malam. Bahkan hari libur pun, kami biasanya lembur. Kami nggak pernah memiliki banyak waktu untuk Ellen dan Kyle. Kami jarang mendengar curhatan mereka. Kami jarang mendengar keluhan mereka tentang sekolah mereka. Bahkan, kami jarang sekali tahu perkembangan mereka selama ini. Itu nggak sehat, Ta. Anak-anakku akan tumbuh menjadi pribadi kekurangan kasih sayang. Ellen dan Kyle bisa tumbuh menjadi personal yang apatis, nggak memiliki perasaan, kurangnya solidaritas, dan hal-hal buruk lainnya.” Aku tahu rasanya, Mbak. Menjadi anak di mana seluruh hidup hanya berteman dengan pembantu. Setelah hijrah ke Jakarta, Ibu menjadi supersibuk menjajakan madumangsa jualannya. Madumangsa Mbok Konde. Tidak ada waktu-waktu berkualitas antara aku dan Ibu sebagaimana kami selama di Kediri. Ibu pergi pagi pulang malam—itu sebelum memiliki toko khusus madumangsa seperti sekarang. Bahkan, aku sering mendapati Ibu tidak pulang untuk memasarkan madumangsa. Begitu Ibu punya toko madumangsa sendiri, intensitas Ibu di rumah kian bisa dihitung dengan jari. Aku tahu rasanya, Mbak. Tahu sekali. Guna memberikan dukungan kepadanya, aku mengelus lengan Mbak Silvi. Kusunggingkan senyum agar Mbak Silvi tahu, aku mengerti keadaannya. “Aku dan Mas Ilham bisa mengupayakan uang di mana pun kami berada, Ta. Tapi yang jelas sih, kami nggak akan pernah bisa mengembalikan waktu bermain anak-anakku. Kami nggak bisa mengulangi saat-saat Ellen dan Kyle duduk di bangku TK, di bangku kelas satu SD. Kami kehilangan waktu berharga itu, Ta. Oke, aku nggak munafik, semua orang butuh duit untuk melangsungkan kehidupan, tapi aku sangat mementingkan masa depan anak-anakku, Ta. Aku nggak mau menyesal di kemudian hari kalau aku terus-terusan mengejar materi. Duit memang sangat kami butuhkan, Ta. Terlebih mereka sudah gede, sudah remaja. Tapi lebih dari itu, anak-anak butuh kasih sayang dari orang tuanya, Ta. Kalau kamu sudah menikah nanti, kamu akan tahu bagaimana perasaannya. Mungkin sekarang kamu bisa membeli segalanya dengan uang, tapi nanti, Ta, nanti ketika kamu sudah memiliki anak, percaya sama aku, uangmu nggak akan bisa membeli waktu yang telah kamu korbankan untuk mendapatkannya.” “Mbak Silvi tahu, nggak, sih, dengan alasan seperti ini, aku mendukung Mbak resign. Anak-anak sangat membutuhkan sosok orang tua, Mbak. Jangan sampai deh, Mbak, anak-anak ditelantarin gara-gara orang tua sibuk mengejar duit. Soalnya, Mbak, nanti kalau mereka sudah besar, apa yang Mbak Silvi dan suami Mbak lakukan kepada Ellen dan Kyle bisa mereka lakukan kepada anak-anak mereka. Karena mereka menganggap ini semua wajar. Yah, semakin panjanglah rantai penelantaran anak.” “Nah, untuk itulah, Ta, aku nggak mau hal tersebut terjadi. Aku ingin di samping anak-anak agar mereka tahu, orang tua mereka sayang sama mereka.” “Semoga beruntung, Mbak.” “Terima kasih, Ta. Kamu jangan khawatir, Ta. Penggantiku orangnya baik, kok. Pekerja keras. Cowok, Ta. Cakep banget. Tiga puluh tujuh tahun. Duda tanpa anak. Bolehlah untuk cuci mata, Ta.” “Ih, Mbak Silvi apaan, deh.” Aku menyenggol pundak Mbak Silvi. Dia tertawa lebar menggodaku. “Senin bakal dikenalin ke kalian. Kamu nggak akan nyesel deh punya atasan seperti dia. Baik banget. Beberapa kali pertemuan saja, aku sering ditraktir dia.” Kini giliran Mbak Silvi menjawil janggutku. Aku menepisnya dengan lembut. Cemberut. “Pokoknya, kamu harus bekerja lebih giat lagi agar kamu bisa dipromosiin jadi AM seperti diriku, Ta. Main-main ke rumah, ya, Ta? Pintu rumahku selalu terbuka buatmu, kamu tahu kan itu?” “Ugh belum apa-apa sudah kangen saja masa?” “Bisa saja kamu, Ta. Oh, ya, Ta….” Mbak Silvi melepas pelukan. “Tadi Pilar telepon, dia nggak masuk kerja, katanya sih sakit. Kamu sudah tahu, belum?” Pilar sakit? Kok tidak ngomong ke aku sih? Memang sih, setelah aksi pertempelan bibirnya pada bibirku semalam, Pilar memaksaku menemaninya nonton sepak bola sampai subuh. Terus habis itu dia langsung pulang. Aku tidak tahu kalau dia sampai sakit. Pasti demam akibat hujan-hujanan deh. “Sakit apa, Mbak?” “Katanya sih demam, Ta. Memang kamu belum tahu? Coba deh kamu hubungin dia. Kasihan kalau dia sakit nggak ada yang memperhatikan. Orang tuanya kan nggak ada di sini, Ta.” Aku mengangguk. “Ya, udah deh, Mbak. Aku coba telepon dia dulu.” Setelah pamitan dengan Mbak Silvi, aku buru-buru ke toilet guna menghubungi Pilar. Kampret banget sih tuh cowok. Sakit, tapi tidak ngasih kabar. Giliran telepon Mbak Silvi saja ada waktu. Dia pikir aku ini apa setelah prosesi pertempelan dua daging bibir semalam? Boneka sawah? Tidak diangkat. Sambungan teleponku tidak dijawab Pilar. Dia ke mana sih? Atau jangan-jangan sakitnya parah lagi? Kucoba hubungi sekali lagi. Tetap tidak diangkat. Ya ampun, jangan-jangan penyakit Pilar kritis, makanya dia tidak bisa mengangkat teleponku. Duh gimana, nih? Dia sih pakai hujan-hujanan kemarin malam. Sudah kayak pemain India saja. Sekali lagi, kudial nomor teleponnya, tapi tetap saja tidak dijawab sama Pilar. Pikiranku sudah tidak keru-keruan. Berbagai macam bayangan buruk melintas di kepala. Bagaimana kalau Pilar pingsan? Bagaimana kalau Pilar muntah berak? Bagaimana kalau Pilar berak hitam? Bagaimana kalau, ya ampun, ya ampun, Ta. Jangan berpikir yang tidak-tidak di saat-saat genting seperti ini. Apa lebih baik aku datangi saja ya si Pilar? Iya, deh. Aku ke apartemennya sekarang juga. Aku benar-benar tidak kepingin Pilar kenapa-kenapa. Kalau sudah mengetahui keadaan Pilar, baru balik lagi ke kantor. == Aku sudah memiliki kunci duplikat apartemen Pilar sejak kami masih dekil-dekilnya orang. Dengan kunci ini, aku bisa menyelonong ruangannya seenak jidat apabila suntuk di rumah. Ruangannya tidak terlalu besar. Tapi tidak terlalu kecil juga. Pas lah. Hanya ada satu kamar tidur di apartemen Pilar. Sisanya ruang menerima tamu dan pantri kecil-kecilan di samping kamar mandi. Begitu memasuki apartemen Pilar, aku langsung menuju kamarnya yang sudah aku hafal seperti aku menghafal warna-warna dari tumpukan sempak yang aku punya. Tadi sebelum ke sini, aku membelikannya bubur ayam. Pilar tidak suka bubur ayam sih, tapi kan dia lagi sakit. Orang sakit kan makanannya bubur? Kalau dia tidak mau makan, akan kupaksa mulutnya untuk menerima suapan dariku. Aku memegang pintu, dan akan menariknya ke bawah ketika terdengar suara-suara dari dalam kamar Pilar. “Kan aku sudah bilang, Mas jangan capek-capek. Mas sih keras kepala banget jadi orang. Mbak Tata sudah dewasa, Mas, sudah bisa menjaga diri sendiri. Bolak-balik Jakarta-Bogor dikira dekat apa, Mas?” Aku membeku. Itu suara Nataya. Jadi Pilar tidak mengangkat teleponku karena dia sedang ngobrol dengan Nataya? Sejak kapan Nataya memiliki akses masuk ke kamarnya Pilar? “Iya, gue kan juga nggak punya niat untuk sakit, Nat. Kemarin gue emosi banget sama mantannya Tata. Mantannya sialan anjing k*****t lah. Berengsek. Kalau ketemu gue, nggak akan pernah gue lolosin dia! Sampai ke liang lahat pun, bakal gue kejar manusia k*****t itu! Musuh Tata, musuh gue juga! Lagian gue kan juga sudah minta maaf ke lo kalau gue nggak bisa ketemu lo, gue balik untuk jemput Tata. Jadi, bisa nggak, sih, nggak bawel? Kepala gue pusing banget dengarin lo nyerocos kayak gini. Mending lo balik ke kantor sana, gih, Nat, daripada ngegangguin gue mulu.” Pilar menghubungi Nataya dulu sebelum balik ke Bogor untuk menemuiku? “Mas, aku ke sini kan niatnya mau merawat Mas Pilar. Aku khawatir Mas kenapa-kenapa.” “Ya, siapa yang minta lo ngerawat gue, sih, Nat, ya Tuhan? Gue mau istirahat.” “Kalau Mas sudah habisin bubur ayam ini, aku akan pergi ninggalin Mas. Sebelum itu, aku akan tetap di sini biarpun Mas Pilar nggak ngebolehin aku di sini. Aku khawatir banget sama Mas Pilar. Tubuh Mas panas, dan Mas Pilar belum makan dari kemarin siang. Siapa yang nggak khawatir, coba, Mas? Mas Pilar terlalu memikirkan Mbak Tata, sampai Mas Pilar sakit hanya gara-gara mementingkan Mbak Tata. Sekarang, coba lihat Mbak Tata, perempuan yang Mas Pilar khawatirin segar bugar saat datang ke kantor. Mbak Tata sehat-sehat saja. Seharusnya Mas Pilar jangan terlalu memikirkan Mbak Tata sampai mengabaikan kesehatan Mas Pilar sendiri. Untung aku dikasih ijin Mbak Silvi untuk ngerawat Mas seharian. Coba kalau enggak, Mas Pilar sendirian di sini.” Nat, lo benar-benar k*****t, Nat. Lo salah cari musuh. Lo salah cari musuh. Bajingan! “Gue kasih tahu lo satu hal, Nat, gue rela sakit-sakitan kayak gini, asal Semesta gue sehat. Sebodo amat lah dengan kondisi tubuh gue, Nat. Pikiran gue cuma satu, Semesta. Bahkan kalau gue bisa, segala kesakitan apa pun yang dirasakan Semesta, ditimpakan saja ke tubuh gue. Gue tahu Semesta orangnya kuat, tapi gue juga tahu, batas ambang kekuatannya sampai di mana. Lo nggak kenal Semesta, Nat. Lo hanya tahu tubuhnya sehat itu saja. Jadi, please, bisa kan nggak menilai Semesta sedangkal ini? Seburuk apa pun lo menilainya, dia sahabat gue.” Aku menutup mata. Bubur ayam dalam genggamanku terjatuh. “Aku tahu, Mas. Aku tahu. Oke, Mas Pilar memang nggak bisa mengabaikan Mbak Tata, tapi nggak dengan cara menyakiti diri sendiri juga, kan, Mas? Sekarang Mas sakit, ada Mbak Tata memperhatikan Mas Pilar? Enggak, kan? Mas Pilar hanya sahabat Mbak Tata. Suatu saat, Mas Pilar memiliki kehidupan sendiri, pun dengan Mbak Tata. Kalau Mas Pilar terlalu banyak berkorban demi Mbak Tata, takutnya Mas Pilar mengabaikan kehidupan Mas Pilar. Aku nggak mau kayak gitu, Mas. Mas Pilar sudah harus memedulikan kehidupan Mas. Mas Pilar sudah harus tahu, batasan persahabatan Mas dengan Mbak Tata. Mas sudah harus bisa membiarkan Mbak Tata melakukan pekerjaannya sendirian. Sampai dianterin ke Bogor pula, itu keterlaluan menurutku, Mas. Mbak Tata sudah tiga lima, sudah sangat matang untuk bepergian seorang diri. Mas jangan terlalu memanjakan Mbak Tata. Nggak baik untuk Mas dan Mbak Tata.” “Lo mikir, nggak, sih, Nat, kenapa gue sampai nganterin Tata ke Bogor? Itu kan semua karena ulah lo. Kalau saja lo nggak—“ “Aku sudah meminta maaf sama Mbak Tata, tapi Mbak Tata nggak memaafkanku, Mas. Aku harus bagaimana? Aku harus mengemis maaf kayak mana lagi? Sudahlah, Mas, nggak usah didebatin lagi. Dimakan ya buburnya, aku suapin. Aku akan merawat Mas Pilar sampai sembuh. Bahkan, kalau besok Mas Pilar belum bisa bangun, aku akan tetap merawat Mas Pilar. Aku nggak akan membiarkan Mas Pilar kenapa-kenapa. Aku memang bukan sahabat Mas Pilar, tapi aku nggak akan setega itu membiarkan Mas Pilar terbaring sendiri di tempat tidur seperti yang Mbak Tata lakukan.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD