CHAPTER 10

1524 Words
"Apa!" seru Arlo seraya terkejut mendengar pernyataan Satya. Datanglah manusia paling sombong, jika berurusan dengan gadis-gadis. Siapa lagi kalau bukan Asher Carrington. Nada meremehkan keluar dari mulut Asher, "Kalo belum berpengalaman, jangan pernah berani-berani menyulut api dengan api lainnya" sahut Asher masih melangkah mendekati bangku Satya. "Terus, kelanjutannya bagaimana?" tanya Arlo penasaran. sambil membuka telapak tangannya lebar-lebar mengarah ke Satya, "Tunggu-tunggu! memangnya ini cerita komedi, romantis. Apa yah?" cetus Asher merasa aneh dengan situasi yang trerjadi pada Satya. Sebelumnya. Plak ... Tamparan keras mengarah ke pipi Satya. "Kenapa harus pipiku?" ucap Satya masih meringis kesakitan sambil melihat Naomi pergi meninggalkan, tanpa menghiraukan yang di tamparnya. "Aku sudah menduganya. Ini sekenario paling buruk yang pernah aku alami selama ini," ucap Satya ingin mengumpat. 30 menit menunggu. Felicia keluar dengan wajah segar serta rambutnya harum seperti permen gula. "Satya!!" serunya terhadap Satya. "Ahhh... Iya," jawab Satya sedikit terkejut, karena terlalu fokus terhadap wajah Felicia. "Kamu kenapa bengong?" tanya Felicia. "Kamu kok, kadang-kadang suka bengong," sambungnya penasaran. "Aku tak apa kok, cuma banyak pikiran" balas Satya. "Felicia, kenal sama anak pemilik salon ini?" tanya Satya penasaran. "Eehhm, Naomi maksud kamu?" tanya balik Felicia. "Iya," jawab Satya sambil menggoyang-goyangkan kaki kiri. "Kenal kok, dia temen masa kecilku," balasnya tersenyum manis. "Kenapa kamu tidak pernah cerita padaku?" selidik Satya. "Soalnya, kamu tak pernah menanyakan hal itu kepadaku," jawab Felicia sembari duduk di kursi tunggu bersama Satya. "Memangnya ada apa?" selidik Felicia penasaran. "Tidak ada apa-apa. Yuk pulang," ajakku "Hhhmm, ok" Baru saja kami akan melangkah menuju pintu, terdengar suara memanggil kami berdua. "Felicia, Satya tunggu sebentar!" seru Naomi dari kejauhan, mendekat pada kami. "Kalian sedang kencan?" tanya Naomi "Iya, ini kencan pertama kami" jawab Felicia dengan bangga. Dengan nada curiga, "Kenapa tidak berangkat ke sekolah saja?" sambil menyipitkan mata ke arah Satya. "Pasti kamu yang mengajaknya, iyakan?!" ucapnya berprasangka buruk pada Satya. "Bukan aku yang mengajaknya!" jawab Satya menepis prasangka Naomi. Bibir Naomi tak berhenti bergerak menuduh Satya tanpa bukti pasti, "Oh, begitu. Mana mungkin temanku yang polos ini mengajakmu, sudah pasti kamu. Tidak salah lagi!" "Terserah kamu," balas Satya pasrah. Naomi langsung memberi pukulan keras pada perut Satya, "Apa kamu bilang, terserah?!" sambil mengerutkan dahi dibarengi nada jengkel. Satya langsung terdorong ke belakang, karena pukulan keras Naomi. Layaknya petinju profesional. Para pelanggan terkejut dan heboh untungnya. Para pegawai langsung mengalihkan perhatian para pelanggan. Sedangkan Felicia terpatung tak bergerak, hanya melihat Naomi memukul perut Satya. Air liur keluar dari mulut serta darah mengalir keluar "Ahh, kamu sering memukul besi ya? Sampai membuatku seperti ini ..." ucap Satya dengan nada lirih sambil mengusap sisa darah dan air liur. "Menurutmu?" balas Naomi masih mengerutkan dahi. "Tunggu aku di kelas nanti," sambungnya meninggalkan kami berdua, menuju ruangan perawatan. "Satya, kamu tak apa?" tanya Felicia khawatir. "Aku tak apa. Huh, Aku merasa seperti memainkan drama," ucap Satya tertawa geli mengalihkan rasa sakit pukulan di perut. Kami memutuskan pulang bersama, Felicia merangkul Satya membantu berdiri. Menuju taksi yang sudah di pesan. Felicia juga membantunya masuk menuju taksi. Walaupun, sedikit kesulitan karena tubuhnya yang mungil. Sesudahnya. Arlo menepuk punggung Satya, "Satya, kamu itu terlalu lemah. Apa kamu pernah berolahraga?" "Aku, belum pernah selama ini. Aku baru menyadarinya setelah menginjak bangku SMA" jawab Satya tersenyum malu. "Ok, kamu mau mengikuti bela diri tinju bersamaku?" tanya Arlo sambil menunjukkan otot lengan besar andalannya. "Tidak! Terima kasih, aku hanya butuh olahraga bela diri yang tidak terlalu menggunakan otot" jawab Satya. "Olahraga tanpa otot yaa ... Bagaimana kalau, kamu mengikuti beladiri kravmaga atau Aikido!" seru Asher menyela pembicaraan. "Di sini memangnya ada?" tanya Satya penasaran. "Aku tak terlalu paham. Oh iya, kalau kamu mau, minta di ajarkan ibu Valerie saja. Aku lihat gaya bertarungnya simple dan memanfaatkan kekuatan lawan mungkin akan cocok untukmu," jawab Asher sambil menduduki meja Satya. "Wah, ide bagus Asher" cetus Arlo. "Ok, Aku setuju dengan idemu" balas Satya tersenyum puas dengan ide Asher. Saat sedang asik-asiknya berbincang datang lagi. Gadis manis tempo hari yang telah memukul Satya. Akan tetapi, Gadis tersebut hanya melewati mereka berempat. Asher hanya memperhatikan tingkah gadis tersebut. Lalu berkata, "Satya, sepertinya dia masih marah padamu" "Tiingg ... tingg ... tingg ..." Suara bell berbunyi menandakan kelas akan dimulai. "Oh iya, sebentar lagi guru akan memanggilmu," bisik Asher sambil tersenyum. "Ahh, kenapa? ..." tanya Satya lirih. "Tunggu saja ..." jawab Asher lirih pula. Whoosh ... klek ... Suara pintu terbuka bergeser. "Selamat pagi," "Sebelum memulai pelajaran, ada yang harus ibu beritahukan" "Satya Pranaditya!" ucap sang Guru tegas. "Silahkan keluar, berdiri disana nanti akan di jemput seorang guru," sambungnya memberi tahu. "Baik bu," jawabku pergi menuju pintu keluar. Whoosh ... klek ... Suara pintu terbuka bergeser. Saat Satya keluar dari kelas tersebut. Lorong kelas terlihat sangat sepi, yang ada hanya rak-rak berisi payung. Karena, pagi tadi hujan lebat. Satya hanya menunggu sambil berdiri membelakangi ruang kelas 10E. Sambil bersender di tembok dan mengayun-ayunkan kaki kirinya dengan pelan. Tidak butuh waktu lama Satya menunggu, mungkin 10 menit. Kemudian, muncul sosok yang ia kenali dari lorong sekitar 30 meter dengan wajah samar-samar. Karena, pencahayaan kurang baik di ruangan yang mereka lewati. Suara hujan terdengar halus membuat nyaman. Walaupun, membuat dingin dan lembab di lorong kelas. Sambil menyipitkan mata, Satya mulai bisa mengenali wajah mereka berdua. Ternyata, dia Felicia dan bu Valerie. Seakan tak percaya apa yang Satya lihat, ia kembali menyipitkan matanya berharap yang ia lihat tidak salah sangka. Satya akhirnya percaya apa yang dilihatnya adalah kebenaran. Bu Valerie mendekat ke arah Satya kemudian berkata, "Satya, ikut aku bersama Felicia" Satya hanya mengangguk dan segera mengikutinya tanpa bicara sepatah katapun. Sedangkan yang di sebelahnya yaitu Felicia hanya termenung menunduk. "Anuu ... Maaf ada apa ya?" tanya Satya bingung dengan situasi tak mengenakan ini. "Ruang isolasi," jawab bu Valerie singkat tanpa menoleh ke arah Satya. "Untuk apa?" tanya Satya bingung. "Untuk perbuatanmu tempo hari bersama Felicia," jawabnya masih singkat. Satya terdiam mengingat kembali kejadian tempo hari yang di maksud bu Valerie. "Membolos ..." ucap Felicia lirih sambil tetap berjalan dengan posisi menunduk. Ingatan Satya langsung menyeruak keluar. Ia lupa, kemarin membolos bersama Felicia. Gara-gara pikirannya terlalu sibuk memikirkan Naomi yang menampar dan menyuruhnya menunggu di sekolah. Sambil menunduk malu atas perbuatan yang dilakukan, "Bagaimana aku bisa lupa kejadian tempo hari," ucap Satya kesal. Whoosshh ... klek Suara pintu terbuka bergeser ke arah kanan. "Cepat masuk," pinta bu Valerie. Kami langsung masuk kedalam, kemudian di tutup kembali dari luar. Ada sebuah cermin besar persegi panjang. Lebar 1 meter dan panjang 1.5 meter. Felicia sempat menekan dinding tembok, yang ternyata ada lapisan empuk ketika di tekan. Setiap sudut terlihat di beri bantalan dan bagian langit-langit ruangan di lapisi dengan bahan yang sama. Tak lupa pula di beri warna putih cerah pada seluruh ruangan dari langit-langit, dinding hingga lantai. Warna yang paling menonjol hanyalah hitam pada properti meja dan tiga kursi. "Satya, cermin ini untuk apa?" tanya Felicia penasaran. "Mungkin ini cermin dua sisi. Satu sisi bisa melihat kita, sisi lainnya hanya bisa melihat diri kita sendiri," jawab Satya. Terdengar suara microphone saat sedang di tes suaranya. "Te-tes-tes ... ok baiklah, jika kalian dengar mengangguklah," Kami berdua menganguk sambil saling memandingi diri kami dari balik pantulan cermin. "Silahkan duduk," Kami segera duduk di kursi yang ada tepat di belakang kami berdua. "Pertama-tama aku beri beberapa syarat sebelum aku mengadakan sesi tanya dan jawab," "Pertama, jangan berbicara saat sedang berlangsungnya sesi ini," "Kedua, jika saya bertanya jawablah sesuai yang aku tanyakan jangan berlebihan," "Ketiga, mau minum?" Sontak mereka berdua kaget ketika mendengar persyaratan terakhir. Kami berdua langsung mengangguk mengarahkan pandangan kami ke cermin. "Sebentar akan kami ambilkan," Pintu kembali terbuka, bu Valerie mengantarkan Air mineral dingin. Kemudian, menutupnya kembali. "Oh, baiklah. Kalian pasti tahu alasan kami menyuruh kalian masuk keruangan ini?," Kami diam tak memberi isyarat apapun. "Baiklah, akan aku jelaskan. Untungnya kami telah memasang alat pelacak pada tengkuk kalian dan lensa yang kalian gunak tanpa harus meminta izin kepada pemakainya," "Dari gambar yang kami ambil pada lensa yang di pakai Satya. Kalian berpergian menuju Toko butik, taman bermain, restoran cina dan salon. Apa yang aku katakan benar?" Kami hanya mengangguk malu. Karena, kegiatan membolos kami ketahuan jelas. "Selanjutnya, bagaimana kencan kalian? Apa kalian menikmatinya?" Lagi-lagi yang bisa kami lakukan hanya mengangguk malu. "Apa kamu tahu hukuman apa jika kalian ketahuan membolos?" Kami menggelengkan kepala. Kemudian saling menatap satu sama lain. "Baiklah, Poin kalian akan di kurangin 20 poin. Pertama terlambat sekolah 5 poin, membolos 15 poin. Artinya kemungkinan besar kalian berdua akan masuk F.K16. Itu saja yang bisa saya sampaikan," Setelah pernyataan tersebut Felicia menangis keras. Tentang apa yang telah ia perbuat sambil membela dirinya, dengan pikiran jenuh. "Dia, yang mengajakku pergi membolos," ucapnya membela diri sambil menangis keras. "Mmhhm, Nona muda. Percuma saja kamu berbohong semuanya terekam jelas di lensa yang Satya pakai," "Tak apa menangislah keras-keras suaramu tak akan terdengar dari luar sini," Setelah mengetahui hal itu, tangisannya semakin keras. Satya hanya terdiam bingung melihat Felicia menangis keras. "Baiklah, ada beberapa cara jika kalian ingin selamat dari F.K16," Ketika mendengar ucapan itu Felicia mulai mengecilkan suara tangisannya. "Pertama, kalian belajar." "Kedua, membuat sarang semut," "Membuat sarang semut?" Felicia mengulang kalimat itu dengan rasa penasaran hingga lupa ia tadi menangis keras memenuhi ruangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD