"Terima kasih telah mengunjungi toko butik kami," ucap sang pelayan sambil membungkuk 30 derajat.
Mereka melangkah keluar dari toko tersebut.
Layaknya sepasang kekasih Felicia memeluk lenganku dengan nyaman tanpa menghiraukan pejalan kaki yang memperhatikannya.
"Sekarang kita lanjut kemana?" tanya Satya mengarahkan pandangan kepada Felicia tepat di sebelah kanan.
"Ehmm, kemana ya?" ucapnya bingung
"Bukannya kamu mau pergi menuju game central dan mall?" tanya Satya.
"Tadinya sih iya, tapi aku tidak mau kesana sekarang," jawabnya masih memeluk lengan Satya.
"Jadi sekarang kita mau kemana?" tanya Satya menatap matanya.
"Taman hiburan Michelle mouse aku dengar di sana ada jenis permainan baru. Oh iya, yang paling aku inginkan maskot michelle mouse terbaru," ucapnya memasang wajah memohon.
Satya langsung menaikkan alis kananku, "kenapa tidak ke tempat lain saja," ucap Satya.
"Gawat, jika dia tau aku Fobia maskot bergerak" benaknya khawatir.
Melihat Satya bertingkah aneh, lantas membuat Felicia penasaran hingga ingin menanyakan, "Kenapa, tidak mau? Tempatnya tidak jauh dari sini kok. Cuma 15 menit menggunakan taksi Jika tidak ramai," sambil memperhatikan wajahnya secara rinci.
"Aku tidak terlalu suka keramaian," ucap Satya mencoba mengelak.
"Ayolah, satu kali ini saja. Ingat janjimu waktu di depan gerbang sekolah," ucap Felicia
"Ah, aku tak bisa mengelak," balas Satya kepadanya.
"Bagus deh, kalau begitu"
Felicia segera memanggil taksi dengan melambaikan tangan. Pada sang supir dari balik mobil.
Ketika taksi telah mendekat, Felicia berkata " Tolong antarkan kami menuju Taman hiburan michelle mouse," sedikit membungkuk.
"Langsung masuk saja," ucap sang Supir pada mereka.
"Ini sudah jam berapa?" tanya Felicia pada Satya.
"Sekarang pukul 11 siang," jawabnya sambil melihat layar pada lensa.
"Wah, tak terasa sudah siang saja," ucap Felicia.
Baru 5 menit mobil menancapkan gas.
Tangan Felicia mulai sedikit nakal, memegang tangan kiri Satya yang lebih besar darinya.
Selama perjalanan, mereka hanya berpegangan tangan tanpa mengatakan sepatah dua patah kalimat.
15 menit perjalanan terlewati.
Kami juga harus menunggu selama 15 menit untuk mengantri tiket masuk.
sambil mengibas-ngibaskan kerah kaos yang di kenakan karena matahari mulai meninggi. Satya berkata, "Ternyata ramai sekali disini, Aku pikir hari biasa akan terlihat senggang dan lebih mudah masuk,"
"Aku-kan sudah bilang padamu. Beberapa hari terakhir. Tempat ini ramai," ucap Felicia berada tepat di depan Satya mengantri.
Tiap menit matahari semakin meninggi membuat udara semakin panas. Satya menawarkan diri membelikan minuman dan tentu saja tabung oksigen dengan rasa strowberry yang bermerek OxFluid.
Bagian isi tabung tersebut berisi cairan pendingin dan bahan lainnya agar mudah masuk tabung serta tahan lama.
Setiap 3 jam sekali kami menggunakan OxFluid. agar paru-paru kami bersih dari partikel berat yang mempengaruhi kinerja organ.
Orang-orang yang berada tepat di depan Felicia. Telah sampai di depan gerbang utama, memasuki taman hiburan Dinneo Land dengan maskot andalan Michelle mouse.
Kini giliran Felicia masuk diikuti Satya. Setelah masuk, mereka disambut oleh permainan yang terlihat seolah-olah menantang kami untuk mencobanya. Tak lupa pula teriakan keras mereka ketika mencoba wahana tersebut.
Kyaaaa! ... Splaash ...
Suara Teriakan dan hantaman wahana menyentuh air.
Felicia kegirangan. Ketika melihat wahana yang baru saja melewati dirinya, "Satya!" Teriaknya karena suara bising yang berada di sekeliling.
"Apa?" balasnya karena tidak mendengar jelas ucapannya
Tanpa sepatah kata pun, Felicia langsung memegang tangan dan membawa Satya menuju wahana yang ia lihat tadi.
Satya sedikit tersentak karena tarikan Felicia yang tiba-tiba, "Apa tak ada cara lain. Selain, menarik tanganku?"
"Sepertinya tidak ada," candanya pada Satya sembari berjalan menuju wahana yang ia incar.
Mereka sampai di tempat wahana yang Felicia maksud.
Wajah gembira Felicia tercetak jelas, "Satya!" Teriaknya keras.
"yuk main wahana ini," ajaknya sembari memasukkan tiket ke dalam pintu masuk yang di sediakan.
"Ahh, apa tak ada permainan lain. Paling tidak jangan berhubungan dengan air. Nanti akan membuat bajuku basah!" rengek Satya tidak terlalu setuju pilihan Felicia
"Ayolah tak apa, Aku sangat ingin mencobanya. Kumohon!," rengek Felicia.
"Tidak!," sentakku
Felicia langsung tertegun diam di tempat. Akan tetapi, itu tak bertahan lama, hingga membuat keinginannya semakin menggebu-gebu. Saat permintaannya di tolak mentah-mentah.
Kemudian, Felicia mendorong berkali-kali dengan kasar punggung Satya hingga menaiki wahana yang berada di depan matanya tersebut.
Wahana tersebut melayang menggunakan sistim magnet gaya penolakan, hingga dapat mengambang sempurna di atas rel.
Wahana ini sering di sebut Jet hell. Karena jalur rel yang menanjak tinggi 90° dengan ketinggian 100 meter serta panjang jalur 500 meter memutar kembali ke start. Saat jalan menurun kecepatannya hingga 160 km/jam.
Kembali ke topik pembicaraan utama.
Pada akhirnya Satya tak dapat menolak permintaan Felicia, dia sekarang berada tepat di tempat duduk Satya.
"Ahh, baiklah satu kali ini saja," pinta Satya.
"Ok," jawabnya singkat sambil memasangkan sabuk pengaman.
Jet hell mulai berjalan dengan bunyi khasnya yaitu mendesis dibarengi semburan asap di kanan, kiri pada moncong depan.
Jet hell mulai menanjak keatas pelan namun pasti. Selanjutnya turun ke bawah dengan cepat.
Whooshhh ... Ssshhht ... Kyaaaa! ...
Orang-orang berteriak ngeri, seakan nyawa di dalam tubuhnya terlepas. Ketika, Jet hell meluncur ke bawah dengan kuat, di barengi siraman kuat pula dari kolam air.
Setelah mencoba satu permainan itu, Satya mulai ketagihan dan mulai mencicip berbagai macam permainan. Hingga situasi berbalik, yang kini Felicia di bujuk untuk mengikutnya mencoba wahana yang ingin di naik Satya.
Waktu tak terasa telah berlalu kini pukul 2 siang.
Keringat yang bercucuran serta senyum puas terpasang di wajahnya, "Huufft, cape banget hari ini. Gila keren abis!" ucap Satya sambil menyeka keringat menggunakan lengan.
"Tuhkan, pada akhirnya kamu ketagihan. Hehe," tawa Felicia ikut berpuas hati.
Ketika, tertawa riang bersama Satya, muncul maskot kebanggaan Dinneo land. Melewati mereka berdua, tanpa berpikir panjang. Felicia menarik Satya.
"Ahh, sial. Sudah berapa kali kamu menarik tanganku?" Satya mendengus kesal sambil mengikuti langkah Felicia.
"Ikuti saja, jangan banyak omong," ucapnya sambil tergesa-gesa.
Michelle mouse sudah di depan mata.
Ketika, mengetahui apa yang di rencanakan Felicia. Satya menahan langkah kakinya.
"Hei, mau di bawa kemana aku ini?" tanya Satya masih menahan langkah kaki.
Felicia ikut terhenti, berkata "Ihh, foto sama Michelle mouse itu loh," sambil menunjuk maskot yang ada di depan mata.
"Hah, kamu saja yang foto sama maskot jelek itu," balas Satya kesal bersamaan dengan rasa takut menyertai.
"Ayolah ikut," rengeknya
"Kamu saja, foto sama maskot jelek itu," ucap Satya mencoba mengelak.
"Ihh, masa aku sendirian sih. Nanti aku dianggap aneh," rengeknya sambil memegang lengan pada kaos.
"Ayolah," paksanya.
"Ingat!. Saat ini kita sedang kencan, Aku mohon turuti permintaanku," rengeknya memohon sambil menggoyang-goyangkan tubuh Satya.
Tak bisa mengelak permintaan, "Jurus andalanmu memang ampuh. Hingga Aku tidak bisa menolak permintaan anehmu ini," dengan nada pasrah di akhir kalimat.
Selanjutnya, mengajak berfoto dengan maskot kesukaan Felicia yaitu michelle mouse.
Cekrek ...
Suara potret pada ponsel yang di bawa Felicia, meminta bantuan pejalan kaki yang lewat. Di gambar tersebut Satya terlihat sangat kaku. Tepat pada bagian tengah Satya ada Felicia dan paling ujung kanan maskot Michelle mouse.
Di lanjutkan, menuju toko oleh-oleh yang menjual aksesoris Dinneo land.
Yang sangat Felicia nanti-nanti yaitu boneka Michelle mouse dalam pose tidur.
"Yuk, pulang udah jam 2.30 bentar lagi sore nih," Ajak Satya.
"Ihh, Aku belum makan kita makan siang dulu. Aku tau tempat yang enak untuk lidah asiamu" balasnya sambil tersenyum.
Mereka keluar dari Wahana permainan itu. Kemudian, menggunakan taksi.
Butuh waktu 10 menit perjalanan untuk sampai ke tempat yang Felicia maksud.
Mereka turun dari taksi, "Taraaa! Kita sampai," ucapnya sambil menunjuk tempat yang di maksud itu.
"Ha! ... Kenapa kamu membawaku ke tempat ini?" tanya Satya protes.
Dengan wajah sedikit bingung karena respon Satya tidak sesuai yang di bayangkan, "Memangnya kenapa?"
"Ini restoran cina, sedangkan aku bukan orang cina," jawab Satya protes.
"Oh, maaf aku kira kamu suka makanan cina. Maaf aku salah menerka!"
"Aku maafkan, yuk masuk!" ajak Satya bergegas.
Mereka masuk ke restoran cina. Setelah selesai kira-kira 20 menit makan siang. Kemudian, mereka memutuskan untuk pulang.
"Mmm, Satya..." ucapnya lirih sambil melangkah keluar dari restoran tersebut.
"Apa?" jawab Satya tidak terlalu mendengar.
"Satu permintaan lagi," ucapnya dengan senyum lebar.
"Hah lagi?" ucap Satya kaget bersamaan saat langkah terhenti.
"Cepat katakan, daripada aku berubah pikiran!" ujar Satya dengan nada jengkel.
"Ok, Ikut aku ke salon. Cuma beberapa blok dari sini kok," pintanya memohon.
Satya menarik napas dalam-dalam, dan berkata "Terus kita pulang ya?!," sambil menghela napas panjang.
"Ok, yuk jalan," ajaknya melangkah terlebih dahulu.
"Berapa lama lagi?" rengek Satya letih.
"Baru saja kita jalan tadi," jawabnya.
"Ok, baiklah," balasku sambil mengikutinya dari belakang.
'Samantha Salon'
Nama yang tidak terlalu asing. Lebih tepatnya pernah melihat dan masuk di dalamnya.
Sontak Satya terkejut ketika melangkah masuk ke dalam salon itu. Lebih terkejut lagi ternyata salon langganan yang Felicia adalah Samantha salon.
*Suara lonceng berbunyi*
Lonceng berbunyi membentur pintu berlapis kaca.
"Selamat datang," sambut pegawai salon.
"Mau potong rambut atau perawatan?" tanya pegawai salon.
"Perawatan," jawab Felicia singkat.
"mohon tunggu sebentar ya, di kursi tunggu" sambungnya.
Kami menunggu giliran sambil melihat keadaan salon yang terlihat ramai.
Kami menunggu 30 menit lamanya. Hingga pada akhirnya kami di panggil.
"Kak, silakan menuju ruang perawatan." ucapnya mempersilahkan.
Felicia langsung berdiri, lalu menengok Satya yang masih duduk di sebelah kanannya, "yuk ikut masuk," ucapnya.
"Aku disini saja," balas Satya singkat.
"Baiklah, jangan sampe pulang duluan ya. Awas!" ancamnya sambil meninggalkan Satya menuju ruang perawatan.
"Ya," balasnya singkat
Baru saja di tinggal pergi. Muncullah, seorang anak pemilik salon. Dari pintu depan.
Tanpa basa-basi, Satya ditampar keras pada bagian pipinya.
Plakk ... plakk ...
Suara tamparan keras pada pipi Satya.
Kemudian, Melanjutkan langkahnya menuju ruangan yang sama tempat Felicia masuk.
"Kenapa harus pipiku?"