Persembunyiaan

1733 Words
"sialan!" teriak Jonathan sambil melepar bingkai dirinya dengan Alea. Pigura terakhir yang dia temukan sejak dia tidak bisa menemukan keberadaan Alea dan menghancurkan setiap kenangan yang di milikinya. Satu tahun berlalu, tidak ada Alea dan tidak ada pernikahan. Hanya ada rasa perih. Rasa takut kehilangan itu kini telah berganti dengan rasa kecewa yang mendalam. Alea ternyata tidak bercanda, dia benar-benar pergi meninggalkan Jonathan. Tanpa penjelasan dan tanpa kata maaf. Jonathan kecewa. Sangat! "abang!" teriak Angel saat memasuki kamarnya dan melihat apa yang dilakukan sang kakak. "kenapa kamu simpan photo itu Ngel? abang bilang hancurkan!" bentak Jonathan. "engga. Angel mau simpan itu" "buat apa Ngel? setelah dia hancurkan hidup abang kamu sendiri?!" Jonathan mencengkram bahu Angel "Angel percaya Mba Lea. Angel percaya kalau Mba Lea pergi karena ada alasannya" "iya. Lea pergi memang ada alasannya. Dan alasan dia adalah meninggalkan abang, mengecewakan abang" Angel menggeleng "Angel percaya sama Mba Lea" "dan kamu pikir abang bukan orang yang percaya sama Lea? Lea orang yang paling abang percayai bahkan mengalahkan mama sama papa. Tapi kamu lihat sekarang. Lea mengkhianati abang!" Teriak Jonathan "mba Lea pasti punya alasan bang!" "dan alasan dia adalah menghancurkan abang!" Angel menggeleng, tidak setuju dengan ucapan Jonathan. Dia percaya Alea, sekalipun satu rumah ini sudah membencinya karena Alea benar-benar pergi tanpa sebuah penjelasan. Dia akan tetap berdiri di saping Alea jika sosok itu tiba-tiba muncul. Menerima semua alasan yang di berikan Alea tanpa penolakan, karena Angel tahu, Alea juga sangat mencintai kakaknya seperti kakaknya mencintai Alea. Angel juga yakin, Alea pergi karena suatu hal yang tidak bisa di jelaskan, bukan karena tidak ingin menjelaskan, hanya tidak bisa.  Alea tidak mungkin sengaja menghancurkan kakaknya di saat perempuan itu menjadi sosok penyelamat kakaknya dari keterpurukan di masa lalu karena sahabat terbaiknya pergi meninggalkan dirinya terlebih dahulu menghadap Tuhan. Alea membuat Jonathan perlahan kembali hangat, mau bergabung dengan obrolan ringan dan lebih peduli kepadanya.  "abang mohon sama kamu, tolong hilangkan semua hal mengenai dirinya. Abang gak mau lihat, cukup ingatan dia yang gak bisa hilang dari pikiran abang, itupun sangat menyiksa" Angel mengangguk lemah, terpaksa. Tapi ucapan Jonathan tidak akan Alea lakukan. Dia akan tetap menyimpan hal mengenai Alea di tempat lain. Tempat yang Angel yakin tidak akan terlihat oleh kakaknya. "oh iya, abang ke kamar Angel mau apa?" tanya Angel mencoba merubah suasana "abang mau ambil dokumen yang semalam di titip ke tas kamu. Abang perlu itu sekarang" Angel mengangguk, berjalan menuju lemari untuk mengambil tas yang semalam dia pakai saat kakaknya itu mengajak makan malam. "ini bang" Angel menyodorkan map coklat yang di maksud Jonathan "thank you" Jonathan mengusap kepala Angel lembut lalu pergi. Menghela napas setelah kakanya pergi, Angel langsung berjongkok, memungut poto Alea ditengah kepingan kaca "aku tahu Mba Lea adalah orang baik, sekalipun bang Jo sekarang benci Mba Lea, aku akan tetap percaya mba Lea" *** "Halo Mik, kenapa?" tanya Alea langsung saat menerima panggilan Mika. Ponselnya langsung di kepit dengan pundak, sedangkan kedua tangannya bergerak cepat membuka popok Agam yang sudha penuh. Bayi mungil yang lahir beberapa bulan lalu. Anaknya, buah hatinya, kebahagiannya. Agam Mahesa. Bayi mungil yang dulu dia perjuangkan dan hingga kini dia jaga.  Alea bersumpah, sepanjang hidupnya dia akan menjadi pelindung untuk Agam, berperan sebagai ibu yang melimpahkan cinta di setiap hela napasnya. Meskipun tanpa Jonathan di sampingnya, Alea akan membesarkan Agam menjadi sosok yang hebat. "gak ada deh Mik" "bener nih? mumpung gue lagi di mini market, lima belas menit lagi baru nyampe rumah lo" "iya Mik, gak ada. Lo cepet aja kesini, ganti popok Agam" canda Alea.  Mika itu sudah sangat ahli mengurus Agam, bagaimanapun, sahabatnya itu selalu ada saat Agam masih di kandungan hingga saat ini. Tapi satu kekurangan Mika, dia masih belum sanggup mengganti popok Agam. Terlalu banyak alasan yang di lontarkan, hingga Alea bingung alasan pastinya. "gak! lo aja" Alea tertawa, membayangkan wajah Mika yang cemberut "udah cepet, gak usah mampir-mampir. Keburu sore Mik" "iya Lea. Segera meluncur. Tapi bener ya, gak ada yang mau lo titip?" "gak ada Mikaaa" "okedeh, gue tutup" "oke" Sambungan telpon di tutup. Alea meletakan ponselnya di nakas dan kembali fokus kepada Agam. Bicara mengenai Mika, Alea sangat bersyukur memiliki sosok itu di dalam hidupnya. Mika dan keluarganya benar-benar sangat membantu Alea dan melindungi Alea. Satu tahun lalu, Alea pindah ke desa terpencil di daerah Bogor.  Desa yang berada di tempat tinggi dengan jalan berkelok seolah mengelilingi gunung dan jauh dari pusat kota. Desa yang di pilih oleh Papanya Mika untuk tempat Alea bersembunyi dan memulai hidup baru. Orang-orang disana akan ramai turun ke kecamatan yang ramai untuk membeli kebutuhan atau melakukan kegiatan penting lainnya di siang hari dan segera pulang sebelum sore. Karena jika terlalu pagi dan sore menjelang malam, kawasan tersebut masih rawan p********n. Pohon-pohon besar yang menghimpit jalan menjadi lahan empuk para 'bajing loncat' untuk melakukan aksinya. Bahkan ketika teriak kencangpun akan sulit mendapat bantuan karena tidak akan ada yang mendengar. Kecuali memang takdirnya. Papa Mika sendiri mengetahui desa yang menjadi tempat tinggal Alea adari salah satu karyawannya yang setiap bulannya di titipi uang sumbangan oleh keluarga Mika.  "dek, kenapa sih kamu cetakan papa banget" gemas Alea pada Agam yang sudah ada di gendongannya, bersiap di berikan Asi. "mentang-mentang pas hamil mama keinget papa terus ya dek"  Alea membuka kancing depan pakaiannya, menempelkan mulut Agam di dadanya.  "kenceng banget sih dek, kamu haus atau doyan" Tangan Alea mengusap lembut pipi Agam. Senyum lebar tertarik di bibirnya. "Kalau ada papa, mungkin sekarang papa lagi sombong ke mama karena kamu mirip banget sama dia" Mata Alea berkaca, bohong kalau dia bilang sudah melupakan Jonathan. Bagaimanapun, laki-laki itu adalah satu-satunya orang yang memiliki hatinya, hingga saat ini dan selamanya. Karena Alea tidak berniat mencari sosok lain.  Hamil tanpa seorang suami benar-benar sulit. Setiap hal yang dilalui oleh Alea, selalu ada harapan agar Jonathan ikut menemaninya. Meskipun memang cuma harapan yang tidak pernah terkabul. Suara klakson mobil Mika terdengar. Alea segera menarik kain menyusui, melampirkan di dadanya, menutupi kancingnya yang terbuka. "iya Mik" sahut Alea saat Mika mengetuk pintu rumahnya "LE-" teriak Mika langsung terpotong karena melihat Alea yang membukakan pintunya smabil menggendong Agam "dia tidur?" bisik Mika "engga, bangun ko" Mika mengangguk, masuk kedalam meskipun tidak di persilahkan, toh ini juga rumah milik nya yang dibelikan oleh sang ayah untuk tempat tinggal Alea. Alea kembali menutup pintu dan menguncinya. "banyak banget barang bawaan lo" ucap Alea melihat beberapa kantong yang bergantung di tangan Mika.  "dari mama, Lea. Papa juga beliin mainan buat Agam" "ya ampun Mik, selalu deh kalau kesini. Lagian Agam belum bisa main Mik" "nah itu, gue aja sama mama ketawa pas papa beli mainan. Tapi maklum aja, cucu pertama" Alea menggelengkan kepala sambil tersenyum. Agam memang sudah di anggap cucu oleh keluarga Mika. Karena Alea sendiri mereka anggap sebagai anak. Sebaik itulah keluarga Mika kepadanya. "mama tadi masakin pepes ayam nih, beres Agam, kita langsung makan. Gue laper" Alea mengikuti langkah Mika menuju dapur, merapihkan barang bawaannya. "lo belum makan Mik?" "udah sih, tadi di jalan gue mampir makan, tapi sekarang laper lagi" "oke, bentar. Agam kayanya ngantuk" "iya, gue juga sambil beresin ini dulu. Keperluan lo masih ada semua Le?" "masih kok, popok Aga juga masih banyak banget" "tapi nanti kita beli lagi aja ya, mumpung ada gue. Apalagi minggu depan gue gak bisa kesini. Cafe yang di Singapura udah mau di buka" "boleh. Terus lo lama disana?" "sekitar dua minggu Le. Lo sendiri gimana? di desa lo ambil cuti kan?"  Alea mengangguk, saat pindah ke Bogor, Alea memang bekerja di kantor desa untuk mengisi waktu luangnya dan menghemat uang sakunya. Itupun atas bantuan papanya Mika. Sebenarnya selama hamil, Alea tidak kekurangan finansial, karena dia sempat menjual tanah warisan dari ayahnya. Tapi meskipun begitu, Alea tidak boleh boros, uang itu dia simpan untuk tabungan Agam. Alea juga tidak mungkin selamanya akan tinggal di desa ini. Mungkin setelah Agam tumbuh besar dan  dengan beberapa pertimbangan lain, Alea akan pindah. Entah pindah untuk tinggal bersama keluarga Mika lagi-yang sudah dua bulan ini merayunya. Atau bahkan pindah ke Singapura, sambil membantu cafe milik Mika. Entah, Alea belum memutuskan. Setelah bibir Agam tidak lagi menempel, Alea langsung membawa buah hatinya itu kedalam kamar, menidurkannya di tengah kasur dan menghimpitnya dengan bantal-bantal. Kembali ke dapur, Alea ikut membantu merapihkan barang bawaan Mika. Cukup banyak dan selalu banyak. Mengingat rumah Alea jauh ke pusat kota dan benar-benar diatas gunung, maka setiap Mika datang, dia akan membawa banyak bawaan untuk keperluan Agam dan dirinya.  "kemarin gue ketemu Angel" Ucapan Mika langsung membuat tangan Alea yang sedang memindahkan lauk yang dibawa kedalam piring berhenti. "dan lagi, dia nanyain lo" lanjut Mika Alea menghela napasnya. Menatap Mika yang juga melihat kepadanya. Mika meninggalkan sisa barang yang belum di rapihkan, menarik kursi makan untuk dia duduki. "satu-satunya orang yang gue tahu gak membenci lo sampai hari ini adalah Angel" "dan gue harap lo gak luluh kemudian membocorkan keberadaan gue" "gak! meskipun Angel mohon-mohon sama gue" Alea mengangguk. Apa yang dia lakukan hingga berada di tempat ini karena ulah nenek Maya, andai orang itu tidak mencoba membunuh anaknya. Mungkin dirinya kini sudah menjadi istri Jonathan. Tapi bagaimana lagi, seribu kali Alea memikirkan itu, semua sudah terjadi. "selama lo gak kasih tahu dia, semua akan tetap seperti ini Mik, normal" "lo pikir hidup lo normal Lea?" Alea mengangguk "hidup lo gak normal Lea!" "maksud lo?" "hidup lo normal kalau sekarang ini lo berstatus sebagai seorang istri Jonathan dengan Agam yang ada di tengah-tengah lo dan dia, bukan malah sembunyi begini" "terus lo mau Jonathan tahu keberadaan gue dan Maya, perempuan jahat itu mencelakai anak gue?!" "Jonathan bisa lindungi lo!" "gak! dia gak bisa lindungi Agam. Gak 24 jam gue sama dia. Dan di waktu itu Maya bisa kapan aja celakain gue dan anak gue" Mika menghela napas kasar. Kedua sisinya terkadang selalu bertengkar, meminta Alea tatap bersembunyi dan satu sisi meminta Alea untuk jujur kepada Jonathan. Enathlah. Mungkin Mika memang manusia paling labil saat ini. "dan seperti apa yang lo denger dari Angel sebelumnya, Jonathan udah benci gue. Kecewa sama gue, bukan hanya dia, mama dan papa juga. Gue gak tahu apa yang Maya bilang ke anak dan cucunya, tapi gue yakin, apa yang di bilang Maya bisa membuat Jonathan dan yang lain gak akan nerima gue lagi." "jadi selamanya lo bakal tetap sembunyiin ini?" "setidaknya sampai nenek jahat itu meninggal" Mika langsung melempar Alea dengan tissue. "ngaco lo!" Alea tersenyum dan mengangkat bahunya "itulah doa jahat gue Mik. Gue ingin Agam ketemu ayahnya, dan gue berdoa agar perempuan jahat itu meninggal. Karena mendoakan agar dia sadar, itu sebuah ketidak mungkinan" Mika mengangguk setuju "betul, sekalipun jahatnya sudah mendarah daging. Lagipula, kenapa orang jahat selalu panjang umur? hanya menumpuk dosa" "ya kalau urusan dosa, itu Tuhan yang tahu, tapi kalau urusan nenek Maya yang jahat, kita juga tahu." "dan semoga lo juga Agam gak pernah ketemu dia lagi" "perlu gue amin-kan?" Lagi, Mika melempar Alea, kini dengan sendok. "gue doa yang baik ya! jelas lo harus amin-kan!" "oke. Aamiin" goda Alea.  "Lea!!!!"  Tentu saja, dalam hati dia selalu mengucap Aamiin atas semua doa baik untuk dirinya dan Agam. Bagaimanapun, Dia ingin yang terbaik untuk Agam, untuk kebahagiaan Agam.      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD