7. Strategi

1559 Words
Kania mengerjapkan matanya, setelah minum obat lagi, dia ketiduran. Perutnya sudah tidak melilit lagi, tapi tubuhnya masih lemas, dia bahkan masih tertidur di sofa dengan kondisi televisi yang menyala. "bi" panggil Kania dengan suara serak. "tolong ambilin air minum anget ya" suruh Kania ke asisten yang datang saat mendengar panggilannya. "sebentar!" kaki asisten itu langsung berhenti melangkah. "Nama kamu siapa?" "nama saya Susi, bu" jawabnya pelan.  Kania mengangguk, lalu Susi pergi untuk mengambil air putih hangat milik Kania. Diliriknya jam di dinding, sudah pukul enam. Kondisi rumah benar-benar sepi. Mungkin ini yang selalu Kaylia rasakan setiap harinya. "malang amat nasib maneh Kay" lirih Kania. Susi datang, meletakkan gelas berisi air hangat itu lalu kembali pergi ke belakang. "jangan ngamuk lagi ya, manja banget. Biasanya juga gak gini" Kania mengusap lembut perutnya setelah meneguk air hangat. Tapi seolah ditampar kenyataan, tubuh yang dia tempati bukan miliknya sendiri. Perut Kaylia mungkin tidak sekuat perut Kania. "biasa salad, sekalinya di kasih bakso aci langsung demo. Susah emang kalau perut sultan" "Kay, sudah bangun?" Kania menolah, Bi Sumi datang sambil membawa kotak obat.  "Radhit sudah datang?" Kania balik bertanya. "sudah, sudah naik ke kamar juga. Mungkin sebentar lagi turun untuk makan malam" Kania mengangguk.  "gimana perutnya? masih sakit? perlu ke dokter?" Kania menggeleng "udah gak sakit kaya tadi kok. Mungkin sekali minum obat lagi sembuh" jawab Kania. "ya sudah, makan dulu yuk, atau mau bibi bawa kesini? biar nanti minum obat lagi setelahnya" "iya bi, tolong bawa kesini aja ya. Masih lemes nih" Sumi mengangguk, lalu pergi untuk mengambil makan malam Kania. Tidak butuh waktu lama untuk Sumi kembali membawa makan malam. Diminta duduk di sebelah Kania, Sumi kemudian menemani Kania makan. "udah bi" Kania menyerahkan piring yang masih terisi makanan cukup banyak. "minumnya" Sumi menyodorkan gelas berisi air putih kepada Kania. Segera Kania teguk sampai habis, diare benar-benar membuatnya lemas dan dia perlu banyak cairan. Terdengar bunyi langkah kaki, Radhit datang dengan pakaian santainya. Aroma sabun keluar dari tubuhnya dan langsung memenuhi penciuman Kania. Mengerutkan kening, Radhit melihat hal aneh yang terjadi. Sumi duduk bersama Kania. Sebuah pemandangan yang tidak biasa. Jangankan untuk duduk bersama, berdekatan saja, istrinya selalu marah. "aku sakit" adu Kania dengan tampan sedihnya. Radhit masih diam, duduk di sofa single.  Tidak ingin menganggu, Sumi memilih pamit pergi.  "aku sakit. Kamu gak mau peduli gitu?"  "kamu pasti sudah minum obat, jadi harus peduli apa lagi?" jawab Radhit. "cepet gendong aku ke kamar" kesal Kania kemudian. Ini laki emang gak bisa manis dikit ya sama istri sendiri. Nyebelin banget! kutil badak! Masih tidak memberikan respon. Dengan tubuh yang dipaksakan, Kania bangun dan melangkah ke arah Radhit. Duduk di pangkuan Radhit dan melingkarkan tangannya di leher. Membuat Radhit membulatkan matanya. "gendong ke atas. Cepet!" suruh Kania lagi. Katakanlah Kania gila karena bisa melakukan hal seperti itu kepada suami orang.  "cepet!" teriak Kania tepat di telinga Radhit hingga laki-laki itu refleks menjauhkan kepalanya. "bawa aku sekarang ke atas atau aku copotin telinga kamu!" ancam Kania. Geram karena Radhit masih tidak merespon. Kania malah memilih menyenderkan kepalanya di bahu Radhit lalu memejamkan matanya "yaudah kalau mau gini terus, tapi jangan salahin aku kalau aku tidur terus buang air besar di sini" ucapnya. Sontak Radhit langsung bangun. Untung saja Kania tidak jatuh. Tertawa pelan, Kania merasakan Radhit mulai melangkah. "ternyata kamu lebih takut kotoran daripada telinganya putus ya" ledek Kania. "diam" geram Radhit. Tiba di kamar, Radhit menurunkan Kania perlahan ke atas kasur. "selimutnya siniin" suruh Kania. Dia hanya menggunakan baju tunik yang memperlihatkan kakinya. "cepetan! aku malu nih cuma pakai popok kaya bayi" kesal Kania karena Radhit yang lelet. Mata Radhit melotot, bukan menarik selimut, dia malah menatap ke area intim Kania. Benar! istrinya pakai popok bayi! "selimut!" bentak Kania menyadarkan Radhit. Segera dia menutupi tubuh bagian bawah Kania dengan selimut. "nanti malem kamu jangan tidur disini. Aku kan udah bilang, kita pisah kamar" ucap Kania saat Radhit membalikan tubuh, bersiap keluar kamar.  "ini juga rumah saya. Terserah saya mau tidur dimana" jawab Radhit Kania berdecak "aku gak suka tidur sama bekas orang"  Radhit sontak membalikan tubuh dan menatap Kania. Kania balas menatap sambil tersenyum miring. Dia tidak takut! *** Merenggangkan tubuhnya, Kania merasa pagi ini dia sudah kembali sehat. Semalam dia sudah tidak pergi ke toilet, perutnya juga sudah tidak merasakan sakit. Tidak langsung turun dari kasur, Kania memilih duduk bersandar terlebih dahulu. Dilirik jam di nakas, pukul enam.  Setelah merasa kondisinya baik, Kania kemudian turun dari kasur dan pergi untuk mandi. Sejak kemarin dia belum mandi karena terlalu lemas meskipun hanya untuk bangun. Selesai berpakaian, Kania langsung turun dan pergi ke meja makan. Radhit masih ada, sepertinya dia tidak memiliki janji bersama selingkuhannya. "aku mau minta tolong" ucap Kania langsung. Radhit mengalihkan pandangannya dari tab ke arah Kania. "aku lupa sama semua pin atm bahkan kode ponsel. Bisa tolong bantu urus?" "lupa?" Radhit memastikan pendengarannya. Kania mengangguk "sudah aku bilang jika aku lupa semuanya." "jangan konyol" Kania menarik napas dalam lalu perlahan mengembuskannya, sabar. Dia harus sabar "aku bahkan menginap di luar karena tidak bisa pulang! aku serius. Aku benar-benar lupa. Aku bahkan harus menukar dolar yang ada di dompet karena sama sekali tidak ingat berapa pin di setiap kartunya" jelas Kania, atau lebih tepatnya bohong. Dia bukan tidak ingat, tapi memang tidak tahu. Radhit diam, mencoba mencari kebohongan dari ucapan istrinya. Teringat juga bagaimana Sumi yang begitu panik karena istrinya itu tidak pulang. Seolah kondisi istrinya memang sedang tidak baik-baik saja. Perubahan sikap istrinya kepada Sumi juga cukup aneh.  "aku serius. Aku gak ingat. Tolong bantu" ulang Kania dengan wajah memohon. Cuma kepada Radhit dia bisa meminta tolong. Radhit mengehela napas, lalu mengangguk "baik, serahkan semuanya" ucapnya. Biarlah kali ini dia percaya dengan istrinya.  Kania langsung bersorak, dia bahkan secara tidak sadar langsung bangun dan memeluk Radhit.  "eh lupa. Bukan mukhrim" ucap Kania malu lalu kembali duduk. Radhit hanya menggelengkan kepalanya lalu kembali membaca berita di tabnya. Teringat akan rencananya, Kania kemudian kembali menampilkan senyum lebar. "mas" panggil Kania. Radhit sontak menatap Kania. Sejujurnya, dia cukup aneh dengan panggilan 'mas' yang beberapa hari ini keluar dari mulut istrinya.  "kamu bener gak mau periksa kepala kamu?" Kania berdecak "kepala aku aman, otaknya masih nempel di tempat" sahutnya dengan bibir cemberut. "minta uang" Kania menadahkan tangannya ke hadapan Radhit. "uang?" "iyalah! masa daun" "kamu minta uang ke saya?" lagi-lagi Kania berdecak "mas itu suami saya, jadi wajar kalau saya minta uang sama mas. Emang mas kira saya harus minta uang ke siapa?! coba mikir!" Radhit terdiam, apa benar wanita yang ada dihadapannya itu istrinya. Si wanita penuh topeng! medusa. "punya uang gak? atau mas udah miskin karena uangnya di pake jajan di luar?!" tanya Kania dengan nada tinggi. Menghela napas, Radhit kemudian merogoh kantong celananya, mengeluarkan dompet "jangan itungan sama istri" Kania langsung mengambil semua uang cash yang ada didalam dompet Radhit sebelum Radhit bisa mencegahnya. "hutang aku ke bi Sumi udah kamu bayar belum?" "kamu benar pinjam uang?" "iya! udah aku bilang kalau aku lupa. gak ingat! forget! poho! tapi kamu gak percaya" kesal Kania. Tersenyum lebar melihat uang hasil rampasannya, Kania kemudian bangun dari kursi, mendadak dia tidak ingin sarapan.  "mau pergi sekarang kan? hati-hati ya. Jangan lupa benerin kartu-kartu aku" ucap Kania cepat lalu mencium tangan Radhit dan langsung melangkah pergi menuju kamar. Lagi, Radhit kembali terdiam. Terkejut hingga rasanya tadi hanya sebuah angin yang numpang lewat. Lalu melirik tangannya yang tadi dicium.  *** Kania segera berganti pakaian dengan yang lebih lusuh meskipun selusuhnya baju Kaylia tetaplah harganya jutaan, walaupun hanya sebuah kaos. "Radhit udah berangkat Bi?" Tanya Kania saat sampai di dapur. "Sudah, mungkin sepuluh menit yang lalu" jawab Sumi. Kania mengangguk "bi, ada udang gak?" "Udang mentah?" "Udang terbang! Iya dong bi, udang mentah" "Habis, belum belanja" "Radhit suka udang gak bi?" "Suka. Tuan Radhit cuma tidak suka ikan saja" "Perlu di tenggelamkan" "Maksudnya?" Wajah Sumi terlihat bingung. Kania mengibaskan tangannya "gak apa-apa. Sekarang kita pergi belanja ya bi" "Kita?" "Iya. Aku sama bibi" "Yakin mau ikut belanja?" Kania mengangguk "yakinlah. Ayo. Nanti keburu siang" Masih bingung, Sumi hanya bisa menurut. Dia bersiap lalu menaiki mobil bersama sang nyonya besar. "Bi, kita ke pasar ya, jangan ke super market?" "Hah?" Wajah Sumi benar-benar terkejut. Dia kira, perubahan yang terjadi pada nyonya besar masih bisa dikatakan wajar, tapi kalau sampe ke pasar. Ini benar-benar sudah tidak wajar. Rasanya seperti sang nyonya terlahir kembali. "Kita ke pasar bi. Kebiasaan deh harus ngomong dua kali mulu" kesal Kania. "I-iya, kita ke pasar" jawab Sumi. Sepertinya dia sudah tidak bisa menahan, dia perlu lapor kepada Radhit. Suasana kembali sunyi, semua kembali dengan pikiran masing-masing. Termasuk Kania, dia tengah berpikir tentang menu yang akan dia buatkan untuk Radhit. Siang ini dia akan datang ke kantor Radhit. Menahan laki-laki itu agar tidak pergi makan siang di luar kantor. Dengan Radhit yang tidak pergi ke luar kantor saat jam makan serta dirinya yang ada diruangan Radhit, Kania yakin jika para cabe murahan itu tidak bisa bertemu dengan Radhit. Bagaimana pun, Kania akan berusaha agar Radhit  tidak memiliki waktu santai untuk menemui para selingkuhan nya. Saat ini, hanya itu strategi yang dia miliki, tenang. Masih permulaan, masih awal dari aksinya. Lihat saja nanti, dengan bantuan riset yang dia cari di internet, dia yakin akan bisa mengusir para hama itu dari sisi Radhit. Dengan cara apapun, selama bukan membunuh, Kania akan lakukan. Tidak ada nego! Apalagi rasa kasihan. Ogah! Mereka saja tidak kasihan kepada Kaylia. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD