4. Beneran Gak Inget

1750 Words
Pagi ini Kania sudah kembali berdiri di pinggir jalan, lebih tepatnya di salah satu pemberhentian busway. Meli, orang yang sudah memberinya tumpangan harus pergi bekerja, tidak mungkin Kania tetap di kosan sedangkan sang pemilik pergi. Apalagi mereka baru kenal. Sudah untung Kania diberi tumpangan, rasanya bertemu orang baik di Jakarta adalah sebuah keberuntungan bagi Kania. "gue harus kemana, ke kanan atau ke kiri?" bingung Kania. Ditangannya ada uang dua puluh ribu, pemberian Meli. Melihat kondisi kosan Meli, Kania tahu jika kehidupan Meli cukup pas-pasan, dia benar-benar salut karena Meli masih mau menolongnya. "kalau gue tahu alamat sih gampang, naik ojek. Kurangnya bisa bayar di rumah. b**o banget gue!" Kania terus menggerutu.  Bahkan beberapa orang yang tengah menunggu busway diam-diam melirik Kania dengan pandangan aneh.  "sumpah b**o banget. Perkara beli tespek diem-diem malah nyasar begini!" tidak memperdulikan sekitar, mulut Kania terus merutuk. "gila" bisik seorang perempuan kepada temannya yang masih bisa di dengar Kania. Mata Kania membulat, langsung menatap perempuan yang mengatakan dia gila "jangan sembarangan ya mba!" ketus Kania. Perempuan itu langsung tertunduk, malu karena ucapannya terdengar langsung oleh yang dibicarakan. Hingga sebuah mobil mewah berhenti di depan mereka yang sontak menjadi pusat perhatian.  "Radhit!" teriak Kania begitu senang saat kaca mobil itu turun dan ada sosok Radhit didalamnya.  *** "tuan" panggil Sumi dengan suara bergetar. Dia tengah panik dan khawatir saat ini. "kenapa Bi?" tanya Radhit. Sumi sudah cukup lama bekerja bersamanya, hanya kepada wanita paruh baya itu Radhit bisa lebih ramah. "nyonya-" Radhit mengerutkan kening, ada apalagi dengan istrinya itu hingga membuat Sumi begitu khawatir "kenapa dengan Kay?" "nyonya belum pulang" Radhit sontak melihat jam, pukul delapan malam "biasanya juga pulang pagi kan bi" jawabnya santai dan kembali menyuapkan makan malamnya. Sumi semakin terlihat khawatir "tapi tuan, kondisi nyonya sedang kurang sehat. Nyonya hanya membawa uang lima puluh ribu, dompet dan ponselnya tidak dia bawa, belum lagi nyonya hanya berjalan kaki saat keluar rumah siang tadi" Gerakan mengunyah Radhit berhenti, tidak percaya dengan ucapan Sumi. Karena hal itu terdengar mustahil dilakukan seorang Kaylia.  "tuan" panggil Sumi lagi. "gak apa-apa. Dia bisa jaga diri, dia sudah terbiasa pulang pagi. Nanti juga pulang. Jangan khawatir" "bagaimana kalau nyonya lupa jalan pulang?" "lupa?" ulang Radhit. Sumi mengangguk "iya, nyonya lagi kurang sehat. Nyonya sedang lupa segalanya. bagaimana kalau-" ucapan Sumi langsung terputus. Sumi lupa jika dia tidak boleh bercerita kepada Radhit.  "sudah. Jangan dipikirkan, nanti juga pulang" sahut Radhit lagi dan kembali melanjutkan makannya.  Hingga pagi tiba, Sumi kembali mengatakan jika Kaylia belum pulang. Wajah Sumi benar-benar khawatir. Membuat Radhit memikirkan ucapan Sumi tentang Kaylia yang tengah lupa. Tapi apa mungkin? kemarin semua terlihat baik-baik saja. Rasanya konyol kalau sampai lupa jalan pulang. "aneh juga kalau dia benar-benar pinjamm uang lima puluh ribu." ucap Radhit sambil menatap jalanan. Dia tengah dalam perjalanan menuju kantor. Otaknya memikirkan ucapan Sumi yang rasanya tidak masuk akal, tapi Sumi juga tidak mungkin berbohong. "tuan" panggil Ahmad, sang sopir. "kenapa pak?" "di halte itu seperti nyonya" jawab Ahmad. Jalanan sedang sedikit macet saat ini, membuat laju mobil tersedat-sedat. Radhit sontak menatap ke arah halte. Benar, itu Kaylia. "kita berhenti disana"  Ahmad mengangguk, lalu saat mobil sudah kembali bergerak, dia segera mengarahkan ke halte. Radhit menurunkan kaca mobil, teriakan senang Kaylia langsung terdengar dan tanpa disuruh wanita itu langsung masuk kedalam mobil. "ya ampun. Selamat. Gak jadi gembel." Kania langsung memeluk Radhit saat dia sudah masuk kedalam mobil. "makasih mas suami" lanjut Kania. Wajahnya benar-benar terlihat senang. Radhit hanya diam, lebih tepatnya dia terkejut dengan apa yang dilakukan sang istri. Apa benar wanita yang memeluknya itu Kaylia? "ekhm" Radhit berdehem, sontak Kania melepas pelukan dengan Radhit. "suami orang b**o!" runtuk Kania dalam hati. Dia langsung tersenyum canggung kepada Radhit sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "nyonya baik-baik saja?" suara sang sopir langsung menolong kecanggungan yang Kania rasakan. "baik. Tapi saya takut pak, hampir saya jadi gembel Jakarta" adu Kania langsung. Sang sopir yang tidak Kania tahu namanya malah tertawa "saya tidak tahu kalau nyonya lucu" ucapnya sambil kembali menjalankan mobil. "saya lagi gak ngelawak pak!" protes Kania. "tidak mungkin anda menjadi gembel nyonya" "mungkin kalau kalian gak datang!" "tapi nyonya bisa pulang. Tidak ada yang mengusir nyonya dari rumah" Kania berdecak "kalau saya ingat, saya sudah pulang dari kemarin!" "maksud nyonya?"  "saya lupa jalan pulang!" "kamu benar-benar lupa?" Radhit yang sejak tadi diam tapi memperhatikan obrolan kedua langsung bersuara. "iyalah! kalau gak lupa, gue udah dari kemarin pulang. Gak jadi gembel! untung aja ya gue orang baik dan ada yang ngasih gue tumpangan" jawab Kania cepat. Radhit kembali dibuat bingung. Gaya bicara istrinya berubah, sikapnya juga, lebih cerewet, dan bisa lebih ramah. Selama ini, berbicara dengan sopir atau asisten rumah tangga tidak pernah istrinya lakukan jika bukan untuk memerintah. "kenapa bisa lupa?" tanya Radhit lupa. "gak inget!" Radhit memutar bola matanya. "namanya lupa ya emang gak inget! Jangan lupa. Gue pinjem uang ke Bi Sumi, tolong bayarin ya" lanjut Kania. "Kamu benar pinjam uang?" Radhit memastikan hal tidak masuk akal itu. Kania berdecak "iya! dikit kok. Bayarin ya" "jadi kamu tidak bohong? kamu benar-benar lupa?" "iya. Lupa. Semua gue lupa. Puas?!" Kania menyenderkan kepalanya ke kaca. Mobil mahal mah beda ya, rasanya enak gitu. Dia kan jadi ngantuk. *** Mobil berhenti di depan kantor. "langsung antar Kay pulang ya pak" suruh Radhit sebelum turun. Istrinya masih tertidur pulas, dia tidak ada niat untuk membangunkan walau sekedar pamit.  "baik pak" jawab sang sopir. Radhit turun dari mobil, melangkah menuju kantor dan mobil kembali pergi untuk mengantarkan sang nyonya besar. Hingga hampir satu jam akhirnya mobil sampai di rumah, jalanan cukup macet, membuat jarak tempuh lebih lama. Dengan takut, Ahmad memanggil sang nyonya agar bangun.  "nyonya. Sudah sampai" ulang Ahmad ke tiga kalinya. Kania mengerjap. Mengumpulkan kesadaran lalu menatap sekeliling "udah nyampe pak?" Ahmad mengangguk "sudah nyonya" Kania mengangguk "terima kasih" ucapnya lalu turun dari mobil. Mata Ahmad sontak membulat, dia tidak salah dengar bukan? nyonya besarnya mengucapkan terima kasih! Sambil tersenyum lebar, Kania masuk kedalam rumah. Lagi, dia mendapatkan tatapan takut dari pekerja.  "nyonya!" panggil Sumi yang langsung menghampirinya  "nyonya kemana saja? saya khawatir" jujur Sumi. "tolong bawain sarapan ya bi ke ke kamar" pinta Kania. Dia perlu mandi dan sarapan saat ini. Sumi mengangguk. Kania langsung pergi ke kamar dan Sumi menyiapkan makan. "nyonya, apa masih tidak mau periksa?" tanya Sumi khawatir. Kania sudah selesai mandi dan tengah memakan sarapannya. Sambil makan, dia bercerita kepada Sumi tentang apa yang dia alami. "engga" "tapi gimana kalau kejadian itu keulang lagi?" Sumi benar-benar khawatir.  "engga. Saya akan lebih hati-hati" jawab Kania sambil mengunyah makanan. "lagian, kalau mau beli tespek, kan bisa minta tolong. Dirumah ini banyak yang kerja" Kania menghela napas, meraih gelas dan meneguk isinya. "tadinya saya gak mau ada yang tahu. Saya juga kan kepo. Takutnya ucapan bibi kemarin benar, saya hamil. Gimanapun saya kan lagi lupa segalanya. Gak inget. Eh malah begitu. Oh iya, ngomong-ngomong tentang yang kerja disini, saya mau tanya" "tanya apa?" "kecuali bibi, kenapa yang lain kalau liat saya kaya takut banget. Saya kan bukan pencabut nyawa" Sumi menelan ludahnya. Ragu untuk menceritakan bagaimana sikap sang nyonya besar sebelum pingsan karena terjatuh.    "bi" panggil Kania, dia melihat Sumi yang bingung. "cerita aja, saya gak akan marah kok" lanjut Kania. "sebelumnya saya minta maaf nyonya. Tapi saya benar-benar akan berbicara jujur." Kania mengangguk "iya bi, jujur aja. Saya gak akan marah" Sumi kembali meneguk ludahnya sebelum mulai bercerita "nyonya itu kejam, tidak pernah ramah kepada kami. Selalu marah dan membentak, salah sedikit akan langsung di pecat. Belum lagi kasar. Tidak terhitung jumlah pegawai yang keluar karena tidak betah atau nyonya pecat." Kali ini giliran Kania yang menelan ludahnya "jahat juga ya saya" sahutnya. Sumi hanya diam, bingung harus memberikan respon seperti apa.  "lalu orang tua saya. Masih ada?" Sumi mengangguk "mereka masih ada nyonya. Ayah anda memiliki beberapa hotel dan maskapai penerbangan" "wow! kaya juga ya saya" Sumi tersenyum, lucu melihat keterkejutan nyonya besarnya itu. Baru kali ini dia melihatnya "tapi nyonya, yang saya tahu, anda tidak pernah menemui orang tua anda. Hubungan anda dan orang tua anda benar-benar  tidak baik" "bibi serius?" Sumi mengangguk "beberapa kali saya mendengar saat anda berbicara di telepon dan menolak untuk datang ke rumah orang tua anda" Kania tidak bisa berkata-kata lagi. Hidup pemilik tubuh yang dia tempati ternyata juga sulit, dia pikir menghadapi calon pembeli menyebalkan sudah paling sulit. Ternyata masih ada yang lebih dari itu. "yaudah bi. Makasih ya udah kasih tahu saya" Sumi mengangguk "oh iya nyonya. Sebelumnya anda juga tidak pernah mengatakan itu. Terima kasih atau tolong. Saya senang mendengarnya" Kania tersenyum "saya akan coba menjadi lebih baik" ucapnya. *** Setelah kepergian Sumi, Kania teringat dengan kondisi tubuhnya yang asli. "gue harus pergi ke Bandung" ucapnya kemudian. Kalau dia menempati tubuh Kaylia, kemungkinan besar jiwa Kaylia lah yang tengah mengisi tubuh miliknya. Mereka harus bertemu, berbicara bersama dan mencari solusi. Kania berdecak saat melihat ponsel yang tergelak di nakasnya "gak guna" kesalnya lalu pergi keluar kamar. Kaylia hanya menggunakan pin untuk membuka ponselnya. Kalau saja menggunakan sidik jari, mungkin ponsel itu akan berguna. "Bi!" panggil Kania mencari Sumi. "Bi Sumi mana?" tanya Kania  kepada asisten yang tidak dia tahu namanya. Sepertinya asisten di rumah itu memang cukup banyak. "ada di belakang, nyonya" Kania mengangguk "tolong panggilkan ya" Perempuan itu mengangguk dan dengan cepat pergi mencari Sumi. "nyonya perlu apa?" tanya Sumi setelah tiba. "saya pinjam ponsel Bi. Saya masih gak ingat pin ponsel saya" "tapi ponsel bibi tidak secanggih milik nyonya" "tidak masalah. Saya harus pergi ke Bandung. Jadi kalau ada apa-apa bibi bisa hubungi saya" "baik nyonya. Saya ambil dulu ponselnya" Kania mengangguk, tidak lama Sumi kembali datang. "ini nyonya" "saya pinjam dulu ya bi. Terima kasih" "nyonya jangan pergi sendiri" "tidak. Saya akan minta sopir untuk antar" "baik nyonya" Segera Kania pergi keluar, meminta sopir yang sepertinya memang stand by di rumah untuk menyiapkan mobil. "kita ke Bandung ya pak" "Baik nyonya" jawabnya lalu mobil perlahan keluar dari rumah mewah tersebut. Kalau jalanan di Jakarta, dia memang buta. Tapi Bandung, dia tentu saja sangat ingat. Meraih ponselnya, dia mencari nomor Radhit, rasanya penting untuk dia memberi tahu soal kepergiannya kepada Radhit. Bagaimanapun, pria itu suami dari pemilik tubuh yang dia tempati. "halo Bi" Kania berdecak, suara Radhit bahkan terdengar lebih ramah dibanding saat bicara langsung dengannya. "Mas Radhit yang ganteng tapi nyebelin. Gue eh maksudnya saya izin ke Bandung ya. Dadah" dan Kania langsung menutupnya begitu saja. Seperti ucapannya kepada Bi Sumi, dia harus menjadi lebih baik sekarang. Termasuk cara bicaranya. Meskipun tidak suka, dia tetap harus bicara sopan kepada Radhit. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD