Kesakitan

1553 Words
Jonathan meremas kertas yang di tulis Alea. Dia tidak akan percaya dengan apa yang tertulis. Perpisahan? pembatalan pernikahan? Jonathan tidak akan percaya itu. Tangannya langsung meraih benda pipih yang ada di dalam kantong celananya, menekan satu angka yang langsung menghubungkan panggilan kepada sosok penulis note tersebut. Alea. "angkat sayang" geram Jonathan. Demi apapun, Jonathan akan langsung menghukum Alea hingga perempuan itu tidak sanggup berdiri persetan dengan permintaan Alea yang meminta agar mereka melakukan hal lagi itu setelah menikah. Jonathan hanya ingin menghukum karena perbuatan yang telah perempuan itu lakukan. Alea tahu Jonathan paling membenci jika sebuah perpisahan di jadikan sebuah lelucon. Dan menulis note perpisahan adalah lelucon paling tidak lucu bagi Jonathan. Sama sekali. "s**t!" Jonathan langsung membanting ponselnya ke atas kasur. Berkali-kali dia mencoba, nomor Alea tetap tidak aktif. Hanya ada suara operator yang menyapanya. "ini tidak lucu honey" gigi Jonathan bergelatuk, menahan emosi. Mencoba menahan emosi, Jonathan memutuskan berjalan ke kamar mandi. Dia butuh mandi dan menyiram kepalanya yang tiba-tiba terasa panas karena ulah Alea. *** Alea terus menangis, berpisah dengan Jonathan benar-benar menyakitkan. "Lea, udah dong. Makan malam dulu ya" bujuk Mika lagi. Pasalnya, Alea sudah menangis hampir tiga puluh menit sejak mereka berada di lobi hotel. "gak laper Mik" serak Alea Mika menarik napas dalam dan mengembuskan perlahan. Dia harus sabar. Mungkin jika Alea dalam kondisi normal dia akan langsung memarahi sahabatnya itu karena menginggalkan makan. Mengabaikan Alea yang masih menangis, Mika segera meraih gagang telpon di kamar mereka. Menekan angka yang akan menyambungkan Mika dengan pelayanan kamar. "saya mau pesan makan malam untuk kamar 509. Sup ayam, nasi dan nasi goreng sosis. Jus mangga dan jus tomat" ucap Mika langsung tanpa berbasa-basi. "baik, saya ulangi ya bu. Sup ayam dan nasi, kemudian nasi goreng sosis lalu minumnya jus mangga dan tomat" "betul. segera ya" "baik" Mika langsung menutup panggilan tersebut. Selanjutnya berjalan menuju konter untuk membuat kopi dan s**u hamil untuk Alea yang sempat mereka beli di perjalanan menuju hotel. Ponsel Mika berdering, meninggalkan air panasnya, Mika meraih ponsel. "halo Jo" sapa Mika langsung. Alea yang mendengarnya langsung teridam, menghentikan isak tangisnya. Mika melirik Alea yang tengah menatapnya dari atas tempat tidur. "Alea dimana?" tanya Jonathan langsung "Alea? gak tahu Jo. Emang kenapa sama Alea?" tanya Mika balik, berpura-pura. Mika mendengar Jonathan menghela napas. "please Mik, gue butuh tahu dimana Alea" "Jo, gue bener gak tahu Alea dimana. Gue bahkan udah di Singapura lagi sebelum bisa ketemu sama dia" "jadi sekarang lo di Singapura? lo gak bohong kan Mik?" Mika tetap mencoba tenang, sedikit saja dia terdengar aneh, Jonathan dapat dengan mudah mengetahui kebohongannya. Dia benar-benar laki-laki sulit di tipu. "iya. Sore tadi gue brangkat dan itupun belum sempet ketemu sama Alea" "okedeh" "Jo, Alea baik-baik aja kan? gue langsung sibuk jadi belum sempet hubungi Alea. Dia oke kan Jo?" tanya Mika beruntun. "gue gak tahu dia dimana" "maksud lo?!" "gue tutup" Dan sambungan panggilan dengan Jonathan berhenti. Menghela napas, Mika meletakan ponselnya. Berdiri tegak dengan tangan terlipat di d**a dan menatap Alea yang sejak awal menucri dengar. "jangan nangis lagi Le. Ini keputusan lo dan ini yang terbaik buat lo" tegas Mika lalu berbalik. Kembali mengurus kopi dan s**u ibu hamil milik Alea. Bel kamar berbunyi, Mika segera berjalan menuju arah pintu. Membukanya, mempersilahkan orang-orang itu memasukan makan malam yang di pesannya. "ayo makan dulu Lea" Kini Mika memerintah. "Mik, gue-" "gak lapar. Iya, gue tahu lo gak lapar. Tapi sekarang lo makan bukan buat lo doang. Tapi anak lo! lo gak lapar, tapi anak lo?!" Bentak Mika langsung. Alea terkejut dengan bentakan Mika, tangannya bergerak otomatis mengusap perut ratanya. "sekarang lo makan ya" ulang Mika kini dengan suara lembut. Alea mengangguk lemah. Segera Mika membawa makanan yang di pesannya lebih dekat ke Alea. "gue pesenin sup ayam. Lo harus makan, lo harus selalu sehat supaya kandungan lo juga selalu dalam kondisi baik" Mika meletakan nampan berisi makanan Alea di atas kasur. Depan Alea. Mika diam, memastika suapan pertama masuk kedalam mulut Alea. "lo makan juga" suruh Alea dengan suara seraknya "setelah gue lihat nasi dan sup nya masuk ke mulut lo dan berakhir di perut lo" "ayo bareng" ajak Alea kemudian. Mika mengangguk, berjalan menghampiri satu posir nasi gorengnya untuk dia bawa, makan bersama Alea. "lo jangan makan ini, ini pedes" Alea mengangguk patuh, menyuapkan sendokan pertamanya. Nafsu makannya benar-benar hilang, tapi apa yang Mika ucapkan benar, ada anaknya yang harus penuh nutrisinya. "enak gak enak harus lo abisin" perintah Mika dengan tegas. Alea kembali mengangguk patuh. Demi anaknya, dia akan lakukan semuanya. *** "sial.sial.sial" entah makian ke berapa yang Jonathan keluarkan setelah mencoba menghubungi Alea. Mengetahui bahwa Mika tidak tahu keberadaan Alea, jantungnya semakin berdegup kencang dan ketakutan yang dia coba hilangkan muncul begitu saja. "sayang, kamu dimana" geram Jonatha sambil mencoba menghubungi Alea lagi. "fu*ck!" Jonathan melempar ponselnya dengan keras. Mengabaikan kondisi ponselnya di lantai, Jonathan berjalan menuju lemari. Setelah selesai mandi, dia memang langsung menghubungi Mika dan Alea lagi tanpa mengenakan pakaian terlebih dahulu. "b******k!!" Maki Jonatha dengan keras saat menyadari bahwa beberapa pakaian Alea tidak ada di lemari. Membuka pintu lemari lain, emosi Jonathan semakin membuncah. Koper Alea tidak ada di tempatnya. "arggghhh" teriak Jonathan dan menendang pintu lemari. Dengan cepat dia langsung merapihkan penampilannya. Memungut ponselnya yang tergeletak dan kunci mobilnya di atas nakas. Dia harus mencari Alea. Mengendarai mobil dengan cepat, Jonathan terus berusaha menghilangkan kemungkinan buruk yang akan dia hadapi. Dia tidak ingin. Benar-benar tidak ingin. Berpisah dengan Alea adalah hal yang paling tidak pernah Jonathan pikirkan. Alea-nya, harus selalu bersama dengan dia. Disampingnya. Dengan langkah lebar Jonathan memasuki rumahnya. Dia bahkan tidak repot-repot mematikan mesin mobilnya. "lho bang, kenapa?" tanya Angel langsung saat melihat wajah sang kakak yang terlihat tegang. "Alea mana?" "mba Alea? gak ada" jawab Angel langsung Jonathan memegang pundak Angel, cukup keras sampai membuat Angel meringis. "sakit bang" "Alea mana Ngel?!" tenya Jonathan lagi, tidak peduli dengan ringisan di wajah Angel "Angel gak tahu bang, mba Alea gak kesini" jawab Angel lagi "Jojo. Ada apa?!" Suara sang mama, Mia. Melepaskan tangan Jonathan dari Angel, membuat gadis yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas itu menghela napas lega. "Alea mana ma?" ulang Jonathan Mia mengerutkan keningnya, bingung "Alea gak ada disini Jo" "ma, please. Jangan bercanda" "mama gak bercanda. Alea memang gak ada disini" ulang Mia. Jonathan langsung meninggalkan Mia dan Angel. Berjalan cepat menuju kamarnya di lantai dua. Berharap Alea ada disana. "udah mama bilang, Alea gak ada di rumah, dia gak kesini" suara Mia kembali terdengar saat Jonathan tidak menemukan sosok Alea dikamarnya. Jonathan terduduk di kasur, tangannya dengan keras menarik rambutnya. Mencoba mengusir kemungkinan-kemungkinan yang tidak dia inginkan. "Jo, ada apa? Alea kenapa?" Dengan lembut Mia mengusap punggung Jonathan. "gak tahu ma" "cerita sama mama" pinta Mia dengan lembut "abang bahkan gak tahu harus cerita dari mana" "kamu berantem sama Lea?" Jonathan menggeleng "engga. Kami baik-baik saja dan bertengkar" "lalu?" Jonathan menghela napas kasar. "Lea gak ada. Dia gak ada di mana-mana, di rumah, di tempat Mika bahkan disini. Dia gak ada ma" "dia gak pernah bilang ke kamu ingin pergi ke suatu tempat?" lagi, Jonathan menggeleng lemah. "dia tinggalin Jo sebuah note, dia minta pisah, dia minta pernikahan kita batal. Lea bercanda kan Ma? dia bercanda kan? jawab Ma, Lea bercadain Jo kan?" Mia langsung merengkuh Jonathan, mendekapnya dengan lembut. Jonathan ketakutan, terlihat jelas di matanya. Takut kehilangan sosok yang selama ini menjadi separuh jiwanya. Sosok yang Mia sukai karena telah merubah anak laki-laki menjadi lebih hangat setelah terpuruk cukup lama. Sosok yang sangat di percaya oleh anak laki-lakinya untuk menumpahkan apa yang ada dalam pikirnanya dan hatinya. Sosok yang beberapa tahun lalu datang dengan wajah gugup tapi tetap berusaha tersenyum hangat. "ma" Mia mengusap belakang kepala Jonathan lembut, mencoba menenangkan. "iya, Alea bercanda" "iya ma, Jo yakin kalau Alea memang bercanda. Dia cuma mau aksih kejutan aja ke Jo. Iya kan ma? Jo gak mungkin pisah sama Alea kan ma dan Alea gak mungkin ninggalin Jo begitu aja" nada suara Jonathan semakin terdengar putus asa. Rasa takut yang dia coba buang malah semakin menggelayuti benaknya. Kemungkinan terburuk terus berputar mengelilinginya. "iya sayang, mama yakin kalau Alea gak mungkin tinggalin kamu. Alea pasti kembali dan sama seperti yang kamu bilang, apa yang di tulis Alea cuma bercanda. Mama tahu kalau Alea cinta sama kamu, jadi gak mungkin dia tinggalin kamu" "Jonathan juga cinta Alea ma, sangat." "Alea juga, mama tahu itu" "Jonathan gak mau Alea pergi" "Alea tidak akan pergi sayang" Mia melepas pelukan dengan Jonathan. Mengusap pipi anaknya dengan lembut. "kamu percaya Alea?" Jonathan mengangguk. "mama juga percaya. Percaya kalau Alea gak akan tinggalin kamu. Sama seperti Alea yang menjadi separuh jiwa kamu. Kamu juga menjadi separuh jiwa Alea. Sekarang, kamu istirahat, kalau besok Alea belum kembali, kita cari dia lagi, kita marahin dia karena udah bercanda gak lucu" goda Mia. Jonathan tersenyum singkat. Dia tidak mau menunggu Alea pulang, dia akan terus mencari Alea. Sosok yang memberikan banyak perubahan di hidupnya. Jika dia tidak bertemu Alea, mungkin hubungannya dengan sang mama tidak akan seperti ini, lebih terbuka. Alea merubahnya, merubah menjadi lebih baik bagi keluarganya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD