Aku bangun oleh aroma gosong yang masuk dari celah pintu kamarku. Dan kesadaranku segera memaksaku berlari dapur. Aku mengumpat. Pagi yang dipenuhi u*****n dan aroma p****t panci terbakar. Aku hampir menabrak kulkas dalam perjalanan kilatku ke dapur. Asap hitam mengepul dari dari sebuah wajan–ya, kali ini adalah wajan dan bukannya panci. Nyala api kompor berwarna oranye kekuningan. Aku mematikan kompor dengan jantung yang terasa akan meloncat keluar. Ruangan itu telah begitu pekat oleh asap hitam. Tak selang lama, sayup-sayup kudengar teriakan Bimbim yang makin lama makin keras. Ia menuju ke dalam ruangan ini. Namun, di ambang pintu ia berhenti.
“Syukurlah, Sena. Huh!”
Bimbim mengatakannya dengan nada tenang, tanpa disisipi secuil perasaan bersalah dan menyesal. Ia lalu terbatuk-batuk seraya mengipas-ipas asap yang terjebak di dalam ruangan.
“Bimbim!” Aku memekik.
“Kamu berteriak padaku, Sena?”
Bagus sekali. Pantaskah ia mempertanyakan hal bodoh itu sekarang?
“Kau akan menghanguskan rumah kita untuk ketiga kalinya.”
Bimbim melangkah masuk. Ia berdiri di sisiku lalu membuka jendela dapur yang ada di atas meja kompor. Jendela itu memiliki dua pintu. Kacanya gelap dan dipasangi teralis cokelat yang dilapisi kerak minyak, cipratan bumbu, dan noda sambal.
“Aku tidak melakukannya.”
“Masih saja menyangkal,” sergahku.
Aku mendelik ke arah Bimbim. Ia membalas tatapanku yang penuh tuntutan dengan tatapan lugu yang tidak memuaskanku sama sekali . Kami saling beradu mata cukup lama–sampai asap hitam memudar dari dalam dapur.
“Ceroboh sekali. Sebaiknya kamu tidak usah bermain-main dengan kompor. Sudah berapa kali sih kukatakan padamu? Jangan ke dapur. Jangan dekat-dekat bahkan berani menghidupkan kompor setelah semua yang terjadi.”
“Aku tidak melakukannya!”
“Aku baru saja mengatakannya padamu dua hari lalu. Bagaimana bisa kamu melupakannya secepat itu? Tidak. Kurasa tidak begitu. Kamu sengaja mengabaikan saranku, bukan?”
Bimbim menggeleng.
Aku mengacau rambutku, menjambak-jambaknya. “Kamu, Bimbim! Yang baru saja kamu lakukan itu adalah perbuatan teledor yang akan membakar rumah kita dan bisa saja kamu, aku, dan Ayah juga akan ikut gosong. Apa kamu pikir api itu kawan mainmu?”
“Ayah yang melakukannya, Sena.”
Ayah masuk ke dapur. Ia berjalan mendekat ke arah kami. Setiba di depan kompor, ia melongok ke dalam wajan yang terpanggang. “Ayah akan membuat sarapan, menggoreng telur. Saat akan mengambil telur di dalam kulkas, seorang pembeli berteriak memanggilku dari halaman. Lalu Ayah bergegas menghampirinya, melayaninya. Dan Ayah sadar akan menghanguskan rumah ini setelah pembeli itu bertanya, kenapa Ayah membawa-bawa telur sedari tadi.”
Aku melenguh panjang. Tubuhku yang semula menegang kini mengendur dan kehilangan kekuatan. Aku bersandar pada meja kompor.
“Berhenti menyalahkannya.” Ayah memperhatikan Bimbim yang saat itu merunduk. Ada air mata yang bersiap-siap jatuh yang sepertinya ia tahan-tahan.
Aku terkekeh. “Jadi sekarang bertambah satu lagi seseorang yang akan membakar rumah ini.”
Tidak satupun dari mereka ikut tertawa bersamaku. Dan sebenarnya aku pun tidak sedang melucu. Itu hanya sebuah getir yang konyol. Ya, kira-kira begitu.
“Maaf sudah menuduhmu, Bimbim,” ujarku dengan lirih.
Bimbim bungkam. Ia masih merunduk, tidak mau menatapku dan Ayah. Mukanya memerah. Ia pasti sudah menangis. Masih dengan kebungkaman yang alot, ia meninggalkan ruangan–meninggalkan kami yang dibebani perasaan tak nyaman dan sedih.
Aku menatap ayah sebentar dan ia hanya meringis, muram. Mataku kemudian berganti melihat sebuah pemandangan yang dua bulan belakangan mengakrabi kehidupan kami sehari-hari: tumpukan piring dan printilan masak di wastafel yang rasa-rasanya tak akan habis walau dicuci dua hari dua malam. Melihatnya saja aku sudah lelah.
“Pukul berapa sekarang? Aku harus berangkat sekolah.”
“Tidak sarapan dulu?”
Aku melongo demi mendengar apa yang baru saja disampaikan ayahku. Ia baru saja menggosongkan wajannya dan bahkan prasangka burukku mengatakan bahwa nasi di magicom pun belum tanak sebab ayah lupa mencolokkan kabelnya.
“Hanya sebuah basa-basi, bukan?”
Ayah tertawa. Kering dan rapuh suaranya kedengaran olehku. “Ada roti dan jajanan di warung. Ambil saja beberapa untuk sarapan. Dan jangan lupa mencatatnya setelah itu supaya masuk hitungan bon harian.”
Aku menolak tawarannya. “Terlalu rumit. Aku sarapan di kantin sekolah saja.”
Aku kemudian meninggalkan dapur dan segala mimpi buruk yang ada di dalamnya.
Bimbim sedang menangis di kamarnya. Sayup-sayup kudengar ia meraung memanggil-manggil ibu. Tentu saja aku mesti menghiburnya–tapi tidak pagi ini. Atau aku juga akan memerlukan hiburan sebab mendapat hukuman terlambat datang ke sekolah. Aku mematung di depan pintu kamarnya. Tapi hanya sebentar. Raungan Bimbim menyayat-nyayat perasaanku yang belum sepenuhnya sembuh dari luka kehilangan wanita nomor satu kami. Sesaat setelah menata pikiranku yang semrawut, aku meneruskan langkahku masuk ke dalam kamarku dan lalu kembali keluar dengan sehelai handuk yang melilit pinggangku.
Pukul tujuh kurang sepuluh menit. Sial!
Semenjak Nawang Wulan hilang dari rumah ini, aku jadi lebih rajin mengumpat. Tidak ada lagi yang buru-buru meralat umpatanku dengan kalimat puja-puji kepada Tuhan semesta alam. Ayah yang telah beberapa kali mendengar makianku pun tidak ambil pusing sebab ia pun berperilaku sama denganku. Kepergian ibu seakan-akan menguliti borok kami satu demi satu.
Sampai aku selesai mandi dan telah bersiap-siap berangkat sekolah, raungan Bimbim masih juga terdengar. ku tahu, aku sudah bersikap buruk padanya. Tapi amukanku tadi rasa-rasanya sangat wajar mengingat ia sudah akan membakar rumah ini ketiga kali dengan dalih memasak telur dan mi instan–Bimbim, di dalam duka yang menghimpitnya pun menjadikan kepergian ibu sebagai sebuah bentuk kebebasan untuk melahap mi instan goreng kesukaannya, sepuas-puasnya hingga muntah. Sungguh, kasihan sekali aku padanya. Tapi aku tidak akan memperpanjang alur drama pagi ini hingga berlarut-larut macam opera sabun lokal. Biarkan saja, begitu yang benakku katakan dan aku mengiyakan. Ya, biarkan saja. Jika sudah lelah menangis ia akan berhenti dengan sendirinya.
Namun ternyata, aku hanya berpikir tentang Bimbim–sesaat setelah tiba di sekolah hingga jam pelajaran berganti hingga siang hingga akan kembali pulang. Semua ini membawa ingatanku kembali ke masa lalu saat aku masih duduk di bangku TK nol kecil. Saat aku membenci Bimbim yang tampak berbeda dengan kawan mainku di sekolah. Dan lalu aku menangis tergugu di dalam kelas saat pelajaran mewarnai sedang berlangsung–sebuah tangis yang didasari oleh rasa kasihan dan penyesalan yang memukulku bertubi-tubi. Aku menyayangi Bimbim, apapun yang terjadi.
Pulang sekolah, aku tidak menemukan Bimbim di mana pun. Ayah kutanya ini itu tetapi ia hanya menjawab pendek sekali dua kali dan selebihnya adalah gumaman-gumaman yang menjengkelkan. Matanya menatap lurus layar kalkulatornya yang menyala. Jarinya menari, menekan tuts.
“Ayah seharusnya lebih peduli!” ujarku sebelum meninggalkan toko kelontongnya.
Aku masih mengenakan seragam pramuka ketika menyisir kebun dan jalanan mencari-cari keberadaan kakakku. Beberapa orang yang kutemui kumintai petunjuk dan mereka mengarahkanku masuk ke kebun salak tak terawat milik salah satu tetangga kami. Matahari siang memanggang kepalaku. Nyamuk mendengung, berputar di sekitar telingaku. Lima dari mereka telah berhasil mencucukan mulutnya ke dalam pori-pori kulitku dan memberiku kenang-kenangan berupa bentol kemerahan nan gatal.
Aku memanggil-manggil kakaku akan tetapi tiada balasan dari ujung manapun kebun itu. Aku berjalan makin jauh ke selatan, dengan kehati-hatian yang agaknya mubadzdir sebab daun salak yang tumbuh memanjang dan amat rimbun telah memakan begitu banyak tempat. Selain menjadi santapan siang nyamuk betina, aku pun menjadi korban dari ujung daun salak yang tajam. Dan Bimbim belum juga kutemukan.
Apakah orang-orang itu membodohiku?
Aku menendang batu kecil yang begitu pasnya berada di ujung sepatuku. Pandanganku mengikuti arah loncatan batu itu yang menghilang di balik rumpun semak. Aku mencari-cari batu di sekitar tempatku berpijak agar ada sesuatu yang bisa kutendang lagi. Namun hanya ada bongkahan kelapa kering yang telah kisut dan berwarna cokelat keabu-abuan dan beberapa salak kematangan yang terjatuh dari tandannya. Buah salak itu kecil. Sama sekali tidak menggodaku untuk berpayah-payah mengupasnya.
Kebun itu suram. Dan seluas yang aku bisa lihat hanyalah pohon salak yang tumbuh berjejer rapat. Aku kemudian melihat arahku masuk ke kebun ini dan mengherankan juga bagiku telah berjalan merayap sejauh tempatku berdiri saat ini. Kembali kupanggil-panggil nama kakakku. Namun sahutan yang aku idamkan tidak juga datang.
Barangkali bukan di sini, pikirku. Sudah hampir sejam aku mondar-mandir di kebun ini, melongok rimbun semak yang difungsikan sebagai pagar, dan semua nyata sia-sia.
Ada banyak kebun salak di desa ini. Orang-orang itu cuma bilang kebun salak. Kakakmu masuk ke kebun salak. Hanya itu. Sebuah petunjuk yang sial-ups, maaf aku mengumpat lagi. Usiaku enam belas tahun. Di negeri yang menjunjung tata krama, semestinya aku menyimpan sendirian kata-kata itu di dalam hati. Dan alangkah bagus jika aku tak pernah punya pikiran untuk mengatakannya. Benar begitu, bukan?
Aku sangat lapar dan haus. Membayangkan selusin lagi kebun salak yang mesti kusisir membuatku makin lapar dan lemas.
Di mana sih kamu, Bimbim?
Langkahku terseok-seok saat keluar dari kebun itu menuju jalan setapak desa. Tampangku--oh, kumohon kalian tidak usah berkeinginan agar aku menjelaskannya. Ini benar-benar buruk. Aku pun tak sudi melihatku seperti ini. Terakhir kali keluar masuk kebun, saat usiaku sepuluh tahun. Dan itu hanya terjadi di musim hujan sebab jamur-jamur liar layak makan bermunculan dari balik dedaunan dan tanah dan rumput basah. Jujur, aku lebih baik main-main ke sawah, menerbangkan layangan daripada harus terjebak di dalam kebun salak yang tajam dan gelap. Astaga.
Aku berpapasan dengan sejumlah orang yang sempat kutanyai keberadaan Bimbim sebelumnya. Satu dua dari mereka bertanya apakah aku masih belum menemukan kakakku. Aku mengangguk. Lalu aku melanjutkan perjalanan dengan berbelok ke tikungan yang akan megantarku ke sawah.
Bisa saja. Bisa saja ia di sana. Tidak ada salahnya mencoba. Mengingat Bimbim juga gemar bermain ke sawah untuk mencari kakul dan menerbangkan layangan. Aku mempercepat langkahku dengan menahan perut yang keroncongan dan dahaga yang genting. Bau cairan pembasmi serangga menyergap pernapasanku. Di ujung selatan di sisi jalan yang kulalui, seorang petani sedang menyemprot pohon cabainya dengan cairan berbau sengak itu. Aku menghentikan langkahku sejenak, menyandarkan tubuhku pada batang pohon santan yang tumbuh di tepi jalan setapak. Seluas mataku memandang, di antara para petani yang merunduk mencabut gulma, di antara kawanan bangau yang mencari-cari makanan, tak juga aku temukan sosok tambun Bimbim. Barangkali aku mesti mencoba menyisir kebun salak lagi setelah ini.
Aku melenguh lalu kembali melanjutkan menyusuri jalan setapak yang dilapisi rumput teki yang panjangnya mencapai mata kakiku. Sepatuku kelihatan dekil dan celanaku ditempeli beberapa helai rumput kering. Ada sebersit penyesalan dalam benakku--seharusnya aku menyempatkan diri berganti pakaian. Besok Sabtu dan aku masih akan mengenakan seragam ini. Tak kuasa aku membayangkan aroma tubuhku keesokan hari dalam balutan kain yang sudah kebanjiran keringat siang ini.
Sial! Aku kembali mengumpat. Lalu mendadak terdengar suara gemerisik dari balik pagar kebun jeruk milik tetanggaku. Suara itu sekarang disertai dengan sebuah seruan yang memanggil namaku.
"Sena!"
Itu suara Bimbim.
"Bimbim! Aku mencarimu ke mana-mana tahu!"
"Aku di sini, Sena."
Aku memerhatikan tinggi pohon bunga sepatu yang rimbun yang mengelilingi kebun itu. Pagar pohon itu dililit oleh kawat berduri.
"Apa yang kamu lakukan di dalam sana? Di dalam kebun orang?" Mulutku gatal ingin menuduhnya mencuri buah jeruk, akan tetapi bayangan peristiwa tadi pagi kembali muncul dalam kepalaku. Aku tidak ingin Bimbim menangis lagi, maka aku menahan mulutku mengatakan itu. Sebab khawatir Bimbim akan marah dan malah enggan pulang ke rumah.
Bimbim tidak menyahut. Senyap sekali hingga kemudian aku melihat ia keluar dari pojok pagar. Ia setengah berlari padaku dan setelah berdiri mensejajariku ia bilang bahwa pagar itu sudah jebol, maka ia bebas keluar masuk kebun jeruk itu.
"Apa yang kamu lakukan di sana?"
"Kupikir Ibu di sana."
Seketika aku terdiam. Sebuah diam yang mengkerutkan perasaanku. Aku ingat sekarang. Jalan setapak ini adalah jalan yang juga mengantar warga ke pemakaman desa. Pada hari pemakan ibu, Bimbim memaksa ikut tapi orang-orang merasa perlu memeganginya, menghentikan langkahnya hanya sampai di sini. Kami--semua orang yang membohongi Bimbim dengan mengatakan bahwa ibu sedang berangkat haji berupaya meneruskan kebohongan dengan mencegah lelaki malang itu melihat wanita kesayangannya dimasukkan ke dalam bumi.
"Ah, mencari Ibu rupanya," sahutku, lirih.
"Di mana bisa kutemukan Ibu, Sena?"