5. Menyusuri

1800 Words
Kania menatap sendu rumah sederhana di hadapannya. Rumah tanpa pagar yang terlihat begitu sejuk karena ada beberapa pohon menjulang di depannya. Hingga tatapan sendu itu hilang, berganti dengan tatapan sinis saat melihat pohon mangga, TKP dia terjatuh. "Pohon kutil! Siapa sih setan lo?! Kalau berani, keluar! Jangan asal tuker badan orang! Cemen lo!" Maki Kania lagi. Dia bahkan tidak sadar beberapa orang menatapnya aneh. "Teh, gelo nya? (Teh, gila ya?)" Kania langsung beralih menatap si pemilik suara. Bocah yang Kania tebak baru saja berebut layangan di sawah. "Sia nu gelo! (kamu yang gila!)" Bentak Kania. "Atuh ngomong sorangan, siga nu gelo (lagian ngomong sendiri, kaya yang gila)" Kania berdecak, memilih tidak ingin meladeni bocah-bocah itu lagi. Menarik napas dalam dan mengembuskannya, Kania melangkah menuju pintu rumah. Rasa gugup menyerang dirinya, rasanya jantungnya benar-benar disko tapi bukan Disco lazy time! Memberanikan diri, Kania mengetuk pintu. Ketukan pertama tidak ada sahutan. Kedua juga masih sama, ketiga, dia lebih mengencangkan lagi ketukan dan salamnya, baru terdengar respon dari dalam. Wajah Kania mendadak sendu saat melihat sang ibu membuka pintu, ingin dia peluk sosok itu. Wajahnya terlihat sedih, lingkaran hitam jelas terlihat di bawah matanya. "Cari siapa?" Tanya Tati, dengan suara seraknya. Kania mengerjap "Kania ada bu?" Sekuat tenaga Kania menahan getar di suaranya. "Kania?" Lirih Tati. Kania mengangguk. "Iya bu, Kania" "Kamu siapanya Kania?" "Saya temen dia bu, dari Jakarta" Tati mengangguk, membuka pintu lebih lebar "masuk, kita lanjut bicara di dalam" Kania patuh, melangkah masuk dan duduk di sofa setelah dipersilahkan. Rasanya benar-benar aneh karena menjadi tamu di rumah sendiri. "Sebentar, saya siapkan minum dulu" Kania mengangguk. Baru beberapa hari tapi dia sudah benar-benar rindu dengan rumahnya. Sederhana tapi begitu hangat. Tidak seperti rumah Kaylia, mewah, tapi tak ada kehangatan sedikit pun. Tati datang sambil membawa minum, Kania tersenyum saat Tati meletakkan gelas di meja dan duduk di hadapannya. "Kania dirawat" lirih Tati, terlihat di matanya menahan tangis. "Dirawat?" Ulang Kania. Tati mengangguk "dia jatuh, sampai sekarang belum sadar" "Boleh saya lihat kondisinya?" "Silahkan, dia ada di rumah sakit kota." "Ibu mau kesana? Biar berangkat bersama saya" Tati mengangguk "kalau tidak keberatan, sudah waktunya saya ganti jaga dengan ayahnya" "Tentu tidak bu. Kita berangkat bersama sekarang" "Sebentar, saya ambil tas dulu" Tati bangun dan pergi menuju kamar. Kania menyentuh dadanya, hatinya begitu sakit melihat kondisi sang ibu. Rasanya dia ingin menceritakan semuanya, tapi hal itu rasanya mustahil dan mungkin dia akan di anggap gila. "Ayo" ajak Tati, tangan kanannya membawa tas cukup besar. "Biar saya bantu" Kania merebut tas itu dari tangan Tati sebelum ada penolakan yang keluar. "Maaf merepotkan" ucap Tati. "Tidak sama sekali" jawab Kania lalu tersenyum lembut. Tati mengunci pintu, lalu keduanya melangkah menuju mobil yang terparkir di salah satu lahan kosong. *** Sampai di rumah sakit, Kania tidak bisa menahan air matanya. Sakit rasanya melihat tubuh sendiri berbaring tidak berdaya. Apalagi meliahat bagaimana wajah sendu kedua orang tuanya, itu paling menyakitkan. "kumaha yah, aya perkembangan? (gimana yah, ada perkembangan?)" tanya Tati pada Deni. Kania rasanya ingin merengkuh kedua orang tuanya saat ini juga. Deni menggeleng lemah "te aya bu (gak ada bu)" jawabnya. Tati menghela napas. "bu" panggil Deni sambil melirik Kania yang sejak datang hanya diam dan menangis. Tati yang mengerti maksud dari sang suami langsung mengusap lembut lengan Kania "temennya Kania, yah." Kania menatap Deni, tersenyum singkat lalu mengangguk. Ingin berteriak jika dia adalah Kania. Anak mereka. "yah, emam heua nya (yah, makan dulu ya)" suruh Tati kepada Deni sambil menyodorkan paperbag yang berisi makanan yang dia masak dengan cepat saat di rumah. Dia memasukkan paperbag itu kedalam tas besar yang dibawa. Bercampur dengan baju ganti dan juga keperluan lain. Deni mengangguk, lalu meraih paper bag dari Tati lalu pamit untuk makan diluar kamar. Lima belas menit Deni keluar, muncul dokter dan perawat. Sudah waktunya mereka memeriksa tubuh Kania. "gimana dok?" tanya Tati. Ada harapan begitu besar agar sang anak segera sadar. Sang dokter menghela napas pelan. "begini bu, dari hasil pemeriksaan pasien, seharusnya pasien sudah bisa sadar. Kalau dari organ vital, semua tidak ada luka serius, termasuk bagian kepala. Luka paling serius hanya di tulang lengan yang retak dan kaki yang patah. Tapi entah kenapa sang pasien seolah memang tidak ingin bangun " jelas sang dokter. "maksud dokter?" Kali ini Kania yang bertanya. "mudahnya seperti ini. Pengobatan itu harus seimbang, dokter mengobati dan pasien juga harus punya semangat untuk sembuh. Mau sehebat apapun dokter berusaha, jika sang pasien menolak, maka hal itu akan sulit. Kondisi tubuh pasien seperti itu, seolah-olah dia memang tidak memiliki semangat untuk bangun. Maaf sebelumnya, apa pasien memiliki kondisi mental yang kurang baik, atau mungkin mengalami hal yang membuatnya stres?" Tati menggeleng "anak saya adalah tipe yang terbuka, besar dan kecil masalah yang dihadapi, dia selalu bercerita. Tapi entah jika dalam lubuk hatinya dia tengah menyimpan rasa sakit" lirih Tati. Air mata Kania menangis mendengarnya. Tidak ada yang dia simpan dalam hati. Seperti ucapan Tati, dia akan selalu bercerita kepada ibunya. Jadi jelas bukan dia yang bermasalah, tapi Kaylia. Sosok yang tubuhnya dia tempati tengah menolak untuk bangun. *** Kurang lebih pukul tujuh malam Kania meninggalkan rumah sakit. Dia tidak mungkin ada disana selamanya, dia harus kembali pergi ke Jakarta. Tubuh yang dia tempati sudah milik seseorang. Milik suaminya Kaylia. Radhit. "pak, ada uang lima puluh ribu gak?" tanya Kania kepada sang sopir. "ada, nyonya" "pinjam ya pak. Terus kita berhenti di depan penjual bakso aci di depan" Sang sopir mengangguk. Sesuai perintah, dia menghentikan mobil di depan penjual bakso aci. "uangnya pak" Tangan Kania terjulur. Dengan canggung, sang sopir menyerahkan uang lima puluh ribu kepada sang nyonya besar. Bukan dia pelit, tapi ini benar-benar aneh. Baru kali ini sang nyonya besar melakukan hal itu. "tunggu sebentar pak" Kania turun dari mobil setelah menerima uangnya. Tanpa banyak bicara Kania langsung memesan beberapa porsi bakso aci untuk dia bawa pulang ke Jakarta. Bukan bakso yang sudah matang dan siap santap. Tapi kemasan bakso yang harus di olah terlebih dahulu. "nuhun mang (terima kasih, bang)" Kania menerima pesanannya sekaligus uang kembalian. Kembali ke mobil, Kania langsung meminta sang sopir untuk melanjutkan perjalanan mereka. Kania tidak tahu berapa jam perjalanan yang dia tempuh untuk kembali ke Jakarta. Hingga sayup-sayup panggilan sang sopir membangunkannya. Mereka ternyata sudah tiba di rumah. "makasih pak. Langsung istirahat" ucap Kania serak lalu keluar mobil. Matanya masih mencari fokus karena mengantuk. "nyonya!" Sumi menyambut kedatangan Kania. Wanita paruh baya itu langsung menuntun sang nyonya besar karena terlihat begitu mengantuk. "saya ngantuk bi" "kita langsung ke kamar nyonya" Sumi menuntun Kania menuju kamar di lantai dua. Mengetuk pintu beberapa kali, Sumi kemudian membuka pintu kamar. Radhit ada didalam kamar, tengah membaca sesuatu di tabnya sambil duduk bersandar di tempat tidur. "aku mau tidur, bibi istirahat aja" ucap Kania dengan mata yang begitu sulit untuk di buka. Sumi menatap Radhit, setelah Radhit mengangguk. Sumi langsung pergi dari kamar. Sambil sempoyongan karena matanya serasa di lem, Kania jalan menuju tempat tidur. Setelah tangannya menangkap lembutnya selimut. Dengan cepat dia menjathkan tubuhnya diatas kasur. "ngantuk" gumamnya sebelum benar-benar masuk kedalam alam mimpi. *** Kania mengerjap, di kuceknya mata agar dia bisa mendapat fokus penglihatannya. Menguap lebar, Kania menatap nakas. "jam setengah enam" Merenggangkan tangannya. Dia merasa memukul sesuatu yang keras. Takut jika itu setan, dengan cepat dia menatap ke sebelah. "maneh sahaaaa???!" teriak Kania panik lalu menendang tubuh yang tidur membelakanginya hingga jatuh ke lantai. "KAYLIA!!!!" Kania langsung tersentak mendengar teriakan itu. Apalagi sosok yang dia tendang itu sudah bangun dan tengah menjulang tinggi di sisi lain tempat tidur. Kania menelan ludahnya. Bukan setan yang dia tendang, tapi rajanya setan. Radhit. "jangan teriak. Masih pagi" Kania menampilkan senyum lebarnya. Diatuh takut juga kalau diamuk Radhit. "kamu ngapain tendang-tendang?" Radhit masih menatap tajam Kania. Kedua tangannya sudah bertengger di pinggang. "mimpi main sinetron si madun" ucap Kania asal. Yakali dia bilang kalau mikir Radhit setan. "udah ya. kebelet pipis" lanjut Kania lalu dengan cepat turun dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi. Selesai cuci muka dan sikat gigi, Kania langsung membuka pintu kamar mandi dengan pelan. Tidak langsung lebar, Kania memilih untuk mengintip terlebih dahulu. Memastikan kondisi kamar. "aman. Udah gak ada" Kania mengelus dadanya. Hingga dia merasakan hal yang aneh dan mengulang mengelusnya. "wih, baru sadar tet* nya gede. Gak kaya gue, tepos" ucapnya lalu membatalkan keluar kamar mandi dan memilih untuk berkaca. "baru sadar kalau si Kaylia punya body goals. Mantul" Puas menatap tubuh milik Kaylia di cermin, Kania kemudian keluar. Dia harus pergi sarapan karena sejak tadi perutnya terus meraung. Pergi ke ruang makan, Kania mengerutkan keningnya. Tidak ada Radhit disana. "Bi, Radhit kemana? gak sarapan" tanya Kania saat Sumi yang tengah menyiapkan sarapn untuknya. "tuan sudah berangkat barusan" "pagi banget. Mau ngapain? ke rumah istri muda?" celetuk Kania asal membuat gerakan Sumi yang tengah menuangkan air langsung berhenti. "kenapa Bi?" tanya Kania menatap Sumi bingung. "nyonya sudah ingat?" suara Sumi terdengar begitu pelan. "ingat apa?" Kania malah balik bertanya. "tentang perselingkuhan tuan Radhit" "HAH?!!!!" Kania terkejut. Sangat terkejut. Jantungnya bukan lagi berdisko, tapi melompat. Gila! "maaf nyonya. Saya kira nyonya sudah ingat" Sumi menunduk, merasa bersalah. "bukan salah bibi. Gak usah minta maaf. Jadi Radhit bener punya selingkuh?" Kania memastikan. "setahu saya begitu. Maaf, saya sempat mendengar anda berbicara di telepon tentang tuan Radhit yang selingkuh" jelas Sumi. Kania menghela napas. "bisa tinggalin saya sendiri bi?" Sumi mengangguk, lalu melangkah pergi. Membiarkan sang nyonya sendiri sesuai keinginannya. "sekarang gue ngerti kenapa Kaylia gak mau bangun. Masalah orang tua, masalah sama pegawai di rumah dan masalah rumah tangga. Pantes itu laki gak ada manis-masinya kaya air minum, ternyata hobi jajan di luar. Sialun!" Tangan kiri menyangga kepala, sedangkan tangan kanan Kania ketuk-ketuk ke meja. Dia sudah mengerti dengan kondisi yang ada. "oke. Jadi si Kay sebenernya udah gak kuat sama masalah yang ada. Terus gue hadir di tubuhnya buat menyelesaikan masalah dia. Begitu?! enak banget lu Kay! pusing lo bagi-bagi! duit harusnya!" Kania benar-benar merasa sudah mengerti dengan situasi yang ada. "jadi intinya kalau gue mau kembali normal, gue harus bantu Kaylia. oh em ji sekali. Mana lakinya tukang selingkuh. Benci banget gue tuh sama spesies laki-laki begitu. Tapi mau gimana lagi? terpaksa. Pokoknya Inget aja Kay, gue bantuin lo tapi nanti lo kasih gue duit yang banyak, kalau perlu, lo tato nama gue sebagai tanda terima kasih biar lo selalu ingat jasa gue" lanjut Kania. Diotaknya sekarang, seolah ada puzzle-puzzle yang mulai menyatu. "Bi!" Panggil Kania dengan suara cukup keras. "iya" bukan Sumi, kini Inah yang datang. "saya lagi pusing. Bikinin bakso aci yang saya bawa semalem dari Bandung" suruh Kania. "nyonya, ini masih pagi. Apa gak sakit perut?" Kania berdecak "engga. Kamu bikinin aja. Lebih bagus kalau ada seblak. Pusing kepala saya tuh" Inah mengangguk lalu pergi. Kenapa sang nyonya sekarang mirip meme di media sosial yang sering dia lihat?, kalau pusing bukan minum obat malah cari seblak. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD