“Bagaimana bisa kamu sampai ke sini,,, dengan cepat?!” Arhan terkejut dengan kehadiran Kayra yang tidak lebih dari lima menit setelah wanita itu menghubunginya. Sangat cepat sekali.
Yakin keduanya ada di lokasi yang berbeda, seharusnya Kayra butuh waktu untuk sampai ke apartemen Salsa.
“Atau jangan-jangan, kamu ada di apartemen ini juga?”
“Iya, aku ada di apartemen ini juga. Tepatnya di tower sebelah.” Kayra tidak berbohong, ia mengatakan yang sebenarnya.
“Apa? Tapi kamu,,, “
Sebelum Arhan mengutarakan keterkejutannya dan juga ingin tahu pasti keberadaan Kayra sebelum menghampiri, wanita itu sudah terlebih dulu menarik tangannya.
“Ayo, kita pulang sekarang sebelum wartawan datang.” ajaknya.
“Tunggu, Arhan tidak boleh pulang sekarang. Dia bersamaku dan hanya aku yang boleh memutuskan kapan dia pergi.” protes Salsa.
“Aku tidak peduli dengan apa yang kalian lakukan disini,” Kayra menatap penampilan Salsa yang tengah mengenakan pakaian super mini.
“Dengan pakaian yang kamu kenakan saat ini sudah cukup membuktikan apa yang kalian lakukan sebelum aku datang. Tapi itu bukan masalahnya, aku tidak peduli tapi kalian terlalu teledor, bermesraan di ruang publik hingga menimbulkan kegaduhan di media sosial. Tahukah kamu, apa yang kamu lakukan tadi bisa berakibat fatal nggak hanya untuk Arhan tapi untuk kelangsungan karirmu sendiri. Kamu tidak takut di cap sebagai perebut suami orang?”
“Aku tidak merebutnya! Aku hanya mengambil kembali apa yang pernah menjadi milikku.”
Kayra tersenyum sinis.
“Ambil saja, tapi setelah urusannya denganku selesai. Tidak bisakah kalian menunggu sampai kita benar-benar berpisah? Nggak lama paling dua atau tiga bulan saja.”
“Kamu…”
Kayra mendekat, menarik pakaian yang sengaja di buka menunjukkan bagian dalam tubuhnya untuk menggoda Arhan.
“Apa kamu memang selalu seperti ini? Mengumbarnya hanya untuk mencari perhatian?” Kayra tersenyum mengejek.
“Kamu,,”
“Ayo, kita pulang.”
Arhan menarik tangan Kayra, memisahkan keduanya sebelum berlanjut ke sesi saling jambak.
Saat keduanya melewati lobi, terlihat beberapa wartawan yang sudah datang menunggu. Sedikit saja kesalahan akan berakibat fatal, beruntung Kayra datang di waktu yang tepat. Untuk membuktikan bahwa keadaan rumah tangganya baik-baik saja, Arhan merangkul pinggang Kayra menempelkan tubuh wanita itu rapat.
Mereka berdua melewati pihak media yang hendak meminta penjelasan untuk gambar yang beberapa saat lalu tersebar. Namun dengan menunjukkan kemesraan sudah sangat cukup untuk membuktikan bahwa hubungan keduanya baik-baik saja, tanpa harus banyak bicara.
Sesampainya di area parkir, Kayra segera menepis tangan Arhan di pinggangnya. “Tidak ada yang melihat lagi,” Kayra menjauhkan diri.
“Kami cemburu?” . Pertanyaan Arhan jelas membuat Kayra kesal, ia segera menoleh tajam ke arahnya.
“Cemburu? Bukankah selama ini kamu dan dia sering bertemu tanpa sepengetahuanku? Lantas mengapa aku harus cemburu dengan kebiasaan kalian berdua?” tatapan Kirana berubah tajam.
“Aku melakukan untuk kalian! Aku tidak mau satu negri ini mengasihaniku, menganggap aku adalah wanita yang paling malang dan menyedihkan.” Lanjutnya.
“Kamu bisa kembali padanya, sekarang! Tapi aku tidak akan melindungi kalian lagi.”
“Begitu ya?” Arhan menyeringai. “Sekarang aku ingin tahu, kenapa kamu bisa datang tepat waktu dengan waktu yang sangat singkat. Secara logika, kamu butuh waktu lebih dari dua puluh menit, itu paling sebentar. Tapi kami hanya butuh waktu lima menit saja, sampai dengan cepat.”
Senyum di wajah Arhan semakin terkesan mengejek.
“Kamu mau tau?” Kayra balik bertanya.
“Tapi sepertinya nggak akan menjadi hal menarik untukmu, jadi aku nggak harus cerita.”
“Katakan!” Arhan menarik dekatkan wajahnya.
“Aku akan mengatakan setelah kita,,,”
“Tidur bersama? Konyol!!”
Arhan menjauh tubuhnya kembali.
“Kenapa? Karena tidak bisa? Sementara kamu bisa melakukannya bersama,,”
Kalimat Kayra tertahan saat bibir Arhan menutup sempurna bibirnya. Awalnya Kayra terkejut dengan serangan tiba-tiba itu, tapi ia berusaha mengimbangi.
Lelaki itu menciumnya dengan penuh paksaan, seolah ingin membuktikan bahwa ia pun mampu melakukannya dengan cara yang kasar. Tapi Kayra berusaha mengimbangi, melingkarkan kedua tangannya di pundak Arhan.
Sebisa mungkin Kayra menjinakkan bibir lelaki itu yang terus berusaha ingin menyakitinya.
Helaan nafas kasar berubah dengan helaan, cepat dan pendek-pendek, artinya lelaki itu tidak lagi menggunakan emosi saat menciumnya tapi dengan hasrat yang mulai tumbuh dalam dirinya.
Remasan kuat di salah satu gunung kembarannya pun melambat, beraturan dan lembut.
“Han,,, “ Kayra memanggil, di tengah himpitan tubuh Arhan yang semakin menekannya, di di pintu mobil.
“Ini tempat umum,” lanjutnya saat Arhan mulai menjelajahi lehernya.
“Kita lanjutkan di dalam mobil.” balas Arhan, menarik Kayra masuk kedalam mobilnya.