"Maaf Om, saya tidak sengaja." Ujar anak kecil itu dengan puppy eyesnya. Wajah Khalif sudah memerah karena kesal dan siap untuk mengeluarkan rutukannya tapi melihat anak itu dia mengurungkan niatnya.
"Lain kali hati-hati. dimana orangtuamu?" tanya Khalif dengan nada lembutnya. Padahal Ryan yang berada disampingnya sudah ketar ketir kalau Khalif lepas kendali dan murka pada anak kecil itu.
"Mama. Dimana mama? Tadi dia dibelakangku." Ucap anak kecil itu sembari menatap ke sekelilingnya untuk mengetahui keberadaan Mamanya itu. Anak lelaki itu mulai panik setelah menyadari bahwa dia terpisah dari Mamanya.
Matanya sudah berkaca-kaca. Dia terus menggumamkan kata 'mama'. Keduanya pun ikut panik dan kasihan terhadap lelaki yang usianya kisaran empat atau lima tahunan.
Khalif berlutut, berusaha menyejajarkan dirinya dengan anak lelaki itu. dia tahu betapa paniknya anak lelaki itu saat ini. "Hey, jangan menangis. aku akan membantumu mencari Mamamu. Mari ikut aku." Ujar Khalif dengan nada lembutnya.
Ryan merasa tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya. Ini kali pertama dia mendengar suara lembut Khalif. telinganya masih asing dengan suara tersebut. biasanya dia hanya mendengar teriakan dan u*****n. Dia benar-benar beruntung bisa mendengar kalimat yang lembut keluar dari mulut atasannya itu.
Khalif menggendong anak kecil tersebut lalu berjalan kearah meja informasi. Disana tentu saja orangtuanya pasti akan datang menjemputnya. Jika harus berkeliling mall dan mencarinya pasti membutuhkan waktu yang lama.
"Nama kamu siapa?" tanya Khalif kembali dengan nada ramahnya.
"Namaku Kalandra Danesha." Ujar anak lelaki itu dengan nada menggemaskan.
" nama yang bagus. Cocok untuk kamu yang sangat pemberani. Lain kali jika kamu pergi di tempat seperti ini, pastikan tidak berlari-larian ya agar tidak terpisah dari orangtuamu." Pesan Khalif pada anak tersebut. anak itupun mengangguk mengerti.
"Lalu, apakah kamu tahu nama orangtuamu? Siapa nama papa dan mamamu?" tanya nya lagi. karena untuk mengumumkan membutuhkan hal tersebut agar orangtuanya mudah untuk mencari.
"Mamaku namanya Namira. Tapi Papa, aku tidak tahu." Ujar anak lelaki itu dengan polosnya.
Mendengar nama tersebut Khalif berhenti sejenak. Dia menatap anak itu lama. "Namira? Apa kamu tahu nama panjangnya?" tanya Khalif dengan raut wajah penuh harap.
"Namira Aisa." Ujarnya sembari berusaha mengingat-ingat. Anak itu juga kurang yakin dengan apa yang baru saja ia sebutkan.
"Kamu yakin itu namanya?" tanyanya lagi seperti mendesaknya. Anak lelaki itu hanya mengangguk pelan.
"Lalu siapa Papamu. Kenapa kamu tidak tahu?" cecar Khalif membuat anak kecil itu mulai ketakutan sebab Khalif menatapnya dengan intens.
"Lif, sudahlah. Itu tak mungkin dia. kita harus bergegas pergi. Kita masih ada rapat di kantor cabang." Peringat Ryan pada atasannya itu. tapi dia tak menghiraukannya.
"Hey, maafkan aku karena membuatmu takut. Tapi bolehkah Om tahu dimana Papamu?" tanya Khalif masih berusaha mencari tahu.
Entah kenapa sejak menatap mata anak kecil itu dia merasa ada hal yang membuat hatinya menghangat. Dia seperti terikat dengannya. ada hal berbeda yang ia rasakan saat melihat wajah anak lelaki itu.
"Aku tidak tahu. Mama bilang Papa berada di tempat yang jauh, tapi dia akan datang. Mama juga bilang kalau Papaku adalah orang yang sangat baik." Ujar anak kecil itu dengan kedua matanya yang berbinar ketika menceritakan tentang papanya.
"Baiklah nak. Sebentar ya, Mamamu akan segera datang." Ujar Khalif yang dijawab anggukan oleh Kalandra.
Khalif segera memberitahukan kepada bagian informasi dengan menyebutkan apa yang dia dengar dari Kalandra. Dia meminta bantuan agar dia menginformasikan pada para pengunjung yang kehilangan anaknya.
"Lif, udah kita tinggalin aja disini. nanti juga orangtuanya dateng." Ujar Ryan tak sabaran.
"Gak, aku akan menunggunya. Aku akan memastikan bahwa dia benar-benar Namira atau bukan." Ujarnya bersikeras.
"Tapi ini udah telat Khalif. mereka nunggu kita loh." Ujarnya lagi memohon.
"Undur satu jam." Perintahnya yang tak terbantahkan. Mau bagaimana lagi, Ryan hanya bisa menurutinya.
Mereka menunggu orangtua yang akan menjemput Kalandra. Lima menit, sepuluh menit, tak ada yang datang. Namun di menit berikutnya, seorang perempuan datang menghampirinya. Kalandra juga langsung berdiri dan memeluk perempuan tersebut.
Raut wajah Khalif berubah kecewa. Ternyata dia bukanlah Namira yang dia cari. Tapi kenapa tadi dia sangat percaya bahwa anak itu memiliki hubungan dengan istrinya yang telah menghilang selama lima tahun lamanya. Harapan itu kini hilang seketika.
"Tante, Mama mana?" Khalif tertegun mendengar Kalandra mengucapkan hal itu.
Ketika mendengar dia menyebut perempuan itu 'tante' berarti perempuan itu bukanlah Mamanya. Dia masih memiliki harapan. Yang membuat Khalif semakin kebingungan, perempuan itu langsung menutup mulut Kalandra dan memintanya untuk diam sejenak. Gelagatnya juga aneh ketika melihat Khalif.
"Terimakasih sudah mengantarkan Kalandra kesini." ucap perempuan itu pada Khalif lalu buru-buru pergi dari sana tanpa menunggu jawaban dari Khalif.
Lelaki itu hendak melangkahkan kakinya mengejar perempuan itu namun Ryan menahannya. Dia sudah tak tahan melihat temannya seperti hilang akal ketika mendengar nama perempuan itu. dia sampai melupakan pekerjaannya gara-gara perempuan itu.
"C'mon Khalif. dia bukanlah Namira yang kamu cari. Dan anak kecil itu gak ada hubungannya sama sekali dengan dia. lebih baik kita kembali ke hotel." Ujar Ryan pada atasannya itu.
Dia sebenarnya juga kasihan kalau Khalif terus-terusan berharap terhadap sesuatu yang tidak pasti. Apalagi ini adalah kejadian masa lampau. Tapi lelaki itu tak bisa melupakannya sedikitpun.
"Gue yakin ada sesuatu tentang anak itu." ujarnya dengan penuh keyakinan.
"Lif, percayalah. Jika Namira memang jodohmu dia pasti akan kembali kepadamu sesulit apapun jalannya. Gue tahu lo sekarang lagi desparate banget buat cari istri lo, tapi gak gini caranya." Nasihat Ryan pada sepupunya itu membuat Khalif tersadar. Dia mengangguk mengerti lalu mengurungkan niatnya untuk membuntuti perempuan tersebut.
***