Bab 8. Kepergok

1012 Words
Arhan butuh pengalihan untuk kekesalan yang dirasakannya saat ini. Pilihannya hanya satu, yakni menghubungi salsa, sang mantan istri. Pertemuan terakhir mereka berakhir tidak menyenangkan, saat Arhan pergi begitu saja meninggalkan Salsa di lapang latihan. Wanita itu masih merap menghubunginya, menelpon atau mengirim pesan, tapi Arhan enggan menjawab dan lebih sering mengabaikan. Arhan merasa ada yang berubah dengan dirinya, setelah Kayra mengutarakan syarat perceraian. Syarat aneh yang membuatnya terus memikirkannya. “Hai,,” sambungan terhubung, diiringi sapaan lembut dan manja dari seberang sana. “Ada waktu?” tanya Arhan, jelas bukan hanya ajakna biasa dan pastinya Salsa tidak mungkin menolak. Arhan berharap dengan kebersamaan mereka bisa mengusir penat yang ada dalam otaknya. “Tentu, datanglah ke apartemenku.” balas Salsa dengan nada manja dan menggoda seperti biasanya. “Baiklah.” Arhan tersenyum penuh kemenangan. Lihatlah, hubungannya dan Salsa semakin mengalami kemajuan, perceraian hanya sementara, karena pada akhirnya mereka akan tetap kembali bersama. Arhan yakin, hatinya masih untuk Salsa seorang. Tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi, ia pun segera bergegas menuju kediaman Salsa, yang tinggal di sebuah apartemen di jakarta pusat. Saat bersama dulu, keduanya menempati Apartemen milik Arhan yang saat ini disewakan, sementara Salsa membeli apartemen lainnya yang masih ada di lokasi sama, hanya beda tower saja. Saat datang mengunjungi Salsa, rasanya seperti kembali mengingat kenangan masa lalu, dimana keduanya pernah tinggal dalam satu atap yang sama. Memang beda lokasi, tapi Arhan bisa merasakan sensasi dan suasananya yang tidak pernah berubah. Jika saja ia tidak menyewakan apartemen mikirnya pada seseorang, mungkin saat ini Arhan akan dengan mudah menemui Salsa tanpa harus ketahuan wartawan atau pihak lainnya yang berpotensi menyebarkan berita secara diam-diam. Arhan menggunakan pakaian serba hitam, lengkap dengan kacamata dan topi berwarna senada. “Udah lama nggak pernah kesini, kukira udah lupa jalan.” Salsa menyambut Arhan di lobi. “Nggak mungkin lupa, kita pernah tinggal disana,” tunjuknya pada tower yang berdampingan dengan tower tempat tinggal Salsa. “Padahal nggak usah disewakan, kamu bisa menempatinya saat punya waktu luang dan kita bisa ketemu tanpa ketahuan.” Salsa pun sama seperti Arhan, kerap memakai pakaian tertutup saat bertemu. Karena belum ada kejelasan diantara keduanya, mereka sangat hati-hati saat bertemu. Pemberitaan jaman sekarang kelewat cepat, hanya satu kali unggah bermodalkan foto secara diam-diam, akibatnya bisa fatal. Arhan menyadari konsekuensi yang diambilnya dengan mengatasnamakan cinta yang sebenarnya sangat klise. “Ayo ke atas.” ajak Salsa, menarik tangan Arhan. “Ayo,” Keduanya masuk ke dalam lift bersama, tidak menyadari saat seseorang mengambil gambar keduanya diam-diam. Sejujurnya bertemu di tempat yang bersifat pribadi seperti saat ini merupakan yang pertama kalinya untuk mereka. Biasanya mereka akan bertemu di lokasi latihan, atau di lokasi pertandingan. Selebihnya di cafe atau di tempat-tempat ramai lainnya dengan catatan tidak hanya berduaan saja. Selalu ada orang lain yang terlibat, tujuannya untuk menghindari gosip. “Mau makan dulu, nggak? Kebetulan aku punya stok makanan.” Sejujurnya Arhan sudah tidak berselera makan, tapi melihat ayam bakar yang tersaji di atas meja membuatnya tergoda. “sepertinya enak, aku mau makan.” “Mau makan dulu, atau makan yang lain?” Salsa menatap dengan sorot menggoda. “Aku butuh makan ini,” Arhan menunjuk ke arah meja makan dimana beberapa jenis makanan lainnya tersedia. “Aku pikir mau makan yang lain dulu,” Salsa tersenyum samar. Arhan hanya menggumam pelan saja, mengambil piring lantas mengisinya dengan beberapa jenis makanan. “Han, apakah kamu masih belum bisa melakukan itu? Maksudnya, kamu masih trauma dan mengingatnya?” Salsa menatap dengan sedih, sekaligus kecewa. “Jika iya, aku benar-benar minta maaf dan aku,,, “ “Aku tidak mau membahasnya.” Arhan memotong ucapan Salsa, kedatangannya untuk mengusir penat dimana ia tidak ingin terus dihantui rasa tidak nyaman dengan syarat perceraian Kayra. Ia masih butuh waktu untuk mengakuinya bahwa selama ini, kejantanannya tidak berfungsi dengan baik karena suatu alasan. Trauma yang melekat erat dalam ingatan kerap menjadi mimpi buruk yang belum bisa disembuhkan. Arhan sudah memaafkan tapi tidak dapat menghilang bekasnya, seolah tertancap sempurna di hati dan pikirannya. “Aku minta maaf,,, “ lirih Salsa. “Aku menyesal.” “Tidak apa-apa, aku sudah memaafkanmu.” Arhan berusaha tersenyum. “Syukurlah, aku lega dengernya.” Pakaian yang dikenakan Salsa sudah cukup dari sekedar menggoda, bahkan wanita itu beberapa kali menyentuh wajah dan paha Arhan dengan sengaja. Alih-alih menerima sentuhan itu, Arhan justru menghindar dengan menyibukkan diri memainkan ponselnya. Salsa tidak kehabisan akal, ia terus menggoda dengan cara yang lebih ekstrim. Salsa mencium pipi Arhan, berharap lelaki itu terpancing dan menyambutnya dengan baik, nyatanya Arhan justru mendorong tubuh Salsa menjauh dengan cukup keras. “Kenapa?” tanya Salsa bingung. “Ada yang salah?” “Nggak. Mungkin aku nggak fokus,” Arhan menjauh, saat Salsa hendak kembali mendekat. “Kamu nolak aku, Han. Kita pasangan kan?” “Kayaknya aku kecapean, aku mau pulang saja.” Arhan beranjak dari tempat duduknya, berlama-lama ada di tempat itu hanya akan membuatnya semakin tertekan saja. “Baiklah, sepertinya kamu butuh istirahat. Bagaimana kalau makan dulu, setelah itu bisa langsung tidur?” Salsa berusaha mengerti kondisi Arhan padahal sejujurnya ia pun merasa kecewa. “Kamu bisa bermalam disini.” Arhan menurut saja dan kembali duduk, memainkan ponselnya secara random. Tiba-tiba saja pesan dari Kayra masuk dimana wanita itu menunjukkan sebuah gambar dirinya dan Salsa. Gambar yang sangat dikenali dan baru saja terjadi beberapa waktu lalu. Seharusnya Arhan tidak perlu marah atau bereaksi berlebihan, mengingat Kayra sudah tahu hubungannya dan Salsa, tapi yang membuat Arhan panik yakni saat gambar tersebut bukan hasil jepretan kamera Kayra melainkan hasil screenshot dari berita online. “Sial!” umpat Arhan. Ia lantas menghubungi Kayra. “Beritanya sudah menyebar luas, bahkan beberapa wartawan sudah mulai berdatangan menuju lokasi dimana kamu berada saat ini.” “Apa?!” Arhan semakin terkejut. “Tunggu, aku akan datang. Kali ini aku akan membelamu, karena aku masih menuntut hak ku sebagai seorang istri tapi ingat, ini yang terakhir. Jangan ceroboh!” ucap Kayra, lalu mematikan sambungan secara sepihak bahkan sebelum Arhan sempat membela dirinya. Arhan menatap ponselnya dengan bingung terlebih selang beberapa menit kemudian tiba-tiba Kayra datang dengan waktu yang sangat singkat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD