"Wah, anak mama sudah ganteng. Sudah siap sekolah?" tanya Namira pada putranya itu. Kalandra mengangguk bersemangat
Namira sudah terbiasa menjadi perempuan yang serba bisa. Selain menjadi sosok ibu dia juga harus bisa menjadi sosok Ayah bagi putranya. Dia harus bekerja keras demi menghidupi sang putra. Agar putranya mendapatkan kehidupan yang layak.
Perempuan itu membuka usaha Coffee and cake. Awalnya dia fokus membuat kue dan menjualnya secara online. lambat laun banyak yang tertarik dengan kue buatan Namira. Usahanya pun semakin berkembang dan akhirnya dia bisa membuat sebuah kedai coffe and cake yang menyediakan kopi juga kue untuk para pelanggannya.
Jadi mereka tidak hanya bisa menikmati kue-kue buatan Namira tapi juga bisa bersantai sembari minum kopi. Tentu saja ada fase dimana dia sempat mengalami masa-masa sulitnya. Apalagi saat kelahiran Kalandra. Dia harus istirahat total dan fokus pada putranya itu. untung saja Shania mau membantu dirinya memantau keadaan kedainya saat ia juga sedang sibuk.
Dulu dia belum punya karyawan. Dia sedang merintis usaha jadi apa-apa dia kerjakan sendiri. jadi jika ada masalah dia harus menyelesaikannya sendiri. bahkan pernah dia harus tutup toko selama sebulan karena menjaga Kalandra saat sakit. namun, sekarang alhamdulillah dia sudah memiliki dua orang karyawan yang membantunya. Seorang karyawan laki-laki yang bertugas sebagai barista dan juga satu orang waitress.
Sekarang kedai milik Namira sudah terkenal. Apalagi letaknya yang strategis, dekat dengan perkantoran, dengan rumah sakit dan juga dekat dengan fasilitas umum lainnya. dia bersyukur karena ketika dia sedang dimasa sulitnya Allah selalu membantu dirinya untuk bangkit.
"Mama, apakah nanti Kal akan punya teman-teman yang baik?" tanya Kalandra saat mereka sudah sampai di sekolah baru Kalandra.
Ya, ini adalah hari pertama dia ke sekolah. Kalandra baru saja memasuki usia empat tahun bulan kemarin. Sudah waktunya Kalandra bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Jadi dia memutuskan untuk menyekolahkan putranya itu di sebuah playgroup. Hal itu sangat membantu dirinya, selain bisa meningkatkan rasa percaya diri Kal, juga bisa mempermudahnya untuk melakukan pekerjaan.
"Tentu saja sayang, Kal akan bertemu banyak teman-teman yang baik disini. Kal nurut ya sama bu guru. Kal, anak mama yang pintar dan hebat. Pasti Kal bisa melewati hari ini dengan baik." Namira memberi afirmasi positif kepada putranya agar nantinya dia tidak rewel saat proses pembelajaran di dalam kelas.
Dia percaya putranya bisa tumbuh menjadi anak yang mandiri. dia akan mengajarkan kepada Kal bagaimana menjadi anak yang hebat dan pemberani.
"Oke Mama. Kal akan menjadi anak yang baik." ujarnya tak lupa dengan senyuman cerianya.
"Good boy. sekarang Kal masuk ke kelas ya, sapa bu guru dan teman-teman. Jangan lupa senyumnya. Mama pulang dulu ya, nanti saat jam pulang sekolah mama akan menjemput disini lagi. oke sayang?" Kalandra mengangguk mengiyakan ucapan mamanya tersebut.
"Anak pintar. Dah sana masuk. Mama tinggal ya, Assalamualaikum." Ujarnya sembari mengusap puncak kepala putranya.
"Waalaikumsalam Mama. Bye Mama!" ujar Kal sembari terus menatap Mamanya itu. anak lelaki itu berjalan menuju ke kelasnya walaupun sesekali dia menoleh ke belakang untuk melihat sang Mama.
Sebenarnya Namira bisa saja menunggui anaknya disana tapi dia harus membiasakan diri agar Kalandra bisa menjadi anak yang mandiri. walaupun tadi mata Kalandra sudah berkaca-kaca tapi dia harus tega melakukannya. Dia akan membiarkan anaknya itu menikmati proses beradaptasi dengan lingkungan barunya.
Namira mengusap air mata yang tiba-tiba saja turun. Dia terharu karena tak menyangka, bayi kecil yang dulu dia timang-timang sekarang sudah tumbuh besar. dia masih tak percaya dia bisa melewati semua proses hidup ini. Namira tak akan pernah lupa bersyukur kepada Allah atas segala pertolongan yang telah diberikan untuknya.
Perempuan itu sudah sampai di kedai miliknya. Kedua karyawannya juga baru sampai dan baru membuka kedai. Namira menyapa mereka dengan senyum cerahnya.
"Kalian sudah sarapan belum?" tanya Namira pada mereka.
"Belum Teh Mira." Jawab Neneng. Dia adalah waitress di kedai milik Namira. Dia memang orang sunda jadi lebih sering memanggil Mira dengan panggilan teteh.
Namira suka dengan neneng karena dia lucu dan juga jujur ketika berbicara. Dia suka ceplas ceplos walaupun berbicara dengannya. tapi dia malah senang karena bisa dekat dengan karyawannya itu.
"Yaudah nih, sarapan buat kalian." Ujar Namira sembari memberikan paperbag berisi sarapan yang telah ia buat untuk mereka. Dia tadi sudah membuat nasi goreng untuk sarapan bersama Kal. Dia sengaja membuat banyak untuk dibagikan pada mereka.
"Wah, cocok kalo gini mah. Nuhun ya teh." Ujarnya dengan bahasa sunda yang mendok. Namira mengangguk sebagai jawaban.
"Arhan, Teh Sita, kalo nanti mau makan, neneng taruh sini ya." ujar Neneng pada rekan kerjanya itu. lelaki itu hanya mengangguk sebagai jawaban sedangkan Sita hanya mengacungkan tangannya membentuk tanda 'ok'.
Berkebalikan dengan Neneng, Arhan adalah orang yang pendiam. Dia tak banyak berbicara namun sangat tekun ketika bekerja. tapi dia adalah lelaki yang baik. umurnya mungkin masih sekitar dua puluh tahunan. Namun dia memiliki semangat kerja yang tinggi.
Sedangkan Sita adalah freshgraduate dari SMK Tataboga. Dia sengaja merekrutnya karena merasa sudah kewalahan dan orderan sudah semakin banyak jika dia harus melakukannya sendirian. jadi dia butuh partner untuk membuat kue itu.
Namira meletakkan tasnya di ruangan miliknya. Dia biasanya di ruangan itu untuk mengecek laporan penjualan dan lain-lainnya. tapi dia lebih sering di dapur, membuat varian-varian kue terbarunya.
Dia selalu update dalam hal makanan. apalagi semakin berkembangnya zaman, semakin berkembang pula jenis-jenis kue yang sedang populer di kalangan masyarakat. Setiap tahun pasti ada saja hal baru yang muncul.
Tapi dengan perkembangan teknologi itu dia juga mendapatkan untungnya. Melalui sosial media dia bisa mempromosikan jualannya itu. alhasil banyak juga pelanggan yang tertarik datang karena promosi di sosial media.
"Sita, ini tolong di bake ya." pintanya pada Sita.
Semua kue yang ada di kedai tersebut merupakan resep buatan Namira sendiri. dia belum bisa mempercayakan sepenuhnya kepada oranglain. Makanya dia selalu ada di dapur untuk membantu proses produksi kue-kue miliknya.
Hari semakin siang, para pelanggan mulai berdatangan. Ada yang hanya membeli kue, tapi ada juga yang singgah untuk bersantai sembari menikmati kopi. Biasanya setelah jam makan siang para pelanggan datang untuk bersantai sejenak menikmati kopi. Atau ada juga mahasiswa yang mengerjakan tugas disana.
Namira menilik jam yang melingkar di tangannya. sudah waktunya menjemput Kalandra. Dia pun melepaskan apronnya dan bergegas mengambil tas di ruangannya.
"Sita, aku tinggal jemput Kalandra dulu ya. nanti aku akan kembali." Ujarnya pada Sita.
"Oke kak." Jawabnya lalu dia kembali fokus pada pekerjaannya.
Namira sampai disana dan melihat putranya sangat anteng. Putranya masih di dalam kelas dan bermain dengan temannya. Walaupun sudah jam pulang sekolah mereka tetap harus di dalam kelas sampai para orangtua menjemputnya. Di sekolah itu keamanannya memang sangat ketat. Mereka tak membiarkan orang asing menjemputnya sampai benar-benar ada konfirmasi dari keluarga.
"Mamanya Kalandra ya?" tanya bu Rahayu, salah satu guru disana.
"Iya bu. bagaimana Kalandra tadi bu? apakah rewel?" tanya Namira penasaran.
"Alhamdulillah Kalandra anteng, dia anak yang sangat aktif di kelas. Tadi memang awal-awal dia seperti takut tapi setelah kami perkenalkan dengan yang lainnya dia mulai berani berbicara dengan yang lainnya." jelas bu Rahayu membuat Namira bisa bernapas lega. Dia bersyukur putranya itu bisa beradaptasi dengan cepat.
"Mama!" teriak Kalandra sembari menghambur ke pelukan mamanya.
"Nah ini anak hebatnya Mama. Bilang terimakasih sama bu guru nak." Ujarnya pada sang putra.
"Terimakasih Bu guru. Kalandra pulang dulu. Assalamualaikum" ujarnya dengan tersenyum.
"Iya sayang, waalaikumsalam. Hati-hati ya Kal, sampai jumpa kembali besok." Jawab bu Rahayu dengan ramahnya.
"Kalau begitu kami pamit dulu ya bu. terimakasih sudah menjaga Kalandra. Assalamualaikum." Namira pun ikut berpamitan pada bu Rahayu.
" Sama-sama bu Namira. Waalaikumsalam, semoga selamat sampai rumah." jawabnya tak lupa dengan senyuman ramahnya.
Selama di perjalanan Kalandra tak henti-hentinya menceritakan mengenai pengalamannya di sekolah. dia menceritakan mengenai teman barunya disana. dia senang memiliki banyak teman baru dan bisa bermain bersama.
"Mama, Kal senang bersekolah. Kal bisa punya banyak teman." Ujarnya membuat Namira ikut tersenyum senang. Dia lega jika anaknya juga merasa nyaman bersekolah.
"Alhamdulillah. Mama senang mendengarnya. karena Kal sudah hebat hari ini, Mama mau kasih hadiah buat kamu. Kal mau apa?" tanya Namira pada putranya itu. Kalandra tampak berpikir sejenak sebelum menjawab.
"Ice cream!" jawabnya bersemangat.
"Oke deh. kali ini kamu boleh makan es krim." Ujarnya membuat Kalandra berseru senang.
Namira sudah memenuhi janjinya. Dia membelikan es krim untuk putranya itu. Kalandra memakan es krim itu dengan hati yang gembira. Setelah selesai mereka kembali ke tempat kerja Namira.
Namira menggendong Kalandra yang ternyata sudah tertidur pulas. Untung saja dia memiliki ruangan khusus yang ada tempat tidur di dalamnya. Jadi selagi dia bekerja dia tetap bisa mengawasi putranya itu.
"Namira!" Baru saja Namira melangkahkan kakinya ke dalam kedai miliknya, seseorang memanggilnya. Namira otomatis menoleh kearah sumber suara. Dia terdiam membeku ditempatnya untuk beberapa saat.
***