CHAPTER 18

1047 Words
"Kyaa!!" teriakan Histeris siswi melihat Arlo sedang membanting murid yang menggila. Setelah terpelanting tersungkur di lapangan, ia tersadarkan dengan wajah bingung. Siswi-siswi berteriak histeris membuat kegaduhan semakin menjadi, beberapa siswa lainnya juga seperti menggila. Mereka seperti kehilangan akal sehat hingga menyerang murid lainnya. Beberapa siswa yang menggila tersebut tersadar setelah di pukul keras bagian kepalanya. Satya, Foxie dan Felicia segera mencari target utama. Mereka memasang mata lebar-lebar di antara kerumunan murid. Satya mengaktifan saluran telepon melalui lensa, "Halo ... apa kalian mendengar ucapanku?" "Sangat jelas!" jawab mereka serentak. "Apa yang harus kami lakukan Satya," tanya Asher yang dapat melihat jelas Satya dari atas panggung. "Cari saja, dengan ciri-ciri yang aku ucapkan!" Teriak Satya lantang. Sebelumnya. Pukul 12 waktunya istirahat makan siang. Mereka berenam berkumpul di Kantin. 4 jam sebelum diadakan pendaftaran anggota. "Jadi, bagaimana cara kami menemukan orang tersebut?" tanya Foxie. "Itu sangat mudah kamu hanya perlu. Melihat tingkahnya saja," jawab Satya. "Maksud kamu, Satya?" ucap Asher. "Bayangkan dalam benakmu. Jika ada kekacauan di sebuah konser kemudian ada seseorang melempar barang mencurigakan seperti bom. Apa yang terjadi dalam kerumunan itu?" tutur Satya sambil menatap mereka semua yang mengarahkan pandangannya pada Satya. "Tentu saja mereka akan panik," jawab Asher. "Betul, tingkah pelaku malah akan sebaliknya mereka akan bersikap tenang. Setelah aksi mereka berjalan sesuai rencana mereka akan menyatu dan pura-pura panik. Ini hanya masalah waktu saja," tutur Satya kepada mereka. Sesudahnya "Aku belum menemukannya, pandanganku terhalangi mereka" ucap Felicia berhimpitan dengan murid lainnya. "Tenanglah, usahakan jangan panik!" ucap Satya. "Sepertinya aku melihatnya!" ucap Arlo. "Dimana?" tanya Satya. Arlo tidak membalas pertanyaan Satya, ia pun mengambil tindakan sendiri dengan melompat dari panggung untuk menangkap orang itu. Teriakan gadis yang melihat Arlo makin histeris "Kyaa!" Arlo langsung memegang wajahnya dengan telapak tangan yang lebar. Segera mencengkram kuat-kuat wajahnya. Siswa itu berusaha melepas genggaman erat tangan Arlo yang mencengkram wajahnya dengan berapa kali pukulan pada lengan Arlo. "Aaaahh ... lepaskan tanganmu dari wajahku ini," Siswa itupun memberi beberapa perlawanan. Ia berusaha menarik ke bawah siku Arlo dengan kedua tangannya. "Stop Arlo!" ucap Asher berusaha menghentikannya sambil mendekat ke arah Arlo. Arlo menengok, "Kenapa kamu menghentikanku?" tanya Arlo masih mencengkram tangannya. "Aku tidak ingin dia terluka karena cengkraman tanganmu itu. Lagi pula kita memerlukan dia," jawab Asher yang kini berada di hadapan Arlo. "Oh baiklah," ucap Arlo saat ini melepas telapak tangan di kepala dan memindahkan posisi, kemudian mencengkram tangannya. "Kalau begitu aku akan membawanya menjauh dari keramaian, Asher tolong urus pendaftaran anggotanya!" tutur Arlo sambil menarik tangan Siswa itu. "Arlo, aku ikut denganmu," ucap Satya sambil berlari kecil mendekati Arlo "Oh baiklah, lagi pula aku memang membutuhkanmu," ucap Arlo tanpa menoleh. Kini Naomi, Felicia melanjutkan proses pendaftaran anggota sedangkan Foxie dan Asher membantu murid-murid lain yang tersadar sambil kebingungan, ia juga membantu yang tidak sadarkan diri akibat pukulan benda tumpul di sekitar pinggir lapangan. Asher membantu mereka menjauh dari keramaian, "Apa kamu baik-baik saja?" tanya Asher kepada Siswa itu yang terlihat masih bingung. "Ah, begitulah seperti yang kamu tahu. Kenapa aku berada di lapangan?" tanya salah satu siswa yang sempat menggila sambil mengucek-ngucek matanya. "Sebelumnya kamu berada dimana?" tanya Asher sambil menawarkan air mineral dan menyamakan tinggi siswa tersebut dalam posisi mendudukkan kaki kirinya. "Saat itu, aku sedang di perpustakaan sedang membaca buku sains. Ada seorang siswa yang bertanya padaku entah apa itu," jawabnya samar-samar. "Sepertinya pelaku disini rata-rata terhipnotis," batin Asher sambil memejamkan mata. Kemudian Asher berkata, "Istirahatkan dulu tubuhmu itu," Asher kembali mengurus siswa lainnya yang masih belum tersadarkan diri. Kini, Arlo sudah menjauh dari keramaian. Ia memojokkan siswa tersebut di bawah pohon besar dekat dengan gedung olahraga, "Hey, sebutkan namamu dan tujuanmu melakukan itu?!" "Cih ... apa keuntunganku memberitahukan itu padamu?!" ucapnya kasar. "Arlo, biarkan aku yang berbicara," tutur Satya sambil menatap matanya dalam. Kemudian, ia berkata, "Baiklah, akan aku beri sebuah keuntungan untukkmu. Apa kamu tertarik?" "Sepertinya aku akan tertarik," ucap siswa itu. "Baiklah, akan aku katakan. Pertama, kamu tidak akan aku laporkan pada pihak guru karena telah mengacau sesi pendaftaran anggota. Kedua, kamu akan jadi pemeran utama dalam rencana ini. Bagaimana dengan tawaranku ini?" ucap Satya. Dia hanya tertawa kecil, "Aku pikir itu bukanlah sebuah tawaran melainkan ancaman. Aku suka cara licikmu," "Namaku Dekka Castle ... sudah aku jawab pertanyaanmu. Jadi, lepaskan tanganku ini!" ucap Dekka sambil berusaha melepas jari-jari Arlo pada tangannya yang mulai memerah. "Tunggu," ucap Arlo menyela pembicaraan. "Apa lagi?" tanya Dekka masih sibuk melepas tangan Arlo yang mencengkram tangannya. "Sebutkan tujuanmu! Maka akan aku lepaskan tanganmu ini," ucap Arlo. "Cih ... Aku menolaknya!" seru Dekka. Arlo, mengangkat tangan Dekka tinggi hingga menggantung. Dekka hanya berusaha menggunakan tangan satunya lagi untuk menyeimbangkanya, sesekali ia meringis kesakitan akibat cengkraman tangan Arlo yang begitu kuat saat menggantung tubuhnya. Dekka menepuk punggung tangan Arlo beberapa kali, " Baiklah, aku menyerah! Lepaskan tanganmu. Tujuanku hanyalah membalas dendam karena rasa iri saja," Arlo langsung melepas tangan Dekka, "Aku tidak akan bertanya lagi atas jawabanmu itu," "Aku akan bergabung dengan grupmu. Ingat! ini bukan karena ancamanmu berhasil tapi ada hal lain," balas Dekka. "Apapun alasanmu itu yang terpenting kamu mau bergabung," ucap Satya bersalaman dengan Dekka. "Ayo kembali ke mereka ... mungkin saat ini mereka sedang sibuk mengurus pendaftaran anggota," ucap Arlo meninggalkan Dekka dan Satya. Satya dan Dekka mengikuti dari belakang Arlo, "Kamu berasal dari kelas apa?" selidik Satya. "Aku berasal dari kelas 10A," jawab Dekka berjalan lambat menyamakan langkah Satya. Satya mengangguk, "Nanti akan aku perkenalkan temanku yang lain setelah kita sampai." Dari kejauhan Satya melihat Naomi yang sedang sibuk mengidentifikasi orang-orang bermasalah dan tidak punya pilihan lain selain bergabung kedalam grup. "Naomi, kita sudah memiliki berapa anggota?" tanya Arlo yang kini berada di sampingnya. "Kita baru saja mempunyai 30 anggota pelanggar dan 20 sukarelawan," balas Naomi. "Kita kekurangan 75 anggota lagi," gumam Arlo. "tenang saja, pendaftaran masih di buka!" seru Satya. "Ngomong-ngomong dia siapa?" tanya Naomi bingung. "Dia anggota baru kita ... silakan perkenalkan diri lagi," ucap Arlo "Dekka Castle kelas 10A," ucapnya sambil tersenyum memberi salam. "Naomi Samantha salam kenal," balas Naomi. "Sudah cukup perkenalannya ... ayo Dekka kita pergi ke ruang guru," sela Satya. "Untuk apa ke ruang guru?" tanya Dekka. "Kita butuh gedung olahraga untuk berlatih," tutur Satya. "Sepertinya akan jadi masalah, jika aku menolak ikut." batin Dekka "Baik, aku akan ikut denganmu!" seru Dekka mengikuti Satya dari belakang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD