"Alhamdulillah nak, akhirnya kamu ketemu. Mama khawatir banget sayang. Lain kali kalau pergi tungguin mama dulu ya Kal. Mama takut kehilangan kamu sayang." Ujar seorang perempuan sembari memeluk putranya itu erat.
"Maaf Mama. Kal tidak akan mengulanginya lagi. Kal tidak akan membuat mama sedih lagi." ujar Kalandra dengan wajah polosnya.
"Iya sayang, Mama sudah memaafkanmu. Asalkan kamu janji tidak akan mengulanginya lagi ya? jika pergi harus izin mama atau tante dulu ya? " Ujarnya sembari mengusap lembut puncak kepala Kalandra.
"Iya Mama, Kal janji." Ujarnya sembari menautkan jari kelingkingnya dengan sang Mama.
"Good boy!" ucap Namira sembari mengusap puncak kepala putranya itu.
"Makasih ya Shan udah bantuin aku." ucap perempuan itu dengan nada yang tulus.
"Santai Kak, tapi tadi kayaknya lelaki itu tahu deh kalau aku bukan mamanya Kal. Soalnya tadi Kal panggil aku tante dan lelaki itu seakan terkejut mendengarnya." jelasnya membuat perempuan itu mengangguk pelan.
Ya, dia adalah Namira. Perempuan yang selama ini dicari oleh Khalif. entah kebetulan atau takdir dia bisa bertemu lagi dengan lelaki yang sudah lama ia tinggalkan itu. Namira masih tak menyangka dia bisa melihatnya lagi setelah sekian lama berpisah.
Sebenarnya dia baru akhir-akhir ini berani keluar ke tempat umum seperti mall,supermarket atau tempat wisata. Dia selalu membatasi dirinya agar tidak berada dikeramaian, karena inilah yang dia takutkan. Dia takut jika suatu saat bisa saja bertemu dengan lelaki itu lagi. walaupun mereka sudah berada di kota yang berbeda namun tetap saja kemungkinan itu masih akan terjadi.
Benar saja, hal itu terjadi hari ini. dia hanya ingin mengajak putranya itu berjalan-jalan karena kasihan dia sudah suntuk di rumah. anaknya itu juga sedang aktif-aktifnya jadi dia takut jika hanya berdiam diri di rumah akan membuat anak itu stress.
Akhirnya dia keluar bersama dengan sepupunya, Shania namanya. Kebetulan dia sedang menunggu panggilan bekerja, jadi dia memiliki waktu senggang untuk bermain bersama dengan keponakannya itu.
Awalnya mereka tadi sedang melihat kosmetik, Kalandra yang memang sedang aktif-aktifnya itu berlarian tanpa henti. Namira mengira putranya bersama dengan Ishan, namun Ishan juga mengira bahwa keponakannya itu sudah bersama dengan Kakak sepupunya. Jadi mereka sama-sama lengah. Alhasil mereka kelabakan mencari Kalandra yang sudah hilang entah kemana.
Mereka sudah panik dan mulai berpencar untuk mencarinya. Untung saja tak lama dia mendengar sebuah informasi mengenai putranya. Dia bisa bernapas lega. Merekapun sama-sama berlari menuju pos keamanan untuk menjemput putranya.
Namira sebetulnya sudah sampai disana, dia melihat dari kejauhan putranya baik-baik saja. putranya sedang duduk dipangku oleh lelaki yang sudah lama tak ia temui. Lelaki yang dulu ia cintai, bahkan sampai sekarang pun mungkin rasa itu masih ada. Dia berhenti sejenak. Dia tak boleh gegabah. Dia tak ingin lelaki itu mengetahui keberadaannya.
Untung saja Shania segera tiba. Dia langsung memintanya untuk mengambil Kalandra. Dia khawatir putranya akan ketakutan jika terlalu lama disana.
"Kal, tadi sama Om yang nolongin kamu ditanya apa saja? Kal masih ingat tidak?" tanya Namira pada sang putra dengan nada lembutnya.
"Dia tanya namaku, nama Mama dan juga papa. Om itu juga bertanya tentang papa. tapi aku sudah menjawab seperti apa yang telah mama ajarkan pada Kal." Jawabnya dengan sangat akurat.
Anak lelaki itu memang pandai. Dia sudah pandai berbicara dan menemukan banyak kosakata baru. Pelafalan bahasanya juga sangat bagus dan rapi. Itu semua berkat didikan Namira sejak dini. Dia selalu mengajak Kalandra berkomunikasi bahkan sejak dalam kandungan.
"Lalu Om itu bagaimana?" tanya Namira lagi.
"Awalnya aku takut Ma, karena Om itu terus bertanya padaku tentang papa. tapi dia sudah meminta maaf, jadi Kal maafkan." Ujarnya lagi dengan jujur.
Namira tertegun sejenak. Dia takut jika Khalif menaruh curiga padanya. dia khawatir jika lambat laun dia akan menemukan dirinya.
"Tidak papa Kal. Kamu sudah hebat kok. untung saja Kal ingat nama Mama. Tapi tadi kamu salah kan menyebut nama panjang mama." Godanya pada sang putra.
Anak lelaki itu hanya tersenyum sembari menampakkan giginya yang rapi. "Nama panjang Mama susah diingat. Aku hanya mengucapkan sebisaku." Ujarnya sembari tertawa kecil.
Tapi hal itu sebenarnya bisa menjadi keuntungan bagi Namira. Dia berharap Khalif tidak curiga lagi karena dia berpikir bahwa dia bukanlah Namira yang sedang ia cari.
"Coba Kal sebutkan nama mama lagi, Namira Aneisha." Shania berusaha mengajarkan keponakannya itu menyebutkan nama Namira dengan benar.
"Namira Aisa." Ucap Kalandra sebisa mungkin. keduanya pun tertawa mendengarkan Kalandra kesusahan mengucapkannya.
Sesampainya di rumah, Namira menidurkan Kalandra di kamarnya. Putranya itu tertidur selama di perjalanan. Dia pasti kelelahan setelah bermain seharian.
Namira, duduk di tepi ranjang sembari mengingat kejadian tadi. dia masih ingat betul raut wajah itu. dia masih ingat betul bagaimana Khalif mengkhawatirkannya. Dia kasihan melihat lelaki itu. bahkan dia juga mengasihani dirinya sendiri. dia benar-benar merindukannya.
Tak terasa air mata Namira jatuh, kenangan itu seakan berputar dipikirannya. Dia tak tahu lagi harus bagaimana. Semuanya telah terjadi. Dia tak bisa mengubahnya lagi. lelaki itu pasti akan sangat membencinya. Dia tak akan pernah memaafkannya karena meninggalkan dirinya begitu saja.
"Maaf Mas, ini demi kebaikan anak kita." gumamnya sembari mengusap air matanya.
Namira menatap Kalandra sembari mengusap lembut kepalanya. Dia teringat betapa susah dan sedihnya dia menanggung semuanya sendiri selama lima tahun ini. Ketika dia pergi meninggalkan Khalif, ternyata dia sedang mengandung. dia baru mengetahuinya ketika usia kandungannya sudah memasuki usia lima minggu.
Dia harus merawat ibunya yang sakit sembari menjaga kandungannya juga yang sedang parah-parahnya. Dia mengalami morning sickness, moodnya berantakan, dia selalu menangis setiap saat. Perasaannya kacau balau. Untung saja, Shania dan keluarganya mau membantu dirinya.
Namira pindah di rumah mereka. dia tinggal bersama Shania dan juga Ibunya. Karena memang Shania hanya memiliki ibunya saja. Ayahnya sudah meninggal sejak ia lahir. mereka membantu Namira dengan segala kebutuhannya.
Sampai Kalandra lahir dan tumbuh menjadi anak yang pintar seperti sekarang ini. semua itu berkat bantuan Shania dan ibunya. Namira sangat bersyukur akan hal itu. dia tak bisa membayangkan jika tak ada uluran tangan mereka, mungkin dia sudah tak sanggup lagi menjalaninnya.
"Nak, maafkan Mama ya belum bisa mengenalkanmu pada papamu. Tapi hari ini kamu sudah bertemu dengannya. Dia papamu nak, kalian sangat mirip. Bahkan Mama yang mengandungmu selama sembilan bulan saja, hanya kebagian hikmahnya." Ujar Namira sembari tersenyum menatap putranya.
Semua fitur wajah Kalandra memang mirip dengan Khalif. makanya dia sempat khawatir ketika Khalif bertemu dengan Kalandra. Dia takut lelaki itu menyadarinya.
Ada rasa bersalah di hati Namira karena memisahkan seorang anak dengan ayahnya. apalagi sekarang putranya itu akan masuk sekolak TK. Dia takut jika nantinya teman-teman Kalandra akan mengejeknya karena tidak memiliki Papa.
Sudah seringkali dia menanyakan tentang papanya, tapi Namira selalu menenangkannya dan mengatakan bahwa suatu saat nanti papanya akan datang. Padahal dia sendiri pun tak tahu, kapan waktu yang tepat untuk itu. dia belum bisa memastikannya.
***