CHAPTER 17

1051 Words
Siswa-siswi yang sedang menonton bersorak gembira. Ketika melihat pertarungan epic yang baru saja terjadi. Segerombolan Siswa yang menghalangi jalan keluar meminta maaf pada Arlo. Suara riyuh menggema menyebut nama Arlo, "Arlo-Arlo! ..." setelah itu murid-murid lainnya menyoraki Siswa yang telah di kalahkan Arlo bersamaan 34 orang lainnya, "Wuhhh! ... Banci, pengecut, main kroyokan!" ucap mereka yang menyoraki berbarengan. Dari samping kanannya ia mendengar suara, ketukan pintu dari samping, "Tok-tok." Arlo mendekatkan wajahnya pada pintu tersebut. "Hey! ... apa kamu mendengarku?" ucap Ketua klub dari balik pintu. Arlo hanya mengangguk memfokuskan pandangannya pada lubang kecil yang ia lihat sedari tadi. Pintu bergeser, "Swusstt ... Klek." sekarang Ketua klub bertatap muka langsung dengan Arlo. Dia berusaha memasang wajah angkuhnya seperti biasa, walau sebenarnya rasa takut masih menghinggapi dirinya. "Silahkan masuk ..." pinta Ketua klub. Ruang klub yang tadinya berantakan, kini lebih berantakan lagi. Beberapa barang elektronik terlihat rusak karena terinjak. Meja kecil terlihat bergeser dari tempat awal. Bau-bau menyengat sampah makanan masih menusuk tajam di rongga hidung saat pintu di tutup, "Swusshh ... klek." Ketua klub duduk di kursi nyaman yang biasa ia duduki. Arlo melihat beberapa laptop yang berada di depannya, sejajar dengan pintu masuk terlihat rusak pada bagian layar. Laki-laki bertubuh kekar itu, melangkahkan kakinya yang lebar dengan hati-hati. Badannya yang besar serta ruangan yang sempit dengan suasana lembab menjadi makin pengap. Tak ada yang bisa Arlo lakukan untuk membuatnya nyaman saat berada di dalam ruangan. "Kamu mau duduk?" cetus Ketua klub menawarkan kursi yang ia duduki sambil menepuk-nepuk penyangga lengan. Laki-laki bertubuh kekar, hanya menjawab dengan senyuman yang menurutnya ramah. Tentu saja tidak, pada orang yang melihat langsung senyuman Arlo. Senyumannya sangat menyeramkan. Akan tetapi, Ketua klub beserta anggotanya berusaha menahan rasa takutnya. Gadis berkuncir satu menyamping, berdiri dari tempatnya duduk. Kini, yang duduk di sana hanya Arlo. Ketika, Arlo hendak akan duduk bagian pinggangnya tersangkut pada kedua penyangga lengan yang terpasang pada kursi itu. Suara decit kursi berbenturan dengan beberapa baut pengencang yang perlahan melonggar. Mereka bertiga termasuk Ketua klub hanya melihatnya saja sambil menahan rasa ingin tertawanya. Hingga pada akhirnya, "Pffft ... ha-ha ... ha-ha." salah satu anggota tertawa terbahak-bahak. Karena, tingkah arlo yang membuat pandangan atas dirinya adalah orang yang sangat menakutkan menjadi lenyap seketika. "Sini-sini biar aku bantu," ucap salah satu angggota. Ia menurunkan kedua penyangga ke arah bawah agar Arlo mudah untuk duduk. Tak ada satupun yang menyangka bahwa ini akan menjadi awal mula sejarah perubahan, serta pemberontakan pertama di dalam arena ujian yang semakin mendekat tiap harinya. "Minggir dari tempat dudukmu!," perintah Ketua klub tegas kepada anggotanya yang sedang duduk di kursi. Laki-laki berbadan subur serta menggunakan kacamata. Menuruti perintah Ketua klub tanpa membantah sedikitpun. Ia pun terpaksa berdiri dengan kaki yang menahan bobot tubuhnya yang besar itu. "Jadi, apa yang ingin kamu katakan padaku?" tanya Arlo memasang wajah tegang. Ketua klub mengambil sebuah permen lolipop yang ada di saku untuk mempermudah berpikir jernih, "Hhmpph, apa kamu yang mengirim kedua gadis itu pada kami?" sambil mengemut permen sesekali berbunyi letupan yang keluar dari mulutnya, "plup." "apa yang kamu katakan tadi?" tanya Arlo. "Baru saja aku katakan tadi!" ucap Ketua klub jengkel. Gadis berkuncir itu menghela napas, "Huh ... Jadi tujuanmu ke seni untuk apa?" "Aku hanya ingin mengucapkan terima kasihku padamu. Karena, rencana ini tinggal melakukan langkah awal menjadi pemberontak terorganisir pertama yang dibuat oleh anak SMA," ucap Arlo. "Permintaanku adalah buatlah sebuah berita mengenai kapan pembentukan anggotanya di laksanakan sertakan namaku di dalamnya," ucap Arlo dengan entengnya. "Beri tahu saja, mereka siapa pemimpin pemberontakan ini secara terbuka," sambungnya. "Jadi kapan pembuatan klubnya?" tanya Ketua klub sambil merangkai kata untuk iklan yang akan di buat untuk rencana Arlo "tanggal 5 besok." ucap Arlo. Ketua klub terkejut, "Hah, itu terlalu mendadak!" "Tak apa lanjutkan, ini sudah menjadi bagian rencanaku," balas Arlo. "Banyak yang harus di lakukan. Aku sengaja mempercepat rencana," ucap Arlo seakan-akan ialah yang merencanakannya. "Terima kasih sebelumnya," ucap Arlo sambil meninggalkan anggota klub begitu saja. Tanpa berpikir panjang lagi, Ketua klub beserta anggota kembali berkutat di depan laptop yang masih bisa di pakai dan juga E.B.D. Keesokkan harinya. "Gila! ... berita ini muncul kembali menjadi topik trending," ucap salah satu Siswa. Serentak mereka membacanya. Sesuai dugaan, pandangan mereka terfokus pada Arlo. Walaupun mereka sudah mengetahuinya selama jam pelajaran berlangsung serta jam istirahat makan siang. Tak ada satupun orang yang mengancam Arlo. Keadaan berbeda setelah sore pelajaran telah berakhir. Seluruh murid kelas 10 berkumpul di lapangan menunggu penjelasan dari Arlo. Beberapa murid kelas 11 dan 12 hanya mengawasi mereka dari kejauhan. 250 murid kelas 10 hingga rela menunggu pemimpin, "Arlo-arlo ... arlo-arlo." begitulah teriak mereka menyoraki mereka di tengah-tengah lapangan. Menunggu Arlo menaiki panggung, murid bertubuh kekar akhirnya telah tiba. Asher, Foxie, Felicia, Naomi, dan Satya melakukan peran masing-masing. Satya dan Felicia bertugas mengawasi semua orang guna mencari kandidat seorang pemikir hebat yang bersembunyi di antara penonton. Naomi dan Asher mengawasi dari atas panggung di belakang Arlo. Sedangkan Foxie bertugas mengatur permainan dialog antara murid yang menonton dengan Arlo. Suara-suara penonton murid begitu ramai layaknya sedang menunggu konser. Walaupun begitu suasana tegang menyeliputi mereka yang hadir di acara ini. Mereka penasaran apa yang akan di lanjutkan Arlo selanjutnya. "Ada yang mendengar suaraku?" tanya Arlo. Arlo langsung membuka pembahasan yang berat, "Apa kalian ingin mati sebelum menggapai keinginanmu sampai umur 70 tahun nanti?" Semua murid yang tadinya ramai kini berhenti mengobrol mempertimbangkan jawaban. Salah satu Siswi mengangkat tangannya tinggi-tinggi, "Itu pertanyaan konyol. Tentu saja, kami ingin hidup bukannya mati. Lebih baik kami mati karena tubuh menua daripada mati mengenaskan karena aturan pemerintah yang konyol itu," demikian ucap Foxie memantik api agar murid-murid kelas 10 membuka suara mereka. "Aku sependapat denganmu. Aku kesini untuk bergabung denganmu!" ucap salah satu Siswa. Akhirnya, mereka pun kembali menyuarakan pendapat mereka hingga gaduh. Siswa lainnya bertanya, "Jadi syarat apa saja, agar kami bisa tetap hidup?" "Hidup katamu? Aku tidak bisa menjaminnya yang bisa menjawab hanyalah tekadmu," "Syarat-syaratku cukup mudah. Aku butuh beberapa orang yang bisa bela diri. Cukup mudah bukan?" ujar Arlo. Satya dan Felicia masih belum menemukan keanehan pada mereka. Tiba-tiba saja salah satu murid berteriak memanjat panggung dan menyerang Arlo, "Hiyat! ..." tapi, Arlo hanya membantingnya dan melemparnya turun panggung. Setelah itu, orang tersebut terlihat menjadi linglung tak mengingat apa yang baru saja terjadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD