Kania menatap pantulan tubuh milik Kaylia di cermin. Siang ini dia akan menukarkan dolar-dolar yang ada di dompet Kaylia. Dia butuh uang, cuma itu yang bisa dia lakukan saat ini.
"parah sih, udah cantik begini masih di selingkuhin. Si gelo!" kesal Kania. Kaylia memang cantik, benar-benar cantik, apalagi Kaylia sepertinya melakukan perawatan mahal.
"apa goyangan si Kay kurang yahud? kata netizen, pelet pelakor ada di lobang bawah pusar"
Menghela napas, Kania tatap tajam wajah itu di cermin "dengerin baik-baik ya Kay, tugas gue adalah beresin masalah lo! lo gak usah protes dengan cara yang gue pakai"
Kania lanjut memilih baju yang akan dia kenakan, meskipun dia begitu suka dengan gaun-gaun pesta yang ada, tapi dia masih punya otak untuk tidak memakainya. Dia cuma mau menukarkan uang!
Memilih celana jeans dan kaos putih polos, Kania tersenyum puas "udah kaya personil es-en-es-di yang ke sepuluh" ucapnya lalu tertawa.
Meraih tas di nakas, Kania kemudian melangkah keluar kamar. Tapi langkahnya tiba-tiba terhenti saat sesuatu terbesit dalam pikirannya "si Radhit kok tadi pagi ada dikamar? apa semalem dia emang tidur disana? wah, kutil!"
Bertemu Sumi yang akan pergi ke area belakang, Kania langsung menghentikannya.
"ada apa nyonya?"
"semalam bibi yang antar saya ke kamar?"
Sumi mengangguk "iya, saya yang antar nyonya. Semalam nyonya begitu ngantuk"
"Radhit tidur dimana?"
"dikamar"
Kania berdecak "tahu bi, maksudnya kamar yang mana?. Kan gak mungkin dia tidur di gorong-gorong"
"di kamar yang sama dengan nyonya"
"tuh kan! kutil! dibilang pisah kamar! badung! (bandel!)" kesal Kania yang ditatap aneh Sumi. Marahnya sang nyonya besar emang terlihat aneh sekarang. Bukan lagi menyeramkan, tapi malah terlihat lucu dan menggemaskan.
"kesel ah, bete!" lanjut Kania, bibirnya sudah cemberut, benar-benar lucu.
Menghela napas sejenak, Kania kembali bersuara "udah ah, aku pergi sekarang. Bisa-bisa gila mikirin itu. Terus bibi, jangan panggil nyonya, panggil nama aja. Okay bi. Dah" Kania langsung pergi sebelum Sumi membalas ucapannya.
Bukan bermaksud bahagia diatas musibah seseorang, tapi jika tahu setelah bangun dari pingsan karena jatuh sang nyonya besar akan seperti ini, sudah lebih dulu dia berharap sang nyonya jatuh lalu pingsan. Dia suka majikannya yang sekarang. Lucu dan lebih manusiawi, tidak seperti sebelumnya, setanwi.
***
Kania tersenyum lebar setelah menukarkan uang, meskipun di dalam dompet jumlah dolar begitu banyak, Kania tidak menukarkan semuanya, dia hanya menukarkan seperlunya.
"buat bapak, sekalian ganti yang semalam" ucap Kania sambil menyodorkan uang kepada sang sopir.
"terima kasih nyonya"
"jangan panggil nyonya, panggl Kan- eh Kay aja" Kania memukul pelan mulutnya. Hampir dia keceplosan.
"tapi-"
"gak apa-apa. Santai aja pak, saya gak akan marah"
"saya panggil Bu Kay aja ya, saya gak berani kalau nama saja"
"yaudah, terserah bapak"
Sang sopir mengangguk "sekarang kita mau kemana bu? langsung pulang?"
"ke kantor Radhit ya pak" dia penasaran dengan tempat kerja suami Kaylia tersebut.
Kembali mengangguk, sang sopir mulai menjalankan mobil sesuai permintan sang ibu bos.
Mobil berhenti saat lampu merah, Kania menatap keluar jendela. Melihat balon-balon maskot dari salah satu merk ponsel terngah bergoyang heboh, Kania langsung meminta sang sopir membawanya kesana. Dia butuh ponsel baru!
"sebentar ya pak" Kania langsung turun dari mobil saat mobil berhenti di depan ruko.
Berbeda jauh dengan ponsel milik Kaylia yang harganya fanstastis, bombastis setara harga motor. Kania memilih membeli ponsel seharga dua jutaan. Itu saja sudah cukup, sudah bagus, meskipun kalau membuat story gambarnya jadi burek.
"makasih mba" ucap Kania setelah menerima ponsel yang sudah di bayarnya.
"sama-sama kak" jawab ramah sang penjaga.
Kania kembali ke mobil, meminta sang sopir untuk melanjutkan jalan menuju kantor. Tujuan menemui Radhit bertambah, jika awalnya dia hanya ingin tahu kantornya, kini dia ingin meminta bantuan Radhit untuk mengurus salah satu kartu debit milik Kaylia agar bisa dia akses. Sungguh hidupnya gembel sekali kalau tidak punya uang.
"sampai pak?" Kania memastikan jika sang sopir memang membawanya ke kantor Radhit. Bukan ke warung remang-remang.
"sampai bu" jawab sang sopir.
Kania berdecak kagum, kantor Radhit seperti kantor-kantor yang dia lihat di drama Korea, tinggi menjulang berpayung awan.
Keluar dari mobil, Kania melangkah masuk. Jantungnya berdegup kencang karena ini kali pertama dia datang.
"siang bu" sapa resepsionis.
"siang" jawab Kania.
"Bapak Radhit ada di lantai 15 bu"
Kania mengangguk, sepertinya Kaylia sering datang, jadi resepsionis udah begitu hapal tujuannya. "terima kasih ya" ucap Kania lalu pergi menuju lift.
Tiba di lantai 15, beberapa orang menyapanya dengan sopan. Hingga kakinya berhenti melangkah di depan pintu yang menujukan tulisan posisi Radhit di perusahaan.
"siang bu" sapa seorang wanita dari balik meja, Kania tebak orang tersebut adalah sekretaris Radhit.
"siang. Bapak ada didalam?" tanya Kania ramah.
"ada, tapi-"
Kania mengerutkan keningnya, wanita itu tampak begitu ragu. Hingga seuatu kesimpulan muncul di kepala Kania.
"ada perempuan lain di dalam sana?" tanya Kania langsung.
Wanita itu menalan ludahnya, demi Tuhan, dia tidak tahu harus menjawab apa.
"santai aja. Saya cuma mau intip kelakuan si kutil"
"hah?!" wajah sekretaris itu begitu terkejut. Kemana perginya ibu bos galak?
Tidak menyahut lagi, Kania dengan pelan membuka pintu ruangan Radhit. Matanya memicing melihat Radhit tengah berpelukan dengan seorang perempuan muda. Perempuan itu sepertinya begitu nyaman dipeluk Radhit hingga matanya terpejam dan tidak melihat dirinya yang mengintip. Sedangkan Radhit, pandangan laki-laki itu melihat keluar jendela.
Pelan-pelan Kania kembali menutup pintu. Dia menatap sang sekretaris yang terlihat begitu ketakutan.
"perempuan itu temen kamu?"
Wanita itu langsung menggeleng keras. "bukan bu. Dia anak baru, bagian marketing"
"kamu dekat sama dia?"
"tidak bu! demia apapun saya gak dekat dengan dia" jawabnya dengan wajah takut.
Kania mengangguk "kamu mau aman kerja disini?"
Kali ini wanita itu mengangguk semangat "kamu laporkan semua kegiatan bapak ke saya, apalagi kalau itu tentang perempuan lain. Tapi ingat, kalau saya tahu kamu malah dekat dengan selingkuhan bapak, saya buat perhitungan sama kamu!" ancam Kania. Dia teringat dengan salah satu curhatan netizen yang suaminya di rebut pelakor dan teman-teman si pelakor malah mendukung, bukan melarang atau menyadarkan temannya. Dasar komplotan setan!
"baik bu, tapi tolong jangan pecat saya. Saya masih punya adik yang harus saya biayai"
Kania mengangguk "semua aman kalau kamu mau bantu saya. Oh iya, siapa nama kamu?"
"nama saya Tiwi bu"
"oke Tiwi, dan satu lagi, jangan bilang ke bapak kalau saya datang"
"baik bu"
Kania kemudian melangkah pergi, dalam hati dia mengutuk kelakuan Radhit di dalam ruangannya. "geuleuh!"
***
"pak, jangan langsungg pulang. Ke cafe Add dulu ya" suruh Kania. Dia baru saja mencari rekomendasi cafe lewat ponselnya.
"dijalan apa ya bu?"
"Brawijaya pak"
"baik bu"
Hampir lima belas menit mobil lalu berhenti di cafe yang Kania maksud. "pak, bapak pulang aja ya, nanti saya hubungi kalau minta jemput"
"baik bu"
Kania mengangguk lalu keluar mobil. Sebelum masuk, dia mengedarkan pandangan ke bangunan cafe. Terlihat nyaman.
Melangkah masuk, Kania di sambut pelayan. Dia memilih duduk di kursi pojok, pelayan datang memberikan menu. Kania memilih memesan creame brulee coffe dan waffle dengan sirup dan potongan buah. Dia juga langsung membayar pesanannya.
Mengeluarkan ponsel dari dalam tas, Kania mulai berselancar di dunia maya. Melihat beberapa video untuk menghibur hatinya yang tengah galau sejak membuka mata. Rasanya, masih belum nyaman dengan apa yang terjadi.
Pesanan datang, Kania mengucap terima kasih saat pelayan selesai meletakkan pesanannya di meja. Menarik gelas mendekat ke arahnya, mata Kania membulat melihat Radhit yang akan memasuki cafe. Reflek dia mengalihkan wajahnya agar Radhit tidak melihatnya.
Sialnya, Radhit dan perempuan yang datang bersamanya duduk di kursi tepat di belakangnya. "geuleuh!" kesal Kania pelan. Sebisa mungkin Kania tetap tenang, bersikap biasa saja agar tidak menarik perhatian Radhit. Dia tidak tahu apakah posisi Radhit membelakanginya juga atau sebaliknya, terlalu bodoh kalau dia memutar tubuhnya ke belakang untuk memastikan.
Menutup aplikasi video, Kania berseluncur di media sosial. Dia juga memberi pengumuman jika toko online yang dikelolanya selama ini untuk sementara di tutup karena dia tengah sakit.
Kania mendengar kursi di belakangnya bergeser
"aku ke toilet dulu ya mas"
Rasanya Kania ingin muntah mendengarnya. Terdengar menjijikan di telinga Kania. Wanita itu melewati meja Kania. Kania mengerutkan kening karena merasa ada yang aneh dengan baju yang dipakai wanita itu. Berbeda dari yang dia lihat saat di kantor.
"Gelo! apa mereka abis nananina di kantor?" tebak Kania dengan suara yang dia usahan pelan.
Tapi pikiran itu dipatahkan saat melihat wajah sang wanita yang sudah kembali dari toilet. Bukan wanita yang dilihatnya saat di kantor! wanita lain lagi!
"anjirlahh. Selingkuhannya bukan satu? dua?! si gelo!"
Memasukan ponselnya kedalam tas, Kania kemudian bangun dari kursi. Dia harus segera pergi. Ogah melihat seorang suami tengah berselingkuh. Beruntung pintu cafe ada di hadapannya, jadi dia bisa pergi tanpa melewati meja yang diisi oleh dua sampah itu.
Tidak menghubungi sang sopir, Kania memilih menggunakan taksi untuk pulang. Kini dia sudah tahu alamat lengkap rumah dari pesan yang di kirim Sumi saat dia menuju kantor Radhit.
"Kaylia, Kaylia. Miris banget hidup maneh (kamu) harta melimpah tapi suami dajal!" ucap Kania setelah taksi berjalan pergi meninggalkan cafe.
"kenapa mba?"
"engga pak"
Perselingkuhan adalah hal yang paling Kania benci. Bukan karena khilaf, tapi memang orang selingkuh sudah seperti setan! gak bisa dipercaya! perempuan dan laki-laki sama saja. Tidak ada alasan yang bisa meringankan atau bahkan membenarkan sebuah perselingkuhan. Dua-duanya salah. Perempuan benar tidak akan menggoda atau tergoda oleh laki-laki yang sudah beristri. Laki-laki waras juga tidak akan tergoda dan menggoda wanita lain jika dia memang memegang teguh janji pernikahan.
"sampah" umpat Kania yang lagi-lagi medapat respon dari sopir.
"iya, bu. Kenapa?"
"engga pak. Gak apa-apa" jawab Kania.
***
Sampai rumah, Kania langsung berlari menuju toilet. Perutnya sakit, melilit.
"nyonya" panggih Inah lirih melihat Kania keluar dari toilet dengan majah lesu.
"perut saya sakit Nah, tolong ambil obat ya" suruh Kania pelan. Dia melangkah menuju ruang keluarga dan merebahkan tubuhnya di sofa.
"nyonya, ini obatnya" Inah dengan cepat membawa obat dan minum.
Kania bangun. Perutnya masih melilit, dia diare!
"mungkin efek bakso aci tadi pagi, nyonya" ucap Inah setelah Kania menelan obat.
Kania mengangguk lemah "kamu beliin popok ya Nah" suruh Kania. Dengan wajah melas dia meraih tas miliknya dan memberikan Inah uang.
"buat siapa nyonya?"
"buat saya. Saya takut cepirit! mau pake popok"
Tanpa bisa dicegah, Inah langsung tertawa.
"kamu ngeledek saya ya Nah?!" Kania menatap kesal Inah. Orang diare itu lemes, diatuh cuma takut gak keburu ke kamar mandi karena gak bisa cepet-cepet lari.
"maaf nyonya" Inah menunduk, masih ingin tertawa tapi sekuat tenaga dia tahan.
"yaudah sana, beli sekarang. Emang kamu mau bersihin sofa ini kalau saya telat ke kamar mandi?!"
Inah menggeleng. Segera dia bangun dan pergi menuju mini market.
"kamu! saya lupa nama kamu. Sini!" Kania menunjuk seorang asisten rumah tangga perempuan untuk mendekat ke arahnya.
"iya nyonya" ucapnya sambil menunduk.
"panggilin Bi Sumi"
"baik nyonya" ucapnya lalu pergi.
Tidak lama Bi Sumi datang. Terkejut melihat wajah Kania yang pucat.
"Kay, kenapa?"
"mules bi" jawab Kania lemah.
"sudah minum obat?"
Kania mengangguk, lalu kembali merebahkan tubuhnya "tolong ambilin rok atau baju panjang ya bi. Aku mau ganti celana" pinta Kania. Kalau pake jeans, dia kesusahan! kalau pake rok, dia kan tinggal turunin celana dalam.
"sebentar. Bibi ambilin"
Kania kembali hanya mengangguk lemah sebagai jawaban. Sial! perutnya sudah kembali disko!
***