Chapter 4

1125 Words
Setelah makan malam itu, tidak ada yang berubah dari Lavender. Sekali pun ibunya selalu membicarakan Elijah di hadapannya—dan terang-terangan mengatakan kalau dia berhasil memacari Elijah, maka Lavender akan beruntung. Lavender tidak mengerti kenapa ibunya ingin dia berpacaran saat kedua orang tuanya itu selalu mengatakan pada Lavender untuk fokus belajar saja. Lagipula, Lavender tidak memiliki niatan untuk dekat dengan lelaki manapun. Dia harus lulus dan masuk Duke University, hanya itu saja. Dia tidak boleh terganggu oleh hal lain yang sekiranya akan menghambat tujuannya. “Lavender, ayolah kita pergi ke kantin sebentar.” Kendy menatap Lavender yang asyik dengan buku kumpulan soalnya ketika jam istirahat sudah tiba. Kendy selalu iri dengan Lavender yang selalu sibuk mengerjakan soal-soal sebagai latihannya untuk masuk universitas. Sementara Kendy sendiri belum memiliki niat untuk belajar segiat Lavender. “Kamu sendiri saja, aku harus mengerjakan ini.” “Kamu bisa mengerjakan itu di kantin, Lavender. Atau nanti saja ketika—” Kendy menghentikan ucapannya ketika melihat gelengan dari Lavender. “Menyebalkan.” Kendy berdecih sebal. Akhirnya, dia pergi ke kantin sendirian tanpa ditemani oleh Lavender. Sahabatnya itu sekali bilang tidak maka akan tetap mengatakan tidak, mau seberapa kuat pun Kendy memohon padanya. Sementara Kendy pergi ke kantin, Lavender membuka kotak bekal makannya yang sudah ia bawa dari rumah. Dia memilih untuk belajar di kelas sambil memakan bekal makan siangnya dari pada harus ke kantin dan membuatnya tidak fokus pada soal-soal yang akan ia kerjakan. Lavender selalu menyukai suasana sepi seperti ini di ruang kelasnya ketika teman-temannya keluar. Dia bisa fokus pada pembelajarannya dan tidak terganggu oleh siapapun. Agar semakin foku, Lavender mengambil earphone dari tas-nya dan menyetel musik di hp-nya. Entah berapa lama dia berada di zona nyamannya. Lavender terlalu asyik mengerjakan soal-soal itu hingga dia tidak sadar kalau ada seseorang yang memerhatikannya dari luar kelas. Orang itu adalah lelaki yang ia temui beberapa hari yang lalu; Elijah Theodore. Elijah, si Ketua Angkatan yang dikagumi oleh banyak perempuan di sekolah ini. Mulai dari teman seangkatannya, adik kelas, dan bahkan kakak kelas sekali pun. Elijah benar-benar menjadi lelaki paling disukai di sekolah ini. Banyak yang terpesona dengan kepintaran Elijah baik di bidang akademik, atau pun non-akademik. Rasanya terlalu sempurna ketika orang-orang mendeskripsikan Elijah; cerdas, dari keluarga yang terpandang, kaya-raya, hebat dalam bermain basket ataupun sepak bola, dan menjadi Ketua Angkatan. Sepertinya tidak ada lelaki seumuran Elijah yang bisa mengalahkan kehebatannya. Tapi sayangnya, Si Most Wanted Boy di sekolah itu tidak pernah menunjukkan kedekatannya dengan siapapun. Sama sekali tidak ada yang tahu siapa perempuan beruntung yang menjadi pujaan hatinya. Sikapnya yang ramah pada setiap orang menjadikan Elijah juga seperti mudah digapai. Dia bukan tipe-tipe cool boy yang ada di novel remaja pada umumnya. Most Wanted Boy satu ini benar-benar ramah dan baik hati pada tiap orang. Elijah tersenyum diam-diam ketika melihat Lavender dari kejauhan. Tidak ada yang tahu pula, kalau dia sudah mulai tergaet pesona dari gadis yang sedang duduk dan mengerjakan soal-soal di hadapannya dengan tekun. Elijah kembali ingat perkataan ibunya setelah dia makan malam bersama Lavender dan ibu dari gadis itu. “Lavender sangat cantik ya, Elijah.” Elijah, sambil mengeringkan piring yang baru dicuci oleh ibunya, hanya mengangguk. “Kamu … tidak tertarik pada dia?” tanya Ivy sambil menatap anaknya lamat-lamat. Anaknya itu memang anak laki-laki yang baik. Tidak pernah sekalipun Ivy mendapat rumor kalau Elijah berpacaran dengan seorang gadis dan melukai hatinya. Tidak pernah. Hal itu membuat Ivy tenang, tapi juga khawatir—dia khawatir kalau Elijah tidak mencoba untuk dekat dengan gadis manapun, maka anaknya itu tidak bisa menikmati masa mudanya. Ayolah, siapa anak muda yang tidak tertarik dengan yang namanya berpacaram? “Tertarik,” jawab Elijah polos. Dia mengeringkan tangannya terlebih dahulu sebelum membalikkan badannya untuk memberikan fokusnya pada ibunya seorang. “Dia sangat cantik, seperti kata Mama. Tidak mungkin aku tidak tertarik.” Ivy dapat menghela napas lega. Ah, akhirnya dia tidak perlu takut kalau anaknya ini gay. “Lalu?” Ivy menatap Elijah dengan binar di matanya. “Mama ingin aku mendekati dia, ya?” tebak Elijah dengan mengulum senyumnya, yang membuat lesung pipinya terlihat. Ivy mendelik sebal dan memukul lengan anaknya pelan. “Tapi jujur saja, pasti kamu juga langsung menyukainya, bukan?” Elijah melangkahkan kakinya untuk mendekati Lavender. Ah, benar, dia menyukai gadis itu di pertemuan pertama mereka bertemu. “Lavender.” Elijah duduk di samping gadis itu yang masih saja tidak menyadari kehadirannya. Lagi-lagi Elijah hanya tersenyum seperti orang gila. Tangannya terarah untuk menyentuh pundak Lavender pelan. Gerakan Elijah sangat lambat, bahkan sedikit ragu. “Lav—” “Astaga!” Belum juga tangan Elijah menyentuh bahu Lavender, perempuan itu sudah lebih dulu terkejut karena akhirnya dia menyadari kedatangan dari Elijah. Elijah terdiam dan menatap Lavender. Untuk beberapa detik mereka bertatapan. Hingga akhirnya, Elijah tertawa kecil. “Maaf, aku mengagetkan kamu, ya?” Lavender menghela napas dan menyentuh d**a sebelah kirinya. Gila saja, dia sampai jantungan ketika melirik ke sebelah kirinya yang ternyata ada seseorang yang duduk di sana. Padahal sebelumnya, Lavender tahu dirinya sendirian di kelas itu. “Astaga, kamu sungguh membuat aku takut.” Beberapa kali Lavender terlihat menghembuskan napasnya, bermaksud untuk menormalkan degup jantungnya yang menggila. Bukan hanya karena terkejut akibat kedatangan Elijah yang tiba-tiba. Tapi juga karena lelaki itu terlihat tampan hari ini. Iya, ini kali pertama Lavender duduk dekat dengan pria, dan tolong jangan ditanya bagaimana keadaannya sekarang—karena sudah pasti, dia sangat gugup. Sial, degup jantungnya mungkin bisa terdengar oleh Elijah sekarang. Elijah memasang wajah tanpa dosa dan dia hanya terus tersenyum. “Maaf.” Dia melirik buku yang sedari tadi mencuri perhatiannya. “Buku apa itu?” Ayolah, Elijah hanya berusaha berbasa-basi. Padahal, dia sudah tahu buku macam apa yang sedang berada di hadapan Lavender, dia hanya berusaha mencari cara agar pertemuan keduanya dengan gadis itu tidak secanggung sebelumnya. Dan mungkin ini akan membuka kesempatan untuknya dan Lavender untuk menjadi lebih dekat. “Soal untuk ujian akhir nanti, dan beberapa tes psikotes untuk masuk perguruan tinggi.” Lavender kembali menolehkan pandangannya pada bukunya. Rasanya, melihat soal-soal sulit yang ada di hadapan dia, lebih baik dari pada harus bertatap muka terlalu lama dengan Elijah. Lelaki itu, entah kenapa ketampanannya selalu membuat dirinya mati kutu di teempat. “Ah, begitu.” Elijah mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, dia melirik Lavender—sepersekian detik dia terbius dengan wajah Lavender yang manis dan selalu tenang. “Tidak ke kantin?” tanya Elijah. Lavender menoleh padanya dan lagi-lagi tatapan mereka bertemu kembali. Oh sial. Harusnya Lavender jangan memberanikan diri untuk bertatapan dengan Elijah, karena hal itu tidak akan baik untuk jantungnya. “Ti-tidak,” jawab Lavender cukup gugup. “Kenapa? Kamu tidak lapar?” Lalu, tatapan Elijah jatuh pada kotak makan siang yang ada di sebelah Lavender. Lagi-lagi mereka harus memutar otak agar suasana canggung ini segera sirna ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD