Bab 7. Menggatal

808 Words
“Kay, jangan keras kepala! Kita nggak mungkin berpisah dengan syarat seperti itu!” Merasa dirinya tidak yakin bisa memenuhi syarat perpisahan yang ajukan Kayra, Arhan mencoba bernegosiasi. “Kenapa? Katakan alasannya, yang tepat dan meyakinkan agar aku bisa mengerti dan mau mengganti syaratnya.” Kayra menatap dengan melipat kedua tangannya. “Kamu lihat sendiri kemarin, tidak tubuhku nggak bereaksi sama kamu, aku nggak bisa melakukannya dengan sembarang orang, apalagi dengan wanita yang nggak aku sukai.” alibinya. “Benarkah? Padahal sebelum masuk sesi inti, aku merasakan dengan jelas tubuh kamu bereaksi, sesuatu mengeras dibawah sana.” tunjuk Kayra tepat di selangkangannya. “Bukankah itu salah satu bukti bahwa kamu sudah mulai bereaksi?” “Tapi aku tetap tidak bisa melakukannya!” “Kalau begitu pikirkan bagaimana caranya agar kamu bisa melakukannya denganku.” Kayra masih saja bersikukuh, enggan mengganti syarat perceraian mereka. Kayra tahu malam kemarin tidak hanya Arhan yang merasa ciut, kepercayaan dirinya jatuh hingga kesasar, tapi Kayra juga merasakan hal serupa. Posisinya nyaris telanjang, bahkan siap menerima penyatuan, tapi tiba-tiba lelaki itu kembali turn off dalam waktu sekejap saja. “Kay,” “Aku ulangi sekali lagi, aku hanya ingin itu.” Kayra menekankan. “Tidur denganku, sampai aku hamil. Hanya itu,” Karya melangkah lebih dekat. “Lebih cepat lebih baik, aku hamil kami bisa langsung rujuk dengannya. Hanya itu!” Kayra kembali mengulang kata ‘Hanya itu’ seakan tidak ada lagi keinginan atau syarat lain yang bisa mempermudah perpisahan mereka. Kayra membuka apron yang dikenakannya, melempar aska lantas masuk kedalam kamarnya. Duduk di tepian tempat tidur, menutup wajah dengan kedua tangannya. Menghela lemah dan memukul dadanya berulang kali. “Sial!” umpatnya. “Aku hanya ingin hamil, hanya itu.” liriknya pelan. Kayra mengurung diri di dalam kamar, entah sudah berapa lama. Sampai suara dering ponsel memutus tatapan kosongnya yang sejak tadi tertuju ke arah jendela. Kayra menoleh, melihat siapa yang menghubunginya. Senyumnya mengembang saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya. “Hai, aku mau ketemu. Ada waktu?” ucapnya langsung, setelah sambungan terhubung lengkap dengan senyum manis di bibirnya walaupun tidak melihat sosok yang tengah berbicara dengannya saat ini. “Sekarang aja, aku di rumah. Jemput ya? Lagi males bawa mobil.” ucapnya lagi. “Oke, tiga puluh menit lagi jemput ya?” Kayra benar-benar tersenyum bahkan setelah panggilan terputus. Menatap layar ponselnya dan kembali ceria. Kayra segera bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, sebentar lagi seseorang akan menjemputnya, ia harus terlihat cantik. Arhan ada di ruang televisi, lelaki itu tengah melihat siaran sepak bola kedua matanya fokus memperhatikan jalannya pertandingan, namun saat melihat Kayra keluar dari dalam kamarnya fokus lelaki itu terbagi. Kayra sudah terlihat rapi, bukan dengan setelan kerja seperti biasanya tapi hari ini penampilannya jauh lebih feminim dengan mengenakan dress sebatas lutut. Rambutnya pun dibiarkan tergerai, dengan jepit kecil di salah satu sisi-Nya. Ia seperti tiga orang berbeda, saat di rumah, di butik, dan hati ini. Penampilan hari ini tentu saja membuatnya jauh lebih cantik. Arhan mengakuinya dalam hati. Kayra menuju rak sepatu mengambil high heels berwarna hitam. Ia berjalan melewati Arhan begitu saja, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Keduanya memang minum komunikasi, kerap pergi tanpa memberi kabar seperti perjanjian di awal pernikahan bahwa mereka tidak akan ikut campur urusan pribadi masing-masing. Yang dilakukan Kayra saat ini sudah benar, wanita itu pergi tanpa repot-repot mengatakan kemana dirinya akan pergi tapi Arhan begitu penasaran. Tidak biasanya ia bersikap seperti itu, ingin tahu kemana wanita itu pergi. “Mau kemana?” Arhan segera menyusul, menahan pintu dengan satu tangannya. “Pergi.” jawab Kayy dengan tatapan datar seperti biasanya. “Dengan?” “Teman.” “Lelaki?” “Iya.” Arhan berdecak, tersenyum mengejek ke arah Kayra. “Hanya karena aku menolak, kamu langsung mencari lelaki lain untuk tidur bersama? Sebegitu inginkan kami hamil?” “Iya.” Kayra juga mengiyakan, membuat lelaki itu meradang. “menikah denganku tapi tidur dengan lelaki lain?” “Iya.” Arhan mengepalkan tangannya, emosinya sudah terpancing. “Kamu,,, “ Kayra tersenyum, “Ternyata benar, kamu muda sekali terprovokasi.” Ia mendekat. “Apa kamu pikir aku akan tidur bersama lelaki lain dengan kondisiku seperti ini?” Kayra menunjukkan bercak merah yang masih terlihat di beberapa bagian tubuhnya. “Aku masih punya banyak tanda merah seperti ini di tubuhku, dan aku tidak ingin mempermalukan diriku dengan menjalin hubungan bersama lelaki lain padahal aku masih punya suami. Jangan samakan aku denganmu,” Kayra mengusap wajah Arhan dengan telunjuknya. “Aku menghargaimu sebagai suamiku, oleh karena itu aku pun ingin dihamili olehmu.” Kayra kembali menjauh. “Aku pergi dulu, aku harap saat pulang nanti kita sudah bisa melakukannya.” senyumnya mengejek, lantas pergi meninggalkan Arhan. Setelah memastikan posisinya jauh dari Arhan, Kayra mengutuk dirinya sendiri yang sudah bersikap seperti itu, menggoda Arhan. “Murahan sekali, Kayra!! Hebat sekali kamu.” ucapnya pada diri sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD