"Kak Tasya, Aku berangkat dulu!" teriak Satya sambil berlari-lari menuju lift.
"Iya. Hati-hati kalo jalan, ingat ini lantai 50!" Teriak Kak Anastasya dari balik pintu sambil memperhatikan Satya.
Hari Senin, hari memulai hal baru mungkin tepat yang Satya alami hari ini. Ketika, memasuki bus sekolah semua mulai melirik dan memandanginya. Tapi itu masih wajar karena sebelumnya, ia pernah disebut penguntit. Hingga pada akhirnya dirinya menjadi buah bibir.
Satya pikir hal itu menjadi hal biasa. Akan tetapi, setelah turun bus pandangan mereka terasa lebih rinci terhadap Satya dari ujung atas sampai bawah mereka memperhatikan dirinya. Satya sedikit menundukkan kepala segera masuk gedung sekolah.
Seusai memasuki gedung sekolah mereka melirik seolah melihat anak baru di lingkungan sekolah. Jadi Satya segera berjalan cepat menuju lorong kelas 10E. Agar lepas dari situasi tidak nyaman ini.
Kelas 10E telah terlihat di depan mata. Satya mempercepat langkahny segera membuka pintu dan masuk. Tetapi, hal yang sama terjadi di kelas ini.
Mereka memandangi dirinya seolah melihat orang asing memakai seragam sekolah ini. Satya langsung menuju tempat duduk dan membenamkan diri ke tas sebagai bantal.
"Hey selamat pagi!. Kenapa kamu tidur di sekolah padahal masih pagi?" ucap Arlo menepuk pundaknya
Satya segera menegakkan badan mengarahkan pandangan padanya, "Kamu mengenalku?" dengan nada bingung.
"Hah, kamu kenapa, lupa ingatan?" tanya Arlo bingung.
Arlo menggoyang-goyangkan tubuh Satya dengan lengan kuat dan besar, "Ini Aku Arlo Grissham dan namamu Satya Pranaditya!" demikan ucap Arlo dengan nada khawatir terhadap Satya.
Sambil menghela napas lega, "Ahhh stop!! Aku tidak lupa ingatan tenang saja. Aku pikir kamu tidak mengingatku karena bentuk rambutku yang berbeda,"
"Aku tahu dong, apa kamu lupa kalau aku adalah salah satu penggemar beratmu," ucapnya menyejukkan hati.
Disusul Naomi mendatangi Satya dengan wajah ceria terpancar.
"Selamat pagi, Satya!" sapa Naomi mendekatinya
"Bagaimana kamu suka tidak gaya rambutmu hari ini," tanya Naomi menarik kursi di dekat Satya.
"Aku hanya merasa aneh sejak pertama kali masuk bus menuju sekolah," ucap Satya singkat.
"Harusnya aku tidak memotong rambutmu, jadi semua orang melihat wajah berlianmu sesuka hati," ucapnya kesal sambil menggembungkan pipinya ke arah Satya.
Arlo memperhatikan Naomi dengan teliti. Berkata, "Sikapmu aneh belakangan ini"
"Aneh kenapa?" balas Naomi bingung.
"Ya sudahlah," ujarnya singkat
Setelah percakapan singkat. Seluruh Siswi kelas 10E. Mulai menyadari kalau orang asing itu adalah Satya si penguntit julukan baru yang melekat padanya beberapa minggu lalu.
Akibatnya, para gadis mengrubunginya seperti melihat diskon besar-besaran pada hari raya. Membuat Arlo dan Naomi memutuskan menyingkir dari mereka.
"Satya aku boleh foto denganmu tidak?" tanya salah satu gadis mengrubungi Satya.
"Tid ..." sebelum perkataan Satya rampung dia mencuri satu jepretan foto darinya, di bantu teman lain yang memegang handphone.
Setelah selesai berfoto. Para gadis makin histeris. Hingga semua siswi di kelas ini memotret Satya. Kemudian, salah satu gadis menarik dirinya dari luar.
Tanpa berpikir panjang langsung mencium Satya. Berkata, "Aku menyukaimu,"
Setelah mencium Satya dia tersenyum manis ke arahnya. Seolah tak terjadi apa-apa sambil berkata, "Namaku Foxie, salam kenal,"
Satya kaget ketika dia menjinjitkan kakinya, mencuri ciuman pertama. Hingga, satu kelas terkejut melihat kejadian tersebut. Orang yang paling syok saat itu mungkin Naomi.
"Selamat pagi," ucap Asher sedikit kaget karena keheningan yang tidak pernah dia rasakan pada kelas ini sebelumnya.
"Kenapa kalian semua berada di belakang?" sambungnya sambil melirik ke arah Satya
"Ada apa ini, apa aku melewatkan suatu hal besar?" tanya Asher ke Arlo.
"Iya, hal besar terjadi disini. Baru saja," jawabnya singkat.
Setelah kejadian singkat itu, kabar burung mulai menyebar kemana-mana dalam waktu singkat, melalui email di lensa mereka.
Pelajaran selesai, kami menuju kantin seperti biasa dengan suasana baru. Seperti biasa juga, kami berempat menjadi pusat perhatian.
"Eehh.., jadi sekarang, Aku memiliki saingan ya. Dalam hal ketampanan!" ujarnya sedikit meremehkan dan rasa iri.
Satya hanya tersenyum geli mendengar kalimat itu.
Kami sampai di kantin memesan menu favorit kami mengantri menunggu giliran.
"Bu, Aku pesan nasi goreng pedes satu di tambah daun bawang sama bawang goreng," ucap Satya seperti biasa saat memesan.
"Bukannya sama aja ya, bawang goreng sama daun bawang," tanya Ibu kantin.
"Pesananmu persis seperti orang itu. Dia juga memesan seperti kamu, entah kemana sekarang orang itu. Dia belum juga datang," sambungnya
"Oh itu Aku buu. Coba bayangin kalo aku pakai poni hingga menutup mataku," balas Satya sambil menutup kening sekitar mataku dengan tangan kiri.
Bu kantin langsung menyadari ketika mengingat-ingat, "Oh iya mirip. Maaf ya dek, ibu enggak kenal"
"Yaudah, aku tunggu kalo udah jadi," balas Satya.
Di sela-sela menunggu pesanan Satya jadi. Ia melihat sekeliling mencari gadis yang menciumnya tadi pagi.
Setelah kejadian itu gadis tersebut membolos pelajaran alasannya sakit perut terkena haid. Jadi, Satya pikir dia sudah mendingan dan menuju ke kantin.
"Lihat laki-laki itu sebelumnya, Aku belum pernah melihatnya disini. Apa dia murid baru?" Ucap Siswa itu ke teman sebelah kirinya.
"Namanya Satya Pranaditya, dia dari kelas 10E. Dia terlihat sangat berbeda hanya karena mengganti gaya rambut," ucap pria asing menyela pembicaraan tersebut.
"Oh begitu. Hah? Hanya karena potong rambut dia jadi terlihat sangat berbeda?" ucap Siswa tersebut terkejut.
"Iya, dia juga jadi pusat perhatian sebelumnya. Kamu ingat julukan si penguntit beberapa minggu lalu?" ucap pria Asing.
"Kabarnya juga dia di kerubungi satu kelas oleh para gadis. Setelah itu, salah satu gadis tersebut mencium dan menyatakan cinta pada Satya, tepat di depan seluruh teman kelasnya!" sambungnya.
"Apa kamu tidak jengkel terhadap pria itu?" ujarnya memprovokasi sambil memperhatikan Satya melangkah menuju teman-temannya.
"Terus apa masalahnya denganmu terhadap urusanku?"
"Aku tak rela, perhatian mereka melebihi diriku,"
"Siapa kamu hingga tau hal sedetail itu?"
"Aku adik kelasmu. Kelas 10H," jawab pria Asing itu mulai mengungkapkan jati dirinya.
"Bukannya aku lebih tampan darinya lihat saja diriku," ucap Kakak kelas sambil menunjuk dirinya sendiri.
Ada enam orang gadis melangkah melewati mereka dari sebelah kiri. Berkata, "Siapa orang itu? dia terlihat tampan. Walaupun, kurus apa jangan-jangan dia seorang model?"
"Kamu mendengar sendiri bukan. Dia lebih tampan dan terkenal darimu," ujar Adik kelas tersebut masih memprovokasi.
sang Adik kelas menunjuk beberapa pria yang sedang mengantri giliran, "Apa kamu tidak memperhatikan pria culun di sekitarmu. Mungkin ini hal sepele tapi perhatikan," sambungnya masih memprovokasi.
"Aku lihat rata-rata mereka memesan hidangan yang mirip seperti Satya," ujarnya mulai jengkel karena hal itu.
"Jadi apa tujuanmu memberitahu semua hal ini?" tanya Siswa yang lebih tua darinya itu mulai terpancing.
"baiklah, tujuanku hanya memberi tahu apa yang mereka inginkan. Apa keinginan terbesarmu, ketika melihat hal ini?" tanya sang Adik kelas tersebut.
"Keinginanku hanya memberi dia pelajaran," ucap Kakak kelas.
"Baiklah, silahkan lakukan keinginanmu dia dari kelas satu 10E!" ucapnya lalu pergi meninggalkan kawanan tersebut.
*****
"Satya kenapa kamu lama sekali? Biasanya cepat ketika memilih menu ini," ucap Arlo yang pernah memesan nasi goreng.
"Iya, entah kenapa makanan kesukaanku menjadi banyak yang pesan," ucap sambil melahap nasi goreng kesukaanku
"Naomi, kenapa sekarang jadi terlihat murung? Perasaan pagi tadi kamu terlihat bersemangat!" tanya Arlo melihat keanehan Naomi belakangan ini.
Asher hanya memperhatikan percakapan mereka bertiga sambil memakan daging ham dengan irisan kentang goreng.
"Satya, hari ini jadwal klub menembak bukan?" tanya Asher
"Oh iya, hari ini jadwal klub menembak, tapi aku mau mengikuti klub lari,"
"Tahu sendiri bukan, tubuhku tidak terlalu atletik karena tidak banyak stamina dan satu hal lagi. Aku akan mengikuti klub menanah," jawab Satya mempersiapkan hal terburuk nanti.
"Oh begitu, syukurlah kalau kamu sadar kelemahanmu," balasnya.
Berakhir sudah jam istirahat, kami kembali ke kelas menunggu sang guru hadir di jam terakhir.
"Tolong panggilkan Satya kesini, kakak kelas ingin bicara dengannya."
"Oh begitu, akan saya panggil."
"Satya, kakak kelas ingin memanggilmu," ucap ketua kelas memanggil Satya
"Siapa?!," teriak Satya dari kejauhan karena terlalu berisik
"Katanya cepetan," ucap ketua kelas.
"Ok, aku segera kesana,"
"Apa kamu Satya pranaditya?" tanya kakak kelas itu. berada di lorong kelas.
Satya mengangguk tanpa sepatah katapun.
Tanpa di tanya sedikitpun. Kakak kelas itu langsung menghajar Satya, tepat pada perut menggunakan lutut kirinya.
Di akhiri, memukul tengkuk menggunakan tangan kanan. Merapatkan jari-jemari seperti membelah dengan pisau dalam satu kali tebasan. saat membungkuk karena pukulan keras di perut.
Hingga jatuh tersungkur dilantai sambil meringkup memegang perut.
"Kamu tahu salahmu?" tanya Kakak kelas tersebut sambil memukulku dengan kakinya di bantu temannya.
5 menit menunggu.
Di saat yang sama. Rasa khawatir keluar dari benak Naomi.
"Kenapa Satya lama sekali?" tanya Naomi ke Asher yang berada tepat di depannya.
"Kenapa tanya aku? Kenapa tidak melihat sendiri keluar," tanya Asher kesal.
Naomi memutuskan melihat dari balik pintu. Kemudian, terkejut melihat darah yang keluar dari mulut Satya.
"Satya!!" teriak Naomi menjerit membuat seisi kelas ikut menilik.
Tanpa berpikir panjang Naomi langsung memeluk Satya, "Apa yang kamu lakukan terhadap Satya. Sampai tersungkur seperti ini?!" tanya Naomi dengan nada histeris.
"Oh, jadi ingin sedikit penjelasan? Baiklah,"
"Orang yang aku suka selama ini di rebutnya seketika dalam sekali pandang,"
"Sedangkan aku sudah melakukan apa Saja. Agar wanita itu, menyukaiku. Pada Akhirnya, tidak terjadi apa-apa pada hubungan kami," curhat salah satu pengikut kakak kelas tersebut di sampingnya.
"Dasar.... Anj..." ucapan dan gerakannya terhenti ketika mau menginjak Naomi dan Satya.
"Bukannya Kalian yang terlalu jelek," ledek Asher pada mereka semua mengalihkan perhatian.
"Apa kamu bilang aku jelek?" tanya Kakak kelas tersebut ingin mendengar kalimat itu dua kali.
"Heh, udah jelek b***t pula, paket komplit" ledeknya lagi sambil mendekap kedua tangannya.
"yaakkkkk!!" teriaknya terprovokasi sambil berniat meninju Asher.
Tangan kanan kakak kelas menjulur ke depan berniat meninju wajahnya. Kemudian tangan kanan Asher menangkis. Mendorongnya ke samping kiri dari posisinya.
Kemudian, tangan kiri menyerang rahang kakak kelas tersebut. Dari bawah tangan kanan Asher. Hingga, Kakak kelas tersebut berdarah karena menggigit lidahnya sendiri.
"Agrh, selang dia cepat ..." ucapnya tidak jelas karena lidahnya tergigit hingga berdarah.
Pengikutnya berniat menyerang tetapi di belakang Satya ada Arlo dengan tubuh besarnya hingga membuat mereka ragu-ragu untuk menyerang.
"Ada apa ribut-ribut disini?" tanya wanita samping itu dari samping kiri lorong kelas dua.
Asher menunjuk Kakak kelas yang di hajarnya tadi, "Ohh, Kak lihat mereka berniat menyerang kami berempat. Lihat saja pria tampan serta kurus bersama gadis cantik di dekatnya, terlihat menyedihkan dan tak perdaya dihajar Kakak kelas itu," oceh Asher.
"Siapa dia? ..." tanya Arlo bingung sambil sedikit membungkuk berbisik.
"Dia siswa yang di tugaskan osis mengamankan kejadian seperti ini ..." jawabnya berbisik.
"lihat saja brand dengan lambang tameng dan naga tersebut di tangan kanannya," lanjutnya.
"Apa benar begitu?" tanya wanita tersebut dengan kakak kelas.
"Itu tidak benar malah aku yang di hajarnya," ucapnya membela diri.
Satu kelas membela Asher, "Tidak benar, dia yang menghajarnya," ucap teman satu kelas serentak.
"Baiklah kalian berdua ikut aku," balasnya
"Aku," ucap kakak kelas dan Asher berbarengan
"Iya kamu berdua si pembuat onar," ucap wanita seksi keamanan sekolah menunjuk kami berdua.
"Dan kamu berdua segera ke UKS. Pria besar bawa dan bantu dia menuju UKS," sambungnya sambil menunjuk Arlo.
"Ok," Arlo langsung mengangkat Satya bak pangeran menggendong sang putri.
Penggemar Boy Lover langsung menjerit terutama para wanita.
"Ayok ikut aku ke ruang isolasi siswa," ajak wanita itu pada Asher dan Kakak kelas.
Hingga pelajaran selesai, Satya masih tertidur pulas di ruang UKS sedangkan Naomi menunggu hingga Satya sadar.
Hingga Naomi ikut tidur di samping Satya dengan posisi duduk sambil memegang tangan dengan erat.