CHAPTER 08

1614 Words
"Baiklah, berarti kita setuju?" tanya Felica sembari menawarkan jabat tangan. menganggukkan kepala. Satya berkata, "Kita setuju untuk saat ini," sembari menerima jabatannya. "Jadi, kita pergi kemana?" sambung Satya bertanya kepada Felicia. Tersenyum senang mengarah pada Satya. Kemudian bertanya, "Bagaimana kalau kita ke mall atau ke game central?" sembari memegang kedua bantalan pundak tali pada tas. "Terserah, aku hanya mengikutimu," balas Satya tidak peduli pilihan apa yg dia buat. "Hhhmm," wajah cemberut Felica tercetak jelas, ketika mendengar ucapan Satya. Mereka memutuskan pergi dari sekolah itu. Akhirnya, Felicia berniat pergi kedua tempat yang di pilih sebelumnya. Senyum manis masih terlihat dari wajahnya. Lalu bertanya, "kita mau naik bus atau jalan kaki?" sambil mengikuti langkah Satya dari belakang. "Toilet umum," jawab Satya singkat sembari berjalan dengan pandangan lurus kedepan. "Hah, toilet umum. mau apa?" tanya Felicia bingung sembari mengikuti langkah Satya di sebelah kanannya. "Kita ganti baju terlebih dahulu. Jika tidak, saat kita ke Mall atau game central. Tidak akan di ijinkan masuk," tutur Satya memperingatkan. "Oh, begitu ya. Ok, aku akan menuruti perkataanmu," ujarnya. Kemudian mereka pergi menuju toilet umum untuk berganti pakaian bebas bukan seragam. Akhirnya, mereka berhenti di perempatan jalan tempat toilet umum berada. Namun, letak toilet disini sangat strategis. Karena, banyak orang lalu-lalang dan lahan yang semakin sempit. Akhirnya, di buatlah toilet bawah tanah atau lebih terkenal underground toilet. Toilet tersebut ada dua buah untuk laki-laki dan perempuan, berbentuk silinder. Tingginya masing-masing 2.5 meter dengan lingkar 4 meter. Jika, ingin ke toilet. Orang tersebut harus menautkan bluetoothnya, pada ponsel atau lensa yang mereka bawa. "Satya, tunggu aku selesai ganti baju," pintanya pada Satya. "Hah?" ucap Satya tidak terima jika di suruh-suruh. Dengan wajah pura-pura memelas.Felicia berkata, "Kamu mau, gadis polos dan imut ini. Di culik, lalu di bawa ke tempat b****l?..." dengan nada lirih. "Apa b****l?. Bukannya sudah tidak ada ya, beberapa tahun belakangan ini ya?, benak Satya dalam hati. "Ah, baiklah aku akan menunggumu disini," jawab Satya dengan nada terpaksa. Dengan nada mengancam Felicia berkata, "tunggu disini ya, jangan kabur!" sambil mengarahkan telunjuknya ke arah leher. Seperti, adegan menyayat dengan pisau. Felicia kemudian masuk ke toilet. Satya menunggunya dari luar, melihat sekeliling bangunan yang menjulang tinggi keatas hendak menyentuh awan. "Semua orang terlihat sibuk, tanpa pembicaraan atau sapaan yang terdengar dari mereka. Setiap hari, mereka yang bekerja di luar. Wajib, membawa tabung oksigen mini. Pengembang perusahaan tabung oksigen saat ini telah banyak mengeluarkan beberapa varian rasa yang paling umum wangi dari bunga dan yang terbaru yaitu buah-buahan. Karena udara yang telah terkontaminasi karbon monoksida dari kendaraan, seperti yang di jelaskan saat sekolah," pikir Satya melihat sekitarnya. "Terdengar lucu bukan?" benak Satya tersenyum tipis. "Saat, usiaku menginjak 16 tahun. Pandanganku akan dunia yang ditinggali ini berubah menjadi ancaman mematikan. Saat usiaku 8 tahun menginjak sekolah dasar (SD)." "Semua orang terlihat, begitu menikmati profesi pekerjaan yang mereka lakukan. Mungkin, karena semakin dekatnya. Ujian semester dan tekanan dari F.K16. Aku seperti melihat mereka, melakukan pekerjaannya dengan perasaan tidak puas dan terpaksa," renung Satya. "Hey!" teriak Felicia yang membuat Satya kaget. "Kenapa bengong?" tanya Felicia melihat Satya termenung memperhatikan sekitar. "Aku hanya, melihat mereka wara-wiri dengan kesibukan masing-masing," jawab Satya sembari mengelus d**a karena kaget. "Ya, udah. Cepet gantian kamu ke toilet,aku tunggu disini," suruhnya. Sekarang, giliran Satya masuk berganti pakaian. Untung saja, hari ini. Pelajaran olahraga jadi bisa menggunakan seragam ini. "Wah, Jam 08.30 pagi," benak Satya dalam hati sambil melihat jam pada layar lensa. 5 menit kemudian. Satya keluar dari toilet umum. Hanya dengan memakai pakaian Training olahraga. Felicia melihatnya dengan wajah heran dan aneh, terhadap Satya "Apa kamu yakin mau menggunakan itu?" tanya Felicia memantapkan keyakinan Satya. "Iya, aku yakin," jawab Satya mengangguk. Satya sepertinya telat menyadari sesuatu. Ya, Felicia hanya memakai tank top hitam dan rok mini dengan kaus kaki hitam panjang selutut. Dia bingung, harus bersikap bagaimana padanya. Kemudian, Satya memberanikan diri memberi tahu. Apa yang di pakainya itu salah dan tak boleh. "Uuumm... Felicia," sahut Satya lirih memanggil namanya dengan gugup. "Kamu yakin, mau menggunakan itu?" tanyanya sedikit gelisah. "Maksudnya?" tanya Felicia bingung. "Ok. Akan Aku beri tahu satu kali napas panjang. Dengarkan baik-baik, setuju?" tutur Satya ingin memberi penjelasan. Felicia hanya mengangguk dengan memfokuskan Indera telinganya padaku. Satya langsung menarik napas panjang "Felicia, pakaian tank top hitam dan rok mini serta kaos kaki sedikit menggangguku dan orang lain. Apalagi, pada bagian Tank top yang kamu pakai sangat amat mengganggu pandanganku!" tuturku memberi tahu hanya satu kali tarikan napas. Felicia langsung menutup area yang di maksud pada pakaiannya. Dengan, wajah memerah karena malu. "Maafkan aku, karena tidak sopan," balasnya sembari tangannya sibuk menutup bagian atas tubuhnya. Satya langsung memberi sweater traning miliknya kepada Felicia. Sedangkan Satya hanya memakai kaos polos, lengan pendek. Berwarna hijau bertuliskan 'Save the world.' Pada bagian depan saja. "Terima kasih," ucapnya sembari memegang pergelangan tangan kanan Satya. Dengan badan membungkuk serta tersandung-sandung karena tubuh kecilnya Kemudian Bertanya "Aku mau di bawa kemana?" 'Toko butik Alpha suite' Satya melihat label toko. Kemudian, masuk toko tersebut. *Lonceng pintu berbunyi* Menandakan seseorang masuk. Begitu masuk, mereka di sambut pelayan wanita. "Selamat datang," ucap sang pelayan menghampiri. "Ada yang bisa kami bantu?," tanya sang pelayan. "Kami mencari pakaian pria dan wanita," jawab Felicia sembari matanya jelalatan melihat sekeliling. "Silakan lewat sini," pinta sang pelayan untuk mengikutinya. Mereka mengikutinya ke ruang yang Felicia inginkan. "Ini ruangnya, silakan di pilih. Jika butuh sesuatu tinggal panggil kami," tuturnya, lalu pergi meninggalkan mereka berdua. "Jadi, kamu mau pilih yang mana?" tanya Felicia sembari memilah pakaian. "Ini beneran, mau belikan aku pakaian?" tanya Satya ragu-ragu. "Untukmu kenapa tidak?" jawabnya enteng sambil memilah pakaian. "Lagian, kita saat ini sedang kencan," ujarnya sambil tersenyum pada Satya. Satya terdiam tidak membalas ucapan Felicia. "Kenapa kamu diam?" tanya Felicia yang masih fokus memilah. "Aku tidak tahu harus berkata apa," jawabku sambil memilih pakaian. "Aku kayaknya paham deh maksudmu. Kamu jangan terlalu memikirkan F.K16 itu enggak baik buat kamu nanti timbul stress berkepanjangan," tuturnya berusaha menenangkan. "Aku hanya khawatir pada mereka yang akan mengikuti F.K16" balas Satya gelisah. "Kamu tahu tidak?, Angka bunuh diri dan Stress paling tinggi nomor 4 dan 6 setelah penyakit keras lainnya," tutur Felicia menjelaskan. Wajah khawatir menyertai Satya. Kemudian berkata, "Aku tahu itu, tapi apa kamu tidak khawatir? F.K16 tinggal 3 bulan lagi," Nada angkuh dan sombong seketika keluar dari mulutnya, "Untuk apa khawatir? Itu memang seharusnya terjadi pada sampah masyarakat. Kita sebagai kaum elit tidak terlalu suka dengan sampah seperti mereka," dengan sedikit menahan amarah. Satya bertanya "Apa kamu yakin tidak khawatir pada mereka yang akan terlibat?" "Apa kamu tuli, tadi sudah aku jawab pertanyaanmu. Sudah jangan bahas lagi!" seru Felicia mengerutkan dahi. Felicia mengalihkan pembicaraan dengan menunjukkan pakaian yang dipilihnya "Ini bagus tidak?" sambil tersenyum pada Satya. Pakaian Kaos yang bagus. Ukuran Oversize serta lengan panjang berbeda warna yaitu hitam dan putih terkesan Gothic "Bagus kok, cocok untukmu." ujar Satya telah selesai memilih pakaian. Senyum lebar terpasang di wajahnya, "Aku akan pakai ini. Tunggu sebentar ya," Felicia melangkah menuju ruang ganti yang berada tepat di belakangnya. "Satya!" seru Felicia Felicia, membuka tirai di ruang ganti berniat menunjukkan pada Satya, "Masih cocok untukku?" Kemudian, Satya melihat Felicia dari atas kepala sampai ujung kaki. Berkata, "Cocok sekali, terkesan imut jika kamu memakainya. Satu hal lagi, setidaknya kamu memilih celana juga" sambil melihat kedua paha Felicia. "Ihh kamu mah, Aku pakai rok kok nih," ujarnya sambil mengangkat Kaos Oversize sampai pahanya. Bisik-bisik pelanggan lain terdengar, "Anak muda saat ini. Makin tak punya akhlak atau kita lapor ke pihak berwajib ya? ..." ucapnya terdengar lirih karena dari tempat yang jauh di ujung. Satya tergugup seketika "Kenapa kamu menunjukkan itu padaku," langsung membalikkan badan. "Aku hanya ingin memberitahumu," jawab Felicia. "Ok ... Ok ... setidaknya cepat pilih celanamu cepat," balas Satya tergugup "Baiklah..." ujarnya sambil melangkah keluar dari ruang ganti. "Padahal, aku hanya menunjukkan saja agar dia percaya. Kenapa dia terlihat seperti itu ..." gumamnya lirih Sekarang, Satya berganti pakaiannya menuju ruang ganti. Selanjutnya, keluar dari ruangan itu. Ketika, Felicia melihat pakaian yang di kenakan Satya. Sontak membuatnya tertawa geli. Langsung bertanya, "Kenapa kamu memakai pakaian itu lagi?" Sambil tertawa geli. "Apa ada yang aneh?" tanya Satya bingung sembari melihat-lihat pakaian yang ia kenakan. Felicia berusaha menahan tertawanya, "Tidak ada yang salah dari cara berpakaianmu. Tapi pakaian yang kamu kenakan itu yang membuatku ingin tertawa. Walaupun, hanya berbeda pada warna saja" "Maksudmu Pakaian trainingku?" tanya Satya. "Iya," jawabnya singkat. "Jadi, pakaian apa yang harus aku kenakan?" tanya Satya bingung. Selanjutnya, Felicia memilihkan pakaian Satya dengan sangat teliti. "Kaos seperti ini, sepertinya cocok untukmu. Warnanya sama persis denganku serta lengan panjang," gumamnya sibuk. Saat melihat celana tentara yang khas dengan saku celana yang banyak. Langsung membuat jatuh hati, "Oh iya, ini juga cocok untukmu," ucapnya sembari memberikan celana tersebut kepada Satya. Felicia segera mendorong Satya ke ruang ganti menyuruhnya memakai pakaian yang dipilihnya. 5 menit berlalu. Satya keluar dari ruang ganti. Betapa terkejutnya Felicia ketika pakaian yang di pilihnya sangat cocok pada Satya. "Satu lagi," ucapnya sambil ber-jinjit berusaha menyamakan tinggi Satya. Kemudian,memberikan topi berwarna hitam. Wajah Satya dan Felicia saling berdekatan hingga menghirup napas yang sama serta suara napas terdengar tak karuan. Setelah tersadar apa yang terjadi Felicia segera memasangkan topinya dan berkata, " Akhirnya, selesai juga," sambil mengangguk beberapa kali. "Benarkah?" tanya Satya sedikit tidak percaya diri. Felicia mengarahkan Satya menuju Kaca. Lalu berkata, "Lihat dirimu, cocok bukan?" "Aku tidak berbohong bukan?" sambung Felicia menghadap kaca bersama Satya. Satya hanya terdiam melihat gaya berpakaian yang dikenakannya terasa asing. "Hari ini kencan pertama kita, kamu harusnya menggunakan pakaian yang keren untukku," rayu Felicia masih menghadap cermin bersama Satya. "Baiklah, ayo kita menuju kasir. Kemudian melanjutkan kencan pertama kita," ujarnya melenggang menuju kasir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD