Seminggu berlalu sejak insiden keributan yang disebabkan Dekka Castle saat sesi pembukaan pendaftaran. Semua masalah tersebut telah di selesaikan oleh Arlo dan teman-temannya. Para siswa merasa tenang ketika mengetahui pemimpin perkumpulan bisa menangani dengan mudah.
Kini pendaftar F.K16 menjadi 60 orang, digabungkan dengan kelas 11 yaitu; 5 orang relawan dan 5 orang pelanggar.
Sekolah ini memang mengizinkan calon murid-murid gagal untuk membuat sebuah kelompok agar tetap bertahan hidup pada F.K16. Dengan berkelompok, mereka memiliki peluang untuk hidup menjadi lebih tinggi. Setiap kelompok di pimpin oleh pemimpin terkuat pada kelompoknya.
Ada aturan tidak tertulis pada sekolah yang Arlo dan teman-temannya tinggali yaitu; setiap lahirnya kelompok baru mereka harus bertarung dengan pemimpin lain untuk membuktikan bahwa pemimpin baru itu pantas membuat sebuah kelompok. Karena selama F.K16 berlangsung nyawa anggota kelompok lebih di utamakan daripada nyawanya sendiri.
***
"JANGAN SAMPAI KALAH!" sorak-sorak keras dari dojo tempat latihan klub karate biasanya berlangsung. Akan tetapi, saat ini menjadi sebuah arena bertarung yang di selenggarakan oleh Ketua klub karate.
"BUKK!" tendangan keras samping kiri Arlo ke arah perut lawan, memuntahkan cairan merah pekat melalui mulut lawan. Ia terpelanting keluar arena membuat penonton menerima lemparan tubuh petarung hingga membuatnya tak sadarkan diri setelah terlempar.
Ketua klub karate memberikan tepuk tangannya tentu saja ini jarang terjadi, "Hebat ... hebat hanya dua gerakan saja kamu sanggup menumbangkan satu anak buahku. Aku semakin ingin bertarung denganmu ... GAWAT! ... aku tidak bisa menahan keinginanku untuk bertarung denganmu Ha-ha," Ia hanya tertawa keras.
Ketua klub langsung memasuki arena dan memberinya jabat tangan, "Aku suka gaya bertarungmu, mari kita bertarung," dagunya sempat ia dongakkan karena tinggi badan dan tubuhnya lebih kecil dari Arlo.
"Baik, sesuai keinginanmu tapi sebelum itu ijinkan aku berbicara dengan temanku terlebih dahulu," ucap Arlo menunjuk kebelakang dengan ibu jarinya.
Ketua klub tertawa lebar, "Haha-haha ... iya silakan saja,"
Arlo segera mendekat ke arah Satya dari keenam temannya yang melihatnya bertarung.
Dengan senyum riang pada wajahnya. Arlo berkata, "Apa rencana kita berjalan lancar sejauh ini?" sambil mendudukki kedua kakinya.
"Jangan khawatirkan itu, jika ada rencana yang melenceng kita hanya perlu improvisasi saja. Kamu fokus saja dan ikuti semua rencanaku seperti air mengalir, nikmati saja peranmu sebagai pemimpin," tutur Satya memberi arahan.
Arlo segera berdiri sambil meregangkan tubuhnya dengan semangat membara menyelimuti, "Ahh sial, ucapanmu begitu menenangkan" Arlo membalikan badan, "Kalau begitu serahkan pertarungan ini padaku," ucapnya menyeringai.
Ketua klub melihat perubahan sikap Arlo dari arena, "Sepertinya kamu baru saja mendapat pencerahan Haha-haha," candanya pada Arlo.
"Ya begitulah," balas Arlo singkat.
Wajah Ketua klub kini berubah menjadi serius, "Ayo kita mulai pertandingannya." Ia membungkukkan tubuhnya sebelum memulai pertarungan, "Baiklah ayo kita mulai," ucapnya memasang kuda-kuda.
Arlopun ikut membungkukan tubuhnya, "Seperti yang kau pinta!" seru Arlo.
Semua penonton terdiam, sunyi memperhatikan kedua petarung. Hingga terdengar suara mesin penyaring udara membuka dan menutup katup. masing-masing petarung bisa mendengar hembusan napasnya sendiri yang begitu teratur mengalirkan oksigen kedalam tubuh.
"Haachii!" keheningan itu pecah ketika salah satu pria bersin dengan suara keras membuatnya menjadi pusat perhatian. Tapi menurut mereka yang tengah di dalam arena membuatnya seperti isyarat memulai pertarungan.
Pria berbadan kecil itu menyerang terlebih dahulu dengan tendangan memutar ke arah kiri Arlo. Tubuh Arlo yang terlampau besar tidak bisa menghindari gerakan gravitasi Pria itu.
Leher Arlo terkena tendangan Pria itu, untung saja ia masih sempat mengeraskan otot lehernya. Pria itu mendaratkan kedua kakinya ke lantai tanpa terjatuh, raut wajahnya terlihat menahan rasa sakit.
"Latihan seperti apa yang membuat tubuhnya seperti itu?" gumam lawan tanding Arlo terkejut.
"Apa sudah selesai?" tanya Arlo masih memasang kuda-kuda.
Pria berbadan kecil itu menyeringai, "Itu baru saja permulaan,"
Pria berbadan kecil langsung menegapkan tubuhnya dan kembali melompat dan berteriak, "tinjuan tornado!"
Ia memutarkan tubuhnya ke arah kanan dengan kaki kanannya menendang d**a Arlo hingga terdorong jauh.
Arlo kewalahan ketika menyeimbangkan tubuhnya sampai nyaris menyentuh garis, "ucapanmu tidak sesuai tindakanmu!" demikian protes Arlo.
Lawan tandingnya kembali menyeringai, "pertarungan bukan hanya kekuatan tapi kecerdikan,"
Arlo tidak membalas ucapannya, ia bangkit berniat menyerang dengan menunjukkan wajah seramnya kembali. Ia mendekat melangkah dengan kaki besarnya. Kemudian menunjuk Ketua klub dan mengepalkan tangan kirinya.
Arlo menyerang dengan tangan kiri walau tidak kidal. Akan tetapi, serangan tangan kirinya masih sama kuat dengan tangan dominan.
"WUSHH ..." serangan Arlo menimbulkan suara seolah membelah angin di sekitarnya. Walau begitu, Pria berbadan kecil itu berhasil membelokkan arah serangan dengan kedua punggung lengannya. ke arah samping kanan bahu.
Ketua klub berhasil melawan balik menggunakan kaki kiri mengincar dagu Arlo sesaat setelah serangan Arlo berhasil ia arahkan. Bibir Arlo berdarah akibat tendangan tinggi yang dilancarkan lawan tandingnya.
***
Suasana menjadi sangat ramai, "Arkhhh ..." sontak mereka yang melihat menjadi menjerit terkejut melihat kekuatan mereka sejauh ini seimbang walau tubuh Arlo lebih besar di bandingkan lawannya yang lebih kecil.
Teman-teman Satya yang melihat pertarungan temannya begitu cemas. Karena belum pernah melihat Arlo terluka, baru kali ini mereka melihatnya.
***
Arlo kembali menampakkan wajah seramnya yang tidak sadar sedang ia lakukan saat ini. Emosinya menjadi memuncak ia mengerahkan seluruh tenaganya karena merasa di permainkan.
"HYAATT!" Arlo kembali memukul dengan tangan kanann dan kiri bergantian menjadi tidak beraturan karena mengamuk.
Ketua klub terus berusaha menghindari serangan mentah Arlo secara bertubi-tubi. Makin lama pertarungan semakin panas, gerakan tangan Arlo semakin sulit di tebak arah pukulannya. Arlo tidak hilang akal ia mencengkram bahu dan menggunakan kakinya lalu menjatuh diri bersamaan dengan lawan tandingnya ke arah depan.
Setelah lawannya tumbang Arlo segera bangun dan memegang lengan kanan tanpa berpikir panjang ia memelintir lengan sang lawan. Selanjutnya, ia menginjak kepala dengan kaki kirinya hingga kembali mencium lantai, "Krieekk!" terdengar suara tulang bergeser.
Sang lawan tidak berkutik, setelah diinjak oleh kaki besar Arlo.
Mereka terdiam ketika sudah mengetahui pemenangnya, terutama pada pengikut lawan tandingnya, wajah takut dan ngeri menghinggapi diri mereka masing masing yang berasal dari sudut samping dekat pintu.
Tepuk tangan meriah oleh teman-teman Arlo beserta penonton lain membuat ramai mengisi ruangan hingga suara tersebut kembali terdengar sampai luar ruangan.
Arlo memberi hormat dengan membungkukkan badan pada penonton dan teman-temannya terutama pada Satya yang telah memberi arahan.
Ia kembali mendekat ke Arah Satya. Ia pun berkata, "Satya, setelah ini apa yang harus kita lakukan?" demikian ucap Arlo.
Satya pura-pura berpikir sambil menahan jawabannya, "Hhmm ... kita pulang, aku tahu kamu masih semangat tapi kita harus istirahat terlebih dahulu menyegarkan pikiran Ingat! Semua orang berharap padamu ... jadi istirahatlah secukupnya."
Semua orang telah pergi dari dojo kecuali anggota klub karate yang masih sibuk mengobati bahu pada sendi Ketua klub karate. Beberapa orang perwakilan anggota menghampiri Arlo.
"Seperti yang telah di setujui, jika salah satu ketua kalah maka anggotanya menjadi bagian dari si pemenang termasuk Ketua klub karate," ucap anggota klub karate.
"Hhmm, baiklah." Arlo memberi jabat tangan kepada anggota klub karate, "Selamat kamu telah menjadi bagian kelompokku,"
Ia menerima jabat tangannya, "Terima kasih, sebelum itu aku mau meminta tolong padamu."
"Apa itu?" tanya Arlo penasaran.
"Tolong bantu kami membawa dia menuju UKS," ucap anggota baru Arlo sambil menunjuk bekas lawan Arlo.
"Baiklah, aku akan menggendongnya." balas Arlo, "Tapi sebelum aku menggendongnya, biarkan temanku mengecek tubuhnya terlebih dahulu," sambung Arlo memberi isyarat dengan menunjuk Satya.
"Oke, akan aku periksa dia," balas Satya melangkah menuju kerumunan. Selanjutnya, ia memeriksa setiap bagian tubuh orang tersebut yang terlihat memar.
"Bagaimana Satya?" tanya Arlo.
"Ia sepertinya mengalami gegar otak ringan serta memar ringan pada sekujur tubuhnya. Tapi yang paling parah pada bagian lengan kiri yang bergeser kebelakang." selidik Satya menilik setiap jengkal tubuh pasiennya, "Untung saja, aku berada di sini. Cara memperban bagian lengannya sedikit salah, karena cukup jauh dari posisi awal. Carikan aku minyak atau apapun yang membuat tanganku licin!" titah Satya.
Para pria sibuk mencari barang yang di maksud Satya pada setiap sudut. Setelah sekian lama mencari, Felicia mendekati Satya yang terlihat sibuk menyentuh bagian-bagian sekitar memar dengan hati-hati..
"Apa bodylotion sudah cukup?" tanya Felicia menawarkan body lotionnya kepada Satya.
Raut wajah senang tersirat jelas, "Wah, ini lebih dari cukup. Makasih," ucapnya tersenyum menunjukkan gigi putih rapih pada Felicia.
Wajah Felicia langsung merona kemerahan. Akibat senyuman Satya yang terlampau manis menurutnya dan bergegas meninggalkan Satya.
Naomi serta Foxie cemburu ketika melihat senyum Satya hanya untuk Felicia saja.
Satya kini mengusap-usapkan bodylotion pada tubuh pasiennya ia berniat mengobati dengan menggeser sendinya ketempat semula.
"Untung saja ia sedang tertidur jadi tidak, dia akan merasakan sakit luar biasa," gumam Satya.
Satya kembali mencoba merasakan arah pergeseran tulang dengan tangannya. Kemudian, ia mengurut pelan-pelan untuk memastikan kembali, "KRIIEEKK! ..." suara bunyi tulang bahu telah bergeser.
Pada waktu bersamaan teriakan kesakitan memekik telingan, "Huaarkkhh!" teriak pasien tersadar membuat Satya terkejut hingga seisi ruangan yang mendengarnya.
"Diamlah." ucap Satya menampar wajahnya orang tersebut, "Aku akan membalut bahumu dengan perban. Duduklah, "pinta Satya pada pasiennya.
"Hufftt ... Haha-haha," mereka tertawa terbahak-bahak sambil berusaha menahan walau percuma.
"Setelah sekian lama tidak pernah merawat pasien. Kenapa tingkahmu begitu kasar?" tanya Asher masih tertawa lepas.
"Husstt, diamlah. Aku sedang tidak ingin mendengar ceramahmu." balas Satya dingin, ia juga masih sibuk membalut perban pada tubuh bekas lawan tanding Arlo, "Nah, sudah selesai aku ikat kamu hanya perlu pergi ke UKS dan meminta obat pereda nyeri," tutur Satya memberi masukkan.
"Arlo! Tolong bawa orang ini ke UKS," perintah Satya meneriaki nama temannya.
"Iya-iya tenang saja, tidak perlu meneriak aku seperti itu," balas Arlo sambil mendekati pria berbadan kecil itu.
Arlo berjongkok untuk mempermudah menggendong bekas lawan tandingnya. Kemudian, ia berdiri sambil membawa beban di pundaknya dan menuju ruang UKS diikuti teman-temannya keluar dojo.
Hembusan angin sore hari ini begitu kencang, pohon-pohon di sekitar lapangan sekolah terlihat menari mengikuti arah hembusan angin. Walaupun, bau udara yang di hirup tidak terlalu segar tapi rasanya begitu nikmat ketika angin tersebut menabrakkan diri ke tubuh.
Pancaran cahaya sore hari dari celah-celah dedaunan setiap melewati pohon, seperti lampu sorot yang mengikuti setiap langkah kami.
"Satya!" sahut Naomi mengarahkan pandangannya.
"Iya?!" jawab Satya sedikit terkejut.
"Apa kamu percaya pada Dekka?" selidik Naomi dengan tatapan serius sambil memperhatikan langkahnya.
"Tidak! Aku belum mengenalnya terlalu lama maka dari itu aku tidak memasukkan dia lebih dalam pada rencana hari ini." jawab Satya sigap dengan segala teori yang ia buat, "Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" selidik Satya.
Naomi menggelengkan kepala, "Hhhm, cuma itu saja yang mengganggu pikiranku," demikian ucapnya sambil tersenyum tipis.
"Baiklah, mungkin hari ini kita harus segera membahasnya." ucap Satya, "Bagaimana kalau hari ini kita ke rumahku kebetulan sedang sepi ... maksudku memang selalu sepi," ajak Satya pada teman-temannya.
Ekspresi Naomi dan Felicia langsung berubah menjadi senang, "Wah! Apartemen Satya," batin keduanya merasa senang.
"Tapi jika kalian sibuk hari ini, tidak apa-apa bisa lain hari," ucap Satya menyerahkan keputusan pada teman-teman baiknya.
Wajah Felicia dan Naomi kembali berubah kecewa, "Tidak-tidak, jangan!" seru mereka berdua berbarengan.
"Aku akan menghubungi orang tuaku terlebih dahulu!" ucap Naomi tergesa-gesa mengambil telepon pada tasnya diikuti Felicia.
Naomi membalikkan badannya bersamaan dengan Felicia
telepon sedang menghubungkan, "tuut ... tuut ... Halo! Bu Naomi akan pulang telat mau ke rumah Satya,"
"Ahh, Satya temen kamu yang waktu itu kamu bawa dia ke salon?" tanya Ibu Samantha.
Naomi menganggukkan cepat, "I-iya bu dia. yang aku bawa kemarin,"
"Oh, begitu. Baik, jangan lupa titip salam sama calon menantumu," ucap sang Ibu tertawa kecil.
"Ih apaan sih bu! udahlah males enggak lucu." balas Naomi memerah dengan nada jengkel, "Udah ya bu, makasih!" seru Naomi kegirangan lalu menutup teleponnya.
"Makasih bu!" balas Felicia senang dan menutup teleponnya.
Kemudian, Naomi dan Felicia saling menatap lama. Tidak ada satu kata pun terucap tapi mereka berdua tahu bahwa sebentar lagi akan ada perang dingin.
"Bagaimana?" tanya Satya
"OK!" ucap Felicia dan Naomi berbarengan.
"Loh, yang lain kemana?" tanya Naomi bingung.
"Iya, yang lain mana?" tanya Felicia
Tanpa mereka sadari kini mereka tinggal bertiga, "Aku menunggu kalian sedari tadi, yang lain mendahului kita, Arlo ingin segera sampai ke UKS." balas Satya, "Oh iya, Asher dan Arlo setuju untuk mampir ke rumahku," sambung Satya tersenyum ke arah mereka berdua.
"Wah, benarkah? Pasti akan seru," balas Felicia.
Mereka bertiga melanjutkan berjalan kaki menuju UKS sesampainya disana, mereka berpapasan langsung dengan Asher dari balik pintu UKS.
"Loh, kok Asher keluar? Sudah selesai?" selidik Naomi.
"Aku mau ambil tas dulu, mau titip?" tanya Asher.
Mereka bertiga mengangguk.
"Kecuali kamu Satya, yuk ikut!" ajak Asher paksa menarik kerah bagian belakang.
"E-ehh! Kenapa tidak sendiri saja?" balas Satya terkejut.
Asher menarik sebagian garis bibirnya, "Membawa enam tas sendirian? Kamu bercanda?!"
Satya terdiam tidak membalas tanggapan Asher.
Mereka berdua menelusuri lorong sekolah menuju kelas 10C untuk mengambil tas dan kembali lagi ke UKS. Tidak ada pembicaraan panjang selama mengambil tas yang membuat suasana begitu tenang.
Setelah Asher membuka pintu UKS ternyata tinggal mereka berempat.
"Dimana orang tadi?" tanya Asher.
"Dia pulang terlebih dahulu." jawab Foxie dingin, "Aku ambil tas ini. Silakan kalian bersenang-senang!" sambung Foxie dengan gelagat anehnya sambil melambaikan tangan keluar ruangan UKS.
Satya berpapasan dengan Foxie terlihat membawa tas, "Foxie kamu mau pulang? Enggak mau mampir dulu ke rumahku?"
Foxie menghentikan langkahnya, "Aku ada urusan, di rumahku bye!" balasnya tersenyum ke arah Satya lalu melanjutkan langkah yang tertunda.
Satya tidak terlalu memikirkan sikapnya dan segera memberikan tas pada pemiliknya.
Sesuai kesepakatan mereka memutuskan untuk mampir ke rumah Satya.