"Anindita kekasihmu? bukannya selama ini kamu dekat dengan Erna? bahkan sampai saat ini dia masih menunggumu dan selalu menolak semua lamaran yang datang kepadanya...!" Jawab Ibu Rokhanah, Ibu dari Ari.
"Erna...?" beo Ari saat mendengar nama sahabatnya itu di sebut.
"Erna itu sahabatku Mak, kami tak menjalin hubungan apapun selain hanya sebuah persahabatan...!" jawab Ari saat mengingat sahabatnya.
"Benarkah? tapi orang tua Erna selalu menanyakan kabarmu kepada Mamak, apa yang mereka obrolkan selalunya mengarah ke hubungan antara kalian...!" Ibunya Ari yang lebih sering di panggil Mak Nah itu menghela nafasnya dengan agak berat.
"Mana mungkin kami menikah Mak? kami ini sahabat...!" jawab Ari dengan tawa, seolah kesedihannya atas pernikahan kekasih dan bapaknya itu hilang begitu saja.
****
"Mas... rupanya anak sulung yang sering kamu ceritakan itu adalah Mas Ari, kekasihku dulu...!" Kas Anindita dengan pandangan menerawang.
"Ya, Ariyanto adalah anak sulung ku, anak kebanggaanku...! aku minta maaf karena tak mengetahui hubungan kalian...!" Jawab Pak Rubiaksa perkoso yang lebih di kenal dengan sebutan pak Aksa.
Dengan tatapan sayu penuh penyesalan dia menatap ke arah istri mudanya tersebut. di genggamnya tangan sang istri kemudian kembali melanjutkan kata-katanya.
"Kamu menyesal menikah denganku? aku bisa melepasmu...! kamu bisa mengejar cinta dan cita-citamu...!" kata pak Aksa menawarkan sesuatu yang menurutnya bisa membuat sang istri bahagia.
Anindita menggelengkan kepalanya kemudian menjawab.
"Apakah ada penyesalan di mataku? atau sebaliknya Kamu yang menyesal beristrikan aku?" katanya dengan air mata yang masih mengalir di pipinya.
"Aku bukan wanita yang tak memiliki balas Budi, aku bukan wanita yang tak tahu diri, aku wanita yang sudah kamu tolong, dan aku menjadi istrimu adalah karena takdir dari ilahi, aku tak pernah menyesalinya, meskipun itu seujung kuku...!"lanjutnya lagi.
"Apakah dengan Kamu melepasku aku bisa kembali ke Ari? apakah dengan melepasku aku bisa mengejar cita-citaku seperti apa yang kamu ucapkan? sedangkan kini aku adalah Ibunya, ibu tirinya...!" kata Anindita.
"Aku berterima kasih karena saat itu kamu menolongku...!" kalimatnya terhenti dengan ucapan pak Aksa.
"Jangan bahas itu lagi...! cukup sampai di sini saja...!" kata pak Aksa.
"Kita jalani pernikahan ini sebagai takdir, aku yakin ini yang terbaik untuk kita, meskipun Iya ada satu hati yang terluka, namun biarlah, biarkan waktu yang akan menyembuhkan luka itu...!"kata Anindita.
"Kamu ikhlas?" tanya Pak Aksa.
"Ikhlas tidak ikhlas, toh memang ini adalah takdir...!" kata Anindita.
"Nin, Ari sudah pulang, Aku ingin menyampaikan niatku, bagaimana menurutmu?" Pak Aksa menghentikan kalimatnya sejenak."Aku ingin melepaskan Rokhanah supaya dia tidak tersiksa melihat kebersamaan kita...!" lanjutnya kemudian.
Anindita kaget dengan pernyataan suaminya tersebut, ingin rasanya Dia menolak dengan keputusan suaminya itu, namun kata-katanya hanya tercekat di tenggorokan saja.
"Aku takut zalim nin, aku merasa tak kuat memiliki dua istri, aku merasa berat sebelah...!"kata Pak Aksa.
"Tapi jika keputusan seperti itu, rasanya tidak adil untuk mak Nah Mas...!"timpal Anindita menyampaikan pendapatnya.
"Mau bagaimana lagi? tentunya aku tak mampu jika harus melepaskanmu, aku tak munafik memilihmu karena kamu lebih muda dan lebih bisa melayaniku, dan semoga dengan perpisahan kami bisa menjadi awal kesembuhannya...!" Kata pak Aksa.
"Tapi resikonya, kamu akan dibenci oleh semua anak-anakmu, apakah kamu siap mas?"tanya Anindita.
"Seperti katamu tadi, ikhlas tidak ikhlas siap tidak siap, setiap keputusan yang diambil pasti akan ada resiko yang menyertainya, insya Allah aku siap...!" jawab Pak Aksa.
"Begitukah pak? Setelah yang selama ini Mamak korbankan untuk Bapak? Bapak mau membuang Mamak? bahkan Bapak siap di benci oleh kami semua...!" Kata seorang di ambang pintu secara tiba-tiba menimpali obrolan keduanya.
"Dan kamu Anindita, kamu benar-benar benalu di rumah tangga kedua orang tuaku, kenapa kamu harus hadir menjadi istri kedua dari bapakku? padahal bapakku ini lebih pantas untuk menjadi bapakmu daripada menjadi suami mu, apa yang kamu harapkan dari bapakku hah?" kata wanita itu berapi-api, wanita itu tak lain tak bukan adalah anak kedua pak Aksa yang datang untuk berkunjung.
"Jaga batasanmu Sofia, terima tidak terima, Anindita ini adalah ibumu, karena dia adalah istri dari bapakmu ini...! hargai dia meskipun dia jauh lebih muda dari usiamu...!" tegur Pak Aksa terhadap putrinya tersebut.
"Sukron, sebagai guru agama, didik istrimu secara benar...!" lanjut Pak Aksa lagi.
"Nggeh pak, maafkan Sofia...!" jawab Sukron sopan. Ia merasa sungkan karena sang istri bersikap tak sopan.
"Benarkah yang setia dengar Pak? Bapak ingin meninggalkan mamak ini wanita ini? kenapa Bapak begitu kejam? Mamak itu dalam keadaan sakit loh pak, jika ada yang harus ditinggalkan itu adalah wanita ini, bukan mamak...!" kata Sofia tak terima dengan apa yang diputuskan oleh bapaknya.
"Rumah tangga ini yang menjalaninya bapak bukan kamu, Bapak lebih tahu siapa yang Bapak butuhkan, dan kamu tidak berhak untuk mengatur bapak...! ini keputusan bapak, semoga memang yang terbaik untuk kita semua...!" jawab Pak Aksa.
Tiba-tiba saja Sofia tertawa dengan sangat keras setelah bapaknya itu berkata demikian, iya benar-benar merasa lucu dengan apa yang diucapkan oleh bapaknya itu.
"Apa bapak bilang? terbaik untuk semuanya? terbaik untuk bapak lebih mungkin, Sofia tidak menyangka jika selama ini memiliki bapak yang egois seperti bapak, Sofia kecewa sama bapak...!"Setelah mengatakan itu ia pun bergegas pergi keluar dari rumah itu, rumah masa kecilnya rumah di mana ia tumbuh dan besar di sana.
Tak lupa dia menyeret tangan sang suami untuk mengikutinya, tujuannya sekarang adalah ke rumah budenya, di mana sang Mamak tinggal sekarang.
"Itu baru Sofia Mas, bagaimana dengan kia dan Ari jika nanti mendengar kabar ini?"kata Anindita mencoba menggoyahkan keputusan sang suami.
"Aku tidak akan berubah dari keputusanku nin, akan aku terima semua resiko yang ada, cika masih terlalu kecil jika harus kehilanganku sebagai bapaknya, biarlah semua berpendapat seperti apa, insya Allah aku ikhlas menerimanya...!" Pak Aksa menjawab.
Sementara itu, Sofia yang tengah dikuasai oleh emosi dan amarah berjalan dengan sangat cepat menuju ke rumah budenya, dia belum tahu jika Ari sudah pulang ke tanah air, maka saat mendengar ayahnya tadi berkata jika Ari sudah pulang, ada perasaan bahagia di dadanya. Ia sangat merindukan sosok Ari yang selama ini selalu ada untuknya dalam setiap keadaan.
"Mas Ari...!" Teriak Sofia saat melihat sang kakak tengah duduk berdua dengan Budenya di halaman rumah di bawah pohon mangga.
Sofia berlari lalu segera memeluk tubuh abangnya tersebut. Ia tumpahkan segala kerinduan kemarahan dan juga Airmata nya di d**a sang Abang. Sofia menangis meraung-raung sehingga membuat sang Abang kebingungan dibuatnya.
"Bapak mas, Bapak...!"